
...H E L L O !👋...
...~ H A P P YÂ R E A D I N G ~...
...***...
"Gimana?"
"Dari info yang saya dapat, Nona Aurel pindah ke luar kota karena hamil. Awalnya dia ingin mengugurkan tapi entah apa alasan nya, dia malah mempertahankan dan pindah ke luar kota tepatnya Surabaya. Untuk Nona Rania, dia berada di rumah sakit jiwa dan setelah pihak kita selidiki. Nona Rania tak bisa disembuhkan."
"Untuk Tuan muda Maxime, dia akan melanjutkan kuliah nya di Australia karena ikut dengan Nyonya Gistara yang juga memilih pindah kesana atau tempat kelahiran Nona Alisya. Untuk Tuan muda Legenda, dia akan kembali ke Jerman untuk mengurus perusahaan Ayah nya karena tugasnya menjaga Tuan muda Arlan sudah selesai."
Acha mengangguk paham mendengar penjelasan dari Roy yang memang dirinya minta untuk menyelidiki tentang mereka-mereka itu. Merasa tak ada yang dibutuhkan lagi, Acha pun memutuskan sambungan selepas berucap terima kasih.
Tokk tokk tokk...
"Masuk!"
Tak lama, seorang wanita cantik dengan pakaian formal nya tersenyum sopan menatap Acha yang tengah sibuk dengan laptopnya. "Nona, siang ini kita ada meeting dengan perusahaan Tuan Manuel."
"Jam berapa?" Tanya Acha tanpa mengalihkan pandangan nya sama sekali.
"Jam 2, Nona." Jawab sang sekretaris yang langsung dibalas anggukan dari Acha.
Inilah salah satu alasan kenapa Acha sering tidur saat menjelang pagi, bahkan Acha sering telat saat tiba di sekolahnya. Itu semua karena tanggung jawab yang harus dirinya pikul sendirian. Menjadi seorang pewaris tunggal kekayaan sang Kakek yang tak bisa dibilang sedikit. Selain itu, Acha juga harus mengurus harta peninggalan Papinya Mildreda.
Tak cukup sampai disitu, kini Acha juga harus terjun langsung dalam hal perebutan saham yang memang milik dirinya. Saham sebesar 70 persen dari ZNK Company, yang artinya Acha bisa dengan mudah menggeser posisi Ayahnya Arlan sebagai CEO. Tapi untuk saat ini, Acha masih enggan memimpin ZNK Company.
Memimpin perusahaan terbesar di Dubai yaitu WLS Corp saja sudah membuat Acha pusing tujuh keliling, ditambah dengan warisan dari Papinya Mildreda yang juga harus dirinya yang mengurus. Sebuah perusahaan di bidang fashion yang berpusat di Prancis. Ya, sepusing itu menjadi seorang Acha.
Diharuskan memimpin perusahaan raksasa saat usianya baru 12 tahun kala itu, juga diharuskan menjadi dewasa oleh keadaan lalu dihancurkan oleh kenyataan tentang keluarga nya. Acha dan Arlan sama, mereka memiliki sebuah kesamaan yang membuat keduanya dengan sangat mudah saling mencintai.
Arlan yang hidupnya terus disetir oleh Kakek nya sendiri dan Acha yang harus dibuat kuat oleh kenyataan tentang orang tua yang bahkan melupakan dirinya. Dibalik sikap bar-bar nya, ngeselin nya, konyol nya, dan ceria nya. Acha tak lebih dari seorang pemain peran handal yang sangat mudah menguasai keadaan.
Dibelakang layar atau diluar pandangan orang-orang, Acha dikenal sebagai sosok yang sangat tegas, berwibawa, anggun, dan juga tetap pada pendirian nya. Tapi didepan layar atau di pandangan orang-orang, Acha dikenal sebagai sosok yang ceria nya overdoses, bar-bar, konyol, dan tidak tahu malu.
Menyadari betapa lelah otak dan fisiknya, rasanya Acha ingin tertawa lalu melampiaskan semuanya dengan tangisan. Tapi Acha enggan melakukan hal yang akan membuang pundi-pundi uangnya. Karena 1 menit waktunya terbuang, maka 1 miliar uang nya akan melayang. Jadi Acha harus pandai mengatur waktu.
Ini juga yang membuat Griffin begitu segan pada Acha, karena kuasa seorang Acha jelas diatas kuasa Griffin meski Griffin bagian dari Zeneouska sekalipun. Karena kenyataan nya, Acha bisa merebut posisi Andrija dengan begitu mudah tapi entah apa yang gadis itu pikirkan, dia malah tidak merebut posisi itu juga sampai sekarang.
