YOU'RE DESTINY

YOU'RE DESTINY
44



...HAPPY READING^^...


Natasya kini memasuki ruangan Rian seorang diri.kenapa?karena Rena meninggalkannya setelah makan ice-cream,tiba tiba saja teman fakultas Rena memanggilnya untuk membahas kerja kelompok mereka.


Natasya meletakkan beberapa tugas tersebut di meja Rian yang tampak penuh dengan beberapa portofolio,ia pun hendak keluar sebelum ia melihat sebuah polaroid kecil yang terletak di dekat buku tebal.


Natasya membelalakkan matanya melihat Rian dan Devina tampak tersenyum bahagia di dalam foto tersebut.


"pak Rian....Devina?..mereka ada hubungan apa?"gumam Natasya lalu segera meletakkan foto tersebut kembali ke tempatnya ketika mendengar suara langkah yang mendekat.


"loh Natasya,kirain udah pulang"


"eh belum pak ini baru selesai nganter yang bapak suruh tadi"


"oh iya makasih ya,kalau begitu untuk balasannya saya ingin mengajakmu makan siang gimana?"Natasya tampak berfikir sejenak,sebenarnya ia sangat lapar karena tadi cuma makan ice cream di kantin,tapi setelah melihat foto tadi sepertinya ia harus lebih berhati hati dengan rian.mungkin saja Rian adalah kekasih Devina.


"eee...maaf pak mungkin lain kali saja,soalnya saya juga sudah ada janji sama teman"raut wajah Rian tampak berubah walau ia langsung mengontrolnya dengan baik.


"ya sudah tidak apa apa,lain kali saja kalau begitu.terima kasih ya sekali lagi"


"iya pak,kalau gitu saya permisi dulu"


"silahkan"


Natasya keluar dari ruangan Rian dengan perasaan aneh.ia pun segera pergi dan keluar dari kampus.


##


Juno terduduk malas disamping sang mama,ia tak menyangka jika papanya membohonginya untuk bertemu dengan keluarga Kirana di sebuah restaurant dekat kampus Natasya.


tadi papanya menelpon jika ia ingin berbicara empat mata dengan anaknya mengenai kelanjutan perusahaannya.dan itu membuat Juno lantas mengiyakan karena ia pikir itu bisa saja sangat penting mengingat ia adalah anak satu satunya.


Tapi pada saat tiba ia dikejutkan dengan keberadaan sang mama dan keluarga Kirana.


"berarti kita bisa mulai sekarang?"ucap Gibran,suami Inara yang juga teman lama papanya.semua orang mengangguk kecuali Juno dan kirana.


"tunggu!kita mau bahas apa sih ma?"


"perjodohan kalian lah,kan kita juga udah sepakat untuk jodohkan kalian"


Juno tak bisa mengontrol raut wajahnya sekarang,ia tak mengerti kenapa tiba tiba ada perjodohan yang tidak ia ketahui.


"perjodohan?kapan kalian bicarakan ini kok aku nggak tau?!"


"loh kenapa harus di kasih tau sayang,kan kamu juga udah kenal Kirana dari kecil..pasti kamu nggak keberatan dong"ucap Inara dengan senyum yang membuat Juno makin jengkel.ia sangat membenci wanita itu dari awal ia bertemu beberapa Minggu yang lalu.ia bertanya tanya mengapa keluarga Kirana tiba tiba datang lagi ke kehidupannya dan ingin melakukan perjodohan sepihak.


"mama sama papa nggak pernah bilang sama aku!lagian aku juga udah punya Natasya,dan aku keberatan dengan perjodohan ini!"Juno berdiri dari duduknya membuat Kirana tersenyum miring yang hampir tak terlihat oleh siapapun.


"maaf tapi aku masih banyak urusan"Juno lantas meninggalkan tempat itu membuat mama dan papanya menghela nafas panjang.


"maafkan anak ku,aku hanya akan mendukung segala keputusannya.dan aku harap kekeluargaan kita masih bisa terjalin walaupun tak ada perjodohan"ucap mama Juno dengan senyum lembut.tapi Inara dengan wajah kesal berdiri dari duduknya dan menarik tangan Kirana yang sedang menikmati makanannya.


"ayo sayang kita pergi!tidak ada gunanya kita disini"Kirana merenggut tak suka karena ia sedang makan tapi langsung di tarik oleh mamanya.


"ish mama aku lagi makan"


"nggak usah kita makan di tempat lain aja"dua wanita itu keluar membuat Gibran seperti menahan malu tapi ia masih bisa sabar karena kelakuan istrinya memang seperti itu sejak mereka mengalami krisis ekonomi.


"saya minta maaf atas kelakuan istri saya juga ya,saya juga sebenarnya tak terlalu menanggapi perjodohan ini karena saya tau Juno pasti sudah mempunyai wanita idamannya sendiri"papa dan mama Juno mengangguk lalu menatap Gibran dengan iba.ia tau persis sifat istri nya itu karena mereka memang sudah lama bertetangga saat anak anak mereka masih muda.


"kami juga meminta maaf Gibran"


##