
...H E L L O !đŸ‘‹...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Yuk kenalan lebih detail tentang siapa Arlan,
.
.
.
Terlahir di keluarga kaya raya, bukan berarti kehidupannya terjamin senantiasa bahagia. Karena kenyataan nya, begitu banyak tuntutan dan harapan yang mereka tunggu dari keberhasilan nya. Keberhasilan sebagai seorang pewaris tunggal.
Sejak kecil, kehidupan Arlan tak pernah lepas dari belajar, belajar, dan belajar. Bahkan Arlan tak diizinkan sekolah umum hanya agar dirinya bisa benar-benar fokus belajar tanpa membagi fokus nya antara teman yang lainnya. Tak hanya sekolah sendirian, tapi Arlan juga diharuskan untuk ikut les privat.
Waktu nya selama 24 jam benar-benar hanya diisi dengan kesibukan belajar. Bahkan di setiap sabtu minggu, Arlan juga harus ikut datang ke perusahaan keluarganya bersama sang Ayah. Untuk apa? Jelas untuk mempelajari bagaimana dunia bisnis.
Bahkan diusia nya yang baru 7 tahun, Arlan sudah berhasil memenangkan tender yang tak bisa dibilang biasa. Selain mahir di bidang bisnis, Arlan juga sangat suka mengikuti perlombaan ataupun olimpiade antar Kota dan negara. Arlan selalu mendapat juara satu, di apapun perlombaan dan olimpiade yang dirinya ikuti.
Jadi jangan kaget saat banyak orang luar Indonesia yang mengenal siapa sosok Immanuel Arlando Zeneouska. Apa itu semua kemauan Arlan? Jelas tidak. Dirinya juga sama seperti anak-anak seusianya, yang ingin main bebas dan bisa pergi kemanapun tanpa larangan.
Tapi apa bisa? Nggak. Bahkan Arlan hanya bisa bermain disekitar mansion nya dan itupun diberi waktu, paling lama setengah jam. Bisa bayangkan bagaimana tertekan nya Arlan? Salah satu faktor kenapa Arlan menjadi sosok yang terbilang bermulut pedas dan egois. Itu karena akibat dari banyaknya tekanan.
Hal lain yang membuat Arlan membenci Ariq adalah karena Ariq yang bisa bebas main tanpa merasa terbebani dengan aturan. Ariq tidak akan dimarahi saat mendapat nilai jelek, tapi Arlan? Turun 1 saja nilainya, maka waktu belajar Arlan akan semakin padat dan itu melelahkan.
Melihat Ariq yang bebas berlari tanpa takut terluka, Arlan iri. Dirinya tidak bisa seperti Ariq. Sekali dirinya terluka, maka rumah sakit yang akan menjadi tempat tinggal nya sementara. Arlan punya penyakit hemofilia turunan dari sang Nenek, makanya Arlan tak bisa mendapatkan luka terbuka.
Arlan lelah disuntik setiap hari, dituntut untuk memahami pelajaran yang bukan untuk usianya, dituntut serba sempurna agar tak ada cela dalam dirinya yang orang-orang lihat. Karena itulah, sosoknya menjadi dingin, cuek, dan kejam saat di luaran.
Tapi saat melihat wajah teduh sang Bunda, semua rasa gundah dihatinya melebur. Pundaknya yang terasa berat menjadi ringan saat sang Bunda tersenyum lembut menatap nya. Disaat dirinya ingin menyerah, para wanita itu terus menghiburnya dengan apa yang bisa mereka lakukan.
Memasakkan makanan kesukaan Arlan, mengajak Arlan bermain di wahana bermain yang memang sudah disiapkan, atau mengajak Arlan panjat tebing seperti apa yang anak lelaki itu sukai. Hal yang dirinya sukai namun tak bisa lagi dirinya rasakan karena penyakit sialan nya itu.
Hari-hari nya berlalu, sosok Arlan remaja kini mulai ingin merasakan apa itu kebebasan. Meminta, memohon, merengek, bahkan memaksa sang Kakek agar mengizinkan dirinya untuk sekolah umum. Sekian lama membujuk, akhirnya Arlan diizinkan.
Tapi tetap dengan penjagaan yang tak bisa dibilang biasa. 50 bodyguard pilihan Kakek nya sudah menyebar di setiap sudut ZHS, Legenda, Sameera, dan Aeri juga ikut adil dalam memantau kesehariannya disekolah. Senang? Jelas tidak. Langkahnya benar-benar terbatas, lalu untuk apa dia sekolah umum?