Juga tentang apa yang Arlan dan Jo bicarakan mengenai perempuan malam itu yang bukan orang sembarangan. Kini terjawab sudah, Acha—gadis yang malam itu tidur dengan Arlan memang bukan orang biasa. Dibelakang sosoknya, banyak tameng yang setia menjaganya saat satu lalat hendak menempeli nya.
Jadi menutup akses informasi dari pelacakan anak buah Arlan, tidak terlalu sulit untuk Acha lakukan. Selagi ada uang dan kemampuan, maka semuanya akan berjalan dengan lancar, aman, dan damai. Begitu lah pemikiran Acha.
Hingga tak terasa, jam sudah menunjukan pukul 1 siang yang artinya Acha sudah melewatkan waktu makan siangnya. Ah, bahkan Acha belum makan sejak semalam. Pantas saja perutnya mulai terasa sakit, ini pasti karena asam lambungnya yang akan segera kambuh.
Mencoba mengatur napasnya, Acha menyandarkan punggung nya di sandaran kursi kebesaran nya lalu melepas kaca mata yang setia bertengger di hidung mancungnya. Tangan Acha terangkat, memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut, mungkin karena dirinya terlalu sibuk bekerja beberapa minggu terakhir ini.
Saat sedang melamun, Acha dibuat tersentak kaget dengan sesuatu yang melintas di kepalanya tanpa permisi. Dengan sedikit panik, Acha mengambil kasar ponselnya dan melihat tanggal juga bulan apa sekarang. Di detik itu juga, tubuh Acha menegang dengan detak jantung menggila.
"Oh ****!"
Tanpa membuang waktu lagi, Acha pun segera bangkit dari duduknya. Memakai topi dan juga masker, lantas Acha berlalu pergi bertepatan dengan sang sekretaris yang hendak masuk ke dalam ruangannya. "Nona, anda mau kemana? Ini laporan untuk persiapan meeting nanti," Ucap sekretaris nya.
Acha menghentikan sejenak langkahnya, "Kamu gantikan saya." Ucap Acha dan hendak melanjutkan langkahnya namun kembali urung saat mendengar ucapan sekretaris nya.
"Maaf, Nona. Tuan Manuel yang meminta agar anda langsung yang menghadiri rapat," Ucap sekretarisnya itu.
"Gantikan sama kamu kalau dia tetap mau lanjut, kalau nggak, batalkan. Simple kan," Tanpa menunggu balasan dari sekretaris nya, Acha pun langsung pergi begitu saja.
Di dalam taksi, Acha meminta diberhentikan disebuah apotek. Sesampainya di sana, Acha juga tak lupa meminta supir taksi itu agar menunggunya. Setelah sopir taksi mengangguk, barulah Acha pergi masuk kedalam apotek sambil merapikan masker dan topi yang dirinya kenakan.
"Semua jenis testpack, masing-masing satu."
...***...
Di tempat lain, tepatnya disebuah ruangan yang begitu luas dan juga simple tapi elegan, ada Arlan yang sejak tadi terus keluar masuk kamar mandi karena perutnya yang selalu bergejolak ingin memuntahkan isi perutnya. Terlalu lelah bulak-balik, Arlan pun menyandarkan punggungnya didinding.
"Sindrom couvade, apa mungkin dia benar hamil anakku?"
Arlan ingin berpikir jika Acha lah yang hamil anaknya, tapi beberapa hari lalu, Acha merajuk berkata perutnya sakit. Sudah sangat jelas, pasti wanitanya itu sedang kedatangan tamu bulanannya, sebab Acha memang selalu haid di tanggal itu, jadi Arlan sudah hafal. Maka sekarang, hanya ada satu kandidat lain, ya, wanita malam itu.
Dua minggu lalu, Arlan memeriksa kesehatannya kerumah sakit atas paksaan tiga wanita penting dalam hidupnya. Arlan menurut dan saat pihak medis menanyakan apa gejala yang dia rasakan sambil terus memeriksa dirinya. Arlan pun menjelaskan gejala yang dia rasakan.
Tapi anehnya, mata Dokter itu menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu ucapan Dokter selanjutnya berhasil membuat tubuh Arlan menegang. Menurut Dokter, kemungkinan besar Arlan mengalami yang namanya sindrom couvade yaitu disaat seorang suami yang mengalami morning sickness saat sang istri hamil.
Lalu saat tiba di mansion utama, Arlan langsung ditodong dengan berbagai pertanyaan dari sang Bunda. Sampai akhirnya Arlan jujur dan menceritakan tentang apa yang pernah dia alami malam itu. Bunda nya benar-benar kecewa bahkan sampai memarahi nya untuk pertama kalinya.
