Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
36. Yes I'm Acha



Disisi Arlan,


Pemuda itu tengah duduk di kursi penumpang dengan laptop di pangkuannya, didepan tepatnya di samping kursi pengemudi ada Jo yang juga sibuk dengan laptopnya karena harus mencari informasi yang Tuan muda nya minta. Arlan juga jelas sudah mengganti pakaian nya dengan pakaian yang mirip dengan yang semalam dia pakai.


Tak lama kemudian, Arlan tiba didepan rumah miliknya dan juga Acha. Arlan turun setelah Jo membukakan pintu untuknya, Arlan pun menyuruh Jo untuk kembali ke perusahaan. Mengurus pekerjaannya sementara dan juga terus cari informasi tentang siapa perempuan malam itu.


Membuka pintu utama, kening Arlan berkerut saat tak melihat siapapun hingga suara dari arah dapur mengalihkan perhatiannya. Arlan segera berjalan menuju dapur lalu terdiam dibelakang Acha. Memandangi sang kekasih dengan perasaan campur aduk.


Tak tahan ingin memeluk, Arlan pun langsung mendekat dan segera memeluk Acha dari belakang. Acha sudah tak kaget, karena sejak tadi dia sadar kalau ada yang memerhatikannya. Acha hanya diam membiarkan Arlan memeluknya dengan sangat erat.


Merasa ada hal penting yang harus Arlan bicarakan, Acha pun mematikan kompornya lalu berbalik menatap Arlan. Arlan mengangkat Acha hingga berada di gendongan depannya. Arlan pun berjalan dan menduduki Acha diatas meja pantry. Mata tajam itu menelisik menatap dalam mata indah Acha.


Mencari sesuatu yang mungkin akan membuatnya yakin kalau perempuan malam itu memang gadisnya. Tapi ternyata tidak ada hal yang mencurigakan, tatapan dari sorot mata Acha masih seperti biasanya. Begitu menenangkan dan juga teduh yang membuat rasa bersalah dalam dirinya semakin mencuat.


Tangan mungil Acha terangkat, bergerak mengelus lembut rahang tegas Arlan sebagai bahan pengalihan dari detak jantungnya yang semakin menggila. Tangan nya bergerak naik, mengusap pelan bibir bawah Arlan yang sedikit terluka. Acha ingat, bibir Arlan terluka karena dirinya yang refleks menggigit.


Lalu tangan Acha bergerak turun, menyentuh leher pemuda itu yang juga terdapat sisa refleks nya semalam. Acha menahan ringisan malunya seraya menyembunyikan wajah nya di ceruk leher Arlan. Acha memeluk erat punggung Arlan yang membuat Arlan membalas memeluknya dengan erat.


"Sayang, maaf." bisik Arlan yang sempat membuat tubuh Acha membeku sejenak.


Keadaan sejenak membelenggu Acha yang mengulas kembali kejadian semalam, wanita itu menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Arlan. Dengan sengaja mendiamkan tangannya di leher Arlan yang terdapat sebuah tanda, "Apa yang kamu lakukan semalam, Ar? Kenapa dengan leher kamu?"


Arlan terkejut, mendengar apa yang kekasihnya katakan. "Sayang, ini—"


Tangan Acha berganti menyentuh bibir Arlan yang terluka, "Semalam kita tidak ciuman sampai bibir kamu terluka. Apa yang terjadi, Ar?"


Rasanya, lidah begitu kelu sebab Arlan kesulitan membuka suara meski hanya sepenggal kata. Laki-laki itu pun kembali menggendong Acha, membawanya ke ruang tengah lalu membaringkan tubuh Acha di atas sofa dengan dirinya di atas tubuh sang kekasih tercinta.


"Maaf, tolong maafkan aku," Arlan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Acha, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Acha. "Harusnya kamu yang pertama,"


Acha sadar, pertanyaannya tadi hanyalah basa-basi untuk menguji kekasihnya. "Apa yang pertama?"


Kilasan bercak merah di atas seprei, membuat Arlan semakin kacau. Laki-laki itu menghisap secara tiba-tiba leher wanitanya hingga Acha mendadak menahan napas. Belum lagi rasa was-was, takut-takut Arlan menyadari jika dirinya memakai concealer di leher. Acha belum siap untuk menjelaskan perihal apa pun itu.


Apalagi, tangan besar Arlan mulai berani menyentuh pinggang rampingnya, "Ar? Stop,"


Arlan tersentak, laki-laki itu menopang tubuhnya dengan kedua tangan guna membuat jarak tubuh keduanya. "Sayang, astaga maafkan aku."


Arlan hanya takut, jika Acha benar-benar meninggalkannya setelah tahu jika Arlan sudah pernah bersetubuh dengan wanita lain. Arlan menggerakkan satu tangannya, menyentuh leher Acha yang terdapat karya kecupannya. Arlan jadi kembali melamun, gadis malam itu pasti juga mendapatkan tanda keunguan dilehernya yang sialnya, Arlan lah pelaku pembuatnya.


