
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Dua garis merah.
Sudah Acha tebak, karena hari dimana Arlan menggagahi dirinya. Acha sedang dalam masa suburnya, ditambah lagi Arlan melakukan nya tak hanya sekali jadi kemungkinan dirinya yang akan hamil akan sangat mungkin terjadi.
Acha menghela napasnya pelan lalu memasukan satu testpack kedalam tempatnya dan memasukan kedalam tas yang dirinya bawa. Ah iya, Acha memilih memeriksa kehamilan nya disebuah kamar mandi umum yang kebersihannya jelas bagus.
Testpack yang lainnya akan Acha buang nanti. Karena merasa tak ada hal lain yang perlu dirinya lakukan disini, Acha pun masuk kedalam taksi yang dirinya pesan dan meminta diantar ke sebuah pantai. Sesampainya di pantai, Acha langsung memesan ruang private disalah satu restaurant yang tersedia.
Sejak mengetahui kehamilannya tadi, Acha merasa tanggung jawabnya semakin bertambah untuk menjaga dan mempertahankan anaknya sampai dia lahir ke dunia nanti. Jadi karena dia belum makan dari semalam, Acha pun memilih makan di restaurant dekat pantai.
Tentu agar dirinya bisa makan sambil menikmati keindahan pantai yang penuh misteri. Untuk pesanan nya, Acha memesan makanan kesukaan nya yaitu ayam goreng lengkuas dengan nasi putih hangat, ditambah tahu dan tempe goreng, tidak lupa sambel mentah dan juga lalapan nya.
Benar-benar nikmat dan menambah nafsu makannya.
Tepat di jam setengah 5 sore, Acha memilih berjalan menyusuri tepi pantai yang sepi dari pengunjung. Sesekali Acha berjongkok, bermain pasir sebagai pengalihan rasa rindunya kepada Arlan yang mendadak menyeruak. Acha tiba-tiba ingin memeluk Arlan sambil menghirup aroma parfum nya yang sangat Acha sukai.
Merasa lelah terus berjalan, Acha memilih berdiri ditepi pantai. Menggulung sedikit lengan kaos nya, ya Acha ke kantor tadi memakai kaos pas badannya dipadukan dengan celana bahan panjang juga cardigan sebatas paha yang menutupi kaos hitam polosnya. Untuk cardigan memang tidak Acha pakai, lebih tepatnya Acha tinggalkan saat di restaurant tadi.
Di tepi pantai, mata Acha memandangi deburan ombak yang secara perlahan mendekat namun tak bisa mengenai kakinya karena dirinya yang berdiri cukup jauh dari jangkauan air. Tangan nya pun mulai terangkat, mengelus lembut perutnya yang kini sudah hadir malaikat kecilnya.
"Anak Mamah bukan kesalahan atau apapun, karena anak Mamah adalah anugerah terindah dari Tuhan yang dititipkan pada Mamah juga Papah. Sehat-sehat ya, sayang. Biarkan Mamah melahirkan mu ke dunia ini nanti," Gumam Acha dengan pandangan lurus.
Sekian lama terdiam mendengarkan deburan ombak, Acha dibuat terkejut saat ada tangan yang melingkar di perutnya. Saat hendak melawan, tapi aroma parfum yang sudah tak asing di hidungnya tercium, yang berhasil mengurungkan niat Acha. Acha pun memilih diam, membiarkan Arlan memeluknya.
Sedangkan Arlan, tadi pemuda itu hendak pulang karena baru selesai meeting tapi matanya tanpa sengaja melihat punggung seseorang yang sangat dirinya kenali. Arlan pun menghampiri Acha karena dia benar-benar merindukan kekasihnya. Dibelakang Acha, Arlan pun langsung memeluk Acha.
Menumpukan dagunya di bahu sang kekasih, lantas Arlan mulai menggerakkan tangannya, mengelus lembut perut Acha sesuai dengan naluri dalam dirinya yang terus mendorongnya agar melakukan itu semua. Acha pun tak menolak, membiarkan Arlan mengelus perutnya.
Jujur saja, sentuhan tangan Arlan pada perutnya berhasil membuat hatinya menghangat juga moodnya yang mendadak baik. Ditambah saat Arlan bertanya tepat di samping telinganya, "Boleh?" Tanyanya.
Tanpa menjawab pun, Arlan sudah memasukan tangannya kedalam baju Acha lebih dulu. Mengelus lembut perut Acha tanpa penghalang apapun yang membuat Acha merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitik perutnya. Acha menahan tangan Arlan lalu memejamkan matanya.
Didalam sana ada anak kamu, Ar. Anak kita, batin Acha seakan memberi tahu Arlan melalui tangannya yang menahan tangan Arlan didepan perutnya.
Diam-diam, Arlan tersenyum tipis dengan perasaan campur aduk saat tangan Acha menahan tangannya. Dia pun memilih mengecup leher Acha agar gadisnya tersadar dari lamunannya. "Gak mau dilepas tangan aku, hm?"
Mendengar itu, Acha tersentak dan refleks menjauhkan tangannya dari tangan Arlan. Arlan yang melihat itu hanya bisa terkekeh lalu membalikan tubuh Acha hingga menghadap ke arahnya. Arlan menempelkan keningnya dengan kening Acha hingga hidung mancung keduanya bersentuhan.
