
...H E L L O !đź‘‹...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Setelah memastikan Acha tertidur dengan nyenyak, Arlan pun segera bangkit dengan sepelan mungkin dan berlalu pergi untuk menyelesaikan beberapa masalahnya. Sebelum pergi, Arlan menyempatkan untuk mengecup kening dan juga bibir gadisnya yang sedikit membengkak karena ulahnya. Tidak lupa Arlan menunduk, mengecup beberapa kali perut wanitanya.
Tujuan Arlan sekarang adalah mansion utama keluarganya, dia ingin menyelesaikan satu persatu masalah yang akan membuat hubungan nya dan sang kekasih renggang. Setibanya di mansion utama, Arlan langsung masuk ke lift dan berhenti di lantai 3.
Langkah tegas dari kaki jenjang nya terdengar menggema di setiap sudut lorong lantai 3, yang membuat para bodyguard yang berjaga langsung refleks menundukkan kepalanya. Didepan pintu sebesar gajah dewasa, Arlan masuk tanpa mengetuk lebih dulu.
"Aku ingin kau batalkan keberangkatan kuliah ku ke Amerika," Ucap Arlan yang langsung to the point pada apa yang ingin dirinya sampaikan.
Pria tua dengan kaca mata yang bertengger manis di hidung mancungnya itu mulai mendongak menatap sang cucu, "Dimana sopan santun mu wahai cucu kesayangan ku?"
"Hentikan candaan mu itu, Tuan Robin. Berhenti menyetir kehidupan ku, aku sudah dewasa dan aku bisa menyetir kehidupan ku sendiri. Batalkan keberangkatan ku, maka perusahaan kesayangan mu itu akan tetap berada diranah teratas." Ucap Arlan dengan sorot mata mendingin.
Robin Zeneouska—Sang Tuan besar Zeneouska, terkekeh pelan sambil melepas kaca mata kebanggaan nya. "Kau berani membantahku? Kalau begitu, aku akan membuat... Dia bertemu dengan Kakak nya," Ancamnya.
Tangan Arlan terkepal erat dengan rahang mengeras, selalu saja sang Bunda yang dijadikan ancaman oleh pria tua bau tanah itu. Pria tua yang selalu bersikap seperti Kakek yang sempurna dimata media namun nyatanya, dia hanyalah pria tua haus harta dan tahta yang ingin mendapatkan semuanya tanpa mau lelah.
Menjadikan dirinya seperti boneka hidup yang akan dengan mudah disetir kesana-kemari, di tuntut menjadikan perusahaan semakin kuat dengan posisi tertinggi. Dituntut menjadi sempurna tanpa mau memandang bagaimana lelahnya menjadi dirinya. Sekolah, les, dan bekerja di satu waktu.
"Tuan Robin yang terhormat, anda bisa menyetir kehidupan siapapun tapi berhenti menyetir kehidupan ku! Atau kau memang ingin melihat perusahaan kesayangan kau itu menjadi rata dengan tanah?" Tanya Arlan yang tak pernah main-main dengan ucapannya.
Dan Tuan Robin tau, kalau cucu nya itu tidak pernah bercanda dalam ucapan nya. Maka hanya ada satu cara yang akan senantiasa membuat Arlan patuh padanya. "Kalau begitu, besok kau akan menemui nya dalam wujud kaku tak bernapas."
Prangg!
"Bajingan!"
Gelas yang awalnya tertata rapih diatas meja kerja Tuan Robin kini sudah hancur menghantam layar televisi yang ada di ruangan itu. Hingga tiba-tiba Arlan mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya lalu menodongkan tepat ke kepala Tuan Robin.
Hampir peluru itu menembus kepala Tuan Robin, sebelum sebuah suara kembali berputar di kepalanya.
"Wahai Cucu laknat ku, biasakan bermain tampan. Jangan terburu-buru atau kau akan rugi, dengarkan ucapan Kakek kesayangan mu ini maka hidupmu akan tentram dan damai. Tos dulu cucu laknat ku!"
Pistol itu menjauh dari kepala Tuan Robin bersamaan dengan bahu Tuan Robin yang langsung merosot karena lemas. Masih dengan gejolak emosi dalam dirinya, Arlan berbalik dan berlalu pergi meninggalkan mansion utama tanpa bertemu dengan sang Bunda lebih dulu.
Ditujuan keduanya, Arlan berhenti didepan sebuah gedung yang menjadi tempat Jo bersama anak buahnya berada. Arlan memasuki lift yang akan membawanya kelantai paling atas. Setibanya di sana, Arlan pun langsung duduk di kursi kebesaran nya.
"Bagaimana, Jo?"
Jo menoleh, "Semua bukti nya menghilang tanpa jejak, Tuan muda. Sepertinya memang ada yang menutupi dengan sengaja dan seseorang yang ikut campur itu tidak bisa dibilang biasa saja. Mereka bukan lawan kami, Tuan muda." Jelasnya yang membuat Arlan langsung memijat pelan pelipisnya.
"Benar-benar tidak ada jejak apapun yang kalian temukan?"
Sambil menunduk, Jo menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Tuan muda. Mereka benar-benar menutupnya dengan sangat rapat dan juga bersih."
...***...
Pagi harinya, Acha mengerjap kan matanya beberapa kali lalu segera bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai membersihkan diri, Acha segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu membalurkan tubuhnya dengan handuk, berjalan keluar menuju walk in closet.
