
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
• 04.55 WIB
Pagi-pagi sekali Acha sudah berjalan menuruni anak tangga menuju dapur karena dirinya ingin membuat sesuatu yang memang sejak semalam ingin dia buat. Setibanya di dapur, Acha langsung menaruh ponselnya diatas meja makan lalu memakai apron.
Tangan Acha mulai bergerak lincah memotong bawang-bawangan dan juga cabe, tapi gerakan nya terpaksa harus terhenti saat dering ponselnya berbunyi. Acha mendengus pelan lalu mencuci tangannya sebelum menerima panggilan telepon yang entah dari siapa itu.
Athar is calling ...
Kening Acha mengernyit bingung, menatap sebuah nama yang telah lama tak pernah bersemayam di beranda telepon nya kini kembali terlihat. Mengangkat bahunya acuh, lantas Acha menerima panggilan itu lalu mendekatkan kesamping telinga nya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam, Ya?"
"Cha, kita ketemu ya? Ada banyak hal yang perlu aku jelasin sama kamu."
Mungkin kalau dulu, Acha akan langsung menyetujui nya dengan senang hati dan tanpa berpikir panjang lagi. Tapi sekarang suasana nya sudah berbeda. Perasaan Acha untuk Athar sudah lama mati, tepatnya setelah lelaki itu menikah dengan perempuan lain yang sialnya, perempuan itu pernah menjadi sosok idola bagi Acha.
Tanpa sadar, Acha terkekeh miris. Sejak awal, perasaan nya memang sudah ditakdirkan untuk tidak pernah memiliki balasan jenis apapun. Semua persepsi nya semakin kuat kala Athar lebih memilih perempuan lain daripada dirinya yang memang sudah bersama dengan Athar sejak kecil.
Seharusnya, kalau memang Athar benar-benar memiliki perasaan yang sama dengannya, Athar harusnya tetap berjuang demi masa depan mereka berdua. Athar tahu siapa sosok dirinya, harusnya Athar jujur pada Acha tentang semua perjodohan dan ancaman dari keluarga pemilik raga yang Athar tempati.
Andai Athar jujur sejak awal, pasti mereka sedang bahagia sekarang. Dan Acha pasti tidak akan mengandung anak Arlan. Ah, Acha tak pernah menyesali tentang hadirnya sang buah cinta. Acha hanya menyayangkan sifat Athar yang terlampau patuh sampai sulit untuk melanggar barang sejenak pun.
Tapi persepsi nya ikut memudar kala ketulusan Arlan mulai dirinya sadari. Tatapan teduh dari mata yang biasanya menatap tajam, senyuman manis, sikap hangat, dan tutur katanya yang begitu lembut berhasil membuat Acha bisa menyukai pemuda itu dalam jangka waktu yang sangat cepat bahkan sangat-sangat cepat.
"Gue kabari nanti."
Diseberang sana, Athar menggenggam erat ponselnya dengan perasaan berkecamuk yang sulit dideskripsikan. "Oke, aku tunggu kabar baiknya."
Tutt.
Acha mematikan sepihak panggilan lalu mulai menghubungi nomor Arlan yang semalam pemuda itu tidak pulang. Di panggilan kedua dan ketiga, panggilan tak terhubung hingga di panggilan keempat baru terhubung.
"Ar?"
"Maaf lancang sebelumnya, Nona. Perkenalkan saya Maria, sekretaris Tuan muda Arlan."
Acha terdiam sejenak dengan pikiran negatif yang mulai berkeliaran di kepalanya, salah satunya tentang Arlan yang mungkin saja berselingkuh dengan sekretaris nya seperti cerita-cerita novel yang pernah dirinya baca. Membayangkan hal itu beneran terjadi, Acha tak bisa menahan kekesalan nya.
"Dimana suami saya?" Tanya Acha dengan nada ketus nya yang berhasil membuat Maria meringis pelan mendengar nya diseberang sana.
"Tuan muda sedang ada meeting penting dan ponselnya ada pada saya, maaf kalau lancang menerima panggilan dan juga maaf kalau saya lancang bertanya. Apa ada yang bisa saya sampaikan pada Tuan muda, Nona?"
