Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
22. Yes I'm Acha



...H E L L O !đź‘‹...


...~ H A P P Y R E A D I N G ~...


...***...


Acha menatap malas papan tulis didepan nya, bahkan sesekali kepala Acha terhantuk meja karena hampir kebablasan tidur. Semalam dirinya tidur hampir jam 5 subuh dan jam 6 harus bangun karena sekolah. Acha benar-benar mengantuk tapi didepan nya ada seorang guru yang katanya sangat killer.


Sesekali Acha mencoret-coret lembar buku nya di bagian belakang sebagai pengalihan rasa kantuk nya, tapi bukannya menghilang, rasa kantuk nya malah semakin merajalela. Acha mendengus lalu berdiri dari duduknya.


"Mildreda, kenapa berdiri? Saya sedang menjelaskan materi kalau kamu tidak bisa lihat." Guru itu berucap dengan nada jutek nya yang berhasil membuat Acha menyipitkan matanya.


Tanpa rasa takut, Acha membalas tatapan guru berbadan gempal itu dengan tatapan nyalang khas nya yang nyebelin. "Mildreda udah mati," Ucap Acha.


Karena enggan mendengarkan siraman rohani dari si Guru, Acha pun melenggang pergi begitu saja. Tidak lupa dirinya membanting pintu dengan sangat keras yang membuat mereka didalam kelas langsung mengelus dada karena kaget dan juga kagum akan keberanian Acha.


Disisi Acha, gadis itu memilih bolos ke taman karena kalau ke kantin, pasti dirinya akan ketahuan oleh guru penjaga yang sedang berpatroli. Di taman belakang sekolah, Acha duduk lesehan dengan punggung bersandar di batang pohon, begitu pun dengan tangan nya yang sibuk mencabuti rumput.


"Acha bosen banget," Gumam nya seraya mengacak frustasi rambutnya yang digerai dengan bebas.


Matanya terus bergulir kesana kemari hingga pandangan nya terhenti pada punggung seseorang yang seperti nya sedang bertelepon nan. Karena tingkat ke ingin tahuan nya sangat tinggi, Acha pun menajamkan pendengaran nya.


"Mah! Aline gak mau dijodohin, udah berapa kali Aline bilang?!"


"Siapa yang belum move on?"


"Jangan ngaco deh, Mah!"


"Nggak ya nggak!"


Refleks, Acha menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat seseorang itu berbalik, seseorang itu yang tak lain tak bukan Rhaline pun langsung menaikan satu alisnya saat melihat Acha yang sedang menutup wajahnya. Mengangkat bahu nya acuh, lantas Rhaline memilih duduk di kursi besi yang ada di taman itu.


Merasa tak ada tanda bahaya, Acha pun menjauhkan kedua tangannya dari wajahnya lalu menatap Rhaline tanpa berkedip seakan dirinya baru saja melihat sang idola. Ya, memang benar. Acha kan sangat menggemari kan sosok Rhaline di novel Blossom.


"Cantik banget, Acha jadi insecure kan." Ucap Acha yang tanpa sadar suaranya berhasil membuat Rhaline menolehkan kepalanya menatap Acha.


"Oh god! Kok nengok nya jadi berdamage ya? Mana cantik banget lagi, apalah daya Acha yang hanya remahan rengginang dikaleng kongghuan." Ucap Acha lagi yang berhasil membuat bibir Rhaline berkedut menahan senyum.


Acha terus menatap Rhaline tanpa berkedip bahkan Acha tidak sadar kalau kini Rhaline sudah duduk didepan nya. Rhaline menopang dagu menatap Acha, "Loh? Kok my idola ilang?!" Pekik Acha panik.


"Haha," Rhaline tertawa terbahak-bahak melihat wajah Acha yang sangat lucu menurut nya.


Mendengar ada suara tawa, Acha menolehkan kepala nya dan hampir mendorong Rhaline kalau saja dirinya tak melihat siapa didepan nya. Tangan Acha yang sudah terangkat kini hanya melayang diudara sambil matanya yang terus menatap Rhaline tanpa bosan.


Sadar, Cha! Lo sama dia itu sama-sama cewek! Batin Acha seraya menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.


"Aduh cape juga," Ucap Rhaline seraya mengusap sudut matanya yang berair akibat terlalu lama tertawa.


"Nama lo, Mildreda, right?" Tanya Rhaline seraya menatap Acha.


Acha menggeleng lalu mengangguk, "Iya deh keknya."


