
Pulang dari Mall dengan 5 paper bag berisi gaun-gaun mahal serta kosmetik berbagai merek, Chika dengan pakaian glamor khasnya yang nyentrik, berjalan semangat melalui lorong rumah sakit menuju ruangan tempat sang Ayah di rawat. Dengan tujuan lain, Chika bersikap begitu manis pada Ayahnya.
"Papa! Papa harus sehat ya,"
Melihat anak kesayangan yang begitu manis, Papa Chika terkekeh pelan sembari mengusap kepala anaknya lembut. "Harus dong, karena Chika temani Papa, maka Papa akan cepat sembuh."
Chika memeluk Papa, "Pah. Aku suka seseorang,"
"Oh iya? Siapa, Nak? Apa Papa mengenal orang itu?" Mendengar anaknya bercerita tentang laki-laki yang di sukainya adalah hal langka, karena selama ini, Chika tertutup perihal kisah romansanya bersama dengan kekasih atau pun teman dekat laki-laki.
Dengan malu-malu, Chika membuka ponselnya. Menunjukkan foto Arlan yang suka sekali dia ambil secara diam-diam, "Papa kenal dia kan? Aku suka banget sama dia, aku akan sangat bahagia kalau bisa menikah dengan dia."
Kening Papa berkerut, "Itu Arlando kan? Anak dari Andrija Zeneouska?"
"Benar, Papa."
"Kamu mau Papa jodohkan dengan Arlan? Papa kenal baik dengan Andrija dan Tuan Robin,"
Mendengar tujuannya tersampaikan, senyum Chika kian lebar. "Mau, Pah! Terima kasih banyak, Papa!"
"Sama-sama, Nak."
Apa yang Chika harapkan berjalan dengan semestinya, wanita itu hanya tinggal menunggu kabar perihal kapan pastinya pernikahan dirinya dan Arlan di gelar. Sedangkan Papa Chika, dengan lekas menghubungi nomor sahabat lamanya, Andrija, untuk membicarakan tentang perjodohan.
"Andrija, untuk memperkuat silahturahmi, bagaimana jika kita jodohkan anakmu dengan anakku? Mereka akan sangat cocok,"
Di seberang sana, Andrija yang sibuk dengan berbagai macam berkas, menghela napas pelan. "Aku tidak bisa memberi kepastian, karena aku tidak ingin mengekang putraku sendiri. Dia sudah dewasa, sudah bisa membuat keputusan dan memilih jalan sendiri."
"Ayolah, Andrija. Tidak ada salahnya kita menjodohkan mereka, anakku itu anak baik-baik, kamu tau itu kan. Kamu tidak akan kecewa mendapatkan menantu seperti anakku,"
"Nanti akan aku bicarakan lebih dulu dengan yang lainnya,"
"Aku tunggu kabar baiknya, Andrija."
Setelah sang Papa menjauhkan telepon dari telinga, Chika lekas bertanya antusias. "Bagaimana, Pah? Om Andrija setuju kan?"
"Pasti dong, Nak."
Senyum Chika semakin lebar, sudah tahu Arlan memiliki kekasih, bukannya mundur, Chika malah semakin semangat ingin memiliki Arlan sang pujaan hati.
...***...
Andrija pulang dengan keadaan lelah, langsung di sambut wajah masam istrinya. "Ada apa, Zia? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Letizia menghampiri suaminya, tetap membantu Andrija membuka jas meski tengah dalam suasana hati yang buruk. "Adek lagi-lagi enggak angkat telepon aku, aku tuh khawatir sama dia, Mas! Kamu kan tau, dia bergaul sama teman-teman yang tidak jelas. Makin susah di atur! Aku takut dia kenapa-napa, belum lagi masalah wanita yang dia hamili, astaga, Mas! Rasanya otakku seperti mau pecah!"
"Tapi aku enggak suka liat dia sama cewek itu, Mas!"
"Letizia! Bukan gadis itu yang kamu tidak suka, tapi latar belakang Ayahnya! Lupakan, itu sudah menjadi masa lalu, untuk apa terus berkutat? Kamu tidak menghargai aku?"
Letizia tertegun, "Mas?"
