Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
26. Yes I'm Acha



...H E L L O !šŸ‘‹...


...~ H A P P Y R E A D I N G ~...


...***...


Kringggg!


Acha membuka kelopak matanya dengan sempurna lalu menatap lurus ke langit-langit kamarnya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Acha menggigit bibir bawahnya, menahan pekikan yang terus memaksa untuk segera di teriakan.


Dengan pipi memerah, Acha mengambil ponselnya lalu membaca kembali chatan nya kemarin yang membuatnya tak bisa tidur semalaman.


...087****...


| Akun sppu, jgn slh phm.


^^^Hah? |^^^


Sore itu, Acha menggaruk pipi nya yang tak gatal sambil menunggu si pemilik nomor yang sedang mengetik.


| jgn nthnk, aku cm pny km.


^^^Aduh Mas atau Mba nya, |^^^


^^^tolong lah jangan disingkat ^^^


^^^singkat. Acha gak ngerti:( ^^^


^^^Btw, siapa? |^^^


| Arlan


^^^šŸ‘ |^^^


...Si ganteng🐊...


^^^Chat nya udh gini doang? |^^^


| Bsk aku jemput


^^^Hah? Gak usah lah. Acha |^^^


^^^berangkat sendiri aja ^^^


| Gak ada penolakan.


^^^Karena di paksa, jadi yaudah |^^^


| Udah makan?


^^^Belum, hehe |^^^


| Makan sekarang


^^^Gak laper |^^^


| 10 menit lagi, ayam goreng


lengkuas sma nasi nya


dateng


^^^Kok tau makanan kesukaan |^^^


^^^Acha? ^^^


| Apa yg aku gk tau dari


kamu?


^^^Btw, Acha beneran blm laper |^^^


| Keluar, udh sampai didepan.


Makan dulu sayang, aku gk


mau kmu sakit


^^^Please jgn sayang-sayangan |^^^


^^^kita gak ada hubungan apapun ^^^


| Kmu pacar aku.


^^^Apaan banget, nembak gak |^^^


^^^romantis gitu ^^^


| Bsk aku jmpt. Makan dulu


^^^Iya. |^^^


| Good girl


Read.


Acha menahan senyum sambil membayangkan bagaimana wajah tampan Arlan yang beberapa kali dirinya lihat saat bangun tidur. Tapi tak lama, Acha menggeleng kan kepalanya. "Sadar, Cha! Dia udah punya pacar, lo mah cuma mainan dia doang buat dijadiin temen chat."


Tok tok tok...


Kening Acha berkerut pertanda bingung saat suara pintu diketuk terdengar, siapa yang mengetuk pintu kamarnya? Sekalipun, Roy, pasti dia langsung masuk seperti biasanya. Dan juga, belum ada yang dirinya beri tahu tentang apartemen barunya ini.


Tanpa bisa dicegah, bulu kuduk Acha meremang seketika. Bukankah dirinya tinggal dilantai paling atas dan disini tak ada kamar lain selain kamar nya, jangan bilang... Oh god! Itu tidak mungkin kan? Bagaimana bisa hantu mengetuk pintu di pagi hari.


"Santai Acha, mungkin itu pelayan yang nganter sarapan." Monolog nya yang tetap berpikir positif.


"Ar?"


"Hm?" Arlan menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah Acha lalu menatap Acha tepat pada manik mata gadis itu.


Acha memejamkan sejenak matanya, menikmati rasa aneh dalam dadanya saat tangan kekar itu mengelus lembut pipinya lalu rahangnya. "Kok bisa masuk? Bukannya pintu utama pake sandi?"


Bukannya menjawab, Arlan malah mendekatkan wajahnya lalu mengecup ujung hidung mancung Acha dan juga dagu gadis itu. Seperti apa yang Athar pernah lakukan beberapa waktu lalu. Arlan tersenyum gemas saat melihat wajah terkejut Acha yang menurutnya sangat lucu.


"Aku gak mau ada sisa kecupan laki-laki lain di diri kamu, karena kamu hanya punya aku." Ucap Arlan yang semakin membuat Acha terpaku dibuatnya.


Dengan lembut, Arlan menarik pinggang Acha lalu memeluk nya dengan begitu erat. Acha yang dipeluk pun hanya diam tanpa membalas karena dirinya masih terlalu terkejut dengan tindakan mendadak Arlan pada dirinya. Dia kira, chat-an semalam hanya candaan semata.


Namun dalam hitungan detik, Acha mendorong dada Arlan agar menjauh dari dirinya. Tatapan yang awalnya menyimpan sedikit kekaguman, kini berubah menjadi tatapan sinis. "Lo udah punya pacar, jadi tolong jangan permainkan perasaan gue."


Satu alis Arlan terangkat mendengarnya, "Pacar aku ya cuma kamu."


"Sejak kapan gue jadi pacar lo? Terus cewek malam itu, siapa? Mau lo bilang cuma temen? Halah! Temen apaan yang saling peluk-peluk gitu bahkan gue liat dia tatap lo kayak kucing dikasih ikan," Ucap Acha dengan nada juteknya.


Bibir Arlan berkedut menahan senyum, apa gadisnya sudah mulai mencintai nya? Lihat saja dia, dia seperti sedang cemburu. "Kamu cemburu, hm?"


Mata Acha memelotot dengan wajah memerah salah tingkah, kenapa Arlan bisa berpikir kearah sana? "Gak usah sok tau! Pergi sana, jemput aja cewek lo itu. Peluk sana sampe puas, ci—"


Cup.


