
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Sore harinya, Acha sudah siap dengan dress putih sebatas lutut serta rambut panjang nya yang dia biarkan tergerai. Sejujurnya Acha bingung harus memakai apa karena Arlan juga tak bilang mau kemana, jadi Acha tak bisa menyesuaikan pakaian nya dengan tempat yang mereka tuju nanti.
Jadi jangan salahkan Acha kalau tiba-tiba outfit nya nanti akan sangat bertolak belakang dengan tema tempat yang ingin mereka tuju. Memakai flatshoes sebagai penyempurna penampilannya, lantas Acha segera keluar kamar karena Arlan sudah menunggu nya diruang keluarga.
Setibanya didepan ruang keluarga, Arlan menatap Acha tanpa berkedip. Meski tak memakai polesan make up dan juga tak memakai barang yang mencolok, penampilan Acha malam ini benar-benar mengagumkan untuk Arlan. Kalau begini caranya, Arlan kan jadi tak rela mengajak Acha pergi dan membiarkan banyak orang melihat kecantikan gadisnya.
Melihat ke terdiaman Arlan, Acha pun segera mendekat dan berdiri didepan pemuda itu. "Kita mau kemana sih, Ar? Aku salah outfit gak?" Tanya Acha.
Mendengar pertanyaan Acha, Arlan tersenyum lalu mengecup sekilas hidung mancung Acha seraya menggeleng setelahnya. "Apapun yang kamu pakai selalu sempurna dimata aku," ucapnya.
"Gombal!"
Kedua nya pun segera berlalu pergi menaiki mobil sport baru Arlan. Selama di perjalanan, tangan Arlan tak pernah lepas dari gengaman tangan Acha sedangkan Acha tengah sibuk dengan ponselnya. Mencari tau tentang apa yang boleh dan tidak boleh Ibu hamil lakukan melalui internet.
Sekian lama diperjalanan, mereka pun akhirnya tiba disebuah pantai yang jauh dari perkotaan. Acha menoleh menatap Arlan yang juga menatapnya sambil tersenyum manis. Arlan turun lebih dulu untuk membuka kan pintu di bagian penumpang.
Setelah pintu dibuka oleh Arlan, Acha pun turun sambil menerima uluran tangan Arlan. Acha merapatkan tubuh nya dengan tubuh Arlan saat hawa dingin mulai menusuk kulitnya. Arlan yang menyadari itu pun langsung membawa gadisnya ke sebuah tempat yang sudah dia sulap sedemikian rupa.
Menekan beberapa digit angka, tak lama pintu transparan didepan nya terbuka. Arlan mempersilahkan Acha masuk lebih dulu yang membuat gadis itu langsung berdecak kagum. Dari dalam sini, hawa tak dingin melainkan hangat dan begitu menenangkan.
Suasana tenang di ruangan transparan itu bertambah sempurna dengan adanya suara deburan ombak. Acha menoleh menatap Arlan, "Ar?"
"Ayo duduk, sayang."
Dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, Arlan menggenggam tangan Acha meminta gadis itu agar duduk di kursi yang sudah disiapkan. Begitu juga dengan Arlan yang langsung duduk didepan Acha. Arlan tersenyum menatap Acha.
"Suka, sayang?" Tanya Arlan yang langsung di angguki oleh Acha.
Keduanya pun mulai terhanyut dengan pemandangan didepan mereka hingga suara Arlan berhasil mengalihkan atensi Acha. Acha pun menerima uluran tangan Arlan, mengikuti kemana Arlan membawanya. Ternyata Arlan membawanya ke depan dinding transparan yang membuat mereka langsung berhadapan dengan pantai.
Dibelakang Acha, Arlan melingkarkan tangannya diperut gadis itu dengan dagunya yang bertumpu pada puncak kepala Acha. Tanpa sepengetahuan Acha, Arlan menekan tombol di remote kecil yang ada ditangannya. Hingga meja makan yang tadi ada dibelakang nya menghilang.
Bukan tertelan ke bawah tanah, melainkan Acha dan Arlan yang naik kelantai selanjutnya. Sebenarnya tempat mereka berada sekarang adalah sebuah gedung kecil hasil eksperimen Arlan yang memang ingin membuat sesuatu yang berbeda. Jadilah gedung kecil transparan ini, gedung yang bisa diganti tema dinding nya dengan sesuka hati.