"Sudah cukup, Zia. Marvel itu masa lalu kamu, sekarang ada aku. Bisa hargai aku sebentar aja? Meski kita menikah karena perjodohan dan tanpa di awali cinta, tapi tolong, hargai aku sebagai suami kamu dan lihat anak kita sewajarnya. Jangan terlalu mengekang!"
Andrija yang tadinya ingin mandi dan mengistirahatkan badan, mendadak urung. Pria itu pergi setelah membuat istrinya terdiam seribu bahasa. Niat hati ingin membicarakan pula perihal perjodohan yang temannya tawarkan untuk Arlan dengan kepala dingin, Andrija malah di buat sudah malas duluan. Dia juga tidak ada niat sama sekali untuk menyetujui perjodohan, Andrija hanya ingin semakin dekat dengan istrinya.
Istri yang selama ini terasa asing untuk dirinya sendiri, Andrija itu kaku, dia sulit mencari topik obrolan. Dan permintaan temannya itu, Andrija pikir bisa akan menjadi awal topik yang panjang. Tapi ternyata, belum juga di mulai, Andrija sudah bersuasana hati buruk.
...***...
Deru sport motorcycle dengan berbagai bentuk, warna, dan harga, mulai memenuhi pekarangan bangunan menjulang yang terlihat mengerikan dari luar. Halaman yang begitu luasnya, langsung penuh kurang dari 20 menit. Semua pemilik motor, menata motor mereka dengan rapi, enggan membuat kesan berantakan bagi halaman depan bangunan yang mereka sebut markas.
Satu persatu mulai di izinkan masuk setelah melalui perkenalan diri, tidak boleh sembarangan masuk, sebab hanya anggota saja yang memiliki kartu identitas yang boleh masuk ke dalam markas utama. "Bang, beneran ketua dari semua ketua akan menunjukkan dirinya sekarang?"
Kabar burung perihal ketua Anteros, ketua besar Anteros, atau yang mereka sebut sebagai ketua dari semua ketua di Anteros akan menunjukkan jati dirinya malam ini di markas utama telah menyebar begitu luas. Hampir keseluruhan remaja milenial, ingin mendatangi markas utama. Tapi lokasi yang di pedalaman dan harus melalui jalan terjal, mereka semua, di buat berpikir ribuan kali untuk datang.
"Gue denger gitu," Mereka secara teratur duduk di kursi masing-masing tanpa ada drama berebut kursi maunya yang paling depan.
Sudah bukan hal asing, jika Anteros memiliki aturannya tersendiri. Lantaran di setiap sekolah, akan ada ketuanya sendiri. Contohnya, Maxime. Dia adalah ketua Anteros tapi khusus untuk anggota yang bersekolah di sekolah yang sama dengannya saja. Dari sekolah lain pun sama, setiap sekolah yang pasti ada geng Anteros, maka memiliki ketua untuk mengayomi mereka.
Dan para ketua perwakilan tiap anggota, memiliki ketuanya sendiri. Yaitu pemilik nama besar Anteros yang secara turun temurun di berikan dari satu generasi ke generasi lainnya. Sayang, ketua yang kali ini sangat menutup diri, tidak ada satu pun yang tau siapa dia kecuali anggota inti umum Anteros. Anggota inti dari seluruh, dari ribuan anggota Anteros yang bergabung, hanya mereka yang tau wajah si ketua semua ketua.
"Kalau kita udah di kumpulin gini, gue yakin, pasti akan ada peristiwa besar atau pengumuman mengejutkan."
"Sayang banget, Adek gue lagi pesantren, andaikan dia tau kalau ketua utama mau menunjukkan jati diri, dia pasti excited banget buat ikut ke markas."
Selain menjelma sebagai anggota geng motor, Anteros juga di jadikan idola kebanyakan orang terutama kaum betina. Anggota yang tampan, kaya, pintar, dan jago berantem, mana mungkin tidak di sukai perempuan?
"Gue malah mikir, pasti bakal ada war besar-besaran kayak empat tahun lalu."
Serempak, mereka terdiam. "Kok gue malah takut ya? Takut kalau bener ada war besar lagi, korban yang tewas makin banyak. Gue enggak siap pisah dari kalian semua,"
"Ngawur! Doa tuh yang bener, malah mikirin mati!"
Mereka makin tidak sabar untuk melihat bagaimana keren dan tampannya ketua utama Anteros.
...***...