Untuk apa sekolah umum kalau ujung-ujung nya tetap saja Arlan tak bisa merasakan kebebasan yang sebenarnya. Dikelas 2 SMA, Arlan berhasil membunuh 50 bodyguard yang ditugaskan memantau nya dengan tindakan bersih, tanpa jejak sedikitpun. Bahkan Arlan dengan terang-terangan ikut geng motor tanpa perduli reaksi Kakek nya.
Selagi saham ZNK Company terus naik, maka posisi Arlan akan baik-baik saja. Ya, pria tua itu hanya membutuhkan otak dan tenaga Arlan saja. Jelas untuk kelangsungan dan kesuksesan perusahaan nya. Arlan tau? Oh ya jelas tau, tapi dia lebih memilih mengikuti permainan pria tua itu.
Sampai akhirnya, Arlan bertemu dengan seorang gadis di kejadian yang begitu lucu. Gadis itu—Acha, menjadi makhluk bernama perempuan pertama yang berhasil menarik perhatiannya sebagai sosok lelaki normal. Arlan mencintai Acha dan dirinya ingin Acha tetap menjadi miliknya bagaimana pun caranya.
"Ar,"
"Ar,"
"Arlan!"
Mendengar teriakan Acha, Arlan tersentak kaget. "Ah iya, ada apa sayang?" Tanya nya seraya menatap wajah Acha yang kini memandangnya dengan raut kesal.
Bahkan malam ini, Arlan memilih pulang kerumah dirinya dan juga Acha padahal dirumahnya sedang ada pertemuan keluarga karena Sameera yang akan segera menikah tak lama lagi. Poin bagusnya, Arlan tak akan diteror oleh panggilan telepon karena ponselnya saja masih berada pada sang Bunda.
Jadi keberadaannya sekarang akan sangat aman, juga Arlan yang sekarang bisa dengan bebas berduaan bersama gadisnya. Melepas rindu setelah hampir 2 bulan mereka tak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing yang begitu menyita waktu berharga keduanya untuk bermesraan.
Masih dengan wajah kesalnya, Acha menidurkan kepalanya diatas dada bidang Arlan, mendengarkan detak jantung dari kekasihnya. Arlan yang memang sedang berbaring pun terus mengecupi puncak kepala Acha dengan satu tangannya yang sibuk mengelus rambut panjang Acha.
"Dua perempuan yang pernah sama kamu hari itu siapa?" Tanya Acha pada Arlan, padahal Acha sudah mengetahui semuanya tapi tidak ada salahnya kan bertanya langsung pada Arlan.
Sebelum menjawab, Arlan mengangkat tubuh Acha hingga terduduk diatas perut kotak-kotaknya. Tangan Arlan pun tak tinggal diam karena kini tangan nya mulai menyelinap masuk kedalam baju Acha lalu mengelus lembut perut Acha yang selalu membuat hatinya terasa menghangat.
Dengan pandangan yang menatap sayu gadisnya, Arlan mulai menjelaskan. "Perempuan pertama yang kamu lihat bersama aku itu namanya Rania, dia pernah jadi korban aku pas aku balapan. Aku gak sengaja nabrak dia sampe dia harus dirawat di rumah sakit dan juga kaki kirinya yang mengalami keretakan pada tulangnya."
"Akhirnya dia minta ikut ketempat yang rame karena dia gak mau sendirian, jadilah dia aku bawa ke markas sampe kakinya sembuh. Jadi kalau kakinya sudah sembuh, dia harus pergi dari markas. Untuk perempuan di sekolahan yang peluk aku, dia Sameera. Kakak sepupu aku yang gak lama lagi akan menikah juga pemilik akun yang di tag di akun instagram aku," Jelasnya.
Acha mendengarkan dengan seksama tentang semua penjelasan Arlan yang sama persis dengan informasi dari Roy yang diberikan padanya. Sontak Acha mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum manis yang dibalas senyuman gemas dari wajah Arlan.
Tangan Arlan pun sejak tadi tak pernah berhenti mengelus lembut perut Acha yang membuat hawa kantuk mulai menyerang Acha. Acha menguap beberapa kali lalu pindah kesamping Arlan. Tiduran di samping Arlan, Acha pun menarik tangan Arlan agar kembali mengelus perutnya yang tentu dituruti oleh Arlan.
Kelopak mata Acha yang hampir terpejam mendadak terbuka sempurna saat mendengar ucapan dari Arlan.
"Ada anak aku ya, sayang?"
Deg.
Rasa kantuk yang sejak tadi menyerangnya mendadak buyar entah kemana. Acha menatap lurus ke manik mata tajam Arlan, menyelami keindahan mata kekasihnya dengan sorot teduh yang berasal dari mata Acha. Tangan Acha terangkat, menahan tangan Arlan yang ada didepan perutnya.
