Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
28. Yes I'm Acha



Tak terasa, waktu berlalu dengan begitu cepat. Rasanya, baru kemarin Acha resmi menjadi kekasih dari seorang Arlando dan kini hubungan mereka sudah berjalan seminggu lamanya. Memang baru sebentar, tapi untuk Acha yang tak pernah merasakan yang namanya pacaran, seminggu ini terasa begitu lama.


Banyak hal baru yang Acha rasakan, salah satunya mendapatkan perhatian lebih yang membuat jantungnya berdetak cepat dan juga mendapat tindakan tak terduga yang membuat perutnya serasa diterbangi ribuan kupu-kupu.


Setiap genggaman tangannya, kecupan lembutnya, ucapan manisnya, dan sifat hangat nya berhasil membuat seorang Acha lupa tentang apa itu kesedihan, kesepian, dan kesendirian. Kini Acha tak perlu takut kesepian karena kekasihnya—Arlan, akan selalu setia menemaninya kapan pun itu.


Senyum tulus yang hampir punah kini kembali lagi, senyuman khusus untuk lelaki yang dirinya cintai. Ya, Acha sudah yakin dengan perasaan nya kalau hatinya sudah benar-benar dimiliki oleh lelaki bertubuh jangkung nan tampan itu. Lelaki pertama yang membuat Acha bisa setulus ini menyayangi nya dan takut kehilangan nya.


Kecupan singkat mendarat tepat dibibir nya saat Arlan datang dengan seragam khas pemain basket yang dibanjiri keringat, Acha tersenyum lalu mengelap keringat di dahi Arlan dengan tisu yang memang selalu dirinya bawa saat menemani Arlan berlatih.


"Minum dulu," Ucap Acha seraya menyodorkan botol minum yang tentu langsung diterima dan diminum oleh Arlan.


Tatapan mata Acha terhenti pada leher Arlan, tangan nya pun terangkat, menyentuh jakun yang bergerak naik turun. Sentuhan tangan Acha semakin turun lalu terhenti diperut Arlan yang membentuk kotak-kotak, tangannya menyentuh perut lelaki itu yang terlihat menjiplak karena baju Arlan yang basah dari keringat.


Tangan kekar Arlan memeluk erat pinggang Acha, "Kenapa sayang?" Tanya Arlan dengan nada lembutnya.


Acha mendongak lalu menggeleng dan membiarkan saja saat Arlan memeluknya erat, Acha suka aroma tubuh Arlan saat berkeringat. Begitu maskulin dan juga candu. Acha membalas pelukan Arlan tak kalah erat hingga matanya tak sengaja melihat ke beberapa anggota cheerleaders.


Satu sudut bibir Acha terangkat membentuk senyuman sinis, dirinya tahu kalau salah satu dari semua anggota cheerleaders itu ada yang menyukai kekasihnya. Dengan pikiran liciknya, Acha melepaskan pelukan Arlan lalu menangkup wajah pemuda itu.


"Kiss me," Ucap Acha.


"Dengan senang hati," Arlan memiringkan wajahnya lalu ******* lembut bibir Acha.


Didalam hatinya, Acha bersorak senang saat melihat wajah masam perempuan itu. Selepas perempuan itu pergi, Acha pun menjauhkan wajahnya dari depan wajah Arlan yang berhasil membuat pemuda itu mengernyit bingung.


"Kok udah? Belum, sayang." Rengek Arlan dengan nada manja nya yang malah membuat Acha menutup wajah Arlan dengan kedua telapak tangannya.


"Jangan gitu kalo di luaran, liat noh! Banyak cewek yang ngeces gara-gara kamu!" Gerutu Acha seraya menarik tangan Arlan dan membawa pemuda itu pergi dari area lapangan khusus basket.


Sedangkan Arlan, pemuda itu hanya bisa menahan senyum melihat tingkah gadisnya yang menggemaskan. Hingga suara dering ponselnya yang ada pada Acha terdengar berbunyi dengan cukup nyaring.


Mata Acha melirik sekilas kearah layar ponsel Arlan, "Jo yang nelpon sayang." Ucap Acha seraya memperlihatkan layar ponsel milik pemuda itu.


Tumben nelpon jam segini, Batin Arlan seraya menerima ponselnya.


"Terima kasih, sayang. Aku angkat dikamar mandi ya, sekalian ganti baju nanti." Ucap Arlan yang langsung diangguki oleh Acha.


