
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Keesokan harinya, kediaman keluarga besar Coleus atau keluarga dari Mamah nya Acha saat ini tengah dipenuhi dengan sanak saudara yang mendadak datang setelah mendapat kabar kalau cucu perempuan pertama Coleus atau anak dari Kakak Mamahnya Acha telah meninggal dunia dengan sosok kepala yang terpisah dari badan.
Para wanita terus menangis meraung-raung karena keturunan perempuan satu-satunya yang sangat mereka sayangi kini sudah pergi lebih dulu. Semuanya berkumpul, tidak ada yang tidak datang. Begitu juga dengan keluarga baru Mamah nya Acha.
Di negara lain tepatnya di kota Perth, Australia. Rhaline terlihat sedang buru-buru memasukan beberapa barang yang kemungkinan akan dia butuhkan, memasukan semuanya kedalam koper berukuran sedang. Setelah selesai, Rhaline pun segera berjalan cepat keluar dari apartemen yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
"Ke Bandar udara ya, Pak!"
Sang supir pribadi mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju Bandara. Setibanya di sana, Rhaline langsung berlari memasuki area khusus dimana pesawat pribadi milik keluarganya berada. Didalam pesawat, Rhaline hanya diam dengan perasaan sedikit gusar.
Tadi dia mendapat telepon dari sang Ayah yang meminta nya untuk datang sekarang juga ke Indonesia, entah apa alasan nya tapi Rhaline memang tak berniat membantah. Setelah 8 jam diperjalanan, akhirnya Rhaline tiba di Indonesia tepatnya Jakarta. Dia pun tak ingin membuang waktu lagi yang membuat nya langsung melesat menuju alamat yang sudah Ayah nya beri tahu.
Sesampainya dia ditempat yang Ayah nya beri tahu, kening Rhaline berkerut pertanda bingung saat melihat ada bendera kuning dan banyak karangan bunga didepan rumah mewah itu. Dengan langkah ragu, Rhaline mulai berjalan memasuki area rumah mewah itu hingga dia bisa melihat keberadaan Ayahnya.
Pria paruh baya dengan pakaian serba hitam itu tersenyum melihat anak gadisnya yang baru saja tiba, dia melambaikan tangannya meminta sang anak agar mendekat. Rhaline yang peka pun langsung mengangguk dan berjalan mendekat kearah Ayahnya lalu memeluk Ayahnya sejenak sebelum bertanya sesuatu.
"Siapa yang meninggal, Pah?" Tanya Rhaline seraya menatap sekitar nya.
Sang Ayah tersenyum lalu mengelus lembut rambut panjang anaknya, "Kakak sepupu mu."
"Kakak... Sepupu?" Tanya Rhaline.
Mengetahui kebingungan sang anak, pria paruh baya itu pun mengajak Rhaline pergi menuju taman belakang dan akan menjelaskan di sana. Setibanya di taman belakang, Rhaline duduk di samping Ayah nya yang senantiasa menatapnya dengan lembut.
"Kamu ingat? Kalau kamu menikah karena mengantikan posisi Adik tirimu?" Tanya sang Ayah yang berhasil membuat Rhaline terdiam sejenak.
"Adik tiri? Bukankah aku menikah karena menggantikan Rania? Si anak pungut?" Tanya Rhaline dengan wajah bingung juga kagetnya.
Pria paruh baya itu terus tersenyum lembut, "Kamu salah paham. Kamu menikah bukan karena menggantikan Rania yang kabur tapi menggantikan Adik tirimu yang sudah lama meninggal."
"Pah?" Rhaline melirih pelan.
Tanpa memudarkan senyum nya, pria itu meluruskan pandangan nya ke depan. "Kamu ingat, Papah sudah lebih dulu menikah dengan Mamah mu sebelum menikahi Ibu mu. Mamah mu juga menikah lagi karena perjodohan, karena sakit hati, Papah pun ikut menikahi Ibu mu yang kala itu sedang mengandung dirimu dan kembaranmu..."
"... Ternyata dari hasil perjodohan itu, Mamah mu memiliki seorang anak perempuan bernama Acha Basilia Eldora. Dia lah keturunan sah keluarga Wilson dan juga Coleus. Tapi lihat sekarang, karena kebencian Nenek mu. Semuanya hancur. Anak yang mereka manja kini telah tiada, lalu siapa lagi yang akan Nenek mu percaya untuk mengurus seluruh bisnis nya?"
