
Sebulan setelah kepergian Athar atas tragedi kecelakaan pesawat, kini Acha sudah mulai bisa kembali ceria. Dia tidak lagi larut dalam kesedihan, mengingat kematian Athar yang sangat tragis. Pagi ini, Acha baru terbangun dari tidurnya. Wanita itu melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Hari ini hari Minggu, Arlan libur ke kantor, makanya, pria itu mengajak Acha begadang semalaman penuh. Dengan tubuh tak berpakaian, Acha berjalan memasuki kamar mandi, membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaan semalam dengan sang suami. Tak lama, Acha menyelesaikan mandinya.
Wanita itu memilih masak hanya dengan kimono mandi, di rumah ini juga tidak ada pekerja. Semua pekerja di mulai dari pelayan sampai sopir bahkan satpam, di liburkan tiap hari Minggu. Alasannya karena Arlan ingin menghabiskan waktu berdua dengan istrinya tanpa ada gangguan dari siapa pun.
Di saat tengah sibuk masak, Arlan datang hanya dengan boxer ketat. Pria itu memeluk istrinya dari belakang, menumpukan dagunya tepat di bahu Acha. "Masak apa, sayang?"
Rambut Acha yang memang di cepol, tidak Arlan sia-siakan, pria itu mengecupi leher jenjang istrinya yang masih tersisa banyak sekali tanda keunguan yang dia buat semalam dan sekarang, dia tambah. "Ar, menjauh dulu sebentar. Aku lagi buat makanan loh ini, buat kita berdua sarapan!"
Bukannya menjauh, Arlan malah semakin menjadi. Pria itu menjulurkan lidahnya, menjilat leher jenjang Acha dengan tangan yang mulai menyelinap ke balik kimono yang Acha kenakan. Merayap, meraba paha mulus istrinya yang tak terbalut celana apa pun. "Astaga, Ar! Semalam udah! Sekarang minggir dulu, aku lagi masak ini."
Tangan Arlan makin nakal, terus merambat ke atas, menyentuh milik istrinya yang selalu membuat Arlan kecanduan tiap detik. Tanpa memedulikan protes dari istrinya, tangan Arlan terus bergerak mengusap-usap gumpalan daging yang tidak berbulu. Terkadang sengaja menjahili istrinya dengan meraup gemas.
"Oh god! Arlando!"
Arlan tertawa terbahak-bahak, pria itu mematikan kompor, membalikkan tubuh Acha lalu menyerbu bi birnya yang masih membengkak, tentu, karena ulah Arlan semalam. Terlanjur basah, sekalian saja menyelam air, begitu pikir Arlan. Dia pun membawa istrinya, mendudukkan Acha di atas meja makan yang pasti kuat, anti roboh meski mereka duduki berdua sekali pun.
"Kamu kenapa buat aku kecanduan sih?" Tangan nakal Arlan semakin berani, melepas ikatan tali kimono wanitanya, semakin merapatkan posisi dengan tatapan berkabut gairah.
"Kamunya aja yang mesum!" Acha mencubit gemas hidung mancung Arlan, pria itu suka sekali menyerangnya seperti ini saat sedang berdua. Tidak pernah memberikan dirinya kesempatan untuk tenang sebentar saja jika tengah berduaan.
Menurunkan kimono di bahu kanan istrinya, Arlan langsung saja mengecupi, meninggalkan beberapa tanda cintanya dan permainan yang Arlan sukai pun terlaksana. Meski hanya mendapatkan 1 ronde, Arlan tetap senang, wajahnya berseri-seri karena sudah mendapatkan sarapan pagi yang mengenyangkan Adik kecilnya.
Sekarang, Acha kembali melanjutkan masaknya sembari menggerutu. Arlan menyebalkan sekali, sudah mengganggu waktu memasaknya dan sekarang, dengan enaknya duduk di kursi meja makan sambil memakan cemilan. Bahkan, pria itu sesekali menatapnya sambil senyum-senyum sendiri. "Ar, jangan senyum terus deh. Ngeri kerasukan tau enggak?!"
Arlan tertawa, pria itu kembali memeluk Acha dari belakang, membuat Acha kian was-was, takut ada ronde kedua. "Ar, aku lagi goreng telur, bisa gosong ini telurnya."
"Apa sih, sayang? Aku cuma peluk kok,"
"Cuma peluk matamu?! Itu tangannya ngapain kalau enggak lagi nyari kesempatan dalam kesempitan?!"
