Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
50. Yes I'm Acha



...H E L L O  !👋...


...~ H A P P Y  R E A D I N G ~...


...***...


Acha menatap kosong ke depan dengan kedua tangan yang saling bertaut, sesekali gadis cantik itu menghela napasnya dengan kasar lalu memejamkan matanya sejenak. Hampir satu jam duduk sendirian disini, Acha masih enggan berdiri dan pergi.


"H-hai, sorry kalo ganggu."


Suara seseorang yang asing ditelinga nya terdengar, Acha menoleh lalu tersenyum tipis menatap seorang gadis bergaun sebatas lutut dengan make up yang masih lengkap di wajahnya. Dia, Sameera—Kakak sepupu dari Arlan yang hari ini menikah.


"Harusnya gue yang bilang gitu, sorry karena harus ganggu acara pernikahan kalian." Ucap Acha seraya kembali menatap lurus ke depan saat Sameera duduk disampingnya.


Sameera, gadis itu tersenyum manis lalu mengangguk. "Santai aja lah, yang pentingkan aku sama suami udah akad sebelumnya. Jadi kalau cuma pesta mah, gak usah dipikirin."


Mendengar itu, ingatan Acha kembali mundur ke kejadian beberapa jam sebelum nya. Dimana saat-saat yang sangat dirinya takuti telah terjadi. Disaat pilihan harus sudah ditentukan dan resiko harus siap ditetapkan. Semuanya berjalan sesuai ekspetasi nya.


"A-Athar?"


Lelaki tampan itu tersenyum manis menatap Acha dan tanpa sepengetahuan Acha serta yang lainnya, Athar mulai berjalan mendekat kearah Letizia yang hanya pasrah saat kedua tangannya ditahan oleh anak buah Tuan Robin agar Letizia tak bisa pergi kemana pun.


Tepat saat Athar sudah berdiri di samping Letizia, lelaki itu langsung menembak mati anak buah Tuan Robin tepat di kepalanya yang berhasil membuat mereka semua tersentak kaget. Begitu pun dengan Arlan yang langsung memeluk Acha sebagai bahan perlindungan pertama.


Berbeda dengan Acha yang tetap tenang, Letizia malah menatap sedih putranya karena anak yang sudah dia lahirkan dan besarkan kini lebih memilih memeluk seorang gadis yang baru masuk ke kehidupan putranya. Athar? Lelaki itu lebih memilih menarik tangan Letizia dan membawanya pergi.


Kini tersisa lah Acha, Arlan, dan juga Tuan Robin. Acha mendorong pelan dada bidang Arlan agar menjauh dari dirinya lalu tatapan nya menatap tenang pada sosok Tuan Robin yang mulai menaruh rasa kebencian pada Acha. Gadis yang menurutnya sudah mulai lancang karena ikut campur dalam urusan keluarganya.


Dengan tangan terkepal erat, Tuan Robin mulai pergi menjauh dengan kursi rodanya. "Kita lihat, siapa yang akan kalah nanti."


Acha menyeringai tanpa sepengetahuan Arlan.


"Hei?"


Mendapat sebuah tepukan di bahunya, Acha tersentak kaget lalu menatap Sameera yang menatapnya khawatir. Acha tersenyum tipis sebagai tanda kalau dirinya baik-baik saja, tapi Sameera malah menatap nya semakin khawatir.


"Are you okay? Kamu tenang aja, Tante Letizia itu orangnya baik dan lembut banget. Beliau gak akan marah tapi hanya kecewa, jadi sabar aja ya?" Ucap Sameera seraya mengelus lembut bahu Acha.


Saat itu, selepas kepergian Tuan Robin dengan kemarahan nya karena secara tidak langsung, dia gagal membuat Arlan kembali bertekuk lutut didepannya. Acha pun diajak Arlan pergi ke kamar Bunda dari pemuda itu. Dikamar Letizia, bukannya mereka mendapatkan senyuman hangat, Acha malah mendapatkan ucapan ketus juga jutek.


