Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
48. Yes I'm Acha



...H E L L O  !👋...


...~ H A P P Y  R E A D I N G ~...


...***...


Di kursi meja belajar nya, Arlan terlihat sedang duduk diam tanpa tenaga karena dia ingin cepat-cepat keluar dari kelas itu dan segera menemui wanitanya, Acha. Sedangkan didepan Arlan, Erosi dan Gempa terlihat saling bertukar tatap melirik kearah Arlan yang terlihat lesu dengan terus menghela napasnya kasar.


"Lo ke—"


Ucapan Gempa mendadak terhenti saat seorang gadis yang mereka tau sebagai Sekretaris osis dan juga anak kepala sekolah baru itu datang membawa sebuah kotak yang sepertinya berisi makanan. Gadis itu tersenyum manis menatap Arlan yang bahkan tak berminat sedikitpun untuk melirik nya.


Meski mendapat reaksi Arlan yang tak sesuai ekspetasi nya, gadis itu tetap tersenyum manis lalu menaruh kotak makanan itu keatas meja. "Ar, ini ada nasi goreng buatan aku sendiri loh. Jangan lupa dimakan ya," Ucap gadis itu seraya mendekatkan kotak makanan itu ke depan Arlan.


Kepala Arlan mendongak menatap dingin gadis itu, "Gak butuh!"


Setelah mengucapkan kalimat yang sedikit menyakitkan hati si gadis, Arlan pun berdiri dan berlalu pergi tanpa menunggu bel berbunyi lebih dulu. Sedangkan gadis yang ditinggalkan hanya bisa menunduk sedih, karena Arlan lagi-lagi menolak makanan atau barang yang dirinya berikan.


Diambang pintu kelas, Arlan menghentikan langkahnya tanpa berbalik. "Buat kalian para perempuan, jangan pernah berniat deketin gue. Karena cewek gue lebih segalanya dari kalian," Tekannya.


Para gadis yang memang sejak lama menyukai Arlan dalam diam pun langsung menunduk, begitu juga dengan gadis yang membawa kotak makanan tadi. Gadis itu menunduk dalam dengan kedua tangan saling bertaut juga matanya yang berkaca-kaca menahan tangis.


Selepas mengucapkan kalimat itu, Arlan pun berlalu pergi meninggalkan area sekolah. Hingga tiba didepan gerbang, Arlan melihat ada mobil yang sangat dirinya kenali. Sedangkan didalam mobil, ada Acha yang tengah memainkan ponselnya sambil menunggu Arlan selesai ujian.


Tadi Acha datang bersama Roy, ya kalian pasti tau kalau Acha sangat malas menyetir mobil sendiri jadi dia selalu pakai supir kalau mau bepergian tanpa Arlan. Setelah tiba didepan ZHS, Acha menyuruh Roy untuk kembali ke perusahaan dan membiarkan dirinya menunggu Arlan sendirian didalam mobil.


Hingga kedatangan Arlan membuat Acha langsung cepat-cepat keluar dari dalam mobil. Acha berjalan menghampiri Arlan yang membuat Arlan langsung menubruk nya dengan pelukan erat, tentu dengan menjaga jarak di bagian perut Acha, takut melukai calon anaknya yang akan lahir nanti.


Tanpa melepas lilitan tangannya di pinggang Acha, Arlan mengecup lama kening Acha lalu berlutut didepan Acha. Dengan senyum manisnya, Arlan menempelkan bibirnya didepan perut Acha yang tertutup baju dengan waktu cukup lama. Inilah kebiasaan Arlan yang tak akan pernah pemuda itu lupakan.


"Halo anak Daddy, sehat-sehat ya sayang. Nanti kalau sudah waktunya kamu lahir, kita main terus kita jalan-jalan sama Mommy. Jangan buat Mommy sedih ya, temani terus Mommy nya." Ucap Arlan yang berhasil membuat Acha tersenyum haru, meski perlakukan Arlan itu sering Arlan lakukan.


Setelah puas ngobrol dengan anaknya, Arlan pun kembali berdiri lalu melingkarkan satu tangannya di pinggang Acha. Membantu Acha dengan membuka pintu mobil lalu mempersilahkan Acha masuk dengan senyum manisnya yang membuat Acha menggeleng pelan.


Didalam mobil, wajah tampan Arlan terlihat bersinar cerah, sangat berbeda dengan wajahnya saat dikelas tadi yang super dingin dan datar bak tripleks. Acha yang menyadari tentang raut wajah Arlan pun hanya bisa tersenyum geli karena paham dengan apa yang ada dipikiran Arlan sekarang.


Sebelum sampai ke tujuan, mereka sempat berhenti dijalan yang sepi karena Arlan akan menganti bajunya di mobil. Sangat tidak mungkin kalau Arlan keruangan cek kandungan dengan seragam sekolah. Jadi mau tak mau, dia harus menganti seragam nya dengan baju yang sudah Acha siapkan.


Tak lama kemudian, mobil yang Arlan kendarai tiba didepan sebuah rumah sakit terbesar di negaranya. Arlan turun lebih dulu lalu memutari mobil untuk membuka pintu bagian Acha, setelahnya, mereka pun berjalan beriringan dengan satu tangan kekar Arlan yang setia memeluk pinggang Acha.


Mereka tak perlu mengantri karena Arlan sudah lebih dulu membuat janji dengan Dokter kandungan yang memang menanggani para wanita keluarganya, bahkan Ibu dari Dokter yang akan menanggani Acha nanti juga Dokter yang sama dengan Dokter yang membantu proses kelahiran Arlan belasan tahun lalu.


