
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Hari itu, Arlan baru saja tiba di Indonesia setelah melakukan perjalanan bisnis yang benar-benar menguras otak juga tenaga nya. Tapi karena dia merindukan sang Oma, Arlan pun memilih langsung ke makam setelah tiba di bandara Indonesia.
Dengan sebuket bunga mawar putih kesukaan Oma nya, Arlan berjalan masuk hingga dia harus menghentikan langkahnya saat melihat punggung seseorang yang sangat dirinya kenali. Akhirnya Arlan memilih bersembunyi dengan memakai tudung hoodie nya lalu berjongkok di makam yang entah siapa.
Untung nya Acha tak curiga tentang kehadiran nya, jadi Arlan bisa dengan mudah mendengarkan apa yang Acha bicarakan didepan makam sang Oma. Awalnya Arlan hanya bisa tersenyum tipis kala tau kalau sang Kekasih ternyata sudah mengenal sang Oma lebih dulu.
Hingga salah satu ucapan Acha berhasil membuat Arlan tersentak kaget dibuatnya, "Oma harus bangga karena menjadi orang pertama yang tahu tentang kemungkinan yang akan Acha alami nantinya. Oma, gimana kalo Acha hamil anak Arlan. Arlan juga cucu Oma kan? Malam itu Arlan yang ambil mahkota Acha sebagai perempuan, Oma nanti marahin Arlan ya?"
Dengan sedikit linglung, Arlan berdiri dari jongkoknya lalu segera menjauh. Didekat pohon besar, Arlan berpegangan pada batang pohon dengan jantung menggila. Apa Arlan tidak salah dengar? Ada kemungkinan kalau gadisnya akan mengandung anaknya itu artinya, gadis malam itu memang gadisnya.
Saat hendak menghampiri Acha, Arlan harus mengurungkan niatnya kala dia melihat sang Kakek yang tiba-tiba saja datang. Arlan pun memilih tetap diam ditempatnya sambil mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan, karena raut wajah Acha juga yang bisa berubah dengan begitu mudah.
Bibir Arlan berkedut menahan senyum saat mendengar ucapan Acha yang frontal, "Anak kecil? Aku bukan anak kecil Kakek peot! Aku Acha, gadis cantik yang sudah bisa bercocok tanam dengan cucu kesayangan anda."
Tapi wajah Arlan mendadak berubah bingung saat mendengar tentang masalah saham yang Acha bicarakan. Hingga Arlan mengangguk pelan, mulai memahami tentang poin apa yang membuat perdebatan keduanya menjadi seserius itu.
Dan Arlan semakin yakin tentang kehamilan Acha yang memang benar anaknya adalah saat Acha di pantai, saat dimana gadis itu bergumam sambil mengelus perutnya, Arlan sudah ada dibelakang Acha. Mendengarkan semua ucapan gadis—ah atau wanitanya dengan perasaan campur aduk.
Tak hanya itu, rasa yakin Arlan tentang Acha yang memang gadis malam itu adalah saat dirinya menemukan kemeja yang malam itu dirinya pakai dan kemeja itu ada didalam lemari pakaian Acha. Keyakinan nya semakin kuat, saat dia tak sengaja menemukan sebuah testpack yang menunjukan bukti positif dan testpack itu berada didalam tas pribadi Acha.
"Jadi kamu udah tau?" Tanya Acha seraya memainkan tangan besar Arlan yang ada diatas perutnya.
Arlan berdehem pelan, "Aku pikir kamu akan jujur sama aku makanya aku diam dan berharap kamu jujur sama aku tentang semuanya. Tapi kamu malah diam bahkan terus bersikap seakan malam itu tidak pernah terjadi diantara kita," Ucapnya.
"Bukan bersikap seakan tidak pernah terjadi, tapi aku masih mencoba berdamai dengan keadaan yang mengejutkan ini." Ucap Acha yang memperbaiki sedikit tentang pandangan Arlan mengenai dirinya.
Arlan mengangguk mengerti lalu memilih untuk terus menatap wajah cantik wanitanya masih dengan perasaan kacau yang selama ini menyiksa dirinya dalam rasa bersalah. "Aku kasar banget ya waktu itu?" Tanya Arlan seraya mengelus lembut pipi Acha dengan Ibu jarinya.
Diam, Acha tidak tahu harus menjawab apa. "Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh pukul aku sampe kamu puas, tapi tolong jangan benci aku." Ucap Arlan seraya menangkup kedua tangan Acha dan menggenggam nya erat.
Kening Acha berkerut pertanda bingung, "Siapa yang benci kamu? Aku gak benci kamu, aku tau kalau kejadian malam itu gak sepenuhnya salah kamu. Malah aku mau bilang terima kasih karena sudah membuat dia hadir, dia yang akan menjadi alasan ku untuk terus hidup." Ucap Acha sambil mengelus perutnya sendiri.