"Arlan! Sudah berapa kali Bunda bilang, jauhi mantan kekasih mu itu! Cepat cari Ibu dari calon cucuku!"


Sontak, Acha menatap Arlan dengan wajah bingung nya. Arlan pernah bilang kalau dia sudah bilang pada Bunda nya tentang pernikahan mereka, tapi apa sekarang? Letizia malah seperti menatap Acha dengan pandangan marah dan juga merendahkan yang membuat Acha memutar bola mata malas.


"Kamu! Dasar perempuan tidak tau malu! Harusnya kamu jangan deket-deket dengan putraku! Putraku sudah memiliki calon istri!"


"Nda!" Arlan menatap Bunda nya dengan tegas, seakan meminta agar Bunda nya tak lagi mengucapkan kalimat yang hanya akan melukai hati istrinya.


Jujur saja, saat itu Acha sudah sangat malas meladeni drama keluarga yang menurut nya sangat klasik. Seorang Acha, tidak akan pernah merasa tersakiti ataupun sedih kalau ada orang yang mencaci dirinya. Semuanya hanyalah angin lalu yang hanya akan singgah sebentar dan kembali pergi setelah nya.


"Nda, Mas gak tau sekarang waktu yang tepat atau nggak. Tapi Mas mau bilang sama, Nda. Acha, dia istri Mas sekarang dan gadis malam itu Acha. Acha yang sekarang sedang mengandung anak Mas." Ucap Arlan yang langsung pada intinya malam itu.


Berbeda dengan Acha yang hanya tenang, Arlan malah harus menahan kekesalannya mati-matian. Arlan paling tidak suka saat ada orang yang menjelekkan kekasihnya, istrinya apalagi Ibu dari anaknya. Tapi yang mengucapkan itu semua sekarang adalah Bunda nya, yang membuat Arlan harus menekan emosi nya.


Bukannya langsung percaya dengan ucapan putranya, Letizia malah tertawa. "Dan kamu percaya? Mungkin dia takut kehilangan harta kamu makanya dia ngaku-ngaku jadi gadis malam itu dan juga ngaku-ngaku kalo dia hamil anak kamu. Bisa aja dia hamil anak lelaki lain atau dia emang ******? Jangan-jangan, anaknya nanti juga murahan kayak Ibunya!"


Brakk!


Dengan wajah tenang namun tatapan menghunus tajam, Acha menatap Letizia tanpa perduli tentang sopan santun nya lagi. Mungkin kalau Letizia menghina dirinya, Acha akan sangat biasa saja. Tapi kalau sudah menyangkut anak yang bahkan belum dirinya lahirkan, tak ada toleransi.


"Dengar, Nyonya Letizia yang terhormat. Sekali bahkan seribu kali anda menghina saya, saya terima dengan senang hati. Tapi tidak untuk anda yang menghina anak saya!" Acha menatap tangan Arlan yang terkepal erat lalu tersenyum tipis.


Dirinya tahu kalau Arlan juga sama emosi nya dengan dirinya tapi Arlan tak bisa melepas amarah nya karena yang Arlan hadapkan saat ini adalah Ibu kandung dari pemuda itu. Wanita yang sudah rela bertaruh nyawa hanya untuk melahirkan dirinya ke dunia ini dan wanita yang dengan sigap menjadi obat kala Arlan merasa lelah dengan kehidupan penuh aturannya.


Dan tanpa basa-basi lagi, Acha segera berlalu pergi bahkan Acha hanya acuh saat Arlan terus memanggilnya namun ucapan Letizia berhasil membuat langkah Acha terhenti tepat diambang pintu. "Arlando! Berani kamu mengejar dia, maka jangan anggap aku sebagai Ibu mu!"


Acha tersenyum tipis tanpa berbalik badan, "Temani Ibu mu. Jangan jadi anak durhaka, aku tunggu dilain waktu."