"Adikmu? Dia masih kecil, sekolah dasar saja belum lulus. Jadi kamu menikah bukan menggantikan Rania tapi menggantikan Adik tirimu, Acha Basilia Eldora." Jelas sang Ayah.
"K-kenapa Acha meninggal?" Tanya Rhaline dengan wajah terkejut nya.
Raut wajah pria paruh baya itu mendadak sendu, "Papah tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi yang Papah tau dari pihak kepolisian, Adik mu meninggal karena kasus bunuh diri. Dia ditemukan sudah tak bernyawa dengan posisi gantung diri di kamarnya," Jawab sang Ayah.
Deg.
...***...
Di walk in closet nya, Acha terlihat tengah tersenyum puas sambil melihat tayangan CCTV dikediaman Coleus yang kini tengah berkabung. Sambil terus memfokuskan matanya ke layar ponsel, Acha juga tak lupa dengan sesekali melanjutkan acara bermake up nya.
"Siapapun anda, sekalipun anda anak penjabat kalau anda berniat jahat pada saya dan orang terdekat saya, maka kematian adalah hukuman terbaik dari seluruh hukuman." Gumam nya seraya terkekeh sinis dengan wajah dingin.
Mendengar ada suara langkah kaki, Acha pun langsung cepat-cepat mematikan tayangan CCTV di ponsel nya lalu mulai fokus pada make up nya. Sedangkan Arlan yang baru tiba dibelakang Acha pun hanya bisa menggeleng pelan lalu menghampiri Acha.
Didekat Acha, Arlan langsung memundurkan kursi yang Acha duduki agar dirinya bisa berjongkok didepan Acha. Arlan menumpukan kepalanya diatas pangkuan Acha sedangkan Acha masih sibuk memoles wajahnya dengan make up simple dan tidak menyusahkan.
"Udah sayang?" Tanya Arlan dengan suara pelannya.
Bibir Acha mencebik kesal mendengarnya, "Ini tuh gara-gara kamu tau! Harusnya jangan sekarang, jadi telat kan!" Omel nya tapi tetap melanjutkan acara make up nya.
"Kebutuhan, sayang. Gak bisa ditunda apalagi di cancel," Balasnya disertai kekehan.
Pernikahan? Setelah Acha meminta Roy untuk menyelidiki semuanya, ternyata memang Acha dan Arlan sudah sah. Hari dimana Arlan izin pergi ke Surabaya, ternyata pemuda itu mengurus seluruh berkas untuk melengkapi syarat pernikahan. Bahkan Arlan mendatangi keluarga Papah nya Acha secara langsung, seorang diri.
Kala itu, Arlan memang terdengar seperti orang kurang waras karena yang Papah nya Acha tau, anak gadisnya sudah tiada. Tapi Arlan tak berniat memberi alasan, dia hanya meminta restu dan tanda tangan. Setelah Papah nya Acha memberikan apa yang dirinya butuhkan, Arlan pun pamit pergi.
Menjalani pernikahan tanpa kedua orang tuanya tau, terutama sang Bunda, memang sangat menyesakkan untuk Arlan. Tapi ini sudah menjadi keputusan nya dan dia akan jujur pada seluruh keluarga besarnya tentang siapa Acha di hidupnya. Kapan? Sekarang. Iya, sekarang Arlan akan jujur tentang semuanya.
"Ar, kok ngelamun?" Acha mengelus lembut rambut Arlan yang berhasil membuat Arlan mendongak lalu menggeleng.
Dengan sorot teduh juga lembut, Arlan berucap. "Apapun yang terjadi nanti, jangan dianggap serius oke?"
Acha jelas paham tentang apa yang Arlan maksud, dan dengan pasti dirinya mengangguk.
Tak lama kemudian, mereka pun pergi menuju mansion utama Zeneouska yang kini disulap menjadi tempat acara pernikahan Sameera digelar. Pernikahan yang sangat megah dan mewah, bahkan Acha sampai dibuat berdecak beberapa kali saat mobil yang ditumpanginya memasuki area mansion.
Setelah mobil itu berhenti didepan pintu utama, Arlan turun lebih dulu lalu memutari mobil untuk membukakan pintu bagian Acha berada. Dan semua tindakan Arlan itu tak luput dari pandangan para wartawan juga tamu yang baru saja datang. Mereka semua menatap Arlan dengan jutaan pertanyaan di kepala mereka.
