
...Happy reading^^...
2 Minggu kemudian....
Natasya masih terbaring lemah di brankarnya,setelah operasi ya 2 Minggu lalu ia tidak langsung sadar karena efek obat.dokter pun mengatakan jika Natasya mengalami kelumpuhan sementara di bagian otak karena benturan yang sangat keras.ia bisa sembuh seperti semula jika ia selalu di latih dan di ajak berbicara.1 Minggu setelah operasi ia hanya bisa terdiam menatap orang orang yang datang menjenguknya,bahkan kakaknya dan sang papa setiap saat selalu ada di sampingnya untuk terus memberinya semangat.juno pun sama,ia hampir setiap hari mengunjungi Natasya dan bergantian dengan Mark untuk menjaga gadis tersebut.
Dan saat ini Natasya terduduk dan bersender di brankarnya sambil di suap oleh Juno.natasya sendiri belum bisa menggerakkan seluruh tubuhnya .ia hanya bisa bicara sedikit dan menggeleng atau mengangguk kecil ketika di tanya.
"Nana harus makan biar cepat sembuh ya"Natasya mengangguk lemah membuat Juno tersenyum lembut sambil mengusap rambut gadis itu.ia menatap wajah gadis yang di sayanginya itu yang tampak sangat kurus.
"pa..pa..ma..na?"ucap Natasya sekuat tenaga.
"papa sama kak Mark lagi di luar,tadi mereka pamit buat beli makanan dan keperluan Nana"Natasya kembali terdiam sambil menatap ke arah Juno.
"re..na?"alis Juno mengerut,ia mengingat gadis yang di peluk Mark pada saat hari Natasya kecelakaan.
"oh temen kamu itu,mungkin masih sekolah kali..dia tuh setiap hari datang loh buat jengukin kamu..oh ya sama teman kamu yang laki laki itu juga"Natasya teringat Ali,anak lelaki itu adalah orang terakhir yang ia lihat sebelum di tabrak mobil.
"Nana makan ya,Nana kan baru aja siuman.jangan banyak gerak atau ngomong dulu"
Natasya hanya mengangguk lemah membuat Juno lagi lagi tersenyum.
"kakak tuh khawatir banget sama Nana,kayak hidup kakak tuh semuanya tiba tiba hitam saat kakak tau Nana kecelakaan"Natasya hanya terdiam mendengar curhatan juno.ia merasa bersalah membuat semua orang khawatir padanya.
Saat Natasya selesai dengan makannya,tiba tiba Mark dan papanya masuk dan terkejut melihat Natasya yang sudah sadar.
"Nana!!"Mark segera menghampiri adiknya dan memeluknya dengan perasaan yang sangat rindu.papa Lee tersenyum bahagia lalu ikut memeluk anaknya itu.juno yang baru saja keluar dari toilet pun melihat pemandangan tersebut sambil tersenyum lembut.
"anak papa!papa sayang banget sama Nana!Nana harus cepat sembuh ya nak"sang papa melepaskan pelukannya,ia takut jika Natasya tak bisa bernafas apalagi ia baru sadar dari tidur panjangnya.mark pun ikut melepaskan pelukannya,ia terduduk dan menggenggam tangan adiknya itu.
"Nana bisa kan dengar kakak?"ucap Mark membuat Juno langsung memukul pundaknya.
"yaelah,ya bisa lah!nana nggak budek Mark"ucapan Juno membuat sang papa dan Natasya tertawa.
"ya iya Jun gue tau!Lo pasti tau gue kekhawatir apa sama Nana"
"kak..Mark..ja.. jangan..pa..ke..Lo..gue.."ucap Nana terbata,Mark mengelus rambut adiknya dengan sayang lalu mencium kedua tangan adiknya.
"iya sayang"
"oh iya nak Juno,apa tadi dokter udah kesini"
"iya om,tadi juga dokter yang nyaranin Juno buat ngasih makanan ke Nana,dan om di suruh ke ruangan dokter kalau om udah nyampe"
"baiklah makasih nak Juno udah jaga Nana selagi kami tidak disini,papa ke dokter dulu ya sayang"papa Lee mencium pucuk kepala Natasya dengan sayang lalu keluar menuju ruangan dokter.
"Nana udah kenyang ya?"tanya Mark yang didi angguki lemah oleh Natasya.
"yaudah Nana istirahat dulu ya,nanti suster akan ke sini buat terapi"Mark dengan telatin membaringkan tubuh Nana kembali untuk segera istirahat setelah minum obat.
"ka..kak ..ja..jangan pergi"
"iya sayang kakak nggak kemana mana,ini kakak bareng kak Juno jaga kamu disini"Mark mencium kening adiknya dengan sayang.ia sangat sayang kepada adik satu satunya tersebut,bahkan jika ia harus bertukar nyawa,ia akan menukarkan nyawanya demi kesembuhan natasya.ia pun bahkan menunda kelulusannya demi kesembuhan sang adik tercinta.