Ucapan Acha mendadak terhenti saat Arlan menempelkan bibirnya tepat dibibir mungil gadis itu, Arlan memejamkan matanya lalu mulai menggerakkan bibir juga lidahnya. Sedangkan Acha, gadis itu membeku dengan detak jantung menggila. Kenapa Arlan bisa senekat itu? Melakukan hal yang tak dirinya izinkan.


Saat ciuman itu terlepas, Arlan mengusap bibir Acha yang sedikit membengkak. "Kayak gini maksud—"


Plak!


Tamparan itu mengenai tepat pada pipi kiri Arlan, "Dengar! Gue paling benci sama orang yang berani bertindak lebih tanpa izin dari gue! Dan lo menjadi orang yang gue benci!" Tekan Acha.


Mata Arlan terbelalak kaget mendengarnya dengan wajah yang berubah pucat pasi, Arlan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "B-bukan gitu, aku gak maksud buat bertindak tanpa izin dari kamu. A-aku kan cuma praktekkan apa yang ada dipikiran kamu. Mencium pacar, pacar aku kan kamu."


"Pergi!" Bentaknya seraya menunjuk kearah pintu utama.


Mata Arlan terlihat berkaca-kaca dengan bibir melengkung kebawah, "Maaf. Hiks maafin Arlan, Arlan gak sengaja hiks. Acha boleh hukum Arlan, hiks. Tapi jangan marah sama Arlan, hiks."


Acha mengerjap-ngerjap kan matanya beberapa kali, "Acha? Maksud lo?"


Arlan mengusap air mata nya lalu menjawab, "Nama kamu kan Acha hiks. Iya kan?"


"L-lo tau darimana?"


"Kamu juga Roy," Jawab Arlan jujur.


Gue? Apa iya? Batinnya.


"Lo kenal Roy?" Tanya Acha dengan wajah kagetnya, bahkan Acha melupakan tentang kemarahan nya tadi.


Pemuda tampan dengan wajah memerah karena menangis itu mengangguk, "Kenal. Roy mantan anak buah Ayah dan juga mantan anak didik nya Opa," Jawabnya lagi yang tentu jujur.


"Ayah? Opa? Mereka pasti orang berpengaruh, siapa mereka?" Tanya Acha yang berhasil membuat Arlan melipat bibirnya kedalam.


Sebuah pernyataan tiba-tiba terlintas di kepala Arlan, "Acha udah gak marah sama Arlan. Yeay!"


Mulut Acha terbuka lebar dengan mata mengerjap, "Kata siapa? Gue masih marah ya sama lo karena lo udah lancang!" Ucap Acha yang kembali ke nada jutek nya.


Wajah Arlan kembali berubah lesu dibuatnya, "Yah. Terus Arlan harus apa biar Acha gak marah lagi?"


"Pergi dari hadapan gue sekarang juga."


Raut yang awalnya lesu berubah datar seketika, "Apa lo emang gak pernah bisa buka hati lo buat gue? Setidaknya biarkan gue berjuang," Ucapnya dengan nada dingin.


Acha terlihat menatap bingung pada perubahan Arlan, "Lo punya berapa kepribadian?"


"Gue? Jelas satu. Tapi semuanya bisa berubah sesuai keadaan," Ucap Arlan seraya menyeringai tipis.


"Keadaan?" Tanya Acha.


"Ya, keadaan... Seperti sekarang," Arlan menjeda ucapan nya seraya mendorong Acha agar masuk kedalam kamar lalu dirinya keluar, tidak lupa dirinya menutup pintu kamar Acha.


Dorr!


"Lancang! Siapa yang mengizinkan kalian untuk masuk ke daerah saya?!" Tanya Arlan dengan nada dinginnya juga pandangan nya yang berkilat tajam.


Seseorang berpakaian hitam dengan luka tembak diperutnya itu langsung meminum sebuah pil yang ada disaku bajunya. Mulut pria itu berbusa dan dalam hitungan detik, nyawanya melayang. Melihat itu, Arlan mengepalkan tangannya kuat.


"Siapa dalang dibalik ini semua?"


Dengan perasaan marah, Arlan mengambil ponselnya dan segera menghubungi tangan kanan sekaligus sekretaris nya. "Jo, perketat keamanan apartemen dan cari tau siapa dalang dibalik penyerangan kali ini."


"Penyerangan? Tapi anda tak apakan, Tuan muda? Tidak ad—"


"Jangan banyak tanya, Jo! Cepat perketat keamanan apartemen, jangan sampai gadisku terluka kalau dia terluka, kalian semua akan tau akibatnya!"


"Maafkan atas kelancangan saya, Tuan muda. Perintah dari anda akan segera saya laksanakan."


"Bagus."


Tutt.


Arlan memutuskan sepihak panggilan lalu menyuruh bodyguard pribadinya untuk membersihkan semua kejadian hari ini. Mood bagusnya tadi mendadak padam dan digantikan dengan raut khawatir, takut gadisnya yang akan menjadi target musuhnya.


Inilah yang Arlan takuti saat dirinya mulai mencintai seorang gadis. Dirinya tak akan pernah bisa melepaskan apa yang sudah dirinya klaim sebagai miliknya walau musuhnya terus merencanakan rencana jahat untuk memusnahkan apa yang menjadi kelemahan nya.


"Mungkin setelah ini, kau bisa mencap ku sebagai lelaki possessive juga agresif. Karena tak ada lagi yang bisa aku lakukan demi bisa mengikat mu dengan terus dekat bersama ku. Keselamatan mu yang utama," Gumamnya.


"Dan maaf jika karena ku, kehidupan mu terasa penuh ancaman. Aku mau kau baik-baik saja, tapi aku tak bisa melepaskan mu."


...***...


Satu kata untuk Arlan???