Arlan tidak menceritakan tentang apa yang juga dia lakukan bersama Acha, Arlan hanya takut, Bundanya akan berpikir negatif tentang wanitanya.
"Nak, Bunda tidak pernah mengajarkan kamu menjadi lelaki yang lepas tanggung jawab. Cari wanita itu sampai ketemu, nikahi dia karena dia sedang mengandung darah daging mu."
Ingin mendengar jawaban lain dari sang Bunda, Arlan pun menceritakan tentang Acha—sang kekasih yang begitu dirinya cintai, tentu tentang kejadian itu dirinya longkap. Reaksi Bundanya hanya bisa terdiam dengan tangan yang terus memijat pelipisnya yang terasa pusing, "Arlando. Gadis itu memang kekasihmu tapi wanita itu Ibu dari anakmu, pilihlah wanita yang memang pantas untuk menerima pinangan mu."
"Kekasihmu masih muda, masa depan nya jelas masih cerah. Cari Ibu dari anakmu, bawa dia kehadapan Bunda dan Ayah. Nikahi dia, beri tanggung jawab penuh atas apa yang sudah kamu perbuat padanya," Sambung sang Bunda hari itu.
Saat itu, Arlan benar-benar dibuat pusing tujuh keliling. Dia tak bisa melepas kekasih kesayangannya tapi dia juga tak mau jauh apalagi sampai kehilangan anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia ini. Arlan frustasi sampai terus mengurung diri diruang kerja dengan puluhan berkas yang menumpuk.
Sampai sore itu, Arlan dengan gamblang bertanya pada sang Bunda. "Nda, kalau Mas mau bertanggung jawab atas anak Mas tapi tidak dengan menikahi Ibunya, bagaimana? Mas akan menikahi kekasih Mas dan merawat anak Mas bersama dengan kekasih Mas. Mas juga gak akan larang Ibunya untuk bertemu anak Mas."
Bukannya mendapat dukungan, Arlan malah mendapat cubitan jengkel dari sang Bunda. "Adek! Jangan berpikir aneh, mungkin kamu dan kekasihmu itu belum berjodoh. Jadi cari Ibu dari anakmu, nikahi dia! Bunda tidak mau tau!!"
"Nda, bagaimana kalau wanita itu seorang preman? Pembunuh? Pengemis? Atau penipu? Memang Bunda mau punya menantu seperti itu?" tanya Arlan yang masih tak rela bahkan tak akan pernah rela kalau harus melepas kekasihnya.
"Apa salahnya? Selagi dia bisa memperbaiki diri, setidaknya berhenti dari apa yang kamu sebutkan tadi. Bunda tidak masalah, sekalipun dia berwajah buruk rupa."
Arlan menyerah, dia mengaku kalah kalau harus berdebat dengan sang Bunda. Akhirnya Arlan kembali memerintahkan Jo dan anak buahnya untuk kembali menyelidiki tentang gadis malam itu. Dan ya, dari detik itu sampai hari ini Arlan belum sempat menghubungi kekasihnya.
Tak bisa dipungkiri, kalau Arlan sangat merindukan gadisnya. Suara lembutnya, tingkah ajaib nya, wajah cantiknya, pokoknya semua yang ada pada Acha, Arlan merindukan nya. Masih dengan punggung nya yang bersandar pada dinding, Arlan mulai menegakkan punggung nya dan duduk kembali di kursi kebesarannya.
Ingin rasanya Arlan menelepon Acha, tapi ponselnya disita sang Bunda katanya agar Arlan bisa move on dari kekasihnya dan fokus mencari Ibu dari anaknya. Untuk masalah pekerjaan, sekretaris nya yang memegang kendali kala ada investor atau apapun itu yang ingin berbicara dengan Arlan melalui panggilan telepon.
"Astaga, kepala ini rasanya seperti akan pecah!"
Arlan mengacak frustasi rambutnya hingga pintu ruangannya terbuka, memperlihatkan sang sekretaris yang berjalan mendekat kearahnya. Sekretarisnya itu tersenyum sopan sambil membungkuk kan badannya sedikit.
"Maaf menganggu waktunya, Tuan muda. Meeting di restoran pantai xxx akan dilaksanakan pukul 3 sore, jadi kita harus berangkat sekarang." Ucap sang sekretaris yang langsung diangguki oleh Arlan.
Dengan wajah yang masih sedikit pucat, Arlan mengangguk dan berdiri sambil merapikan jaz kerjanya.
...***...
Gimana? Next??
Spam koment yukk!!!!