
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
"Hoam~~ pagi selamat world!"
Acha menguap lebar seraya menggaruk pipi nya yang tak gatal, entah kenapa, semalam tidurnya terasa begitu nyenyak padahal dihari sebelum-sebelumnya, Acha akan selalu bangun ditengah malam dan akan tidur saat pagi menjelang tapi semalam dirinya malah tertidur dengan sangat nyenyak.
"Gue bukan lagi simulasi mati kan?" Monolog nya seraya menatap kaget pada jam dinding yang menunjukan pukul 7 pagi.
Tiba-tiba Acha tersentak kaget saat mengingat kalau hari ini dirinya harus sekolah. Dengan panik, Acha loncat dari atas ranjang nya lalu berlari memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. 10 menit didalam kamar mandi, Acha pun keluar dengan hanya memakai bathrobe.
"****! Gue belum suruh Roy buat ambil seragam sekolah gue," Umpat Acha seraya menonjok gemas angin.
Dengan kasar, Acha mendudukkan dirinya diatas sofa bersamaan dengan kening nya yang mendadak berkerut. Acha menolehkan kepalanya lalu menatap bingung sebuah jas hitam yang tersampir di sofa. Acha mengambil jas itu lalu mencium aroma parfum yang sepertinya tak asing.
"Apa Roy semalam datang kesini? Tapi ini bukan bau parfum nya si Roy," Gumam Acha.
Jelas Acha sangat mengingat bagaimana bau parfum tangan kanan nya, karena parfum Roy adalah pemberian Acha. Acha selalu melarang Roy membeli parfum sendiri karena Acha tak menyukai aroma aneh, jadi Roy hanya pasrah saja dengan parfum pilihan Nona nya.
Ah, apa ada yang bingung dengan kedekatan Acha dan Roy?
Biar Chera jelaskan.
Sejak di kehidupan sebelumnya, Roy memang sudah menjadi tangan kanan, anak buah, sekaligus bodyguard untuk Acha yang dipilih langsung oleh Kakek nya. Bagaimana bisa Roy kenal Acha padahal Acha di raga Mildreda?
Jelas karena Acha. Acha berjuang dengan segenap kesabaran nya saat menjelaskan pada Roy tentang dirinya yang masih bernapas sampai detik ini. Tak semudah itu untuk Roy percaya, karena mereka berdua harus terus berdebat lebih dari 5 jam lamanya.
Sampai akhirnya, Acha membocorkan tentang rahasia Roy yang hanya mereka berdua ketahui. Mau tak mau Roy percaya dan kembali mengabdikan dirinya pada sang Nona dalam raga berbeda. Meski raga berbeda, sifat sama saja. Pecicilan, bar-bar, cerewet, dan juga selalu pede tingkat dewa.
Usia, jarak antara usia Acha dan Roy memang terbilang jauh. 19 tahun. Roy berusia 35 tahun sedangkan Acha 16 tahun. Ya, Roy memang sudah mendampingi Acha sejak gadis itu masih bayi sampai Acha sebesar sekarang. Ibarat kata, Roy adalah pahlawan sesungguhnya bagi Acha.
Karena Ayah nya yang gila kerja, Acha merasa dia bukan pahlawan untuknya. Hanya Roy. Sosok Ayah yang baik untuknya, sosok teman yang asik diajak gosip, sosok pacar yang bisa diajak ngedate, dan sosok pengawal yang selalu siap siaga saat Acha membutuhkan nya. Pokoknya Roy yang paling the best buat Acha.
"Bau ini gue kayak gak asing, tapi siapa? Athar? Gak mungkin, parfum Athar gak kayak gini bau nya." Sambung Acha seraya menaruh kembali jas itu keatas sandaran sofa.
Ceklek.
Lamunan Acha mendadak buyar saat pintu kamarnya dibuka, Acha menoleh lalu tersenyum senang saat melihat ternyata Roy yang datang. "Roy! Kau tau tidak, siapa yang punya jas ini?" Tanya Acha seraya menyodorkan jas hitam itu kehadapan Roy.
