Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
35. Yes I'm Acha



• 13.45 WIB


Arlan mengerjapkan matanya dengan tubuh yang mendadak fresh, Arlan pun terduduk lalu merenggangkan otot-otot tubuhnya yang bahkan Arlan belum menyadari dimana dirinya sekarang. Saat hendak membuka suara, gejolak hebat terasa dari perutnya.


Refleks Arlan meloncat dari atas ranjang dan berlari memasuki kamar mandi lalu memuntahkan isi perutnya diatas wastafel. Arlan menyandarkan punggung nya di dinding dengan mata terpejam juga tangan nya yang terus memijat pelan kening nya yang terasa berdenyut.


Merasa tak ada perubahan, Arlan pun berniat keluar kamar mandi namun urung saat dia tak sengaja melihat pantulan dirinya didepan cermin besar. Arlan membeku, terkejut melihat tubuh polosnya yang terpampang nyata di pantulan cermin. Arlan menyentuh kepalanya, mencoba mengingat tentang apa yang dia lakukan semalam.


Seingat nya, Arlan berpamitan pada Acha karena ingin ikut berkumpul bersama teman-teman setim basket nya yang ternyata mereka memilih club sebagai tempatnya. Awalnya Arlan hendak balik lagi, tapi enggan karena tak enak sudah berjanji untuk ikut. Apalagi Arlan termasuk tipe laki-laki yang begitu memegang erat janjinya.


Di kelab malam, mereka berkumpul di ruangan khusus yang sudah dipesan. Arlan terus berusaha menekan dirinya agar tidak tergoda oleh minuman alkohol itu, takut dirinya akan pulang dan menyakiti Acha nantinya. Jadinya dia hanya ikut kumpul dan sibuk memainkan ponselnya.


Sampai sebuah cola datang, ternyata itu teman-temannya yang memesan untuk Arlan karena melihat Arlan yang sejak tadi tak menyentuh wine sedikit pun. Arlan tersenyum tipis dan segera menenggak kaleng soda yang sudah dibuka tanpa rasa curiga sedikitpun.


Menghabiskan cola ditangannya, tak lama kemudian Arlan merasa panas dan gairah dalam tubuhnya melonjak tinggi. Arlan mendesis pelan saat merasa kalau kesadaran nya mulai menipis, Arlan tak mau kebablasan apalagi sampai menyakiti hati gadisnya nanti. Jadi dia langsung pamit pergi tapi seseorang menahan lengannya.


Dia berucap, "Lo gak baik-baik aja bro. Mending istirahat dulu dikamar 008," ucapnya.


Ditengah kesadaran nya yang kian menipis, Arlan mengangguk setuju karena kalau dia pulang dengan keadaan seperti ini. Kemungkinan besar dia melukai Acha akan sangat besar. Dia pun berjalan keluar ruangan itu menuju kamar nomor 008 yang berhasil membuat si pria tersenyum miring penuh kemenangan.


Si pria pun segera berlari mendahului Arlan untuk melakukan rencana gila nya selanjutnya. Sedangkan Arlan, entah kenapa, setiap kali ada ****** yang menggoda nya, wajah itu wajah Acha yang dirinya lihat. Tapi gadisnya tidak mungkin berada ditempat ini, jadi Arlan terus berusaha menahan diri dari gairah sialan itu.


Didepan kamar yang dia yakini nomor 008, Arlan hendak masuk namun kembali urung saat tangannya ditahan seseorang. Lagi-lagi wajah yang Arlan lihat adalah wajah Acha. Arlan terus memberontak, agar cekalan kuat gadis itu terlepas dari tangannya karena sentuhan tangan gadis itu pada kulitnya berhasil membuat kesadaran otaknya kian menipis.


Bahkan setelah ingat tangannya diikat, Arlan tak ingat apapun lagi setelahnya. Dia hanya ingat tentang dirinya yang ingin sebuah kepuasan dan dia melakukan hal itu pada seseorang berwajah serupa dengan Acha. Dengan cepat Arlan menggeleng, pasti dia hanya halusinasi saat malam itu.


