Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
54. Yes I'm Acha



"Bagaimana, Andrija? Kamu setuju kan?"


"Maaf, karena tidak akan ada perjodohan apa pun."


Wajah Chika berubah dalam sekali kedipan mata, dari yang bersinar kini meredup penuh kekesalan. Tanpa melirik Papanya, Chika merampas kasar kunci mobil di atas meja, dia pun pergi dengan tergesa-gesa. Membawa emosi karena gagal di jodohkan dengan Arlan, laki-laki yang mampu membuatnya jatuh hati begitu dalam.


"ARGH! Sialan! Kenapa susah banget sih buat jadiin lo milik gue? Kenapa susah banget, Lan?!"


Chika gelap mata, wanita itu mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan. Tidak peduli jika sewaktu-waktu, Chika bisa saja menabrak orang atau bahkan yang lebih tragis, bisa saja dirinya yang menabrak pembatas, pohon, serta masuk jurang. Chika tidak peduli! Dia hanya ingin melampiaskan emosi di dadanya karena gagal di jodohkan.


Sementara itu, Acha dengan perut buncitnya. Melamun di balkon kamar, dia ingin tidur sebelum Arlan datang menemuinya dengan balutan rapi seperti akan datang nongkrong bersama teman-temannya. "Kamu mau ke mana, Ar?"


"Tadinya aku mau pamit kumpul sebentar di markas, tapi lihat kamu melamun gini, aku jadi enggak usah ke markas."


"Kok gitu?" Acha berbalik badan, merapikan jaket kulit yang Arlan kenakan. Menyentuh lambang khas geng Anteros di dada kanan Arlan yang memakainya, "Kamu mau ke markas Anteros?"


"Iya, sayang. Ke markas utama,"


Acha diam sebentar, "Untuk malam ini aja, bisa temani aku tidur enggak? Aku ngantuk banget, tapi matanya enggak mau terpejam."


Melihat itu, Arlan jadi tidak tega. Pria itu pun melepas jaketnya kembali, membuka sepatu, lalu memeluk Acha di atas ranjang sampai wanitanya terlelap tidur.


.


.


.


"Teman-teman semua! Dengan berat hati, gue katakan, jika ketua utama belum bisa datang ke markas untuk berkenalan dengan kita semua."


Serempak, mereka semua berseru merasa tidak terima sekaligus sedih karena gagal bertemu dengan idola mereka selama ini. "Kenapa, Bang? Apa ada masalah yang urgent sampai ketua gagal ke sini?"


"Gue kurang tau, tapi memang ada hal yang enggak bisa ketua tinggal begitu aja. Sekali lagi, maaf ya!"


"Iya, santai, Bang!"


.


.


.


Setiap pagi, rutinitas yang sama kembali lagi. Acha yang sibuk membuat sarapan dengan Arlan yang asik memeluknya dari belakang, begitu menempel seperti di olesi lem tikus. Acha jengah sendiri sebenarnya, sudah bawa perut yang bikin sulit bergerak, kini di tambah lagi Arlan yang membuat ruang geraknya kian tipis.


Bukannya peka dan langsung mundur, Arlan malah melingkari tangannya ke bawah perut Acha lalu mengangkat perut Acha sedikit, di saat itu juga, Acha serasa bisa menghela napas dengan lega. Berat perutnya langsung berkurang, jika tau begini sangat bermanfaat, sudah dari lama Acha menyuruh Arlan seperti ini.


"Enak, sayang?" Acha mengangguk sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Arlan.


"Ternyata hamil sehebat ini ya perjuangannya? Pantas kamu sayang banget sama Tante Letizia,"


Mengingat Bundanya, wajah Arlan berubah mendung. Dia sadar diri, sudah cukup lama Arlan selalu menghindari Bundanya hanya karena masih kecewa terhadap perilaku Bunda ke wanitanya. Kini, Arlan di serang rasa bersalah. Tidak sepantasnya Arlan mendiamkan Bundanya sendiri, Bunda yang sudah berjuang mati-matian hanya untuknya bisa lahir ke dunia.


"Kamu mau ke Tante Letizia?"


"Boleh?"


"Sejak kapan aku melarang?"