Dengan kening mengernyit bingung, Roy menerima jas hitam itu lalu menghirup aroma parfum yang sedikit menyengat. "Ini bukannya aroma parfum Tuan muda?" Gumam nya dengan suara pelan.
"Roy, bicara sama Acha?"
Roy tersentak lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada Nona. Seperti nya saya tidak tahu siapa pemilik jas ini dan kalau Nona mengizinkan, saya akan membawa jas ini untuk diselidiki."
"Bawa aja, Acha gak butuh kok. Oh ya, Roy bawa seragam sekolah Acha gak?" Tanya Acha seraya menatap Roy.
Pria matang itu tersenyum tipis membalas tatapan dari mata indah Acha, "Semua keperluan anda sudah disiapkan Nona. Silakan periksa lemari disebelah sana," Ucapnya.
"Oh, okelah. Roy bisa keluar? Acha mau ganti baju."
"Tentu, Nona. Saya izin pamit untuk menyelidiki siapa pemilik jas ini. Permisi,"
...***...
"Kau yakin mereka tidak berpacaran?"
Satu alis Arlan terangkat dengan satu tangannya yang sibuk mengetuk-ngetuk meja dengan seirama. "Sangat yakin, Tuan muda. Karena saya kenal Nona Acha sudah sejak dirinya bayi," Ucap Roy.
"Terus kenapa kemarin mereka cium-cium kayak gitu?" Tanya Arlan dengan wajah nya yang berubah dingin.
Roy menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "Mereka sahabatan sejak kecil dan mereka terbiasa seperti itu. Mungkin mereka masih kebawa kebiasaan masa kecil mereka dulu," Ucap Roy.
"Aku tak percaya kalau diantara mereka tak ada yang memiliki perasaan lebih, menurut kau bagaimana?" Tanya Arlan lagi yang memang belum puas dengan apa yang sudah Roy jelaskan padanya.
Lebih sialnya, Acha menuruti dan laporan pada Roy kalau Athar malah menjawab tak sesuai dengan ekspetasi nya. "Maaf kalau jawaban saya melukai anda, Tuan muda. Tapi yang saya tau, Nona memang menyukai Tuan Athar-ah maksud saya Tuan muda Ariq."
Rahang Arlan mengeras mendengarnya, "Apa perlu aku membunuh si anak pungut satu itu?!" Tanya Arlan dengan nada dinginnya.
Roy menggeleng ribut, "Astaga! Jangan Tuan muda. Kalau anda nekat membunuh Tuan muda Ariq, maka anda sendiri yang akan rugi. Satu, anda tak akan bisa bersama Nona karena anda harus menerima perjodohan itu. Dua, Nona akan marah kalau tau Tuan muda yang membunuh lelaki yang Nona sukai."
Arlan termenung. Yang Roy ucapkan memang benar, yang rugi bukan Athar tapi dirinya sendiri. Mau bagaimana pun, Athar sudah berperan penting dalam kelangsungan hidupnya salah satunya dengan rela mengganti kan posisi nya sebagai seorang yang dijodohkan nanti.
Tapi tunggu, "Roy! Si anak pungut kan udah dijodohin, terus kalau Acha tau, dia pasti bakal sedih. Iya kan? Terus saya harus ngapain?!" Tanya Arlan dengan nada yang berubah panik juga khawatir.
Ini lah yang Roy tunggu-tunggu sejak tadi, "Anda tak perlu melakukan hal berlebihan. Nona menyukai laki-laki yang terkesan dingin dan penuh rahasia, Nona suka tantangan. Kalau anda bersikap humble dan langsung lembut, Nona malah akan menjauhi anda karena anda bukan tipe nya."
"Kau tak sedang mempermainkan ku kan?" Tanya Arlan dengan tatapan memicing nya.
"Saya tidak berani, Tuan muda."
Arlan mendengus malas lalu menggerakkan tangannya seakan menyuruh Roy untuk pergi dari ruangannya, "Anda terlalu cepat memulai Tuan muda. Lain kali, pakailah pemanasan."
