
Ketika K lengah, tiba-tiba pria itu melemparkan sesuatu ke arahnya.
Boom!
"Uhuk-Uhuk!"
Bom asap yang dilemparkan tepat di depan tubuh K pun meledak dan memuntahkan begitu banyak asap putih yang menyesakkan.
"Bangs*t! Kemana perginya bajingan itu?!"
Federick segera berdiri untuk mencari keberadaan Toni yang menghilang saat bom yang dia lempar meledak. Namun tentu saja pencariannya sia-sia karena pembunuh itu sudah pergi dari kediaman Nyonya Finn.
K lalu berjalan mendekati lemari dan menggesernya agar dapat mengevakuasi jasad dari pemilik rumah. Terlihat leher wanita itu hampir putus yang menyebabkan dia kehilangan nyawa akibat sabetan benda tajam.
Pria tampan tersebut lantas mengambil taplak meja dan menutupi wajah dan badan Nyonya Finn dengan benda itu.
"Sudah pasti dia adalah bagian dari Salvador! Akan kubunuh dia!"
"Tuan Federick setelah kau mengurus jasad ini dengan anak buahmu, tetaplah berada di rumah atau kantor dan tetap diam. Ingatlah, apapun yang terjadi kau tak boleh sendirian."
"Mana mungkin aku berdiam diri setelah semua ini, Tuan K?!"
K pun mengalihkan pandangannya ke arah Federick. Dengan sorot mata tajam dan nada suara yang dalam, Federick merasakan intimidasi yang begitu kuat dari pria tampan itu.
"Apa yang dikatakan Nona Q padamu tentang tidak ikut campur dalam semua urusannya? Itu juga berlaku untukku, Tuan Federick. Kau sudah meminta kami untuk mengurus Salvador. Jika kau masih saja ikut campur seperti sekarang, maka akan ku lepaskan tugas ini karena kau hanya akan menjadi beban."
"Tapi aku adalah Komandan Militer Astoria!"
"Yang hampir pensiun."
K lalu berdiri di depan Federick.
"Semua yang aku dan Nona Q lakukan akan sia-sia jika kau mati, jadi tetaplah hidup. Kau hanya perlu diam dan mengamati bagaimana mereka dihancurkan. Itu adalah syarat dariku."
Federick pun terdiam. Baru kali ini ada orang yang menginginkan dia untuk tetap hidup terlepas dari apa alasan dibalik dari keinginan orang tersebut.
"Baiklah.."
**
"Sial!"
Toni pun melemparkan tubuhnya di atas tanah.
Rasa sakit yang luar biasa di dadanya pun segera dia rasakan. Dia menduga bahwa salah satu tulang rusuknya patah akibat pukulan dari K tadi.
Toni lalu membiarkan tubuhnya terlentang di atas tanah sambil mengatur napas ketika seseorang tiba-tiba berdiri di atas kepalanya.
"Kau kesini untuk membunuhku?"
"Tergantung dari hasil kerjamu."
"Yah.. Seperti yang kau lihat, aku gagal."
"Kau kalah dari seorang pria tua? Rupanya ekspektasi bos terhadapmu terlalu tinggi. Memalukan.."
Pria berpakaian serba hitam itupun lantas mengeluarkan sepucuk pistol. Tak lupa dia juga memasang peredam suara agar tak menarik perhatian ketika dia melubangi kepala Toni dengan benda itu.
Melihat ajalnya yang sudah dekat, Toni hanya tersenyum. Angan-angannya menerawang jauh ke momen kebersamaannya dengan anak dan istri tercinta.
Kebahagiaan itupun hancur ketika sahabatnya sendiri menipu dirinya sehingga dia terlilit hutang.
Keadaan tersebutlah yang memaksanya bergabung dengan Salvador karena mereka menjanjikan imbalan begitu besar jika dia berhasil membunuh Federick.
"Hehe.. Jika itu Federick, tentu akan mudah bagiku."
"Hmm?"
Pria berbaju hitam itupun urung menarik pelatuknya.
"Seorang pria misterius bermata abu-abu. Dialah yang telah mematahkan tulang rusukku dengan pukulannya hingga aku harus bersusah payah untuk bisa sampai ke tempat ini."
"Siapa pria itu?"
"Entahlah. Yang pasti kekuatannya setara dengan banteng. Sekali pukul saja, tubuhku terlempar beberapa meter hingga dadaku terasa sesak sekali. Ditambah lagi dia berada di pihak Federick dan tentu hal tersebut menyulitkan ku untuk dapat mengeksekusi pria tua itu."
"Tak perlu hiperbola untuk menutupi kegagalanmu. Mana ada manusia yang memiliki tenaga sekuat itu. Ah.. sudahlah.. Omong kosong mu ini tak akan mengubah fakta bahwa kau gagal."
Klik!
Toni pun menatap langsung ke mata pria itu sambil tersenyum tipis.
"Tunggu sampai dia mendatangimu dan kau akan merasakan kengerian yang kurasakan."
Dorr!