
Arnold terus memperhatikan sopir yang mengendarai mobilnya sehingga sang sopir pun mulai salah tingkah.
"Ada yang salah, tuan? Mengapa kau menatapku sampai seperti itu?"
"Darimana asalmu?"
"Aku lahir dan besar di Suiden."
Tiba-tiba saja Arnold mencengkeram tangan sang sopir dan menariknya.
Ckiiitt!
"Ada apa, tuan?! Mengapa kau tiba-tiba menarik tanganku?! kita hampir saja mengalami kecelakaan karena hal itu!"
Arnold tak menggubris perkataan sang sopir. Dia lalu menyingkap lengan baju panjang yang dipakai sopirnya dan terlihatlah sebuah tatto kecil berbentuk kepala singa di pergelangan tangannya.
Orang terkuat kedua di Salvador itupun melepaskan tangan yang dia pegang.
"Ah.. Tekanan ini membuatku gila! Kupikir kau penyusup karena sepertinya aku tak pernah melihatmu sebelumnya. Semua ini gara-gara orang suruhan Federick yang telah menyerang markas di tempat kelahiranmu sehingga aku mencurigai semua orang!"
Sopir itupun hanya diam.
"Mengapa kau diam saja?"
"Apa yang harus kukatakan, tuan? Aku sangat mengerti dengan posisimu. Jadi tentu saja aku tak berkomentar karena setuju dengan yang kau lakukan sekarang."
Pembicaraan itupun berakhir begitu saja. Namun di dalam hati Arnold entah mengapa ada yang terasa janggal.
(Apa ini? Mengapa insting ku mengatakan bahwa pria ini bukanlah bagian dari Salvador? Tapi dia memiliki tato kepala singa. Lalu mengapa aku masih mencurigainya?)
Arnold yang diikuti oleh rombongan mobil lain di belakangnya pun akhirnya sampai di markas terakhir Salvador.
Markas itu rupanya terletak di bawah tanah, tepatnya di bawah gelanggang olahraga terbesar di kota Vount.
Bzzz..
..
Bzzz..
..
"Astaga suara berisik apa itu?!"
Arnold menumpahkan kekesalannya dengan melihat sekeliling sembari memegang pistol. Namun dia tak menemukan apapun yang mengeluarkan bunyi seperti itu.
"Baik, tuan."
Rombongan itupun segera berpencar ke segala arah termasuk sang sopir. Dia lalu pergi ke arah hutan.
"Kami tak menemukan apapun bos!" ucap salah satu dari mereka setelah beberapa menit mencari sumber suara aneh itu.
"Haish.. Ya sudah biarkan saja! Ayo masuk!"
Arnold dan rombongannya lantas masuk ke dalam markas yang di depannya dijaga ketat oleh orang-orang mereka.
Saking banyaknya rombongan yang ikut, Arnold bahkan gak menyadari bahwa ada satu orang yang tidak kembali.
**
Hup!
Setelah memastikan bahwa dia sendirian, sang sopir pun bergegas memanjat pohon dan duduk santai di ranting besar di atas sana.
Tepat setelah dia menemukan posisi yang nyaman, sesuatu berbunyi di dekat telinganya.
Bzzz..
Klik!
"Kau dimana?"
Sang sopir pun tersenyum. Sambil menarik wajah elastis yang dia pakai, diapun menjawab pertanyaan itu dengan pertanyaan lain seperti yang biasa dia lakukan.
"Kau sudah bangun, Tuan K?! Apa kepalamu masih sakit?! Mau ku bawakan sesuatu saat aku kembali?!"
K pun terdiam untuk beberapa saat. Hanya napas berat dari pria itu yang bisa didengar oleh Q melalui Elf.
Hal itu membuat Q semakin mencecar partnernya dengan pertanyaan lain.
"K-kenapa kau diam saja, Tuan K?! Kau masih berada di rumah Tuan Federick, bukan?! Atau.. Astaga! Jangan bilang kau sudah pergi keluar dan berjalan-jalan dengan kondisi seperti itu! Aku peringatkan padamu Tuan K, kembali sekarang sebelum aku yang menyeret mu! Apa kau tidak tahu bahwa.."
"Sttt.."
Satu kata itu sontak membuat Q terdiam. Namun setelah menunggu beberapa detik, K rupanya tak mengatakan hal yang lain sehingga otomatis Q melompat turun dari pohon.
"Jika aku tak menemukanmu di rumah Tuan Federick, maka jangan salahkan aku kalau nantinya harus memberimu obat bius dan membawamu kembali!"