Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
41. Yes I'm Acha



...H E L L O  !👋...


...~ H A P P Y  R E A D I N G ~...


...***...


Dua bulan kemudian...


Tepatnya saat lima puluh delapan hari sebelumnya atau dua hari setelah kepulangan mereka dari Bandung, Arlan meminta izin pada Acha untuk pergi meninggalkan nya sejenak. Arlan harus kembali ke mansion utama atas paksaan dan ancaman sang Kakek.


Memang pada dasarnya, Acha yang enggan mengekang pun mengizinkan saja saat Arlan meminta izin untuk kembali ke mansion nya. Lalu seminggu kemudian, Arlan menelepon nya memberi kabar kalau Arlan akan menetap sejenak di Leskovac karena ada masalah dengan perusahaannya yang di sana.


Lagi dan lagi, Acha hanya mengizinkan. Membiarkan Arlan menyelesaikan masalahnya satu persatu, daripada Arlan terus bersama nya padahal masalah belum diselesaikan. Jadi Acha hanya bisa mengizinkan dan mendukung apapun keputusan yang akan Arlan ambil selanjutnya.


Hari ini, niatnya Acha ingin pergi ke makam seseorang yang pernah membuat nya bisa merasakan apa itu kasih sayang seorang Ibu meski dirinya memanggil seseorang itu dengan sebutan Oma. Kebetulan makam sang Oma memang ada di Jakarta, jadi Acha tak perlu keluar kota seperti saat ke makam sang Kakek.


Setibanya di sana dengan taksi yang dirinya pesan, Acha pun turun dan berjalan dengan membawa keranjang berisi bunga tabur, ada juga air mawar dan beberapa tangkai bunga kesukaan sang Oma yaitu mawar putih. Didepan sebuah makam, Acha berjongkok lalu tersenyum manis.


"Halo, Oma! Oma pasti baik-baik saja kan? Oma sudah bertemu dengan Kakek kan? Ah, pasti seru karena Oma bisa reunian di sana sama teman-teman Oma yang lainnya. Oh ya, Oma. Acha kesini karena kangen sama Oma, pengen curhat banyak banget sama Oma. Maaf juga karena Acha baru sempat datang sekarang," Ucapnya.


Hampir seluruh yang Acha ceritakan pada sang Oma, sama dengan apa yang dia ceritakan pada sang Kakek dua bulan lalu walau ada yang berbeda. Setelah lelah bercerita panjang kali lebar, Acha pun langsung menaburkan bunga dan juga menyiraminya dengan air mawar. Tidak lupa juga Acha menaruh beberapa tangkai bunga mawar putih itu didekat batu nisan.


"Bye, Oma. Sampai ketemu di lain waktu," Ucap Acha seraya bangkit dan melambaikan tangannya.


Acha berbalik dan terlonjak kaget saat melihat seorang pria tua dengan kursi rodanya sudah berada didepannya. Acha hanya acuh saat melihat tentang siapa pria tua itu, dia pun hendak kembali melanjutkan langkah nya sebelum kembali terurung saat suara pria tua itu terdengar.


"Siapa kau? Kenapa berani mendatangi makam istriku?!" Tanya pria tua itu—Tuan Robin, dengan nada dingin nya.


Tangan Acha menunjuk dirinya sendiri, "Gue? Dut—ya jelas Acha cantik lah! Kakek peot pasti kenal Acha," Ucap Acha seraya tersenyum mengejek tak lupa dengan kedua alis nya yang terus naik turun menggoda si pria tua itu.


Tuan Robin mengepalkan tangannya erat, menahan kesal melihat Acha yang terus saja meledek nya. "Kau anak kecil! Diam dan tutup mulut tak tau sopan santun itu!"


Tanpa segan, Acha tertawa terbahak-bahak. "Anak kecil? Aku bukan anak kecil Kakek peot! Aku Acha, gadis cantik yang sudah bisa bercocok tanam dengan cucu kesayangan anda." Ucap Acha dengan sisa-sisa tawanya.


Merasa geli dan malu dengan apa yang dirinya ucapkan sendiri, tapi bukan Acha namanya kalau tidak membuat lawan bicaranya kesal dan jengkel. "Kau! Pasti kau yang menggoda cucuku, dasar ******!"


Tak mau kalah, Acha ikut menunjuk si pria tua. "Kau! Dasar gigolo!"


"Kau!" Tuan Robin menatap tajam Acha yang hanya santai, bahkan gadis itu kini melipat kedua tangannya didepan dada dengan dagu terangkat tinggi.


Acha mengikuti apa yang Tuan Robin lakukan, "Kau! Nyenyenyenye, apaan banget sih dasar Kakek peot!" ledek Acha dengan wajah yang super menjengkelkan.


Tiba-tiba, Acha merubah raut wajahnya menjadi begitu dingin dengan sorot penuh intimidasi yang berhasil membuat Tuan Robin terkejut melihat perubahan dalam diri Acha. "Kau jangan berlagak pikun, Tuan Robin yang terhormat. Aku masih berdiri disini bukan tanpa alasan."


Tangan yang tadinya terlipat kini beralih dengan kedua tangannya yang sengaja Acha masukan kedalam saku celana nya, Acha menurunkan pandangannya, menatap sinis pada sosok pria tua itu yang terdiam. "Aku ingin menagih kembali tentang apa yang menjadi hak ku."


Deg.


Pria tua itu menatap terkejut pada sosok Acha yang kini tengah menyeringai menatapnya dengan pandangan mengejek. "Kau! Kau tak ada hak apapun, jadi jangan berbicara sembarangan!!"