Arlan menatap penuh cinta pada Acha lalu mengecup lama kening Acha yang membuat gadis itu memejamkan matanya.
"Terima kasih telah menerima kehadiran nya,"
...***...
Pagi harinya, Acha terbangun dengan tubuh yang benar-benar lelah karena kemarin mereka jalan-jalan seharian. Dan hari ini, Arlan sedang tidak ada. Pemuda tampan itu baru saja berangkat ke Surabaya karena ada meeting di sana yang tak bisa diwakilkan oleh sekretaris nya. Jadilah Arlan pergi meninggalkan Acha.
Padahal minggu depan Acha sudah mulai ujian kenaikan kelas tapi sampai detik ini, Acha masih saja bermalas-malasan diatas ranjang tanpa ada niat belajar sedikitpun. Setidaknya, satu persatu beban yang selama ini memikul bahunya mulai berkurang. Salah satunya adalah kejujuran tentang dirinya pada Arlan.
Siapa dirinya dan bagaimana sosok nya, Arlan kini sudah tahu semuanya. Tentang Acha yang ternyata gadis malam itu, Acha yang menjadi CEO dari WLS Corp, dan Acha yang ternyata si pemilik saham terbesar. Seseorang yang menjadi alasan kenapa sampai sekarang, Arlan masih membantu meningkatkan kinerja ZNK Company.
Ya, selain menuruti perintah Kakek nya yang berakhir ancaman. Arlan juga mau memimpin ZNK Company karena amanah dari Oma nya. Oma nya pernah bilang, kalau akan ada pemilik asli ZNK Company yang akan datang dikemudian hari. Tugas Arlan adalah mengembangkan ZNK Company sampai si pemilik menunjukkan jati dirinya.
Untuk Arlan sendiri, sang Oma sudah memberikan warisan yang berbeda. Yaitu sebuah tanah kosong yang kini sudah diisi dengan bangunan menjulang tinggi bertuliskan ACE Company. Perusahaan segala bidang yang berhasil dikenal dunia hanya dalam kurun waktu 2 bulan. Benar-benar gila!
Mengingat bagaimana wajah cantik Oma Anne, Acha tak bisa menyembunyikan kekaguman nya terhadap wanita satu itu. Wanita yang dengan tulus memberikan perusahaan nya pada sang suami, bahkan Oma Anne rela saja saat sang suami mengubah nama perusahaan yang sudah beliau bangun sejak masih duduk di bangku SMA.
Tapi akhirnya, Tuan Robin melakukan kesalahan yang sangat fatal. Berani bermain api dikala Oma Anne sedang terbaring di rumah sakit karena penyakitnya. Sampai akhirnya, sebelum matanya terpejam untuk selamanya, Oma Anne meminta orang kepercayaan nya untuk mengubah saham milik nya menjadi milik gadis yang selama ini selalu menjaga nya 24 jam di rumah sakit.
Bisa dibilang, apa yang Arlan dapat tidak sebanding dengan apa yang Acha dapat. Meski demikian, Arlan tak pernah misuh-misuh atau apapun karena dirinya tak butuh itu semua. Orang tuanya saja sudah cukup untuk membiayai seluruh kehidupan nya. Jadi saat dirinya dewasa nanti, Arlan sendiri yang akan membuat orang bungkam dengan hasil kerja keras nya.
Merasa lelah padahal cuma melamun tidak jelas sejak tadi, Acha pun bangkit dari tiduran nya lalu melirik sekilas kearah jam dinding. "Arlan kan gak ada, kalau gitu, let's go memanjakan diri sendiri."
Didalam kamar mandi, Acha menuangkan sabun dengan aroma lavender yang menenangkan. Masuk kedalam bathtub setelah membuka seluruh pakaiannya, Acha pun segera memejamkan matanya, menikmati aroma dari sabun lavender yang terasa menenangkan untuk dirinya.
Hampir 30 menit berendam, Acha pun menyelesaikan acara mandinya dan segera melakukan ritual lainnya. Hingga kini sudah masuk kebagian wajahnya, Acha duduk ditepi wastafel sambil memasang sheetmask diwajahnya. Sambil menunggu sheetmask nya meresap, Acha pun mulai mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
2 jam sudah Acha didalam kamar mandi, kini tubuhnya sudah jauh lebih fresh. Acha keluar dari kamar mandi lalu mencari baju yang simple dan nyaman untuk dirinya pakai. Lalu pilihan Acha terjatuh pada sebuah piyama terusan diatas lutut dengan kancing di depannya. Baju itu memang terlihat tipis tapi Acha tak peduli, lagian Arlan juga tidak ada di rumah.