Siapa lelaki berwajah rupawan itu? Salah satu pertanyaan yang paling banyak mereka utarakan didalam hati ya seperti itu. Tapi Arlan hanya tak acuh dan berjalan diatas red carpet dengan satu tangannya yang memeluk possessive pinggang Acha dan juga wajahnya yang senantiasa datar.
Saat keduanya tiba dilantai 3, pintu langsung tertutup secara otomatis bersamaan dengan...
Dorr!
Pyarr!
Satu senti lagi Acha lengah, maka peluru itu akan menembus tepat pada perutnya. Acha tersenyum manis, membayangkan tentang bagaimana sambutan utama nanti? Baru awal saja sudah seperti ini, ah mereka memang benar-benar sudah menyiapkan kejutan untuk dirinya.
Berbeda dengan Acha yang nampak santai dan tenang, Arlan yang biasanya pandai mengontrol emosi kini malah mengepalkan tangannya erat dengan rahang mengeras. Mata tajam itu menyorot dingin ke seluruh sudut ruangan hingga Tuan Robin datang dengan kursi roda kesayangan nya.
"Selamat datang cucu kesayangan ku," Ucap Tuan Robin yang berhasil membuat Arlan menatapnya tajam nan dingin.
Acha? Gadis itu hanya diam sambil menatap tenang pada sosok Robin yang kini tengah menyeringai menatapnya. "Karena kau sudah ikut campur dalam urusanku dan kau mulai lancang karena mendekati cucuku, maka kau harus mendapatkan hukuman nya!"
Sebelum botol wine itu melayang kearah Acha, satu tangan Acha yang terangkat langsung menghentikan semuanya. Acha hendak melangkah maju namun urung saat pintu lain terbuka hingga menampakan sosok Letizia yang kini tengah menjadi bahan tawanan.
Tangan Arlan terkepal dengan urat leher yang terlihat jelas, bahkan sorot mata pemuda itu menajam juga memerah marah. "ANDA! Sialan!"
Bukannya takut, Tuan Robin malah tertawa lalu menodongkan pistol ditangannya tepat kearah kepala Letizia. "Sudah berapa kali aku bilang, kau berani membantahku maka Ibu kesayangan mu ini akan segera menyusul Kakak nya."
"Jangan membawa Bundaku dalam permasalahan ini, Tuan Robin yang terhormat!" Tekan Arlan dengan pandangan yang semakin tajam menatap Tuan Robin.
Ini kenapa jadi seperti ini? Dirinya mau datang dengan tujuan memperkenalkan Acha pada seluruh keluarga besarnya tentang Acha yang sudah sah menjadi istrinya dan kini tengah mengandung darah daging nya. Tapi kenapa jadi kacau dan ini semua gara-gara Tuan Robin, Kakeknya.
"Kau harus bijak cucuku, silahkan pilih Ibu mu dan turuti semua perintahku atau pilih kekasihmu tapi Ibu kesayangan mu akan segera bertemu dengan malaikat mautnya." Ucap Tuan Robin seraya memainkan pistol ditangannya.
Inilah alasan kenapa Acha memilih menutup tentang dirinya yang menjadi gadis malam itu dan tentang kehamilan nya. Acha tau seberapa licik Tuan Robin dan seberapa keras pria tua itu saat menginginkan tujuan nya tercapai dengan mempergunakan Arlan sebagai alat sedangkan Letizia sebagai bahan ancaman.
Arlan melirik bergantian kearah dua wanita yang sangat berharga di hidupnya. Menatap sang Bunda yang kini tengah meringis kesakitan lalu menatap Acha yang tengah tersenyum manis dengan wajah tenang, seakan pilihan Arlan nantinya tak akan merugikan dirinya.
"Ak—"
Brakk!
"HALO! Main drama nya kok gak ngajak-ngajak?"
Menekan kuat harga dirinya hingga ke dasar, lelaki itu melenggang masuk tanpa memedulikan tentang suasana yang sempat memanas tadi. Berbeda dengan lelaki itu, senyum di wajah Acha malah pudar bersamaan dengan tubuhnya yang sedikit menegang.
"A-Athar?"
...***...
Nah loh, satu persatu rahasia mulai terbongkar.
Penasaran gak sama next nya? Yokk spam koment!!
Maap baru bisa up, tugas ku numpuk karena baru masuk:))