"Katakan sesuatu, sayang." ucap Arlan seraya menarik pinggang Acha hingga tak ada jarak diantara keduanya.
Sedangkan Acha hanya bisa menatap bingung Arlan dengan satu alisnya yang terangkat, "Tetap menjadi Arlan yang Acha kenal."
Kening Acha berkerut, "Kamu harus sehat terus."
Jawaban Acha yang berbeda dari ekspetasinya berhasil membuat Arlan harus menelan rasa kecewanya. Padahal dia ingin mendengar Acha mengatakan agar dirinya tetap disini, tapi Acha menjawab dengan jawaban lain. Meski begitu, Arlan tetap senang.
Mengecup sekilas bibir Acha, lantas Arlan berlutut didepan Acha. "Boleh cium perut kamu?" Tanya nya sambil mendongak menatap wajah Acha yang juga tengah menunduk menatap nya.
Dengan pelan, Acha menganggukkan kepalanya. Acha pun segera membuang pandangan nya ke sembarang arah saat bibir Arlan menyentuh tepat pada perutnya yang setengah bajunya sengaja Arlan singkap. Acha menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak dan juga haru dalam dirinya.
Bolehkan Acha egois untuk kali ini? Memaksa Arlan agar tetap bersama nya dan calon anak mereka. Menemani hari-hari nya sebagai Ibu hamil di pengalaman pertamanya. Memenuhi ke inginan sang calon anak yang mungkin akan mengidam makan sesuatu. Intinya, Acha ingin Arlan tetap bersamanya. Tidak pergi kemanapun tanpa dirinya.
Arlan, pemuda itu memejamkan matanya menahan perasaan nya yang kembali campur aduk saat bibir nya bersentuhan langsung dengan perut Acha. Arlan melingkarkan tangannya di pinggang Acha sambil terus mengecupi perut Acha berkali-kali.
Ya Tuhan, bukan aku menentang takdir, tapi tolong hadirkan bayiku dalam rahim wanitaku ini ya Tuhan. Jangan di rahim wanita lain, aku tidak siap melihatnya kecewa.
Kepala Acha menunduk dengan tangan terulur mengelus lembut rambut Arlan, Acha tersenyum sambil terus menahan air matanya agar tidak tumpah. Andai kamu tau kehadiran nya, Ar. Apa kamu akan seperti ini terus? Atau bisa saja kamu menolak kehadiran nya karena alasan belum siap menjadi Ayah?
Merasa ada usapan di kepalanya, Arlan mendongak hingga pandangan keduanya kembali bertubrukan. Arlan pun segera berdiri dari posisi semulanya, melingkarkan tangan nya di pinggang Acha hingga jarak tak ada lagi diantara keduanya. Arlan tersenyum, membalas senyuman dari bibir indah Acha.
"Katakan sesuatu, sayang."
Tangan kekar Arlan mengelus lembut pipi Acha yang berhasil membuat pertahanan yang Acha buat hancur tak bersisa. Acha menubruk Arlan dengan pelukan eratnya lalu menangis terisak, mengutarakan tentang apa yang selama ini dirinya pendam tanpa tahu harus berbagi ke siapa.
"Jangan tinggalin Acha, tetap disini sama Acha." Lirihnya dengan suara teredam di depan dada bidang Arlan.
Kedua sudut bibir Arlan terangkat membentuk senyuman manis, karena apa yang dia harapkan akhirnya Acha ucapkan juga. Dengan perasaan berbunga, Arlan memeluk Acha tak kalah erat. Keduanya terus berpelukan, menikmati keindahan senja sambil berbagi kehangatan satu sama lain.
Acha mendongak menatap Arlan yang juga kebetulan menunduk menatap nya, "I love you." Ucap Arlan seraya mengecup sekilas kening Acha.
"I love you too,"
Tanpa keduanya sadari, dibelakang mereka ada Athar yang kini tengah berdiri dengan tangan terkepal juga raut wajahnya yang menyiratkan kekecewaan. Kedatangannya ke pantai ini dengan niat ingin menenangkan suasana hatinya setelah berjam-jam di pesawat, tapi dia malah mendapat pemandangan tak mengenakan.
Tak lama, senyum miris terukir di wajah tampan nya. "Apa ruang kosong di hatimu untukku sudah benar-benar tergantikan? Apa aku tidak lagi memiliki tempat spesial di hatimu? Kalau begitu, semoga kamu bahagia dengan pilihanmu."
Athar menyentuh dadanya yang terasa sesak, "Kamu harus selalu ingat. Di hati ini, akan selalu tertulis nama mu sampai kapanpun. Disaat dia menyakitimu, jangan segan untuk berlari kearah ku. Karena aku akan dengan senang hati menerima mu kembali."
"Aku akan terus mencintaimu, Athar akan tetap mencintai Acha sampai diakhir hidupnya."
...***...
Yahh Athar.... Kasian deh👉👈
Athar sama aku aja yukk! Nanti aku beliin banyak makanan sama kenangan indah, eyaa.
Spam koment yuk guys!!!