...***...


Empat bulan kemudian...


Seorang gadis dengan dress panjang sebatas lutut dengan warna hitam itu terlihat berjalan sendirian disebuah supermarket dengan troli di depannya. Tak lupa ada kaca mata, masker, dan juga topi yang selalu dirinya pakai saat berada diluar area rumahnya.


"Waktu berlalu dengan begitu cepat," Kekehnya sambil mengambil sebuah susu Ibu hamil lalu memasukkan nya kedalam troli.


Selama 4 bulan ini, Acha merasa seperti menjadi wanita simpanan dari Arlan. Pemuda itu hanya akan pulang saat tengah malam lalu pergi saat menjelang subuh. Semuanya karena Letizia. Wanita itu mengalami serangan jantung yang membuatnya harus dirawat 24 jam di rumah sakit dengan segala macam alat yang menempel ditubuh nya.


Empat bulan ini juga, keputusan Letizia masih sama. Wanita itu menganggap kalau Acha hanyalah gadis murahan yang menipu anaknya dan tetap melarang Arlan agar tak berhubungan lagi dengan Acha. Sejujurnya, itu bukanlah satu alasan yang sebenarnya. Karena apa? Karena ada kebenaran lainnya yang lebih mengejutkan.


"Oke anak Mommy, mari kita pulang."


Selepas membayar semua belanjaan nya, Acha segera berlalu pergi menuju rumahnya bersama Arlan.


Disisi lain, Letizia terlihat tengah menatap lurus keatas langit-langit ruangan nya dengan air mata yang terus menetes dari pipinya. Tapi dengan cepat, Letizia menghapus air matanya lalu tersenyum miris kala bayangan wajah seseorang melintas di kepalanya.


"Maafkan Bunda, Bunda memang egois, Nak."


Melihat wajahnya, Letizia dibuat ingat kembali tentang wajah seseorang yang sangat dirinya benci. Seseorang yang membuat alasan nya hidup pergi lebih dulu bahkan sebelum dirinya diizinkan untuk melihat, memeluk, dan mencium wajah mungilnya. Seseorang yang amat sangat Letizia benci sampai detik ini.


"Kenapa kamu harus jadi anaknya dia? Apa tidak ada wanita lain yang bisa menjadi Ibumu?"


Marvello Dizon—Papih kandung Mildreda sekaligus mantan kekasih dari Letizia. Sebelum menikah dengan Micha—Ibunya Mildreda, Marvel memiliki hubungan spesial dengan gadis blasteran Serbia dan Indonesia. Mereka kenal saat bertemu untuk pertama kalinya di Leskovac.


Mereka satu sekolah sejak dijenjang Menengah Pertama, lalu diakhir SMA mereka pun memutuskan bertunangan dan melanjutkan kuliah di kuliah internasional. Karena pergaulan budaya yang bebas, mereka ikut terjerumus dan berakhir dengan Letizia yang mengandung anak dari sang Kekasih, Marvel.


Namun bersatu bukan hal yang mudah untuk mereka lakukan, ada banyak pertentangan yang harus mereka pikirkan. Sampai akhirnya, Marvel ternyata telah dijodohkan oleh orang tua nya hanya karena bisnis. Letizia yang memang memiliki sifat keras kepala pun tetap berjuang mempertahankan apa yang harus menjadi miliknya.


Dihari pernikahan Marvel, Letizia datang sebagai perusuh namun bukannya mendapat dukungan dari Marvel, Letizia malah dipermalukan dengan cara Marvel yang pura-pura tak mengenal nya. Terlalu sakit hati dan kecewa, Letizia pun pergi dari acara pernikahan itu dengan luka terbuka dihatinya.


Sampai seminggu kemudian, Letizia mulai bertindak keterlaluan dengan dirinya yang seakan menjadi ******. Berusaha menggoda Marvel yang berstatus suami orang. Micha, wanita itu merasa marah dan kesal saat Letizia yang terus mencoba mendekati suaminya sampai akhirnya Micha membuat rencana untuk memusnahkan Letizia.


