
Dengan kasar, Acha membuka hoodie nya hingga hanya menyisakan tank top bertali spaghetti yang dikenakan nya. Acha menarik satu tangan Arlan lalu mengikat tangan Arlan ke pilar kecil didekatnya agar Arlan tak masuk ke kamar 008 yang memang sudah disiapkan untuk menjebak Arlan.
Selagi merasa Arlan tak akan masuk ke kamar 008, Acha pun berjongkok didepan seseorang itu dengan kakinya yang menginjak kuat kaki seseorang itu. "Disaat kalian berniat jahat sama orang yang gue sayang, maka rasa kemanusiaan gue hilang."
Tanpa diduga, Acha mengeluarkan sebuah pil dari saku kemeja seseorang itu. "Lo disuruh jebak gue, maka gue akan buat kebalikannya."
Tak ingin semakin membuang waktu, Acha membuka paksa rahang seseorang itu lalu memasukan obat perangsang dosis tinggi dalam bentuk pil itu kedalam mulut dan memaksa seseorang itu agar menelannya. Setelah berhasil, Acha pun mendorong seseorang itu agar masuk kamar 008.
Baru saja merasa lega, Acha kembali dibuat khawatir dengan keadaan Arlan. Acha membalikan badan nya dan refleks mengumpat saat Arlan sudah berada dibelakang nya dengan wajah berkabut gairah. Dengan sedikit panik saat Arlan terus mencoba mencium nya, Acha pun memapah Arlan agar masuk ke kamar 009.
Tak sempat mengunci pintu, Acha langsung membawa Arlan ke kamar mandi agar pemuda itu bisa berendam di air dingin. Karena hanya itu yang Acha tahu tentang cara menyadarkan Arlan dari pengaruh obat perangsang. Sebelum masuk kamar mandi, Acha mengambil ponsel Arlan yang ada disaku pemuda itu lalu melemparnya ke arah ranjang.
Belum sempat masuk ke kamar mandi, Arlan sudah lebih dulu mendorong Acha hingga punggungnya membentur dinding dengan cukup keras. Acha meringis pelan tapi ringisannya mendadak hilang saat Arlan ******* bibir nya dengan begitu kasar.
Acha tersentak kaget dan terus memberontak saat Arlan mengendong nya secara tiba-tiba lalu melempar tubuhnya keatas ranjang. Refleks Acha memekik kaget dan hendak menendang Arlan sebagai bahan penyelamatan untuk dirinya sendiri, namun gerakan Arlan lebih cepat serta gesit dari gerakannya.
Tak putus asa, Acha hendak memukul Arlan dengan pukulan telak tapi tenaganya kalah dengan tenaga Arlan saat pemuda itu menahan kedua tangannya diatas kepalanya. Acha mencoba berteriak meminta tolong sebagai perlawanan terakhirnya, tapi harus kembali urung saat Arlan ******* bibirnya dengan kasar.
Merasa ada celah, Acha kembali membangkitkan semangat dalam dirinya dengan lututnya yang mencoba memukul aset berharga Arlan. Namun niatnya kembali urung saat Arlan merobek tank topnya hanya dengan satu tangan. Mata Acha terpejam, dirinya pasrah sekarang.
"Ar, ini Acha please berhenti." Lirihnya, seakan tuli, Arlan bergeming dan terus melanjutkan aksi nya yang dalam pengaruh obat perangsang.
Sentuhan demi sentuhan dari tangan kekar Arlan berhasil membuat Acha menggigit kuat bibir bawahnya hingga dia mengingat sesuatu. Takut terlambat, Acha pun meraba sisi kiri nya mencari dimana ponsel Arlan yang sempat dirinya lempar tadi.
Berusaha setenang mungkin, Acha menunggu Roy menerima panggilan darinya. "Please Roy angkat sekarang," Lirih Acha yang mulai menyadari kalau tubuhnya kini sudah tak tertutup apapun juga Arlan yang semakin hilang kendali atas tubuhnya sendiri.