"Tuan Robin yang terhormat, kalau anda lupa maka dengan senang hati saya akan menjelaskan kembali. Saya ingin mengambil semua saham atas nama saya yang ada di ZNK Company. Tolong proses dan kurang dari dua puluh empat jam, semuanya sudah berada digenggaman tangan saya." Ucap Acha dengan tegas dan juga terkesan menuntut.


Wajah pria tua itu memerah menahan emosi, "Jangan macam-macam dengan ku anak kecil! Kau tak memiliki saham apapun di perusahaan ku!!"


"40 persen saham atas nama Nyonya Anneliese yang kini beralih menjadi namaku dan 30 persen saham atas nama Tuan Wilson yang kini juga sudah menjadi atas namaku. Oh ya, sebelumnya perkenalkan. Nama lengkapku, Acha Basilia Eldora. Satu lagi, jangan lupakan tentang marga Wilson yang tersemat manis di namaku." Ucap Acha yang tak perduli dengan wajah marah Tuan Robin.


"40 persen itu saham milik istriku, bukan milikmu!!!!" Tekan nya dengan penuh amarah.


Tanpa rasa takut, Acha terkekeh pelan. "Tapi istrimu sudah menyerahkan semuanya padaku, jadi cepat kosongkan kursi CEO karena tak lama lagi, aku yang akan menduduki nya. Karena apa? Karena aku pemilik saham terbesar, jadi kuasa ku lebih tinggi dari anda."


"Tuan Robin, anda harus ingat kalau aku bisa dengan mudah menghancur leburkan perusahaan yang sudah kau rintis itu. Dengan sekali jentikkan jari, maka semua... Bom! Selesai," Ucap Acha seraya menepuk bahu Tuan Robin dua kali sebelum berlalu pergi begitu saja.


...***...


• Perth, Australia


   08.45 AWST


Prangg!


Suara pecahan kaca yang berasal dari cermin yang kini sudah hancur karena pukulan dari kepalan tangan Athar itu mulai berserakan diatas lantai. Athar mencengkram tidak terlalu kuat bahu Rhaline yang tengah menunduk didepannya.


"Kenapa lo bisa bodoh banget, hah?"


Lirihan Athar terdengar begitu lelah dengan keadaan yang membuat Rhaline semakin menunduk dalam, tak berani menatap wajah kemarahan Athar. Karena hampir 4 bulan bersama, Athar tak pernah menunjukan kemarahan nya.


Dia selalu bersikap ramah padanya, seakan mereka memang sudah bersahabat sejak lama. Meski bukan baik dalam artian suami kepada istrinya, Rhaline tetap bersyukur karena nyatanya, Athar tak pernah bermain kasar apalagi memukul nya.


Dan karena sifat ramah juga baik Athar lah, yang membuat Rhaline mulai menaruh hati pada lelaki tampan itu. Tapi kenyataan tentang suaminya yang masih mencintai perempuan lain, berhasil menggores hati Rhaline. Hingga dirinya berani melakukan hal gila dibelakang Athar.


"Lin, berbulan-bulan gue mencoba menjaga lo kayak Adik gue sendiri. Tapi ini yang lo kasih ke gue? Lo pernah mikir gak sih, Lin? Gimana sama keluarga lo nantinya?!" Meski dalam emosi, Athar tetap bisa mengatur intonasi suaranya.


Dengan suara bergetar, Rhaline berucap. "K-kan lo suami gue," ucapnya pelan.


"Iya! Gue suami lo, tapi gue bukan Ayah dari anak lo! Siapa Ayah dari anak lo? Bilang sama gue sekarang!" Ucap Athar seraya mengangkat dagu Rhaline agar menatap nya.


"INI SEMUA KARENA LO! LO GAK PERNAH NYENTUH GUE ITU KARENA CEWEK MASA LALU LO KAN?!" Teriak Rhaline dengan air mata yang mulai membasahi pipi nya, mood Ibu hamil memang benar-benar tak terkendali.


Memejamkan matanya, menahan luapan emosi didalam dadanya. Athar tak mau kelepasan membentak Rhaline, "Bukan karena itu. Lo salah besar kalo mikir kayak gitu, Lin. Gue gak nyentuh lo bukan karena siapapun, tapi karena hati kita berdua..." Athar menjeda ucapannya seraya mengusap sisa air mata di pipi Rhaline.


"... Prinsip gue, melakukan itu hanya pada istri yang gue cintai dan dia juga mencintai gue. Bukan melakukan atas dasar nafsu semata, ya walau kita udah sah dimata agama juga hukum. Ta—"


"GUE CINTA SAMA LO, ATHAR!!"


Deg.


Tapi hati gue udah diisi penuh sama nama Acha, maaf Lin.


Sambil memukul pelan dada nya yang terasa sesak, Rhaline jatuh terduduk yang membuat Athar ikut berjongkok. "Ayo, Thar. Coba mencintai gue, jangan stuck pada masa lalu. Ayo kita mulai semuanya dari awal," Pinta Rhaline dengan tatapan sendu.


Seorang Rhaline yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya bisa dengan mudah merendahkan dirinya didepan lelaki yang dia cintai, hanya untuk meminta sebuah balasan cinta. Rhaline tak perduli lagi dengan harga dirinya dan juga rasa malu nya.


"Acha suka Athar, Athar suka Acha gak?"


Tiba-tiba, suara Acha melintas di kepala Athar yang membuat Athar langsung menyentak pelan tangan Rhaline dari tangannya lalu berdiri. "Hari ini gue ke Indonesia, sekalian gue lacak siapa Ayah dari anak lo. Kalian harus menikah demi anak dikandungan lo," Ucapnya.


Gue cintanya sama lo, Thar. Bukan dia atau siapapun.


...***...


Athar adalah, definisi cintanya telah habis di orang masa lalu.


Gimana? Next gak nih?


Spam koment yuk buat next!!