Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
34. Yes I'm Acha



...H E L L O !👋...


...~ H A P P Y R E A D I N G ~...


...***...


• 04.35 WIB


Matanya terpejam, merasakan sesuatu yang hangat terasa di bagian inti tubuhnya. Napasnya tersengal, entah sudah berapa lama Arlan terus menggagahi tubuhnya tanpa merasa lelah sedikitpun. Acha hanya diam dengan kelopak mata yang perlahan terbuka saat tubuh berat Arlan menimpa tubuhnya.


"Maaf dan terima kasih, sayang. I love you, Acha Basilia Eldora."


Jantung Acha serasa berhenti berdetak mendengar gumam-an yang keluar dari mulut Arlan, dan Acha baru menyadari kalau sejak awal permainan itu dimulai, nama yang Arlan sebutkan selalu namanya. Apa Arlan sadar saat melakukan itu padanya?


Tapi seingat Acha, obat perangsang yang Arlan minum itu memiliki dosis yang sangat tinggi. Bahkan Acha yakin, saat Arlan bangun dari tidurnya nanti, Arlan akan merasa mual dan terus memuntahkan isi perutnya, juga pusing bukan main yang terasa di kepalanya. Akan sangat tidak mungkin kalau Arlan bisa ingat siapa gadis yang bersamanya.


Tak ingin terlalu larut dalam pemikiran nya, Acha melirik sekilas ke arah jam di dinding yang ternyata sudah menjelang subuh. Pantas saja tubuhnya benar-benar terasa remuk dan pegal bukan main. Kekuatan seorang Arlan dalam permainan ranjang memang tidak bisa diragukan lagi.


Dengan perlahan, Acha memiringkan tubuhnya hingga Arlan berpindah ke sisi sampingnya. Acha meringis pelan merasakan sesuatu yang terlepas secara paksa. Dengan hati-hati, Acha mendudukkan dirinya sambil menggigit bibir bawahnya menahan ringisan ngilu.


Walau agak susah untuk berdiri, Acha tetap berusaha dan memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai membersihkan diri, Acha pun mengambil kemeja Arlan dan langsung memakai nya karena tank top nya sudah rusak dan hoodie nya masih di luar, entah masih ada atau sudah dibuang oleh cleaning service di club ini.


Tatapan mata Acha tak sengaja melihat kearah ponsel Arlan, Acha tiba-tiba mengingat tentang percakapan nya semalam bersama Roy. Tak mau meninggalkan jejak, Acha pun menghapus riwayat panggilan semalam. Setelah selesai, Acha menaruh ponsel Arlan keatas nakas samping ranjang.


Sebelum pergi, Acha mendudukkan dirinya di samping Arlan sambil menaikan selimut yang menutup tubuh polos pemuda itu. Acha mendekatkan wajah nya ke depan wajah Arlan lalu menempelkan bibir nya didepan bibir Arlan dengan waktu yang cukup lama.


Takut Arlan terganggu, Acha pun menjauhkan wajahnya dan segera berbisik. "Setidaknya, perempuan itu aku."


Mengukir senyum tipis, lantas Acha berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Arlan yang masih terlelap. Didepan kamar 009, ternyata hoodie nya masih ada diatas lantai. Acha pun mengambil hoodie nya dan segera memakainya karena udara pagi benar-benar dingin menusuk kulit.


Dengan tudung hoodie yang sengaja dirinya turunkan hingga menutup setengah wajahnya, Acha berjalan perlahan sambil menunduk untuk keluar dari area club. Tak jauh dari parkiran club berada, Acha mengeluarkan ponselnya dari saku hoodie dan menghubungi Roy.


Diseberang sana, Roy yang memang tak bisa tidur sejak panggilan terakhir dari sang Nona pun langsung siaga menerima panggilan dari sang Nona yang baru menghubungi nya kembali.


"Nona, akhirnya anda menelepon saya kembali. Un—"


"Jangan banyak tanya, Roy. Kirim Mei untuk menjemput saya di club xxx, 10 menit sampai!"


"S-siap laksanakan, Nona."


Tutt.


Dikamar 008,


Seorang wanita dengan penampilan kacaunya tengah duduk dibawah guyuran air sower yang dingin. Tangan nya terus menjambak kuat rambut nya yang sudah seperti singa, dan air matanya yang terus mengalir hingga membuat matanya membengkak.