"Hal—"
"Arsip CCTV kamar 009 di club xxx dan ha... Hapus seluruh jejak yang ada saya nya!" Acha menahan tangan Arlan yang terus meraba semakin jauh, Roy tidak boleh mencurigai sesuatu antara dirinya dan Arlan yang sedang terjadi sekarang.
"Nona? Nona anda di—"
Tuttt.
Refleks Acha menggenggam erat ponsel Arlan yang masih berada ditangannya dengan air mata yang perlahan turun. Acha menatap Arlan yang ada diatasnya dengan pandangan sendu. Bahkan Acha tak peduli saat ponsel Arlan terus berbunyi menandakan kalau ada panggilan masuk.
Ketika suara Arlan yang begitu menikmati menggema dalam ruangan, Acha tersenyum miris. Giginya saling bergemeletuk, menahan rasa sakit yang tak mampu Acha deskripsikan. Ketika tengah malam melewati waktu, Arlan menyelesaikan, pria itu menjauh dari Acha, berpindah ke sisi samping dan kesempatan itu Acha gunakan untuk meraih ponsel Arlan di tepi ranjang, sedikit lagi saja, ponsel itu pasti akan jatuh.
Acha menarik selimut di kakinya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut lalu menoleh ke arah Arlan yang tengah memejamkan matanya. Acha menghela napasnya begitu gusar, dia melihat ada banyak sekali panggilan tak terjawab. Bukan hanya dari Roy, tapi juga dari keluarga besar laki-laki yang tengah tertidur di sampingnya itu.
Saat Acha hendak menekan nomor Roy, secara tidak terduga, Arlan terbangun. Laki-laki itu meracaukan nama Acha, lalu membuka matanya tepat ke arah Acha. "Sayang? Cintaku?" Sorot mata Arlan yang sayu membuat tangan Acha tanpa sadar meremas selimut.
"Ar, s-sakit," Kedua mata Acha berkaca-kaca. Dia tahu jika Arlan belum sadar, laki-laki itu masih di pengaruhi alkohol. Tapi Acha ingin sekali mengadu, bahwa seluruh tubuhnya sangat sakit.
Arlan mengerutkan keningnya, laki-laki itu menipiskan jarak di antara keduanya. "Kamu cantik banget, mirip sama pacar aku. Kamu pacar aku kan?"
Yang tadinya ingin menangis, Acha mendadak terkekeh. "Ar, kamu lucu banget kalau lagi mabuk."
Sekejap, Acha melupakan kesedihannya. Wanita itu merasa lucu akan sikap Arlan, "Aku mau lagi." Arlan merengek, sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Acha.
Terus menciumi tiada puas sampai pertarungan yang sangat Acha ingin hindari, kembali terjadi. Acha hanya pasrah saat kedua tangannya di tahan tangan Arlan tepat di atas kepalanya, ketika Arlan semakin buas, Acha hanya bisa tersenyum kecut. Dia mirip sekali seperti pelacur saat ini.
Kapan akan berakhir? Acha ingin menghentikan semua tindakan gila Arlan padanya! Tapi,
Acha sungguh tau kalau itu semua tak akan pernah terjadi. Harapan hanyalah harapan. Acha pernah berprinsip pada dirinya sendiri, dia akan memberikan harta berharga nya hanya untuk suaminya kelak. Arlan, dia hanya kekasihnya yang bisa meninggalkan nya kapan saja.
Apa yang harus Acha perbaiki untuk sesuatu yang telah rusak?
Gadis—tidak, dia adalah wanita malang yang kini terus meneteskan air matanya. Melihat betapa gagahnya sang kekasih namun perlakuannya, menyayat hati Acha. Kamu mabuk, Ar. Besok kamu akan lupa pada semuanya.
Lalu setelah ini, apa yang harus Acha lakukan?
Apa takdir memang tidak pernah berpihak padanya?
Acha hanya bisa kembali berharap, semoga kebahagian benar-benar nyata untuknya dikemudian hari.
Tuhan, apa lagi kejutan mu untuk ku selanjutnya?
...***...