"Kok, keknya? Nama lo siapa lagi emang nya?"


"Acha, panggil nya Acha." Ucapnya, tak ada yang salah kan? Dirinya memang Acha dan bukan Mildreda.


Enggan bertanya lebih, Rhaline pun mengangguk saja. "Lo lagi ada masalah?" Tanya Acha saat melihat ada sorot kemarahan yang terpendam dimata Rhaline.


Satu alis Rhaline terangkat, "Lo jangan sok tau."


"Bukan sok tau, tapi mata lo gak bisa bohong." Ucap Acha yang berhasil membuat Rhaline terdiam sejenak.


"Apa lo bisa gue percaya?"


Acha tersenyum kecil, "Lo bisa anggap gue sebagai Alisya."


Deg.


"Sejak kapan lo mau sebut nama sahabat gue? Dan jangan samakan lo sama sahabat gue." Ucap Rhaline dengan nada dinginnya.


"Hm? Sejak gue tau didunia ini ada yang namanya Alisya. Cukup, gak usah dilanjut. Mending lo cerita sekarang kalo lo emang mau tapi kalo ngak, ya yaudah." Ucap Acha seraya mengangkat bahu nya acuh.


"Gue mau dijodohin."


"Terus?"


"Gue udah pasti nolak, karena gue gak kenal dengan siapa gue dijodohkan. Tapi gue juga gak bisa nolak atau bantah keputusan nyokap bokap gue," Ucap Rhaline.


Pandangan Acha menatap lurus kedepan, "Kalo itu masalahnya... Gue gak bisa bantu apapun karena itu semua berhubungan sama keluarga lo, gue pikir lo pasti bisa memutuskan. Selagi dia gak jahat sama lo, ya coba aja dijalani walau memang gak gampang."


"Kalau dia kasar sama gue setelah kita nikah?"


"Masalahnya, gue cuma dijadiin pengganti. Dia itu dijodohkan sama Adik gue tapi Adik gue menghilang bak ditelan bumi. Untuk perjodohan, selepas Adik gue kembali maka gue harus merelakan suami gue buat dia. Dan lo harus tau, saat ijab kabul, bukan nama gue yang disebut tapi nama Adik gue. Lo tau gimana rasanya jadi gue?"


Mendengar itu, Acha terdiam sejenak. Dirinya memang tidak pernah merasakan apa yang Rhaline rasakan tapi dirinya juga bisa ikut merasakan sebagai mana kalau dirinya yang memang berada diposisi itu. "Jujur, permasalahan lo jauh dari apa yang Acha bayangkan tadi."


Memang benar, karena awalnya Acha mengira kalau masalah Rhaline hanya tentang kesalahpahaman antara Rhaline dan Ibu nya saja. Tapi tunggu, seingat Acha, Rhaline versi novel itu tidak punya Adik dan didunia nyata dia punya Adik? Ah ini benar-benar bukan dunia novel.


"A-Adik kandung?" Ntah kenapa, Acha ingin menanyakan pertanyaan satu itu.


"Bukan. Dia anak angkat Nyokap Bokap gue yang sialnya, dia berhasil merebut semua perhatian keluarga gue." Kekeh nya dengan senyum miris.


Tunggu, "Rania?"


"Tepat."


...***...


Letizia—Bunda Arlan, mengelus lembut rambut hitam legam putranya yang masih terlelap. Sejujurnya, Latizia tidak pernah melarang anak semata wayangnya itu untuk bisa menikmati minuman beralkohol. Tapi karena peraturan keluarga nya, Letizia harus melarang dan memberikan banyak aturan untuk putranya sendiri.


Sebagai seorang Ibu yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan putranya, tentu Letizia tahu kalau ada kalanya Arlan merasa muak dengan semua aturan yang dibuat keluarganya. Ditambah, semua perhatian selalu berpusat padanya yang membuat jarak pergerakan Arlan selalu dipantau.


Mungkin Letizia akan mendapatkan masalah besar kalau sampai keluarga besar Zeneouska mengetahui tentang rahasia besar seorang Arlan yang hanya diketahui oleh dirinya dan juga Arlan. Arlan adalah tipe anak yang tidak bisa berbohong padanya, jadi dia akan selalu jujur meski itu hal buruk sekalipun.


"Nda," Lirih Arlan yang membuat Letizia langsung tersenyum selembut mungkin.


"Kenapa, sayang? Adek mau apa? Minum?" Tanya Letizia yang dibalas gelengan dari Arlan.