Saat sedang mengeringkan rambutnya, Acha dibuat menghela napas dengan kedatangan Arlan yang langsung memeluknya dengan tiba-tiba. Sedangkan Arlan, pemuda itu memilih menumpukan dagunya di bahu Acha dengan mata yang terpejam, menikmati aroma lavender dari tubuh gadisnya.
"Ar, aku mau pakai baju dulu. Bisa keluar?" Tanya Acha tanpa membalikan tubuhnya dan hanya menatap Arlan dari pantulan cermin.
"Biarkan seperti ini dulu," Ucap Arlan dengan nada beratnya.
Nada suara yang membuat Acha harus mengingat kembali tentang kejadian malam itu, bukan trauma, Acha hanya masih merasa tak nyaman mengingat dirinya yang memilih menutup semuanya dari Arlan. Enggan membuat masalah, Acha pun memilih diam bak patung dengan perasaan sedikit was-was saat hembusan hangat napas Arlan menerpa tengkuk lehernya.
Pikiran Arlan benar-benar kacau saat ini, memikirkan tentang keberangkatan nya ke Amerika dan tentang gadis malam itu. Belum lagi tentang kekasihnya yang akan dia tinggalkan karena ingin menyelesaikan sekolahnya dan juga masalah perusahaan yang kini tengah menggila. Oh astaga!
Semakin memikirkan itu semua, semakin erat Arlan memeluk Acha dari belakang. Bahkan Acha sampai harus menahan napas saat lidah Arlan bergerak nakal di tengkuk lehernya. Acha pun langsung menahan tangan Arlan saat pemuda itu hendak membalikan tubuhnya menghadap kearah Arlan.
"Sayang, please."
Acha jadi tak tega saat melihat pantulan wajah Arlan dari cermin didepan nya yang terlihat benar-benar kacau. Acha pun membalikan tubuhnya, membiarkan Arlan memangut bibir nya dengan begitu menggebu. Satu tangan Acha mencengkram kuat pinggang Arlan dan satu tangannya yang menahan handuk nya agar tidak melorot.
Ciuman Arlan semakin turun ke leher Acha hingga kembali meninggalkan beberapa tanda keunguan yang berhasil membuat Acha menahan rasa kesal dalam dirinya. Padahal tanda sisa kegiatan beberapa waktu lalu belum menghilang dan Arlan kini sudah menambahnya kembali.
"Ar, cukup." Ucap Acha seraya menahan tangan Arlan yang hendak menyentuh dada nya.
Arlan tersentak dan langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Acha, "Maaf sayang. Hampir aja aku kelepasan lagi," Lirihnya yang membuat Acha tersenyum tipis.
"Aku maafin, tapi sebagai syaratnya. Kamu harus temenin aku ke Bandung, ke makam Kakek aku." Ucap Acha dan tanpa membantah Arlan mengangguk kan kepalanya.
Beberapa jam diperjalanan, mereka berdua pun akhirnya tiba disebuah makam yang menjadi tempat sang Kakek dari Acha dimakamkan. Acha meminta Arlan agar menunggu nya di mobil, karena Acha ingin curhat berdua dengan Kakek nya.
Karena tak mau menganggu privasi gadisnya, Arlan pun mengangguk patuh dan bilang pada Acha kalau Arlan ingin membeli minuman sebentar. Acha pun pergi memasuki area makam sedangkan Arlan pergi membeli minuman untuknya dan juga untuk Acha.
"Halo, Kakek. Kakek baik-baik aja kan di sana? Kakek apa kabar? Kakek kangen El gak? El kangen banget loh sama Kakek. Kek, El kesini sama calon nya El. Nanti kapan-kapan El ajak Arlan kesini buat ikut ngobrol sama Kakek, tapi bukan sekarang." Ucap Acha seraya mengusap lembut batu nisan yang bertuliskan nama sang Kakek.
Eldora, dan hanya sang Kakek yang memanggil nya dengan nama itu. Disaat Acha bertanya, kenapa memanggilnya dengan nama yang berbeda. Maka sang Kakek akan menjawab dengan begitu santai dan tanpa beban, seperti ini contohnya.
"Kakek gak mau panggil nama kamu yang sudah pasaran," Acha pun yang mengingat nya hanya bisa tertawa saja.
Dengan mata yang mulai berembun, Acha berucap. "Kek, malam itu harta yang paling berharga untuk El telah direnggut oleh kekasih El sendiri. Bahkan Arlan gak tau kalau gadis itu El, Kek. Sekarang apa yang harus El lakukan? Jujur? Tapi bagaimana caranya? El gak tau harus memulai semuanya darimana."
"Kakek lagian kenapa harus pergi duluan sih? Kenapa gak biarin, El duluan aja yang pergi habis itu baru Kakek. Setelahnya kan, kita bisa tetep kumpul. El pengen diomelin sama Kakek lagi, El pengen main di sawah lagi sama Kakek, El pengen main sama Kerbau lagi. El pengen semuanya yang sering kita lakukan saat di sawah," Lirihnya.
"Kakek, Mamah dan Papah ternyata punya keluarga masing-masing. Apa mereka masih ingat sama El? Kayaknya mereka udah lupa kalau punya anak perempuan yang namanya Acha Basilia Eldora deh. Hehe," sambungnya sambil mengusap kasar air matanya.
Selepas menaburkan bunga dan menyirami air mawar, Acha pun segera pergi menuju parkiran dimana Arlan sudah menunggu nya di sana.
...***...