Selepas kepergian Arlan, Acha pun memilih duduk di kursi yang tak jauh dari tempat istirahat anak-anak ekskul basket. Acha duduk di sana sambil memainkan ponselnya hingga ingatan nya terhenti pada satu hal.


"Raga gue gimana ya kondisinya? Apa masih hidup atau udah gak ada? Kayaknya Roy tau sesuatu deh," Gumam Acha seraya menekan aplikasi telepon dan segera menghubungi Roy.


Tak lama, panggilan pun terhubung. "Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Selamat siang menjelang sore, Roy. Saya cuma mau tanya, kamu tau gimana keadaan raga saya sekarang?"


Diseberang sana, Roy terdiam sejenak. "Anda tidak tau? Saya kira anda tau makanya saya tak pernah bilang apapun."


"Tau apa? Cepat jelaskan!"


"Raga Nona sudah dikuburkan atas kasus bunuh diri."


"What?! Siapa yang bunuh diri? Seingat saya, malam itu saya ngantuk banget terus tidur. Udah, nah pas bangun langsung ditempat yang asing."


"Polisi menyatakan kalau anda meninggal karena kasus bunuh diri. Sebelum olah TKP, pagi harinya, Bibi Sum menemukan anda dalam posisi gantung diri dan dikamar sendirian. Saat polisi mencoba mencari bukti lain, tidak ada bukti apapun. Jadi anda dinyatakan tewas karena kasus bunuh diri."


Acha terdiam karena terkejut mendengar nya, "Lalu Papah dan Mamah gimana kabarnya?"


Meski mereka telah gagal menjadi orang tua untuk dirinya, Acha tetap tak bisa lupa tentang mereka yang bernotabene orang tuanya. Mau bagaimana pun, Acha tetaplah seorang anak yang ada kalanya merindukan mereka. Kala dimana dirinya merasa lelah sendirian.


Diseberang sana, Roy kembali terdiam dibuatnya. "Maafkan saya yang baru bisa bilang sekarang, Nona. Sebenarnya Tuan dan Nyonya sudah berpisah sejak anda lahir. Tuan dan Nyonya juga sudah memiliki keluarga baru masing-masing."


Deg.


Apa boleh Acha menyesal bertanya tentang kedua orang tuanya? Kalau tau akan seperti ini, mungkin Acha tak akan pernah bertanya tentang orang tuanya. Tapi semuanya sudah terlanjur dirinya ketahui. Acha tersenyum miris sambil menatap sendu kearah depan.


"Dimana mereka? Mereka baik-baik saja kan? Apa aku punya Adik?" Walau hatinya berdenyut nyeri, Acha tetap bertanya tentang hal yang akan semakin membuat hatinya sakit. Ya, namanya juga Acha.


"Tuan tinggal di Surabaya bersama istrinya dan Nyonya tinggal di Belanda. Anda memiliki dua orang Adik dan satu orang Kakak tiri. Satu Adik dari Tuan dan istrinya. Satu Adik juga anak tiri Nyonya dari suami keduanya."


"Wah, Papah tinggal di Surabaya, deket jadi saya bisa kesana. Kamu pasti tau alamatnya kan? Kalo anaknya sendiri malah nggak tau alamat rumah Papah nya, hehe."


"Nona,"


"It's okay, semua nya akan baik-baik saja Roy. Saya tutup, bye."


Tutt.


Acha mengatur kembali emosinya, dirinya takut kalau akan melampiaskan kemarahan dan rasa sakit dihatinya pada Arlan, pemuda itu tak salah apapun jadi sekarang Acha harus kembali mengatur emosinya agar tidak mudah meledak-ledak.


Disisi Arlan, pemuda itu bersandar di tembok dekat wastafel dengan ponsel di telinganya.


"Ada apa, Jo?"


"Tuan, dalang dari penyerangan malam itu sudah kami ketahui."


"Good, kau pasti tau apa yang harus kau lakukan."


"Saya tau, Tuan muda."


"Lakukan, saya tutup."


Tutt.


Cup.


"Ngelamunin apa, sayang?" Tanya Arlan setelah mengecup pipi kiri Acha.


Mendapat kecupan dadakan dari Arlan, Acha menoleh lalu menggeleng. "Gak ada, udah kan? Ayo pulang, aku cape."