Didepan cermin besar yang ada di walk in closet nya, Acha menaikkan bajunya hingga perutnya terlihat dengan jelas dari pantulan cermin. Tangan Acha terangkat mengelus lembut perutnya dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibirnya. Acha tak pernah menyangka, kalau sang pencipta akan menitipkan ciptaannya pada dirinya diusianya yang masih sangat muda.
Bahkan diusianya yang baru genap 17 tahun, ah mengingat usianya, bukankah hari ini adalah hari sosok Acha Basilia lahir ke dunia? Kalau begitu, "Selamat hari lahir untuk diriku sendiri."
Mengembuskan napasnya pelan, lantas Acha menurunkan kembali bajunya dan segera keluar dari walk in closetnya. Disaat pintu kamar nya terbuka, Acha dibuat tersentak kaget dengan kedatangan Arlan yang tiba-tiba langsung memeluknya. Tunggu, bukankah Arlan sedang pergi ke Surabaya?
"Ar?"
"Happy birthday, baby."
Arlan menekan tengkuk leher Acha, menyatukan bibir keduanya yang membuat Acha langsung refleks melingkarkan tangannya ke leher Arlan. Acha memilih memejamkan matanya, membiarkan Arlan melakukan apa yang memang sering dia lakukan.
Tanpa sepengetahuan Acha, Arlan mengangkat tubuh ringan Acha hingga kini berada di gendongan depannya. Tak lupa Arlan menutup pintu dengan satu kakinya karena kedua tangannya kini tengah menahan tubuh Acha. Tiba diatas ranjang, Arlan membaringkan Acha tanpa melepas pangutan keduanya.
Dengan satu tangan yang menahan berat badan nya agar tak menimpa Acha, satu tangan Arlan mulai menyelinap masuk kedalam piyama terusan yang Acha pakai. Mengelus lembut perut Acha dengan lidah nya yang masih aktif membelit lidah Acha. Ciuman Arlan pun perlahan turun hingga berhenti dileher gadis itu.
Arlan menyesap leher jenjang Acha hingga meninggalkan bekas keunguan yang membuat Acha refleks mencengkram lengan Arlan. Tak hanya sekali Arlan meninggalkan jejak dileher Acha, tapi sudah berkali-kali. Bahkan Acha tak menyadari kancing bajunya mulai terlepas karena ulah Arlan.
Ciuman Arlan pun semakin turun hingga ke perut Acha yang kini ada calon anaknya, Arlan mengecup lama perut Acha yang membuat Acha langsung tersadar tentang apa yang terjadi. Acha menahan tangan Arlan yang membuat Arlan langsung menghentikan kegiatan nya lalu mendongak menatap wajah Acha.
"Ar—"
"Kita udah sah, sayang." Ucap Arlan dengan suara beratnya.
Kening Acha berkerut pertanda bingung sedangkan Arlan yang tak mau semakin membuang waktu berdua nya bersama Acha pun langsung membuka nakas yang ada di samping ranjang. Mengambil sebuah map dan membukanya didepan Acha secara langsung.
Tunggu, itu... "Buku nikah?"
Kepala Arlan mengangguk lalu dia tersenyum manis, "Dengan uang dan kekuasaan semuanya bisa dengan mudah terselesaikan sayang."
Mendengar ucapan Arlan, Acha meneguk kasar air liurnya. Jujur saja, meski Acha tak merasa trauma karena kejadian malam itu. Acha tak bisa pungkiri kalau dia masih takut mengulang apa yang pernah mereka lakukan disaat Arlan tidak sadar karena pengaruh obat sialan itu mau pun di saat sadar saat di sekolah.
Menatap tepat pada manik mata Arlan yang kini sudah kembali berada diatas tubuhnya, Acha memberanikan diri untuk berbicara. "A-aku... Aku takut," lirihnya.
Arlan tersenyum maklum, karena mau bagaimana pun Acha mencoba berdamai dengan keadaan. Gadis itu pasti masih ada rasa trauma dalam dirinya meski Acha sendiri selalu menepis perasaan nya yang satu itu.
"It's okay, sayang. Kita bisa lakukan itu disaat kamu sudah siap," Arlan mengecup lama kening Acha lalu mengancingkan kembali piyama yang Acha pakai.
"Aku mau mandi dulu, gerah, kamu istirahat aja duluan."
Arlan segera berlalu pergi masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Acha yang kini tengah menggigit bibir bawahnya menahan tangis.
"Acha salah ya?"
Ya, semudah itu mood seorang Acha berubah sejak dia tahu tentang kehamilan nya.
...***...
Akhirnya bisa up lagiii, yeay!!
Ayo dong semangatin aku yang lagi cape tapi tetep kekeuh pengen up cerita Acha, hehe.
Gas spam koment buat next!!!