
Tiba-tiba di beri kabar jika orang tuanya akan bercerai, anak mana yang tidak kaget?
Arlan langsung melakukan penerbangan dari Turki ke Indonesia, tentu bersama Acha yang senantiasa menyemangatinya. Sampai di Jakarta, keduanya langsung pergi ke mansion utama Zeneouska. Semua anggota keluarga sudah menunggu kedatangannya, bahkan ada Rhaline di kursi rodanya, membuat kening Acha berkerut bingung.
"Nda," Tanpa basa-basi, Arlan menghampiri Bundanya. Mengecup kening dan kedua pipi Bundanya dengan perasaan campur aduk, "Ini semua bohongkan Bunda? Nda cuma mau prank Adek, iya kan?"
Bunda menatap anaknya dengan tatapan sedih, "Benar, Dek. Bunda dan Ayah akan bercerai, tapi jika Adek tidak setuju, Bunda bisa... Bunda bisa mengurungkan niat, Bunda dan Ayah tidak akan bercerai." Sekali pun Bunda harus makan hati tiap hari, melihat Ayahmu menikahi wanita lain.
Andrija terkejut, mendengar Letizia yang tadinya kekeuh ingin pisah, mendadak berubah pikiran hanya demi Arlan, anak mereka berdua. Andrija tahu jika Letizia begitu menyayangi anak mereka, tapi tidak menyangka jika Letizia akan rela mengorbankan kebahagiaanya hanya demi Arlan, jika anaknya itu tidak mau orang tuanya bercerai.
"Ayah? Ayah enggak mau bilang apa-apa sama Adek?" Arlan menatap Ayahnya yang tetap diam.
"Nak, ke sini." Arlan menolak, firasatnya sangat buruk saat ini, dia yakin, pasti ada kesalahan Andrija yang sangat fatal sampai Bunda memutuskan untuk pisah.
"Ayah jelaskan sekarang!"
Andrija menghela napasnya pelan, pria itu menjelaskan dengan kalimat yang sama seperti dia menjelaskan pada keluarga besar. Membuat Acha dan Arlan, menatap tidak percaya, bergantian pada Rhaline dan juga Andrija. Kalau sudah begini, Arlan semakin takut jujur perihal pernikahannya, dia takut menambah kekecewaan Bundanya.
"Keputusan ada di tangan Adek," Letizia menyetujui ucapan suaminya yang mungkin akan segera menjadi mantan suami.
"Adek kecewa sama Ayah, tapi Adek lebih kecewa sama diri Adek sendiri." Arlan tidak tahu kenapa, tapi rasa bersalahnya begitu besar. Laki-laki itu memeluk Bundanya, "Bunda harus bahagia. Jika bahagia Bunda harus bercerai dengan Ayah, Adek setuju."
"Terima kasih, Nak."
Bunda memeluk anaknya dengan seerat mungkin, membuat Arlan tersenyum. "Tapi setelah ini, Bunda harus ikut Adek. Tidak usah tinggal di lingkungan keluarga ini lagi,"
"Maksud kamu?" Andrija menatap anak laki-lakinya.
"Sumber luka harus di jauhkan sejauh mungkin," Arlan menggandeng tangan Bundanya. "Sampaikan pada Tuan Robin, kalau Arlan tidak akan menjadi penerusnya di perusahaan. Sudah ada anak Ayah dengan wanita itu kan? Jadikan dia penerus," Arlan melepas kalung yang dirinya pakai tapi lebih sering dia lepas.
"Arlan keluar dari Zeneouska,"
"Immanuel Arlando Zeneouska!"
Langkah kaki Arlan terhenti, sudah dari lama dia ingin terlepas dari keluarga ini. Mengingat bagaimana Bundanya sering kali di jadikan tawanan, Arlan sudah yakin, jika Bunda harus tinggal bersama dengannya. Arlan juga akan pelan-pelan menjelaskan tentang pernikahannya dengan Acha.
"Berhenti di sana! Jangan kekanak-kanakan, Arlan!"
Arlan menatap datar Andrija, "Urus pernikahan Ayah dengan dia saja. Bunda urusan Arlan, kami pamit."
Arlan membawa Bunda dan Acha pergi meninggalkan keluarga Zeneouska, membuat Rhaline terus menunduk merasa bersalah. "Mas,"
"Tidak apa-apa, kita akan tetap menikah. Ariq, jangan lupa urus perceraian kalian."
Tanpa kata, Athar pergi meninggalkan ruang keluarga.
...***...
Letizia menatap Acha dan Arlan secara bergantian, "Jangan bilang kalau kalian tinggal serumah?"
Arlan menarik napasnya panjang-panjang, "Nda. Adek sudah menikahi Acha, karena kami saling mencintai dan memutuskan untuk menikah. Bonusnya, saat itu Acha lagi hamil anak Adek. Enggak mungkin kan kalau Adek lepas tanggung jawab,"
Mau marah bagaimana? Letizia juga tidak bisa melarang jika anaknya sudah menentukan pilihan, Letizia yang pada dasarnya lemah lembut dan tidak enakan, langsung merentangkan kedua tangannya. "Sini, peluk Bunda dong menantunya Bunda."