Arlan mengangguk lalu berjalan dengan tangan nya yang memeluk possessive pada pinggang Acha. Sesampainya di parkiran, Arlan langsung menaiki motornya dan memakai helm nya, tidak lupa dirinya memberikan Acha jaket dan membantu Acha naik ke jok belakang.


Tanpa segan, Acha melingkarkan tangannya diperut Arlan lalu menyandarkan kepalanya dipunggung tegap pemuda itu. Motor pun melaju bersamaan dengan Acha yang hanya diam dengan pikiran melayang entah kemana. Bahkan tanpa sadar, Acha meneteskan air matanya.


Tuhan apa salah Acha? Kenapa mereka begitu kejam? Membuat Acha lahir lalu membiarkan Acha sendirian begitu saja, Acha juga punya perasaan. Acha juga mau disayang sama Mamah dan Papah, Acha juga mau makan bareng sama Mamah dan Papah. Tapi kenapa tidak bisa? Batin Acha.


Pada dasarnya Arlan yang memang memiliki pendengaran tajam pun memilih menghentikan motornya disebuah danau yang tak jauh dari sekolahnya berada, Arlan mematikan mesin motornya lalu mengelus punggung tangan Acha yang masih di depan perutnya.


"Sayang, turun dulu yuk. Kayaknya ada hal yang perlu kamu ceritakan," Ucap Arlan yang berhasil membuat Acha tersentak kaget.


Refleks, Acha menjauhkan kepalanya dari punggung Arlan lalu mengusap cepat sisa air mata di pipinya, namun terlambat karena Arlan sudah melihatnya lebih dulu melalui kaca spion. Acha pun turun dan disusul Arlan yang langsung melingkarkan satu tangannya di pinggang Acha.


Setibanya mereka di danau, Arlan langsung duduk diatas rerumputan dengan Acha yang duduk diatas pangkuannya. Tangan kekar Arlan menyapu lembut pipi Acha yang masih terdapat sisa air mata, Arlan tersenyum lalu mengecup lembut kedua mata Acha yang terpejam.


"Kenapa, sayang?"


Dan disaat itu juga tangis Acha pecah, Acha memeluk erat Arlan dengan wajah yang dia sembunyikan didepan dada Arlan. Arlan hanya diam membiarkan Acha menangis sampai puas dengan tangannya yang setia mengelus lembut rambut panjang Acha.


"Udah tenang?" Tanya Arlan saat tak lagi mendengar isak tangis dari Acha.


Acha mengangguk tanpa menjauhkan wajah nya dari depan dada Arlan, dan tanpa menunggu Arlan bertanya, Acha sudah lebih dulu menjelaskan tentang kedua orang tuanya dan Arlan menjadi pendengar yang baik, bahkan sesekali pemuda itu mengecup puncak kepala gadisnya.


"Dengar, sayang. Biarin mereka melangkah kejalan yang mereka pilih, nanti kalau ada waktu yang tepat, kita ketempat mereka lalu kamu bisa bertanya langsung tentang alasan kenapa mereka menghadirkan kamu kalau kamu hanya akan selalu sendiri setelahnya. Kamu harus selalu ingat, kalau ada aku yang akan setia disisi kamu."


"Jangan pernah merasa sendiri lagi dan jangan pernah memendam masalah sendiri, ada aku. Ada aku yang akan menjadi tempat kamu berbagi masalah, kamu bisa ceritakan semua masalah kamu sama aku lalu kita cari solusi nya bareng-bareng. Sekarang berhenti sedih-sedihannya, kesayangan nya Arlan harus terus bahagia."


Arlan menarik dagu Acha lalu mencium lembut bibir gadis itu yang sudah menjadi candunya.


"Terima kasih," Ucap Acha.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya."


"Tidak perlu berterima kasih, karena itu sudah menjadi tugasku untuk selalu membuatmu bahagia."


...***...


ARLAN!! AKU BAPER, TANGGUNG JAWAB GAK LO?!


Hiks, nasib jomblo kok gini banget. Ada yang jomblo juga? Yuk peluk online berjamaah.


Spam koment yukk, masa pas double up doang kalian pada spam koment nya. Aku ngambek nih☹️😩


• Immanuel Arlando Zeneouska


👇👇


...



...


..."Si bucin nya Acha🐣"...


.


.


.


• Mildreda Acchariya Dizon


👇👇


...



...


..."Si pemilik raga🧚‍♀"...


.


.


.


.


Oke deh, sekian and bye.