##
Rena keluar dari ruang guru dan berniat untuk langsung pulang dan menjenguk Natasya,tapi saat berbelok di lorong parkiran tiba tiba ia menabrak seseorang.
"AW!sorry ya"
"eh nggak apa apa kok kak"Rena mengerutkan alisnya,ia kenal dengan wajah ini.Ah iya!anak ini adalah junior yang memanggilnya 2 Minggu lalu ke ruang BK.
"eh tunggu!"siswi tersebut berhenti di tempatnya dan berbalik menatap Rena yang berjalan menghampirinya.
"Lo yang panggil gue ke ruang BK 2 Minggu yang lau kan?"mata anak itu terlihat membulat lalu menunduk dengan tatapan tak tenang.
"maksud Lo apa ngerjain gue?pas gue ke ruang BK ternyata udah nggak ada guru di sana!Lo di suruh siapa sih"ucap Rena sedikit emosi,bagaimana tidak,gara gara ia harus ke ruang BK ia sampai lalai untuk menjaga Natasya.
"jujur sama gue atau Lo nggak lulus dari sekolah ini"kepala siswi tersebut terangkat menatap Rena dengan wajah terkejut.
"loh apa hubungannya kak?"Rena tersenyum licik lalu mengeluarkan ponselnya dan memperlihat kan foto ayahnya yang sebenarnya pendiri yayasan tersebut.mata anak itu makin bulat dan merasa sangat takut.
"jangan kak saya mohon!saya dengan susah payah masuk ke sekolah ini dengan jalur beasiswa kak!kalau saya nggak lulus orang tua saya pasti kecewa!jangan ya kak saya mohon!"anak itu tiba tiba berlutut di depan Rena membuat Rena agak menjauh.
"ya udah tinggal ngaku aja siapa yang nyuruh Lo buat iseng sama gue!"
"aku nggak tau persis orangnya kak soalnya dia pake masker pas manggil saya,tapi saya punya nomor telponnya kalau kakak mau"
"coba kasih ke gue nomornya"anak itu dengan perasaan yang takut memberikan nomor ponsel Cecil ke Rena.
"dia bayar saya kak dengan uang tutup mulut,saya sangat minta maaf kak!jangan hukum saya ya kak!"Rena menatap aneh ke arah siswi tersebut,ia merasa aneh dan ganjal.
"sampai segitunya kah?orang itu kenapa sih iseng banget ngerjain gue"Rena mengambil kertas yang sudah di tulisi nomor Cecil.
"Lo yang telpon deh,ntar kalau gue yang telpon dia nggak mau angkat,terus kalau udah di angkat suruh dia buat ke cafe dekat sekolah.lo bilang aja kalau Lo mau ngebalikin uang tutup mulut itu"
"aduh kak saya nggak berani kak"
"telfon nggak!"anak itu tersentak mendengar suara tegas Rena,ia pun segera menelpon Cecil.
"halo kak"
"...."
"kak..saya pengen ketemu sama kakak"
"...."
"saya....pengen ngembaliin uang kakak"
"....."
"eh...saya cuman pengen ngembaliin kak,nanti kita ketemu di cafe dekat sekolah ku ya kak"
"..."
Anak itu seperti ingin menangis saja,ia tak tau harus bagaimana dan dengan siapa dia berurusan.
"udah Lo suruh buat ke cafe"
"iya kak"
"bagus!...kalau gitu Lo pergi aja"
"makasih ya kak"siswi tersebut langsung berlari ke arah pagar,ia sangat takut melihat tatapan Rena yang tajam.
"ni orang siapa sih"batin Rena lalu keluar dari sekolah menuju cafe terdekat.
Di tempat lain Cecil sudah turun dari mobilnya dan langsung masuk ke cafe tersebut.ia melihat lihat keadaan agar tak ada yang mengenalinya atau pun orang yang ia kenal.
"mana sih tu anak!"ucapnya agak kesal karena siswa yang menelponnya belum juga datang.sedangkan di luar cafe Rena sudah memantau dari jauh,untung saja jendela cafe terbuat transparan sehingga memudahkan Rena untuk melihat siapa yang di maksud siswi tersebut.
"gue telpon aja kali ya"ucap Rena lalu mengeluarkan ponselnya dari saku seragamnya.
ia segera menghubungi nomor tersebut,dan alangkah terkejut nya setelah ia melihat Cecil yang membuka topinya sambil mengangkat telpon.
"halo"rena menajamkan matanya menatap Cecil yang sedang berbicara lewat ponsel.
"Cecil?"
##
Ciyuuu^^