Hampir saja gelas diatas meja melayang kearah Roy kalau Roy tak sigap berlari dan segera menutup pintu. Lalu Arlan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi seraya memejamkan matanya sambil membayangkan bagaimana wajah cantik Acha yang berhasil mengusik dinding pertahanan di hatinya.
Kembali ke Acha,
Hampir 30 menit dijalan karena macet, Acha pun akhirnya tiba didepan gerbang ZHS yang sudah tertutup. Acha mencebikkan bibirnya dan hendak berbalik namun urung saat sebuah motor berhenti tepat disampingnya.
Acha menoleh lalu terdiam saat melihat Arlan yang membuka helm nya dengan gerakan lambat, didalam hatinya, Acha berdecak pelan. Karena enggan ketahuan guru yang akan berakhir dihukum, Acha pun cepat-cepat membalikkan badan nya dan hendak melangkah namun lagi-lagi terurung.
"HEI! JAM BERAPA INI? KENAPA KALIAN BARU DATANG?!"
Dan ya. Keduanya berakhir dengan hukuman berdiri sambil hormat didepan tiang bendera. Bahkan Acha tak pernah absen menyebutkan nama-nama hewan kebun binatang. Sambil sesekali mengusap peluh keringat di keningnya, Acha mendengus pelan.
"Laper, mana belum sarapan lagi." Gumam Acha seraya mengerucutkan bibirnya.
Tanpa Acha sadari, ada Arlan yang terus curi-curi pandang kearahnya. Bahkan Arlan terus saja menahan senyum saat melihat raut wajah Acha yang mudah sekali berubah. Ah kenapa gadisnya sangat menggemaskan? Kalau begini, mana mungkin Arlan bisa tahan dengan pura-pura dingin juga cuek.
Tiba-tiba, Acha menoleh menatap Arlan yang juga sedang menatapnya. Acha menyipitkan matanya, "Si ganteng kan? Siapa tuh namanya? Acha lupa deh," Ucap Acha seraya terus mendekat ke depan wajah Arlan.
Melihat Acha yang terus mendekat, Arlan pun menahan napas sambil memejamkan matanya. Padahal Acha hanya berniat membaca name tag yang ada di dada kiri Arlan. Setelah berhasil membaca siapa nama si pemuda, Acha pun mengangguk paham.
"Ar, kenapa lo malah tutup mata njir?" Tanya Acha seraya menepuk kuat bahu Arlan seakan Arlan adalah teman satu frekuensi nya.
Arlan tersentak lalu refleks membuka matanya sambil terus merutuk didalam hati. Bahkan telinga nya ikut memerah mengingat tingkah bodohnya tadi. Tapi tunggu deh, "Ar?" Tanya Arlan.
"Iya lah. Nama lo kan Arlan, ya Acha panggil Ar." Jawab Acha dengan santai.
"Please, jangan bilang kalau lo suruh Acha buat panggil dengan nama Lan. Acha tuh mau yang beda jadi biarin aja," Ucap Acha sebelum Arlan membuka suara.
Acha melipat kedua tangannya didepan dada, "Btw. Emm, cewek yang malam itu pacar lo ya?"
"Pantes sih, dia cantik juga. Mungkin pas di RS, Acha doang yang halu." Sambung Acha yang lagi-lagi tak memberi kesempatan untuk Arlan berbicara.
Kening Arlan berkerut, "Halu? Apanya yang halu?"
Acha mengangkat bahu nya acuh lalu kembali menatap keatas tiang bendera, "Gak ada. Mungkin emang Acha nya aja yang gak akan pernah dijadikan spesial, hehe. Udah ah, Acha mau bolos dulu. Bye, Ar!"
Mata tajam itu menatap intens pada punggung Acha yang semakin jauh, "Kamu spesial bahkan sangat spesial buat aku, Cha."
Hanya laki-laki bodoh yang berniat menolak pesona kamu.
...***...
Guyss, masih tim siapa nih?
Yokk spam!!!