Senyum Arlan mau pun Acha langsung merekah, dengan Acha yang tanpa basa-basi memeluk erat Bunda Arlan. "Tante, maafkan Acha kalau selama ini, Acha seakan-akan memonopoli Arlan."
"Panggil Bunda, jangan Tante. Dan untuk yang lalu, biarkan saja berlalu, jangan di ungkit okei? Karena selama masa lalu terus di ungkit, tidak akan ada selesainya. Bunda juga minta maaf sama Acha, kalau perkataan Bunda waktu itu sangat menyakitkan untuk Acha. Bunda tidak membela diri, Bunda cukup sadar diri. Bunda juga enggak apa-apa kalau Acha mau benci sama Bunda,"
Dengan cepat, Acha menggelengkan kepalanya. "Bunda adalah Bunda terbaiknya Arlan, berarti Bunda terbaik Acha juga. Rugi kalau benci sama Bunda,"
Kedua wanita itu tertawa sembari berpelukan, membuat Arlan tersenyum manis. Dia tidak menyangka, jika pemandangan menyenangkan hati ini akan terjadi di depan matanya secara langsung tanpa harus drama menjelaskan atau ribut-ribut lagi. Arlan menghampiri Bunda dan istrinya, memeluk kedua wanita itu berbarengan.
"Bunda, cinta pertama Adek itu Bunda, mana mungkin Adek tega melupakan Bunda? Dan Acha, Acha itu istrinya Adek, yang berarti, posisi Bunda dan Acha memiliki ruangnya tersendiri di hati Adek."
Bunda tersenyum, "Bunda tidak mau mengganggu rumah tangga kalian. Karena dengan hadirnya Bunda di antara kalian, kalian pasti canggung atau segan."
"Bunda bicara apa sih? Enggak ya! Pokoknya Bunda di sini sama Adek,"
Bunda tertawa tapi yang dia kecup, bukan kening Arlan melainkan menantunya. Membuat Arlan mencebik sebal, "Bunda akan pindah ke Serbia. Nanti kamu sama Acha, sering-sering ya tengok Bunda, kalau bisa, cepat kasih Bunda cucu."
Mungkin, ini cara Bunda untuk mengobati lukanya dari pengkhianatan Andrija. Arlan pun mengangguk, "Nanti Adek antar ke sana langsung."
"Enggak usah, antar sampai Bandara aja."
"Tapi Bunda,"
"Enggak ada tapi-tapian Adek!"
...***...
Dua hari setelah keberangkatan Bunda ke Serbia, Andrija memulai acara pernikahannya tanpa menunggu surat cerai selesai di proses. Pria itu memboyong istri baru dan anaknya yang masih bayi ke mansion utama Zeneouska. Ketiganya di sambut antusias semua keluarga Zeneouska, termasuk Tuan Robin yang malam tadi baru kembali ke rumah usai di rawat karena pingsan.
Entah Rhaline harus bersyukur atau tidak, dia memang menikah dengan Ayah kandung bayinya, cinta bisa datang seiring waktu berjalan, di terima pula di keluarga suaminya yang sekarang. Tapi tetap, Rhaline merasa bersalah karena secara tidak langsung, dia telah menjadi tokoh utama yang menghancurkan rumah tangga Andrija dan Letizia.
Seakan paham apa yang istrinya pikirkan, Andrija menghela napasnya pelan. "Pernikahan aku dan Letizia memang sudah lama tidak sehat, kami bercerai bukan karena kamu tapi memang sudah rencana dari jauh-jauh hari untuk kami bercerai."
Bohong! Andrija berbohong hanya untuk menyenangkan hati istrinya yang sekarang. Karena buktinya, selama menikah, dia terus berusaha bersikap hangat pada Letizia agar Letizia luluh padanya. Andrija mencintai Letizia yang tak kunjung lepas dari masa lalunya. Dia berusaha keras meluluhkan hati Letizia selama belasan tahun dan hari ini, dia membohongi Rhaline juga hatinya.
Pernikahan ini ada karena rasa tanggung jawab Andrija pada bayinya yang tak berdosa, dia juga akan mencoba mencintai Rhaline serta melupakan Letizia. "Besok, kita pindah ke Kanada. Kita mulai hidup baru yang bahagia di sana,"
Rhaline tersenyum, dia mengangguk setuju. Rhaline akan patuh mengikuti, kemana pun suaminya membawa dia dan bayinya pergi.
Pada akhirnya, orang tua Arlan memilih jalan kebahagiaan masing-masing. Bunda Letizia dengan kesendiriannya di Serbia dan Andrija dengan keluarga barunya yang akan menempati Kanada untuk memulai kehidupan baru yang bahagia. Arlan tidak ikut campur, karena itu adalah keputusan terbaik yang kedua orang tuanya tentukan sendiri.
Tapi yang pasti, sebagai seorang suami sekaligus calon Ayah kelak. Arlan tidak akan pernah berbuat kesalahan seperti Andrija apalagi sampai mengorbankan perasaan seorang anak. Arlan, harus lebih berhati-hati lagi dalam bertindak, sebab banyak kandidat yang ingin menghancurkan rumah tangganya bersama Acha.
...***...