"Gak ada!"
Tanpa bertanya lebih, Acha memutuskan panggilan sepihak lalu berjalan cepat ke kamarnya dan ya, Acha gagal masak pagi ini karena mood nya yang mendadak hancur. Didalam kamarnya, Acha mengambil ponselnya lalu menelpon tangan kanan nya, Roy.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Kapan keberangkatan nya?"
"Siang ini pukul 1, Nona."
"Berapa lama dia di sana?"
"Sampai beliau dinyatakan sembuh dan kemungkinan butuh waktu bertahun-tahun sekaligus dengan terapi dan lainnya."
Acha menarik satu sudut bibirnya lalu memutuskan panggilan sepihak selepas mengucapkan terima kasih tentunya. Berdiri dari duduknya, Acha berjalan menuju balkon kamarnya lalu berdiri dengan pandangan lurus juga bibir nya yang menyunggingkan sebuah senyuman miring.
"Kalian salah kalau menilai tentang aku yang acuh, karena apa? Karena seorang Acha Basilia Eldora selalu lebih cepat 2 langkah dari kalian semua. Kalian menjalankan, maka aku menikmati. Bukankah akan sangat seru? Banyak drama, hehe."
Sambil meniup ujung kukunya, Acha menunduk saat sebuah timah panas hampir menembus kepalanya. Acha kembali berdiri tegak lalu menatap sinis bayangan seseorang berpakaian hitam, tak lupa satu jari tengahnya yang terangkat tinggi.
"**** you!"
...***...
• 15.45 WIB
Mereka bertemu terakhir kali saat dihari pernikahan Sameera, lalu sekarang mereka akan bertemu kembali dengan kondisi perut Acha yang buncit karena hamil. Pasti akan sangat seru melihat ekspresi kaget campur kecewa—mungkin saja kan? Acha mah percaya diri aja dulu, buktinya belakangan.
Ah, perlu kalian ketahui. Setelah ujian kenaikan kelas, Acha memutuskan untuk berhenti sekolah. Kenapa? Karena Acha memang sudah lama lulus kuliah tepatnya karena dia mengikuti kelas akselerasi. Lalu saat orang tuanya semakin gila kerja, Acha pun memilih sekolah kembali.
Dengan niat ingin melupakan sejenak permasalahan di keluarganya yang tiada henti, tapi tetap saja dirinya akan murung saat sendirian. Tapi sekarang, Acha sudah memiliki alasan untuk dirinya terus bahagia dan tersenyum. Yang pertama tentu anaknya yang tak lama lagi akan lahir.
Sebelum pergi meninggalkan rumah, Acha tak lupa mengirimkan Arlan pesan. Acha masih kesal karena kejadian pagi tadi, jadi dia lebih memilih tidak menelepon dan lebih memilih mengirimkan pesan. Tak perduli kalau yang baca sekretaris pemuda itu atau siapapun, yang penting Acha sudah izin pergi.
...Pak Buaya🐊...
^^^Ar, aku izin pergi sama |^^^
^^^ Athar. ^^^
^^^Share Location...^^^
^^^Itu tmpatnya. Klo kmu |^^^
^^^ kepikiran sesuatu atau ^^^
^^^ curiga sma aku, mending ^^^
^^^ langsung samperin aja. ^^^
Setelah memastikan kalau pesan nya terkirim, Acha pun lekas memasukan ponselnya kedalam tas, tidak lupa dirinya memperkeras nada dering panggilan kalau sewaktu-waktu Arlan menelepon nya dan Acha bisa langsung menjawab nya.
Didalam mobil dengan Roy yang menjadi pengemudi, Acha duduk diam sambil membaca sebuah buku yang beberapa bulan terakhir ini menjadi buku andalan nya. Buku tentang Ibu hamil dan segala macamnya. Sebagai calon Ibu muda, Acha tentu harus mempelajari banyak hal agar tak melakukan banyak kesalahan.