Dengan pikiran bercabang yang entah dimana akarnya, Acha lebih memilih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Arlan tanpa berniat menjawab pertanyaan Arlan lebih dulu.
...***...
Keesokan paginya, Acha mengerjap kan matanya beberapa kali saat mendengar suara seseorang muntah. Dengan mata yang masih sesekali terpejam, Acha berjalan ke kamar mandi lalu memijat lembut tengkuk leher Arlan yang masih terus muntah.
Pantes gue gak pernah morning sickness, ternyata Bapak nya. Pinter juga anak gue, Batin Acha yang rasa kantuk nya mendadak hilang.
Setelah membasuh wajahnya, Arlan berbalik dan segera memeluk Acha dengan erat. Anehnya, rasa mual dan pusing yang sejak tadi menyiksa Arlan mulai menghilang. Entahlah, tapi Arlan memang sangat menyukai aroma tubuh Acha yang menenangkan.
"Duduk yuk, pegel berdiri gini." Ucap Acha seraya menarik lengan Arlan agar duduk di ranjang dan Arlan menurut.
Acha duduk dengan punggung nya yang bersandar pada sandaran ranjang, sedangkan Arlan tiduran dengan paha Acha sebagai bantalan. Kepala Arlan mendongak, "Buka ya sayang?"
Mendengar pertanyaan Arlan, Acha hanya berdehem, membiarkan Arlan menaikan bajunya. Arlan pun terus mengendus didepan perut Acha lalu mengecupinya berkali-kali yang berhasil membuat Acha tersenyum sambil terus mengelus lembut rambut Arlan.
"Aku udah urus pernikahan kita," Ucap Arlan disela-sela kegiatan nya mengecupi perut Acha yang berhasil membuat Acha tersentak kaget.
"Jangan bercanda, Ar!" Tekan Acha yang membuat Arlan menghela napasnya pelan lalu terduduk di samping Acha.
Dengan sekali tarikan, Acha kini sudah duduk dipangkuan Arlan yang senantiasa menatapnya dengan lembut. "Kamu mau kita gini terus? Tanpa aku kasih kepastian, kamu memang nya mau, hm?"
Ibu jari Arlan mengusap lembut pipi Acha yang mulai chubby lalu mengecup nya sekilas, "Lebih baik kita menikah. Apa yang kita lakukan gak akan jadi dosa, right?"
Mata Acha terpejam sejenak lalu kembali terbuka, "L-lalu gimana sama keluarga kamu?"
"Aku udah cerita semuanya sama Bunda, Bunda setuju kalau aku mau nikahin kamu. Ayah juga, untuk Kakek, kamu gak usah pikirin. Biarin dia dengan dunianya," Ucap Arlan dengan sedikit dibumbui kebohongan.
Setelah sekian lama berperang dengan logika dan hatinya, akhirnya Arlan mengikuti apa kata hatinya. Menikahi gadis yang dirinya cintai. Untuk perempuan malam itu, Arlan mengikuti ucapan Acha yang bilang kalau dirinya hanya tinggal mengikuti takdir yang entah akan membawanya kemana nanti.
"K-keluarga aku?"
Arlan kembali tersenyum, "Itu semua urusan aku. Kamu gak perlu banyak berpikir, yang aku butuhkan cuma jawaban dari kamu. So, babe. Will you marry me?"
"Gak romantis banget sih?!" Kesal Acha seraya menyembunyikan wajah semerah tomatnya di ceruk leher Arlan.
Melihat tingkah gadisnya, Arlan terkekeh gemas. "Aku memang bukan lelaki romantis, jadi kamu mau atau nggak?"
Kepala Acha kembali menjauh dari ceruk leher Arlan lalu menatap tepat pada manik mata Arlan yang menatapnya dengan sorot teduh juga tulus. "Kita menikah aja ya? Tanpa resepsi,"
Kening Arlan berkerut pertanda bingung, "Kenapa? Padahal aku udah nyiapin pesta," Ucapnya sedikit bingung juga lesu.
Merasa tak tega, Acha pun mengelus lembut rahang tegas Arlan. "Kita masih anak SMA, gak lucu rasanya kalau tiba-tiba ada pesta pernikahan. Yang terpenting untuk sekarang itu menikahnya kan? Jadi kita menikah aja tanpa resepsi," Ucap Acha mencoba menjelaskan.
Arlan mengangguk lalu mengecup sekilas bibir gadisnya, "Apapun untuk mu, sayang."
...***...