Niatnya, dia rela melepas keperawanan nya hanya untuk sang pujaan hati-Arlan. Namun nasib sial menimpa nya, membuat dia harus bermalam dan melepas keperawanan nya untuk seorang pria yang bahkan bekerja sama dengannya untuk menuntaskan keinginan masing-masing.


Dirinya ingin Arlan menjadi miliknya seorang, sedangkan si pria ingin membuat Arlan hancur dengan si pria yang meniduri kekasih Arlan-Acha. Tapi niat kejahatan mereka malah membuat mereka yang rugi. Bahkan si wanita terus berteriak histeris, memohon agar waktu bisa diulang kembali.


Entah sudah berapa jam si wanita berdiam diri dibawah guyuran air sower, dia pun akhirnya berdiri dengan bibir membiru dan tubuh menggigil menahan dingin. Dengan tangan bergetar, wanita itu meraih handuk dan memakainya tanpa melepas baju nya yang basah.


Didepan kamar mandi, si wanita tak pernah mau menatap seorang pria yang kini tengah bersandar di kepala ranjang. Pria itu menatap si wanita tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun, "Gue gak salah disini. Lo yang pake baju sialan dan dia yang kasih gue obat perangsang, jadi gue gak salah." Racaunya.


Mulutnya dengan santai mengucapkan sebuah kalimat yang berhasil membuat si wanita mengepalkan tangannya erat dengan mata memerah menahan tangisnya. "Keparat!" Umpatnya seraya berlari pergi meninggalkan si pria yang hanya acuh.


Di dalam mobilnya, si wanita menatap lurus kearah seorang gadis yang tengah berdiri menunggu seseorang. "Gue gak bisa memiliki Arlan maka lo juga gak akan pernah bisa!" Gumam nya dengan pandangan menyorot penuh kebencian.


Tanpa berpikir panjang, si wanita langsung menginjak penuh pedal gas mobilnya berniat menabrak Acha. Acha yang mendengar deru mobil mendekat pun langsung menoleh lalu berdecih sinis saat mengetahui siapa yang mengendarai mobil putih itu.


Ketika obsesi yang menghancurkan mu, Batin Acha seraya melempar dirinya sendiri ke arah semak-semak dibelakangnya.


Membiarkan tubuhnya tergores semak-semak yang tajam, sedangkan mobil yang hendak menabrak nya kini kehilangan kendali. Mobil itu terlihat ugal-ugalan hingga menabrak beberapa mobil yang sedang terparkir. Di akhir, mobil itu pun menabrak sebuah pohon besar.


BRAKKK!


DUARR!!


Tangan Acha terangkat lalu menyentuh pelipisnya yang mengeluarkan sedikit darah karena terbentur batu cukup kuat. Acha tersenyum, "Setiap niat kejahatan pasti punya timbal balik. Silakan nikmati siksaan akhirat yang lebih menyakitkan," Ucapnya pelan.


"Kalian harus ingat, seorang Acha Basilia Eldora akan kehilangan rasa empati dan kemanusiaan nya saat kalian berniat menyakiti seorang Acha dan orang-orang tersayang disisi nya." Sambung Acha seraya bangkit hendak berdiri ditempat semula untuk menunggu Mei datang.


Tak lama kemudian, sebuah w motors lykan hypersport berhenti tepat didepannya. Acha kembali menurunkan hoodie nya dan segera masuk ke kursi samping pengemudi. Mei yang melihat sang Nona sedang dalam keadaan tak baik-baik saja pun memilih bungkam dan melajukan mobilnya.


Melihat sebuah kekacauan didepannya, Mei tetap bungkam tanpa berniat bertanya lebih pada Acha yang bahkan kini sudah memejamkan matanya. Mei tetap fokus pada mobilnya menuju tempat yang sempat Roy bilang padanya untuk mengantar sang Nona kesana.


Bahkan Mei tetap berusaha bungkam saat melihat ada sisa darah di kening Acha dan banyak luka-luka gores ditubuh Nona nya. Karena kalau dirinya nekat bertanya, yang ada Acha akan marah karena pengaruh mood nya yang sedang buruk sekarang ini.


...***...


Aku gak bohong kan? Si pemanis cerita yaitu si calon pelakor sudah meninggal dan sedang menerima hukuman nya.