Tak lama kemudian, mobil yang Acha tumpangi tiba didepan sebuah restoran sederhana yang menjadi pilihan Acha sendiri. Acha turun lebih dulu, tidak lupa dirinya mengajak Roy ikut agar Acha tak hanya berduaan dengan Athar. Lebih tepatnya, Acha malas meladeni kalau ada kesalahpahaman.
Ceklek.
Saat suara knop pintu terbuka terdengar, Athar dengan pakaian formal yang masih melekat ditubuh nya menoleh menatap Acha lalu terdiam dengan pandangan yang mengarah pada perut Acha. Acha tersenyum, lalu duduk didepan Athar dengan Roy yang senantiasa berdiri disampingnya.
"Maafkan atas keterlambatan saya, Nona."
Ketiga orang itu kompak menoleh, menatap Mei yang tengah mengatur napasnya sambil mengusap peluh keringat di dahinya. Mei tersenyum canggung lalu berdiri di samping Roy. Kedatangan Mei tentu atas perintah Acha, dengan alasan yang sama. Acha enggan mendengar fitnah yang mengarah ke dirinya.
Kalau ada seseorang yang memfitnah nama baik nya dengan perkataan, murahan karena di satu ruangan dengan dua cowok berbeda, maka kini ada Mei. Ya, seorang Acha memang sewaspada itu terhadap kemungkinan-kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
"To the point," Ucap Acha seraya menyeruput teh hijau kesukaan nya yang sudah tersaji.
Athar masih terdiam dengan keterkejutan nya, "Cha. K-kamu?"
Lelaki tampan itu terlihat meneguk air liurnya dengan kasar, sedangkan Acha malah mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iyaps, ini adalah hasil kerja keras Arlan selama semalaman."
Tanpa canggung ataupun segan, Acha mengucapkan sesuatu yang berhasil membuat Athar kembali terdiam dengan rasa sesak di dadanya. "Cha, aku kira... Ruang di hati kamu masih tersisa buat aku," Ucapnya tersenyum miris.
Bukan nya kasihan, Acha malah terkekeh. "At, di detik ini pun kamu masih bisa bilang kayak gitu? Kamu pasti kenal aku, aku gak suka sama penghianat dan pembohong. Apa susahnya buat jujur, At?"
"Gak gitu, aku ngelakuin semuanya karena aku emang gak punya kua—"
"Kamu salah, At. Kuasa aku lebih besar dari orang-orang yang berani menyetir kehidupan kamu, kenapa gak jujur aja, At? Setidaknya, gak sesakit saat aku tau dari orang lain," Acha menaruh kembali gelas teh nya dengan gerakan elegan.
Saat Athar hendak menggenggam tangan Acha, Acha sudah lebih dulu berdiri. "Aku tau, At. Rhaline juga lagi hamil dimasa-masa beratnya seperti sekarang. Tolong temani dia, buat dia bisa merasa nyaman dan aman. Jangan sakiti hatinya karena dia benar-benar mencintai mu dengan tulus. Cinta nya lebih besar dari cinta seorang Acha Basilia Eldora pada Athar."
"Jangan bodoh, At. Penyesalan akan tiba dan itu akan sangat menyakitkan juga membebani pikiran mu. Cepat perbaiki sebelum terlambat, dan ingat satu hal... Hati Acha sudah tertutup rapat. Selamat berjuang di kehidupan baru yang jauh dari ekspetasi, Acha pamit."
Mengukir senyum tipis, lantas Acha berbalik dan pergi meninggalkan Athar yang tengah menatap punggung Acha dengan pandangan sendu.
"Kisah kita telah lama selesai, silakan mulai kisah baru yang lebih indah dan bermakna."
— Acha Basilia Eldora
"Berdamai dan mencoba menjalani adalah hal yang patut dilakukan saat ini, jadi mari jalani semuanya dan ikuti kemana takdir akan membawa ku pergi."
— Atharriq Pradhitama
...***...
Kisah Acha dan Athar selesai sampai disini, mereka sudah tak memiliki hubungan lebih selain pertemanan yang masih terjalin. Buat shipper Acha-Athar, go move on. Mereka bukan jodoh, karena jodoh sudah diatur sama tangan aku.
Next? Spam koment yuk!