Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
55. Yes I'm Acha



Rapat dadakan Arlan lakukan untuk menyelesaikan kerja samanya bersama dengan perusahaan Papa Chika. Arlan hanya ingin, melanjutkan kerja sama pada mereka yang CEO nya laki-laki. Arlan tidak ingin menyakiti perasaan wanitanya jika Arlan sering kali rapat bersama klien wanita.


Bahkan, dengan berat hati, Jo menuruti permintaan Tuannya untuk memecat Maria. Akibatnya, kini Jo harus menghandle semua kerjaan Arlan seorang diri, dia masih berusaha mencari pengganti Maria yang tentunya harus laki-laki berkompeten. Seperti saat ini, sudah puluhan CV pelamar yang Arlan tolak dengan berbagai alasan tidak masuk akal.


"Tolak! Kepalanya botak."


"Tolak! Rambutnya klimis."


"Tolak! Hidungnya mancung."


Jo hampir angkat tangan dan siap membuat surat pengunduran diri, tapi dia ingat, jika bekerja dengan Arlan, gajinya tidak main-main begitu pula dengan kerjaannya yang menguji kesabaran serta menyita hampir keseluruhan waktu. Sampai-sampai, di usia 37 tahun, Jo belum juga melihat hilal jodohnya.


Di sela rapat, Arlan mendadak ingin buang air besar. Sial! Sungguh tidak hadir di waktu yang tepat! Dengan terpaksa, Arlan pergi ke kamar mandi tanpa mengucapkan kalimat apa pun. Jo yang lagi-lagi kena imbasnya, dia pun menjelaskan jika mungkin, Arlan ingin buang air kecil tanpa tahu, apa alasan Bosnya itu pergi mendadak.


Tak lama, ponsel Jo berbunyi. Pria itu pamit pada Chika untuk menerima panggilan sebentar, Chika mengiyakan sebab ini kesempatan bagus untuknya tahu siapa kekasih dari Arlan. Chika melihat ponsel Arlan di atas meja, melirik kiri kanan, Arlan pun menyalakan layar yang langsung menunjukkan, foto seorang wanita yang Chika yakin jika itu adalah wanitanya Arlan.


Takut Arlan atau Jo keburu kembali, Chika lekas memotret wallpaper ponsel Arlan. Lalu menelepon, "Lacak dan retas informasi pribadi tentang seseorang di foto yang saya kirim."


"Baik, Nona."


Tutt.


Chika menyeringai, jika dirinya tidak bisa merebut Arlan dari wanita itu, maka Chika yang akan menyingkirkan wanita itu dari hidup Arlan dan dengan senang hati menggantikan posisi wanita itu di hati Arlan.


Sepulang dari rapat, Arlan bermanja ria dengan wanita tercintanya. Tidak melakukan hal lebih, hanya duduk di atas karpet bulu dengan Acha yang berbaring berbantalkan paha Arlan. Tidak lupa di temani televisi yang menayangkan film romantis, makanan ringan untuk cemilan, susu cokelat untuk Acha, dan sekaleng cola untuk Arlan.


"Tante Letizia bagaimana kabarnya?"


Arlan menunduk, "Bunda baik."


Kemarin, sewaktu bertemu Bundanya, Arlan memutuskan untuk menginap sehari. Acha mengizinkan, bahkan wanita itu juga yang menyarankan, agar Arlan menginap lebih lama. Acha hanya tidak ingin di anggap sebagai perusak hubungan Ibu dan anak. Acha ingin memperbaiki hubungan Arlan dan Letizia yang sempat retak karena kehadirannya.


Sejahat apa pun kalimat Letizia pada dirinya, Letizia tetaplah Ibu kandung dari Arlan. Wanita hebat yang sudah melahirkan laki-laki seperti Arlan yang kini sangat Acha syukuri kehadirannya dalam hidup Acha. "Bunda ingin aku lebih sering mampir ke mansion, kamu enggak masalah kan, sayang?"


Jika kasus orang lain, biasanya si kekasih akan lebih condong pada sahabat kecil mereka atau lebih sering menghabiskan waktu dengan sahabat kecil mereka. Maka kasus Acha berbeda, karena saat ini, Arlan meminta izin bukan agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan sahabat perempuannya semasa kecil melainkan dengan Bundanya sendiri.


"Kenapa harus jadi masalah? Ar, kalau enggak ada Tante Zia, kamu juga enggak akan ada di sini sama aku. Perbanyaklah waktu dengan Tante Zia, kita enggak ada yang tahu, takdir akan bagaimana kedepannya."


Mendapatkan wanita yang bisa mengerti akan diri kita adalah anugerah terindah.


