A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Sambutan



"Kau mau pergi kemana, Nona Q?"


Arnold lantas menghentikan Q karena melihat gadis itu berjalan dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan.


Dokter muda tersebut kemudian menjentikkan jarinya di depan wajah Q yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Ya?"


"Kau mau pergi kemana tengah malam seperti ini? Keadaanmu bahkan belum sepenuhnya pulih dan kau sudah ingin berjalan-jalan?"


"Aww.. Ini masih sakit, Arnold!"


Q lantas mengusap bahunya yang baru saja disentuh oleh Arnold.


"Tepat! Itulah yang ku maksud! Bagaimana bisa kau ingin berjalan-jalan dengan kondisi bahu seperti ini? Aku tadi bahkan tidak menekannya dan kau sudah merasa kesakitan."


"Ya.. Aku hanya sedikit hiperbola supaya lebih mendramatisir."


"Hiperbola?"


Arnold pun tak dapat menyembunyikan senyum di wajahnya.


Jawaban menggemaskan dari Q tersebut membuat mata Arnold tak dapat berpaling untuk terus menatap gadis cantik itu.


"Kenapa?"


Q lantas menatap balik mata Arnold dan saat itulah bayangan wajah K yang tengah tersenyum terlihat di matanya.


"Nona Q?"


"Apakah cedera kepala yang dialami oleh Tuan K bisa menyebabkan perubahan sikap yang sangat drastis? Gila misalnya?"


"Hah?


Pertanyaan aneh dari Q tersebut hampir membuat Arnold tertawa jika saja dia tak menahannya.


Namun setelah melihat keseriusan di mata Q, Arnold yakin bahwa gadis itu tengah bersungguh-sungguh.


"Ada kemungkinan seperti itu, tapi bukan ke arah kegilaan melainkan mengganggu kesehatan fisiknya. Efek dari luka di kepala Tuan K bisa menyebabkan dia mudah mengalami sakit kepala hebat jika sedang kelelahan atau bahkan sering pingsan. Tapi aku masih harus memastikannya kembali dengan melakukan observasi lanjutan setelah dia siuman. Mengapa kau menanyakan hal itu?"


"Hanya ingin tahu saja."


Jawaban dari sang dokter muda tersebut tentu semakin membuat Q kebingungan terlebih saat dia mendengar satu kata terakhir sebelum K tertidur.


**


Dor! Dor!


Q langsung disambut oleh rentetan peluru yang tertuju padanya ketika dia baru saja memasuki lobi klinik.


Beberapa saat yang lalu dia menyadari bahwa Federick dan Josh tidak berada di rumah dan entah bagaimana instingnya mengatakan bahwa dua orang tersebut berada di salah satu pusat kesehatan di Astoria sehingga disinilah dia sekarang.


Gadis itupun bergegas menghindar sebelum timah panas sempat menembus kulitnya.


"Hei! Sambutan macam apa ini?!"


Dia lantas melihat sosok yang masih menembaki nya dari seberang ruangan.


Jleb!


Q segera berlari ke arah bunyi tembakan lain yang disertai dengan hantaman suatu benda setelah merobohkan orang yang ingin membunuhnya tadi.


Gadis itupun melompat ke bahu pria yang tengah berusaha menancapkan pisau ke leher Federick.


Q lalu memegang kepala pria itu dan dengan sekali gerakan, pria tersebut roboh dengan leher yang patah.


"Apa ada yang lain?"


"Ada satu orang lagi yang membawa senjata!"


"Pria dengan revolver? Jangan kuatir dia sudah menghadap Tuhan beberapa saat lalu."


Q lantas membantu Federick untuk berdiri. Dia lalu memeriksa keadaan Josh yang berbaring tak jauh darinya.


"Apa mereka kesini untuk membunuh Josh?"


"Sepertinya demikian mengingat tadi pria itu akan melubangi kepala Josh jika saja tak ketahuan olehku terlebih dahulu. Aku tidak tahu ada masalah apa Josh dengan kedua pria itu hingga mereka menginginkan kematiannya."


Q pun memeriksa tubuh pria tak bernyawa di lantai dan segera menemukan jawaban dari pernyataan Federick.


"Salvador." ucap Q sambil menunjukkan jam tangan yang dipakai oleh sang pembunuh.


Tampak ada ukuran kepala singa di sisi belakang dari jam tangan tersebut.


"Aku tidak terkejut jika Salvador ingin membunuh Josh karena seperti yang kita tahu mereka memang sedang memburu para Astorian dan Josh adalah salah satunya. Tapi yang aku pertanyakan mengapa mereka sangat menginginkan nyawa Josh hingga berusaha membunuhnya sampai dua kali?