Dilantai atas, pemandangan pantai dari ketinggian terlihat lebih indah. Arlan pun tak mau menyia-nyiakan kesempatan di keindahan kali ini. Arlan membalikan tubuh Acha dengan punggung gadis itu yang bersandar pada dinding transparan.
Arlan terus mengikis jarak antara keduanya yang membuat Acha refleks menutup mata saat bibir Arlan menempel di bibirnya. Tak ingin membuat gadisnya lelah berdiri, Arlan pun mengangkat kedua kaki Acha hingga gadis itu berada di gendongan depannya.
Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Arlan membaringkan tubuh gadisnya diatas ranjang dengan bibir keduanya yang masih saling memangut. Arlan tak perlu takut ada yang melihat kegiatan keduanya, karena kalau dari luar, dinding gedung ini tidak bisa dilihat karena berbentuk seperti dinding pada umumnya.
Satu tangan Arlan menahan berat tubuhnya agar tak menimpa Acha, sedangkan satu tangannya mulai sibuk mengelus lembut perut Acha. Dengan lidah yang terus mengabsen deretan gigi Acha, ciuman Arlan perlahan turun ke leher Acha. Menjilat dengan lidahnya yang membuat Acha menggigit bibir bawahnya dengan kuat.
Sesapan dari bibir Arlan pada leher Acha terasa menggelitik yang membuat Acha memejamkan matanya dengan kepala mendongak. Seakan tersadar dengan apa yang mereka lakukan, Acha pun langsung menahan tangan Arlan saat pemuda itu hendak menaikan dress yang dikenakan nya.
"Ar, cukup. Setidaknya, tunggu sampai kita sah dimata hukum dan agama." Ucap Acha seraya menatap wajah Arlan yang terlihat penuh gairah.
Karena tak ingin memaksa kehendak gadisnya, Arlan pun mengangguk dan segera merapikan baju Acha kembali. Arlan meraih remote kecil diatas nakas, menekan beberapa tombol hingga dinding kembali seperti semula. Arlan pun menaruh kembali remote itu keatas nakas.
"Aku mandi dulu, kamu istirahat duluan aja. Jangan nungguin aku, sayang."
Selepas Arlan memasuki kamar mandi, Acha menghela napasnya pelan lalu menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang. Acha tak bisa munafik, nafsu nya saat ini memang sama tingginya dengan nafsu Arlan. Ditambah lagi dengan informasi dari internet yang menyatakan kalau nafsu Ibu hamil suka tak menentu.
Tapi Acha tak mau melakukan kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya, biarkan mereka sah lebih dulu maka Acha bisa dengan senang hati menyerahkan tubuhnya untuk sang suami. Karena belum merasa lelah, Acha pun mengambil ponselnya dan mulai sibuk dengan aplikasi instagram.
Memakai celana boxer tanpa memakai baju, Arlan pun naik keatas ranjang dan berbaring di samping Acha yang masih sibuk dengan ponsel di tangannya. Arlan mendengus pelan, "Hp nya lebih penting ya dari pada waktu kita berduaan?" Sindirnya.
Acha menoleh lalu menyengir sambil menaruh ponselnya keatas nakas, Acha pun segera turun dari ranjang. "Kamu mau kemana, sayang?" Tanya Arlan.
"Ganti baju," Jawab Acha seraya membuka tas yang dirinya sengaja bawa tadi.
Dengan daster sebatas paha di tangannya, Acha pun masuk ke kamar mandi dan segera mengganti bajunya. Setelah selesai, Acha pun naik keatas ranjang dan berbaring di samping Arlan. Acha mengangkat satu kakinya keatas pinggang Arlan lalu memeluk lengan pemuda itu tanpa bisa diam.
"Sayang, jangan banyak gerak. Aku gak mau sampe kelepasan lagi," Ucap Arlan yang berhasil membuat Acha langsung diam.
Di malam harinya, Acha terbangun dan meminta Arlan untuk mengaktifkan mode transparan pada atap ruangan tempat mereka berada. Acha ingin melihat indahnya bulan dan bintang secara langsung. Arlan menuruti permintaan gadisnya hingga kini Acha mulai sibuk mengagumi keindahan langit.
Dibalik selimut tebal yang menutup setengah tubuh keduanya, Arlan menyingkap baju daster Acha keatas lalu mulai sibuk mengelus lembut perut Acha yang entah sejak kapan sudah menjadi hobi barunya. Arlan memiringkan tubuhnya menatap wajah Acha dari samping, tentu dengan tangannya yang tak pernah berhenti mengelus perut Acha.
