A Tale Of 'K&Q'

A Tale Of 'K&Q'
Berpura-pura



"Bagus! Sungguh suatu keajaiban bahwa cedera di kepalamu ini sama sekali tak mempengaruhi indera penglihatan mu, Tuan K!"


Arnold pun menghela napas lega setelah mata K merespon terhadap cahaya senter yang mengarah padanya.


Diapun melanjutkan observasi nya terhadap partner Q itu.


"Bagaimana dengan kepalamu? Apa rasa sakitnya masih kau rasakan secara intens?"


K mengangguk perlahan. Mau tak mau dia harus mengatakan keadaannya dengan jujur kepada zoologi itu mengingat dialah yang tengah merawatnya sekarang.


Tanpa sadar, Arnold memperhatikan K dengan seksama ketika pria itu memejamkan matanya.


(Sebagai laki-laki, kuakui pria ini sangat mempesona bahkan saat dirinya tengah tak berdaya seperti ini. Aku yakin banyak gadis yang tergila-gila padanya. Tapi.. apakah Nona Q juga demikian? Kuharap tidak!)


Arnold pun terkejut dan langsung mengalihkan pandangan saat tiba-tiba K membuka mata.


Dia kuatir K menyadari bahwa Arnold tadi memperhatikannya dengan seksama sehingga langsung membuka matanya yang sayu.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah K mencium wangi yang familiar dan benar saja sumber dari wangi itu sudah berada di depan pintu.


"Kau sudah kembali, Nona Q?"


"Mengapa kau di sini? Dia tak mencoba untuk melakukan sesuatu yang berbahaya, bukan?"


"Yang kulihat dan ku amati sejak seminggu ini, Tuan K berbaring dengan tenang di sini. Apa itu berbahaya untuknya?"


Q pun menghela napas lega selepas mendengar penjelasan dari Arnold. Hal tersebut membuat Arnold menjadi penasaran dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Q.


"Mengapa aku merasa bahwa kau menghawatirkan pasienku ini? Apa itu karena kalian dalam satu misi atau.."


"Oh! Aku lupa menyampaikan pesan dari Tuan Federick! Dia memanggilmu untuk memeriksa kemajuan dari kesehatan Josh. Cepat cepat! Kau tahu kan bahwa kesabaran pria itu sangat tipis!"


Walaupun dengan berat hati, Arnold pun keluar untuk menemui orang yang dimaksud oleh Q.


Tap!


Baru saja Q akan melangkah, tiba-tiba listrik padam.


Tap!


"Maaf yang di bawah! Aku lupa belum membayar tagihan listrik!" teriak Federick dari lantai atas.


"Ckkk.. Pria tua itu hampir membuatku serangan jantung! Tuan K.."


Q lantas menghentikan kalimatnya. Dia baru menyadari bahwa jarak wajahnya dengan K begitu dekat.


Rambut hitam yang sedikit acak-acakan, hembusan napas berat dari pria itu, ditambah lagi kini K tengah menatapnya dengan mata abu-abu yang begitu disukai oleh Q sedari awal.


Semua hal tersebut membuat waktu seolah berhenti berputar bagi Q.


Gadis cantik itu merasakan bahwa tatapan mata K berbeda dari biasanya sehingga membuatnya gugup.


"Ternyata memang dirimu.."


"Apa?"


"Berani sekali kau menghilang bahkan sampai berkali-kali setelah menolongku. Berani sekali kau mengajukan dua pilihan saat kau tahu mana yang akan kupilih. Berani sekali kau.."


Deg!


"Tenang, Tuan K.."


"Berani sekali kau mempermainkan perasaanku sampai seperti ini, Nona Q. Apa perasaan seseorang tak berarti sama sekali bagimu?"


"Kurasa kau perlu istirahat, Tuan K."


"Kau sungguh senang melihatku dalam keadaan menyedihkan seperti ini?"


"Aku tak mengerti apa yang sedang coba kau katakan padaku. Kurasa obat yang diberikan oleh Arnold mulai bekerja sehingga kau tak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Kau harus benar-benar beristirahat."


K pun lantas menarik Q sehingga diapun terjatuh di atas dada K yang berdebar kencang.


"Gadis dengan mata yang bersinar di kegelapan. Warna matanya bahkan berubah yang mulanya biru menjadi abu-abu ketika tak mendapatkan cahaya sama sekali tetapi pada pupil matanya tidak berubah dan tetap berwarna biru. Gadis yang tanpa ragu menolong pria yang hampir kehilangan kesadarannya di awal pertemuan mereka dan dengan seenaknya meninggalkan pria itu di rumah pohon. Gadis itulah yang telah memporak-porandakan hatiku dan saat ini sedang berada di dalam pelukanku. Katakan padaku Nona Q, apa semua yang kukatakan itu benar? Sampai kapan kau berpura-pura tak mengerti maksud dari ucapanku?"