
...Happy reading^^...
Natasya sudah berada di kamar Rena dengan cemilan serta buah buahan yang sudah berada di depan rena.natasya pun menatapnya dengan tatapan datar karena temannya itu malah asik nyemil yang baru saja ia beli karena permintaan sahabat nya tersebut.
"kamu beneran sakit nggak sih ren?"
"iya,ini pegang aja dahi gue"Rena mengambil tangan Natasya dan menaruh di dahinya.natasya merasa hangat dan menghela nafas pelan.
"ya terus kenapa makan cemilan?ini buah buahan malah di anggurin"
"yaudah makan aja,nggak usah malu malu"Natasya menatap Rena dengan kesal lalu melayangkan bantal ke wajah cantik Rena.
"aduh!penganiayaan ini mah!"
"aku tuh kemari karena mau jenguk kamu ya,bukan jadi penonton kamu saat lagi makan!"
Rena tertawa kecil melihat sahabatnya itu,ia sungguh rindu menjahili Natasya seperti ini.
"iya iya,dasar bocah"
"heh yang kamu panggil bocah tuh siapa?"
"kamu lah"Natasya pun merenggut dan mengambil cemilan yang di makan Rena.
"jangan makan yang ini,ini punya aku!"
"ih jahat banget sih!kamu yang beli kamu juga yang makan,dasar pelit"Rena langsung menyambar buah buahan yang ada didepannya.
"Rena mau curhat apa sih,Nana udah siap nih buat denger cerita Rena"Rena pun langsung antusias dan duduk tegap.
"na ini gimana nih gue sayang banget sama kak Reyhan"
"terus?"
"ya gue merasa bersalah aja udah cari cowok lain saat dia nggak ada disini"Natasya menghela nafas jengah lalu kembali memakan cemilannya.
"ya itu urusan Rena,kan Nana udah pernah bilangin Rena buat nggak main cowok"
"ya ini gimana dong na?yang kemarin itu udah baper soalnya"
"ya udah Rena jujur aja kalau Rena udah punya pacar"
"ya nggak segampang itu dong na,kamu kan udah tau kalau aku udah jalan sama dia mau jalan 2 bulan"
"ya kalau gitu Nana nggak tau deh,kan Nana nggak pernah kek gitu"Rena langsung menatap datar ke arah sahabatnya itu lalu melipat kedua tangannya di dada.
"kamu di mintain solusi malah asik makan!sahabat macam apa tuh"Natasya memang sedari tadi mengunyah tapi ia tetap setia mendengarkan sahabatnya itu cerita.
"Nana lapar ren,tadi nggak sempat makan siang gara gara Kamu nyuruhnya cepet cepet"
"yaudah aku suruh bibi bawain makanan ya kesini"
"nggak usah ren biar aku yang turun"Natasya pun keluar dari kamar Rena untuk mengambil makanan.
##
Rian terduduk sambil menatap lawan bicaranya dengan datar.ini sudah jadi kebiasaannya seminggu sekali untuk menjenguk salah satu sepupu nya yang berada di lapas.
"gue benci banget sama dia kak,hidup gue hancur karena dia,dia udah ngerebut semua yang gue punya.gue nggak mau dia hidup"Devina menatap Rian dengan mata yang memancarkan kebencian.setelah sembuh dari kecelakaan sebulan yang lalu Devina langsung di jebloskan masuk ke penjara oleh Juna dan Mark.dan itu yang membuat Devina sakit hati.
"Lo dengerin gue kan kak?"
"iya Dev tapi gue nggak ngerti maksud dari pembicaraan Lo itu.dan kenapa Lo mau gue ngedeketin Natasya?"
"gue mau Lo hancurin hidup dia kak,dengan begitu gue akan tenang di penjara brengsek ini"
"maaf Dev gue nggak mau ikut campur sama masalah Lo"Devina menatap tak percaya pada Rian,padahal kakak nya itu sangat menyayanginya dan selalu ada untuknya.
"kok Lo kek gitu sih kak?Lo udah nggak sayang sama gue?"
"bukan gue nggak sayang sama Lo Dev,gue cuman mau Lo nggak ngelakuin sesuatu yang bisa membuat Lo makin terpuruk"Rian menatap serius ke arah Devina,ia memang menyayangi adik sepupunya itu karena cuma Rian yang di miliki Devina ketika ia butuh sandaran.tapi ia tak ingin Devina makin terjerumus pada masalah.apalagi saat ia tau Devina mencoba membunuh Natasya.
"gue udah nggak punya siapa siapa lagi kak,orang tua gue udah nggak pernah peduli sama gue!saat gue di rumah sakit pun mereka nggak ada yang jengukin gue!sedangkan adik gue sibuk sama dunianya sendiri!...cuma Lo kak yang gue punya"air mata Devina jatuh ketika ia mengingat semua hak terjadi pada hidupnya selama ini.
Bahkan saat ia terbaring lemah di rumah sakit hanya Rian dan teman sekampusnya yang rajin datang untuk menjenguknya.
"maaf waktu anda habis"salah satu polisi menghampiri mereka karena waktu jenguk sudah habis.rian menghela nafas lalu berdiri dari duduknya sambil menatap Devina yang masih menatap lurus kedepan.
"kakak pergi dulu,Lo jangan lupa makan"Devina menatap kakak sepupunya itu lalu menatap rantang yang berada di sisi meja yang di bawa oleh Rian.setelah nya ia meninggalkan ruangan sempit itu meninggalkan Devina yang masih terdiam sambil mengepalkan tangannya.
##
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan itu menandakan jika Natasya sudah berada di rumahnya sambil rebahan.tapi saat ia sedang bersantai santai sambil bertukar pesan dengan Juno tiba tiba ia teringat jika harus belanja bulanan hari ini.
"astaga!lupa!"dengan cepat Natasya mengambil jaketnya dan berjalan menuju dapur untuk mencari Arya.
"Arya"
Arya yang sedang membersihkan halaman belakang berbalik menatap Natasya yang berdiri tak jauh dari nya.
"kenapa non?"
"temenin Nana ke supermarket dong,Nana harus belanja bulanan"
"iya non tunggu ya Arya cuci tangan dulu"Arya segera menuju keran yang ada di samping halaman.sedangkan Natasya tersenyum kecil lalu berjalan terdahulu ke arah teras untuk memanggil pak Budi.
"pak Budi antar Nana ke supermarket ya"teriak Natasya karena jarak teras dan pos satpam agak jauh.
"siap non"pak Budi yang sedang menonton tv di pos satpam pun terlonjak dan langsung mengambil kunci.
"saya udah siap non"Arya datang dengan baju kaos dan celana pendek membuat Natasya menatapnya.
"kamu nggak pake jaket?"
"lagi di cuci non"Natasya menghela nafas berat lalu berlari naik ke kamarnya.
"tunggu bentar ya"Arya menatap Natasya yang berlari ke arah kamarnya dengan tergesa gesa.dan tak lama ia pun kembali sambil membawa jaket berwarna hitam.
"nih pake ini"Arya menatap jaket itu dengan tatapan polos.
"saya pake ini non?"
"iya,buruan kita harus cepet sebelum kak Mark sama kak putri datang"Arya pun segera memakai jaket kebesaran Natasya yang sangat pas di badannya.natasya tersenyum puas lalu memberikan jempol nya pada arya.
"kan bagus kayak gini,ayo!"Natasya berjalan mendahului Arya yang saat ini menahan senyum dan pipi nya yang memerah.
##