Merasa kalau Arlan terus memerhatikannya, Acha ikut memiringkan tubuhnya hingga jarak antara keduanya terlihat begitu dekat. "Kenapa suka banget usap perut aku?" Tanya Acha seraya menggesekkan hidung mancungnya didepan hidung mancung Arlan.
"Karena disini..." Arlan menjeda ucapannya seraya bangkit dari tidurnya, Arlan mendorong pelan bahu Acha agar berbaring kembali. Dengan begitu, Arlan bisa dengan mudah menjauhkan selimut dari setengah tubuh keduanya.
Di depan perut Acha, Arlan kembali mendusel. "... Ada anak aku," lirihnya dengan kepala yang mendongak menatap wajah terkejut Acha.
"Ar, apaan sih. Bercandanya gak lucu," Ucap Acha sambil berusaha terkekeh pelan dengan niat menekan rasa gugupnya.
Dengan wajah datar, Arlan menindihi tubuh Acha lalu menatap gadis itu tepat di manik matanya. "Aku ingat semuanya, sayang. Gadis malam itu benar-benar kamu kan? Aku gak salah liat atau berhalusinasi seakan melihat wajah kamu tapi kenapa kamu pergi saat sebelum aku bangun?"
Mendengar ucapan Arlan, Acha terdiam sejenak. "A-aku... Aku takut jadi gak akan bisa merelakan kamu pergi ke Amerika disaat kamu memberiku perhatian lebih karena k-kejadian malam itu," jujurnya.
Alasan yang Acha berikan benar-benar membuat Arlan frustasi bukan main, kenapa juga dia harus cape-cape mencari jejak gadis malam itu kalau ternyata gadis itu adalah kekasihnya sendiri. Bahkan kalau tau dari awal gadis itu Acha, Arlan tak akan membuang waktu untuk mencari dan lebih memilih menikahi Acha dihari itu juga.
Juga Arlan tak perlu membuang tenaga untuk berdebat dengan sang Bunda masalah pernikahan, bahkan dengan senang hati Arlan akan menikahi Ibu dari anaknya—tunggu, apakah di rahim gadisnya benar-benar ada calon anaknya? Malaikat kecilnya?
"Kenapa kamu mikir ke sana, sayang? Tanpa kamu takuti, aku juga gak akan tinggalin kamu apalagi dalam keadaan kamu hamil anak aku." Ucap Arlan dengan tatapan teduh, mana tega dia menatap tajam kekasihnya.
Acha mencoba menatap mata Arlan, "Tapi kamu penerus tunggal ZNK Company. Kamu pasti harus sekolah disekolah terbaik, ak—"
"Sayang, dengar. Aku sudah pernah bilang sama kamu kalau aku akan menjadi sukses dengan usaha aku sendiri. Kamu hanya tinggal menunggu hasil dari kerja keras aku, dan sekarang hasilnya sudah bisa kamu nikmati. Pria tua itu sudah tidak punya kuasa untuk menyetir kehidupanku karena aku sudah punya remotenya sendiri yaitu, kamu." Ucap Arlan setelah memotong ucapan Acha dengan cepat.
Tangan besar Arlan terangkat, mengusap lembut pipi chubby gadisnya. "Jangan takut hidup miskin, sayang. Karena ACE Company sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita atau bahkan cicit-cicit kita. Untuk semuanya terutama untuk kamu, terima kasih karena kamu, ACE Company bisa dikenal dunia."
Deg.
"J-jadi, Manuel...?"
Arlan mengecup sekilas dagu Acha lalu tersenyum, "It's me Baby."
Perusahaan raksasa yang berhasil menggeser posisi ZNK Company hanya dalam kurun waktu 2 bulan, benar-benar diluar dugaan. Dan lebih sulit dipercaya lagi kalau kenyataannya, pemilik perusahaan raksasa itu adalah kekasihnya sendiri. Kekasih yang 2 bulan ini menghilang eh ternyata sedang sibuk dengan bisnis barunya.
"Ar," Acha melingkarkan tangannya dileher Arlan lalu memeluknya dengan sangat erat.
"Ya, sayang. Hati-hati, nanti anak kita terjepit." Ucap Arlan yang berhasil membuat Acha tersadar dan segera menjauh sedikit.
"Sejak kapan kamu tau kalau aku gadis malam itu?"
"Sejak hari dimana kamu pergi ke makam Nenek ku."
...***...
Uhuy, udah berapa lama aku gak up? Hehe.