Dengan kasar, Arlan mengacak rambutnya yang sudah berantakan. "Astaga, kebodohan apa yang udah gue lakukan?" Mirisnya dengan sorot penuh rasa bersalah yang tertuju pada Acha.


Tak ingin terlambat untuk mencari informasi, Arlan pun segera membersihkan dirinya lalu keluar kamar mandi. Diluar kamar mandi, kening Arlan mengernyit saat tak melihat kemeja yang dia kenakan semalam. Juga tubuhnya yang mendadak tegang saat dia melihat ada sisa bercak darah diatas seprei putih itu.


"Ya Tuhan, apa yang sudah aku lakukan?" Gumam nya dengan pandangan yang terlihat semakin penuh rasa bersalah.


Kini dirinya yakin, kalau gadis semalam itu berniat menolong nya dari jebakan para bedebah itu tapi dengan bodohnya, Arlan malah menyetubuhi gadis itu. Gadis yang Arlan lihat berwajah serupa dengan gadis kesayangannya. Arlan ingat, kalau saat dirinya menggauli gadis itu, Arlan terus menyebut nama kekasihnya.


Lalu bagaimana dengan gadis itu sekarang? Apa dia masih ada disekitar sini atau memang sudah pergi meninggalkannya. Tak mau terlambat, Arlan pun segera memakai celana yang semalam dirinya pakai dan hendak mengambil ponselnya. Namun mendadak urung saat dia melihat sebuah tank top yang sudah robek.


Arlan berjongkok, meraih tank top itu lalu mencium aroma parfum yang sangat dirinya kenali. Merasa otak nya semakin kacau, Arlan pun menggeleng. "Mana mungkin gadis malam itu gadisku? Dia pasti masih ada saat aku bangun dan dia pasti langsung marah, bahkan bisa benci padaku."


Mendadak, Arlan termenung dengan pandangan kosong. "Lalu bagaimana kalau gadisku tau tentang kejadian malam itu? Ya Tuhan, aku tak siap kalau harus melihat dia membenci lelaki brengsek ini."


Kalian semua yang terlibat, harus mendapatkan balasan yang setimpal. Bahkan harus lebih.


***


Sekian lama diperjalanan, akhirnya mereka tiba didepan sebuah bangunan yang menjulang tinggi. Mei, perempuan berpenampilan tomboy itu terlihat segan kalau harus membangunkan Acha yang masih terlelap dalam tidur nyenyaknya.


Tapi luka di kening dan luka gores dibeberapa bagian tubuh terbuka Acha harus segera diobati, kalau terlambat hanya akan membuat sang Nona terinfeksi. Dengan keberanian yang hanya secuil, Mei menepuk pelan lengan sang Nona agar terbangun.


Acha yang memang sudah bangun sejak tadi dan lebih memilih memejamkan matanya pun langsung membuka matanya saat Mei menepuk pelan lengannya. Acha menoleh menatap Mei lalu mengangguk dan segera turun lebih dulu, membiarkan Mei memarkirkan mobil yang mereka gunakan tadi.


Dengan langkah anggun dan tegasnya, Acha memasuki gedung menjulang tinggi itu. Tanpa segan, Acha menaikan dagunya sebagai tanda kalau dirinya patut dihormati oleh mereka semua yang masih sibuk bekerja. Ah, satu hal yang perlu kalian ketahui, kalau Acha sudah berganti pakaian.


Saat dijalan tadi, Acha meminta berhenti sejenak disebuah butik terkenal yang tak lain tak bukan adalah butik cabang milik sang Mamah. Acha menganti pakaian nya tadi dengan sebuah dress sepanjang lutut dengan tangan sebatas siku juga kerah yang menutup lehernya.


Dia tak mau kalau ada pekerja yang melihat tanda kepemilikan yang Arlan buat di lehernya. Tanpa berniat menyapa para karyawan, Acha pun masuk ke dalam lift khusus petinggi yang akan membawanya ke lantai teratas gedung megah juga tinggi itu.