Melihat Arlan yang sering melamun, Acha kasihan. Wanita itu melingkari tangannya di leher Arlan, "Kiss me."


Tanpa menjawab, Arlan menunduk, menyatukan bibir keduanya dengan menggebu. Rasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri, membuat Arlan tanpa sadar, mencium kasar bibir manis wanitanya. "Ar! Pelan," Napas Acha terengah, wanita itu menahan dada bidang Arlan tapi Arlan yang masih kalut, kembali menyatukan bibir keduanya.


Bibirnya, bibirnya sudah pernah mencium wanita lain, Arlan benar-benar tidak rela jika Acha kembali dirinya cium dengan keadaan bibirnya yang pernah mencium wanita lain. Arlan berpikir demikian sebab dia tidak tahu, jika wanita yang disetubuhinya adalah kekasihnya sendiri. Pemilik penuh atas ruang di hati dan segala dunianya.


"Sayang, berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku." Arlan menempelkan keningnya pada kening Acha.


Deg.


Arlan menatap lurus Acha, "Aku enggak akan meninggalkan kamu! Apa pun yang terjadi!"


"Tapi kamu akan tetap meninggalkan aku, kamu akan pergi ke Amerika dalam kurun waktu lama, Ar."


Amerika ya? Arlan kembali melamun, jika dia sudah benar-benar berangkat ke Amerika untuk kuliah. Bagaimana dengan kekasihnya? Wanita malam itu? Apa mereka berdua akan baik-baik saja?


"Kamu memikirkan wanita lain di saat bersama aku ya? Kamu sering melamun,"


Arlan mengerjap, "Kamu berpikir apa, sayang? Jelas hanya kamu yang selalu aku pikirkan,"


Acha tersenyum sekilas, membawa tangan besar Arlan untuknya kecup beberapa kali. "Ar, aku mencintaimu."


"Aku jauh lebih mencintaimu, sayang."


...***...


• 16.30 WIB


Saat ini Acha tengah duduk diatas ranjang dengan Arlan yang berbaring berbantal kan pahanya, Acha mengambil ponselnya dan membuka sebuah berita teratas yang ada di beranda layar ponselnya. Acha menunduk, menatap Arlan yang tertidur dengan wajah menghadap perutnya.


Breaking news


Berita terbaru datang dari tragedi kecelakaan didepan club xxx. Pengemudi mobil dengan plat *** dinyatakan tewas ditempat dengan luka bakar akibat ledakan dari mesin mobil.


7 kendaraan roda empat yang dinyatakan rusak parah, 1 korban meninggal, dan 2 korban luka-luka yang kini sudah dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan penanganan intensif.


Pengemudi mobil plat *** yang juga menjadi pelaku kecelakaan terjadi di informasikan berinisial, RAW...


Acha menghembuskan napasnya kasar seraya menyandarkan punggung nya di sandaran ranjang, kepala Acha menunduk menatap Arlan yang masih nyenyak tertidur setelah mereka makan siang bersama tadi. Satu tangan Acha pun terangkat, mengelus lembut rambut Arlan.


"Lihat, Ar. Apapun yang diawali dengan obsesi akan berakhir tak sesuai ekspetasi. Mereka rela melakukan apapun hanya demi mencapai tujuan mereka, tanpa mau tau tentang akibat apa saja yang akan mereka dapatkan dikemudian hari. Kerugian untuk mereka sendiri dan untuk orang lain yang tak bersalah," Gumam Acha dengan nada yang begitu pelan.


Mata nya menatap lurus ke depan dengan sorot sendu, "Aku yang tak tau apa-apa malah jadi korban dari keegoisan mereka, Ar. Mereka terobsesi, ingin memiliki dan ingin menghancurkan kamu tapi mereka malah senjata makan tuan. Tapi aku tak marah, Ar. Setidaknya, perempuan malam itu adalah orang terdekatmu. Orang yang tak akan pernah menghancurkan hubungan kita."


Sesuai seperti apa yang pernah Acha bilang tentang dirinya sendiri, dia tak akan memiliki empati dan rasa kemanusiaan pada orang-orang yang berniat berbuat jahat padanya dan pada orang-orang tersayangnya. Mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal.


Acha pun kembali meraih ponselnya lalu membuka email saat pesan dari Roy masuk, Acha membuka pesan email itu dan membacanya. "Jadi nama lengkapnya, Rodhiana Adele Winona. Umur 18 tahun, anak tunggal dan gadis yang begitu terobsesi pada cinta pertamanya."


Kekehan pelan terdengar dari mulut Acha, "Ah ternyata memang dia. Benar-benar pandai bermain peran," Gumam nya seraya menaruh kembali ponselnya keatas nakas lalu mulai sibuk memandangi wajah tampan Arlan.


Setelah puas memandangi wajah Arlan, Acha pun membangunkan Arlan karena waktu yang sudah sore.


...***...