Micha yang kala itu tidak tahu kalau Letizia sedang hamil pun menyuruh anak buahnya untuk menembak perut Letizia agar wanita itu masuk rumah sakit dan berhenti menggoda suaminya. Dan ya, Letizia tak lagi mendekati Marvel. Bukan karena kalah, tapi karena Letizia yang depresi kehilangan anak didalam kandungannya.


Dan dari detik itu, Marvel terus dihantui rasa bersalah saat tahu kalau calon anaknya gugur karena istrinya sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun untuk Letizia sembuh dari depresinya. Bukan karena Letizia yang mulai hidup normal kembali, sang Kakak kembar dinyatakan meninggal karena dibunuh.


Latichia, Kakak kembarnya yang sudah menikah dengan seorang pengusaha kaya raya itu harus tewas karena keegoisan Ayah mertuanya sendiri. Ya, Tuan Robin lah yang membunuh Kakak kembar Letizia hanya karena Latichia yang belum juga memberikan keturunan untuk penerus selanjutnya kekayaan keluarga Zeneouska.


Hingga Letizia harus terjebak diantara rencana Tuan Robin. Dengan liciknya, Tuan Robin memaksa anaknya—Andrija agar menikahi Letizia dengan tujuan supaya Andrija memiliki anak untuk meneruskan usaha keluarganya. Andrija tentu menolak karena mendiang istrinya saja belum genap seminggu didalam kubur.


Bukan Tuan Robin namanya kalau tidak menghalalkan segala cara agar keinginan nya terwujud. Tuan Robin pun mengancam Letizia, kalau Tuan Robin akan membunuh seluruh keluarga besar Letizia kalau Letizia berani menolak rencananya. Dan ya, Andrija dan Letizia menikah hanya demi bisa memberi Tuan Robin seorang cucu.


Dua tahun kemudian, Arlan kecil lahir ke dunia ini. Arlan kecil yang berhasil membuat suasana suram keluarga Zeneouska mulai berwarna dengan tawa lucunya, tangisan nya, dan tingkah random nya. Tapi warna itu tak bertahan lama, karena sosok pemberi warna mulai ikut suram karena banyak tekanan dari Kakek nya.


"Mungkin niat awalku menikah dengannya hanya agar kamu lahir lalu aku akan pergi dengan kebebasan tapi setelah melihat wajah polosmu, semua rencana ku hancur lebur bak tak tersisa sebutir pun. Kamu alasanku tetap bertahan dan tetap lah bersamaku, jangan pernah meninggalkan ku."


Letizia tidak lah jahat, dia hanya takut ditinggalkan kembali seperti apa yang pernah dirinya rasa kan dulu. Ditinggalkan Marvel, calon anaknya, lalu Kakak kembarnya. Dan sekarang, Letizia tidak mau ditinggalkan kembali oleh anak satu-satunya.


Wanita berwajah pucat itu terkekeh miris, "Aku bisa gila kalau kamu lebih sering menemaninya. Bunda gak bisa melarang kamu tapi Bunda juga gak bisa kalau kamu harus jauh dari Bunda. Si tua bangka itu licik, bahkan sangat licik."


Tanpa Letizia sadari, seseorang diambang pintu sudah mendengarkan semua ucapannya dengan seringai kejam diwajahnya. Seseorang itu berdehem pelan hingga atensi Letizia teralihkan kepada nya. Letizia terdiam membeku melihat seseorang itu.


"Aku lebih licik, mari selesaikan semuanya bersama."


Satu sudut bibir Letizia terangkat membentuk sebuah seringai yang tak pernah dia perlihatkan hampir 20 tahun terakhir, "Tentu. Menyelesaikan bersama akan lebih menyenangkan."


...***...


Kira-kira rencana apa dan alur bagaimana yang ingin mereka selesai kan bersama??


Next?