Keluar dari lift, Acha berjalan menuju satu ruangan yang ada dilantai itu. Tanpa permisi, Acha membuka pintu bertuliskan CEO ROOM yang berhasil membuat dua manusia berbeda gender yang sedang bercumbu didalam ruangan itu tersentak kaget dan tambah kaget saat melihat siapa yang datang.


Tapi Acha tak memedulikan tentang keterkejutan dua orang itu, bahkan dengan santainya Acha duduk di depan kursi CEO yang ada si CEO dan juga wanita di pangkuannya. Acha melipat kedua tangannya didepan dada sambil menatap dingin dua orang itu yang belum juga berubah posisi.


Menyadari posisi dirinya dan si wanita, CEO itu pun langsung mendorong si wanita sambil melemparkan cek yang berisi uang bayaran untuk wanita ****** itu. Wanita itu pun langsung pergi tak lupa menatap sinis Acha yang bahkan Acha sendiri hanya tak acuh tak peduli.


"Nona? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seseorang itu seraya merapikan dasi nya lalu tersenyum ramah menatap Acha.


Tanpa adanya rasa takut sedikitpun, Acha memajukan tubuhnya lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya yang ada diatas meja. "Tuan Griffin, tutup mulut atas apa yang anda lihat dan semuanya akan baik-baik saja."


Griffin—Kakak sepupu Arlan, terlihat menegang sambil berusaha tersenyum yang kesan nya malah seperti dipaksakan. Dia memang sudah tahu tentang apa yang terjadi pada Adik sepupunya, karena kejadian Arlan malam itu, terjadi di kelab malam milik Griffin. Ditambah lagi Griffin mendapat informasi dari pekerjanya di club itu.


Kalau Arlan datang dan berkumpul dengan teman-temannya di tim basket, karena tak mau ketinggalan berita, Griffin pun langsung memerintahkan anak buahnya di bagian CCTV untuk memastikan kemana saja Arlan pergi selama di kelab malam miliknya.


Hingga seseorang berpengaruh memintanya mengarsip CCTV kamar 009 dan menghapus beberapa CCTV di bagian tertentu. Griffin tentu menuruti karena dia masih sayang dengan usaha yang sudah dia bangun susah payah. Tapi sebelum dihapus, Griffin sudah lebih dulu melihat semuanya.


Jadi sekarang, dengan canggung Griffin mengangguk. "Apapun untukmu, Nona. Ada lagi yang perlu saya bantu?"


Acha menggeleng seraya berdiri dari duduknya, "Kerja sama saya terima."


Mendengar itu, Griffin membekap mulutnya sendiri menahan pekikan senang nya. Sedangkan Acha tak peduli, dan segera pergi karena dia harus kembali ke rumah Arlan sebelum pemuda itu pulang lebih dulu. Sebelum sampai rumah, tak lupa Acha membeli concealer dan foundation terbaik untuk menyamarkan tanda dilehernya.


Di jam 11 siang, Acha tiba di rumah Arlan. Dia pun langsung masuk kedalam kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Setelah selesai, Acha pun memilih memakai daster rumahan karena luka dikakinya cukup menyusahkan kalau dia harus memakai celana panjang.


Tak lupa juga dia memoleskan foundation dan concealer dilehernya agar tanda keunguan itu bisa hilang dari pandangan mata. Tak lupa Acha juga memakai foundation dan concealer itu untuk menutupi luka-luka di kaki dan punggung tangannya. Lengan nya tak terluka, karena dia memakai hoodie berlengan panjang.


Meski perih terasa nyeri di kakinya, Acha tak peduli dan memilih ke dapur untuk membuat makanan. Dia benar-benar lapar sekarang, apalagi tenaga nya terkuras habis semalam. Dia juga harus menyiapkan bekal agar terlihat biasa saja saat di depan Arlan nanti.


...***...