Tanpa rasa bersalah, Arlan terkekeh. Tangannya memang tidak bisa di kontrol jika sudah berdekatan dengan Acha, maunya mengusap-usap yang di bawah sana atau *******-***** dua gunung Acha yang menjadi kesayangan Arlan. "Angkat kaki kamu sedikit deh, sayang. Atau agak ngangkang,"
Tak!
Dengan gemas, Acha menjitak kening suaminya. "Aku lagi masak! Jangan ganggu dulu, Arlando!"
"Biar jarinya bisa masuk, sayang."
Arlan mengerucutkan bibirnya saat tangannya di jauhkan tangan Acha dari lembah kesukaannya di bawah sana, "Yaudah-yaudah, cuma pegang deh, janji! Enggak tusuk-tusuk,"
"Janji enggaknya kamu itu cuma dusta, Ar! Ujung-ujungnya juga minta lebih," Acha semakin jengkel dengan tingkah suaminya yang sangat mesum ini, padahal jika di luar sana, semua orang mengatakan, bahwa Arlan adalah pria dingin sekaligus mengerikan. Halah! Mengerikan dan dingin dari mananya? Yang ada, Arlan itu cowok menyebalkan sekaligus mesum.
Kan! Apa Acha bilang, dia sudah melarang Arlan, tapi tetap saja pria itu menyelinapkan tangannya ke dalam kimono mandi yang Acha kenakan. Ini salah Acha juga, dia pikir Arlan akan bangun lebih siang, makanya dia memasak tanpa memakai pakaian lengkap. Sekarang, Acha menyesal, karena melarang Arlan pun hanya akan berakhir sia-sia.
Lebih menyebalkannya, dua tangan Arlan bermain kondusif. Yang satu meraba buah da danya, yang satu menusuk-nusuk miliknya di bawah sana yang sudah kenyang Arlan hujam semalaman. "Sayang, mau lagi." Suaranya yang serak dan berat, membuat Acha menghela napas pelan.
Janji seorang Arlan akan terus di ingkari pria itu sendiri jika sudah berhubungan dengan permainan ranjang. "Aku selesaikan masak dulu, setelah itu sarapan dan kamu bisa puas main-main nanti di kamar. Oke? Deal?!"
Arlan menatap Acha kecewa, Acha jadi tidak tega kalau begini. Wanita itu mendengus, mematikan kompor untuk yang kedua kalinya lalu berbalik badan sembari tangannya melepas ikatan tali pada kimono mandinya. "Sekali, setelah itu biarin aku menyelesaikan masak, oke?"
"Oke!"
Dengan senang hati, Arlan membuat Acha mendesah sembari duduk di meja makan. Yang katanya sekali, berakhir berkali-kali bahkan sampai mencicipi berbagai gaya di dapur. Arlan akan lupa diri kalau sudah berhubungan suami istri dengan Acha. Kalau Acha tidak mengancam akan minta pisah kamar, mungkin Arlan tidak akan berhenti.
"Tuh kan! Sudah jam dua belas, aku belum selesai masak!"
Acha berjalan mengambil kimono mandinya yang tadi Arlan lempar, memakainya secepat kilat sebelum Arlan kembali bernafsu. Sedangkan pria itu, tertawa senang karena sudah mencoba berbagai variasi bercinta dengan istrinya. Tapi dia belum puas menjahili Acha yang kembali menggerutu sambil melanjutkan masaknya yang 2 kali tertunda gara-gara Arlan.
Diam-diam, Arlan berjalan jongkok ke depan Acha, memasukkan kepalanya ke dalam kimono mandi yang Acha kenakan sebelum wanita itu berteriak kesal. Benar saja, "ARLANDO! AKU MAU MASAK!!!"
Arlan tertawa, menciumi milik istrinya sembari duduk di lantai. Acha akhirnya kembali pasrah, Arlan memang selalu membuatnya jengkel bukan main! Biarkan pria itu menjilat miliknya seperti makan es krim, semoga saja tidak tersiram minyak panas kalau-kalau dia semakin menjadi menjahilinya.
"Ar, aku laper banget loh. Melayani kamu butuh tenaga,"
Akhirnya, Arlan menjauh, pria itu kasihan juga. "Iya, maaf ya, sayang."
"Udah sana, kamu mandi, Ar! Aku mau masak,"
"Iya-iya, sayang. Ini aku mandi,"
"Cepet!"
"Iya."
...***...