Arlan tersenyum, pria itu mengecup kening Acha. Menemaninya sarapan bersama dan mengobrol di ruang keluarga, sebelum Arlan pamit pergi ke mansion utama Zeneouska. Arlan sudah sangat merindukan Bundanya, dia ingin meminta maaf pada Bundanya karena sempat mengabaikan telepon dari Bundanya.


Sampai di mansion, Arlan langsung mencari-cari Bundanya ke setiap sudut. Hingga Arlan melihat Bundanya yang tengah berdiri di depan figura foto dirinya, foto dirinya semasa kecil yang sengaja di pajang besar di ruang keluarga. Arlan ingin mendekat, tapi ucapan Bunda, membuat Arlan terpaku dengan sorot sedih.


"Sayangnya Bunda, Bunda kangen banget sama Adek. Adek bahagia tanpa Bunda? Adek bahagia tanpa Bunda suapi makan? Adek bahagia tanpa Bunda bacakan dongeng sebelum tidur? Adek bahagia jauh dari Bunda ya? Kalau iya, Bunda doakan semoga Adek selalu dalam lindungan Tuhan. Amin,"


Tangan Letizia terangkat, mengusap figura foto yang tergapai oleh tangannya. "Bunda jahat banget ya sama Adek? Sampai Adek jauhi Bunda, Bunda sedih loh, Dek. Bunda yang selalu sama Adek bahkan dari Adek dalam kandungan Bunda, sekarang Adek sudah dewasa, sudah waktunya jauh dari Bunda."


"Nda," Mata Arlan berkaca-kaca, pria itu memeluk Bundanya dari belakang lalu menangis terisak. "Maafin, Adek. Adek salah, Adek salah, maafkan Adek, Nda."


Mendapat pelukan tak terduga dari putra kesayangannya, air mata Letizia ikut turun membasahi pipinya. Wanita paruh baya itu berbalik badan, memeluk sang anak laki-laki yang dia kandung 9 bulan dan dia rawat sebaik mungkin sampai sebesar ini. "Adek enggak salah, Bunda yang salah karena terlalu egois. Maafkan Bunda ya, Dek?"


"Bunda," Arlan terus menangis sambil memeluk Bundanya.


Sudah begitu lama Arlan tidak memeluk Bundanya seperti ini, bertingkah kekanakan dan hanya Bundanya lah yang mampu menerima dengan senang hati tanpa mencela apa pun. Arlan salah karena menjauhi Bundanya dan Bunda juga salah karena sempat menjudge Acha. Keduanya sama-sama salah dan tanpa ego, keduanya saling meminta maaf serta memaafkan.


Di pandanginya kedua orang yang tengah menumpahkan kerinduan beserta tangisan, membuat senyum di wajah tuanya terukir. Tuan Robin mengusap dadanya dengan satu tangan sedangkan tangan lainnya, berada di atas kursi roda. Pemandangan inilah yang selalu Tuan Robin jadikan acuan untuk bertahan hidup meski lebih dominan rasa ingin cepat-cepat menyusul mendiang istrinya, Nyonya Anneliese.


Letizia bukan anak kandungnya, tapi Letizia adalah menantu terbaiknya yang tanpa semua orang tau, Tuan Robin selalu memprioritaskan Letizia diam-diam. Karena Letizia lah yang melahirkan cucu laki-laki terbaik untuknya, Tuan Robin tidak akan mudah lupa. Tapi terkadang, ego yang membuatnya harus bertindak gegabah hanya untuk mengancam cucunya yang semakin dewasa semakin keras kepala.


Bagi Tuan Robin, Arlan masih terlalu muda untuk mengenal cinta lebih dalam. Dia tidak ingin konsentrasi Arlan hanya berpusat pada wanita, karena Tuan Robin sudah mempersiapkan Arlan untuk dia jadikan sebagai penerus tunggal Zeneouska. Arlan, adalah pewaris tunggal dirinya kelak, bukan Andrija yang sudah jelas anak kandungnya Tuan Robin, Ayah Arlan.


"Anne, cucu nakalmu itu sudah berani menebar benih sembarangan. Wanitanya sekarang sedang hamil, apa yang harus aku lakukan? Aku ingin membiarkan mereka, tapi perusahaan harus cucu nakalmu jadikan prioritas, bukan wanita itu."


...***...