"Mas gak mau dijodohin," Gumam Arlan seraya menatap memelas pada Letizia.


Melihat tatapan Arlan, Letizia tersenyum gemas. "Nggak ada yang mau jodohin, Adek."


"Nda bener? Nggak bohong sama Mas?" Tanya Arlan dengan tatapan berbinar, "Perjodohan nya batal kan?" Sambung Arlan bertanya.


"Perjodohan tetap dilakukan sesuai rencana tapi bukan Adek yang dijodohin," Ucap Letizia seraya mengelus rahang tegas putranya.


"Loh? Terus siapa?" Tanya Arlan dengan raut wajah bingung nya.


"Ariq," Jawab Letizia.


Arlan terdiam dengan ingatan nya yang mendadak mundur ke kejadian dimana dirinya melihat Acha bersama seorang laki-laki, sekarang Arlan baru menyadari satu hal, kalau ternyata laki-laki yang bersama Acha waktu itu adalah Ariq. Musuh bebuyutan geng Anteros sekaligus saudara tak sekandung dari Arlan.


Bukan anak dari Bunda dan Ayah nya Arlan melainkan anak tiri dari Mamih nya Legenda. Sebelum menikah dengan Papihnya Legenda, Latine pernah menikah dengan seseorang namun pernikahan mereka tak bertahan lama karena mantan suami Latine yang berselingkuh dengan sahabat nya sendiri.


Sampai akhirnya, Latine menikah dengan Papih nya Legenda dan hidup bahagia. Untuk Ariq, sejak kecil dia dirawat oleh Latine karena orang tuanya yang kecelakaan saat Ariq berusia 4 bulan. Karena Ibu dari Ariq pernah menjadi sahabat baik Latine, jadilah Latine merawat Ariq dan menyayangi nya dengan tulus.


Hari itu, Latine melihat bagaimana marahnya Arlan saat mendengar rencana perjodohan dari Tuan besar Zeneouska. Arlan menolak dengan tegas dan karena tak tega, Latine pun membujuk Ariq agar mau menggantikan Arlan sebagai laki-laki yang dijodohkan. Sekian lama membujuk dua pihak, yaitu Tuan besar Zeneouska dan Ariq.


Akhirnya keduanya setuju. Ariq atau Athar yang memang tak punya kuasa untuk menolak, sedangkan Tuan besar Zeneouska yang sadar akan tindakannya kalau dirinya hanya akan terus melukai cucu kesayangan karena segala macam kekangan darinya. Jadilah Athar yang dijodohkan.


"Si anak pungut?"


"Adek mulutnya," Tegur Letizia seraya menepuk pelan bibir anak nya yang asal berucap itu.


"Benarkan, Nda? Coba kalo Mamih nggak jadiin dia anaknya, pasti dia udah jadi gembel dikolong jembatan." Ucap Arlan menggebu karena rasa kesal nya saat mengingat kelakuan Athar dan Acha waktu lalu.


"Adek! Bunda gak pernah ngajarin kamu buat memandang orang lain dengan remeh, memang nya Adek mau kalau dikatain seperti itu sama orang lain?" Tanya Letizia dengan nada lembut namun juga tegas.


"Tapi kan kenyataan nya emang gitu, Nda."


"Berhenti meremehkan orang lain atau Bunda gak akan mau bicara lagi sama Adek?"


"Oke, fine."


Arlan terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Kenapa Mas gak punya Adik?"


Satu alis Letizia terangkat mendengarnya, "Memang nya Adek mau punya Adik?"


Tanpa ragu, Arlan menggelengkan kepalanya. "Nanti Nda gak sayang Mas, jadi Mas gak mau punya Adik. Cukup si Gigi ompong aja," Ucap nya.


"Nama gue Gio, bukan gigi ompong!"


...***...


Terjawab sudah kenapa Athar gak bisa sama Acha.


Jangan kecewa yaa gess, karena chapter ini udah aku tulis dari jauh-jauh hari, hehe. Jadi gak bisa ubah, males sih sebenarnya.


Btw, Sa sedih deh. Masa yang baca udah ribuan tapi like nya sedikit. Gak ada niat like gitu buat para pembaca gelap?


Dear pembaca gelap, kalo males koment, setidaknya like yuk. Tinggalkan jejak, maka Sa seneng. Karena apa? Karena Sa sebagai penulis pemula merasa dihargai. Hehe