...***...


Ternyata, meretas informasi Acha tidak semudah bayangan. Chika sempat kecewa, tapi ketika dia melihat ada seseorang yang baru saja menyeberang jalan, senyum Chika terukir. Wanita itu melajukan mobilnya, menepikan lalu turun untuk membututi ke mana Acha pergi.


Benar, dia itu kekasih Arlan. Kalau anak buahnya tidak dapat melacak, maka Chika yang akan mengikuti dan bertindak sendiri.


"Jadi dua puluh empat ribu, Mbak. Baik, uangnya pas ya, terima kasih."


Acha tersenyum pada kasir mini market, dia pun keluar mini market yang ternyata, seseorang itu bersembunyi di balik pilar dan masih mengikutinya. Dia mau apaan sih? Kurang kerjaan banget ngikutin gue dari nyeberang bahkan sampai selesai beli minyak, jadi yakin kalau dia bakal ngikut sampe rumah. Batin Acha, tapi tetap berjalan tenang.


Di belakang, Chika berbicara melalui sambungan telepon. Memberi perintah yang langsung di tepati, setelah itu, Chika tersenyum penuh kelicikan. Melihat Acha yang kini menghentikan langkahnya, mata wanita itu terbelalak, melihat sebuah mobil yang melaju kencang ke arahnya. Acha terkejut! Wanita itu siap berlari ke tepi tapi dari arah lain, sebuah sepeda motor sudah lebih dulu menghantam tubuhnya.


Membuat tubuh Acha terlempar, bersamaan dengan mobil yang menabrak pengemudi motor. Melihat rencana yang di luar dugaan, Chika menutup kedua telinganya sambil berteriak saat hantaman keras bersamaan dengan ledakan dahsyat antara mobil dan motor, menggema, mengguncang mental Chika yang kini ketakutan sedangkan Acha...


Jatuh tak sadarkan diri dengan di lingkari darah yang menggenang.


...***...


"Tuan, Nyonya Acha masuk rumah sakit karena kecelakaan─"


Jantung Arlan serasa pindah ke kaki, pria itu langsung bangkit dari tidurannya berbantalkan paha sang Bunda. "Nda, Adek harus pergi!"


"Adek mau ke mana?"


"Acha... Acha kecelakaan,"


Mata anak kesayangan berkaca-kaca, membuat Letizia tidak tega. "Bunda ikut, biar sopir yang nyetir. Kamu di belakang sama Bunda!"


Arlan mengangguk patuh, dia pun pergi bersama Letizia ke rumah sakit yang langsung di sambut seorang Dokter wanita. "Dari keluarga pasien..."


Identitas pasien belum di temukan, sebab tidak ada ponsel atau pun dompet untuk mengetahui siapa nama korban. Tapi Arlan yang bertepatan datang, langsung mengangguk cepat. "Kami keluarganya, Dok. Bagaimana keadaan... Dia?"


Arlan belum berani mengatakan kata istri yang tertuju pada Acha, dia belum merangkai kata untuk menjelaskan dan belum menguatkan mental untuk kembali melihat kekecewaan Bundanya. "Pasien masih kritis sebab kehilangan banyak darah dan untuk kandungannya..."


Rasanya, hanya untuk menelan ludah saja begitu sulit. Arlan takut bayinya bersama Acha kenapa-napa, "Kandungannya? Ada apa, Dok?!"


"Maaf, tapi kami gagal menyelamatkan bayi di dalam kandungan pasien. Benturan keras membuat bayi pasien meninggal dari dalam rahim,"


Kaki Arlan melemas bagaikan jelly, pria itu jatuh terduduk yang langsung Bunda peluk erat. Bunda tahu, bayi yang meninggal itu adalah cucunya yang bahkan belum sempat di lahirkan. "Nda," Arlan mendongak menatap Bundanya dengan tatapan kosong. "Anak Arlan, anak Adek kenapa pergi duluan, Nda? Anak Adek enggak mau ketemu Papanya dulu ya?"


Bunda memeluk Arlan kian erat, wanita itu menggeleng. "Sayang! Adek jangan gini, Bunda hancur lihat Adek seperti ini. Menangis, Dek. Jangan di tahan,"


Detik itu juga, tangis Arlan pecah dalam dekapan wanita hebatnya yang berhasil melahirkan Arlan dalam kondisi sehat. "Nda, sakit banget rasanya."


"Bunda mengerti, Dek." Letizia mengecup puncak kepala putranya beberapa kali, dia tahu bagaimana sakitnya di tinggalkan orang tersayang, bukan jarak yang membentang, melainkan alam dan dunia.


...***...