"Selamat siang, Tuan muda dan Nona muda."


Saat pintu ruangan si Dokter terbuka, Acha dan Arlan langsung disambut dengan sapaan hangat yang membuat Acha membalasnya dengan senyuman manis sedangkan Arlan hanya mengangguk singkat saja dengan wajah datar andalannya. Keduanya pun masuk setelah dipersilakan.


"Apa ada keluhan selama mengandung, Nona?" Tanya Dokter itu dengan ramahnya.


Acha menggeleng, "Sejak awal aku tahu kalau aku hamil, aku gak pernah ngalamin morning sickness. Gak pengen yang aneh-aneh juga," jelas Acha yang memang seperti itu keadaan nya selama hamil.


Setelah berbincang, mempertanyakan banyak hal mengenai kesehatan kandungan dan apa saja yang boleh atau tidak boleh yang Acha lakukan serta makan. Acha pun hendak bersiap untuk melakukan USG tapi ucapan Arlan berhasil membuat Acha tersentak kaget dengan pipi memerah.


"Apa boleh melakukan itu?" Tanya Arlan dengan wajah datarnya tapi tak urung kalau telinga pemuda itu memerah.


Si Dokter tersenyum maklum dengan ramah, "Boleh asalkan harus lembut dan berhati-hati agar tak mendapat resiko yang berbahaya."


Dokter meminta izin menaikan sedikit baju Acha lalu meminta izin kembali untuk menuang sedikit ultrasonic gel diatas perut Acha. Dan saat alat transducer berada diatas perutnya, Acha merasa jantungnya berdetak tak karuan, tak sabar ingin melihat anaknya.


Begitu juga dengan Arlan, mata tajam nya langsung menatap teduh kearah layar monitor sambil terus mendengarkan penjelasan Dokter. Tanpa sepengetahuan si Dokter, Arlan mengusap cepat air matanya yang menetes tanpa disuruh, dia takut Acha melihatnya menangis padahal Acha memang sudah melihatnya.


Tangan mungil Acha menggenggam erat tangan besar Arlan yang membuat Arlan menahan air matanya mati-matian. Ini adalah kali pertama Arlan menemani Acha cek kandungan, karena untuk yang pertama kalinya, Arlan tak bisa menemani Acha. Maka dari itu, rasa bersalah terus menghantui dirinya meski Acha sudah bilang tak apa berkali-kali.


"Janin nya sehat, sudah masuk minggu ke sepuluh."


Selesai memeriksa kandungan, mereka pun berlalu pergi menuju sebuah butik. Selama diperjalanan, tangan kekar Arlan tak pernah absen menggenggam tangan mungil Acha yang membuat Acha terkekeh pelan melihatnya. Dan saat mereka tiba didepan butik, satu tangan Arlan pun selalu setia memeluk pinggang Acha.


"Selamat datang Tuan muda dan Nona muda, suatu kehormatan bagi kami atas kedatangan anda berdua." Ucap wanita pemilik butik itu, ya Mamah nya Acha.


Acha? Dia hanya biasa saja, seakan mereka memang tidak saling mengenal sebelumnya. Karena tak mau basa-basi, Acha pun langsung mencoba dress yang akan dia pakai nanti. Begitu juga dengan Arlan yang langsung mencoba memakai jas nya. Selesai mencoba, mereka pun langsung ke kasir untuk membayar semuanya.


"Arlan?"


Sebuah suara lembut khas seorang gadis feminim terdengar yang membuat si pemilik nama tetap diam fokus pada pembayaran nya sedangkan Acha langsung berbalik dan menatap penuh tanda tanya pada gadis yang tidak dirinya kenali itu. Gadis itu tersenyum ramah menatap Acha yang dibalas senyum tipis dari Acha.


Gadis itu, gadis yang sama dengan gadis yang memberi makanan untuk Arlan saat disekolah pun mulai menyodorkan tangannya ke depan Acha. "Hai, kenalin nama aku Echa Basilika Eldora. Kamu... Acha kan? Ah nama kita mirip, Echa dan Acha."


Echa terkekeh berbeda dengan Acha yang langsung menatap dingin sosoknya, tak perduli tentang Arlan yang masih sibuk dengan pembayaran nya, Acha berlalu pergi menuju mobilnya. Didalam mobil, Acha langsung mengeluarkan ponselnya tanpa basa-basi lagi.


"Roy, cepat jelaskan kenapa hama satu itu memiliki nama yang mirip dengan namaku?"


Diseberang sana, Roy terdiam sambil memijat pelan pelipisnya karena tak menyangka kalau Nona nya akan bertanya secepat itu bahkan tak sesuai dengan tebakannya. "Atas permintaan Ibu dari Nyonya atau Mamah anda, Nona. Anda ingat, kalau semua harta peninggalan Tuan besar Wilson jatuh ke tangan anda?"


"Ya, terus?"


"Itu permasalahan nya, Nona. Karena Nyonya besar tak pernah menyukai anda bahkan tak sudi menemui anda, beliau pun menamai cucu pertama nya dengan nama Echa padahal awalnya bukan nama itu. Itu semua demi harta, Nona. Mereka mencoba bermain licik tapi tetap kalah dengan kelicikan anda."


"Kalau begitu, aku tak sudi tentang nama nya yang mirip dengan namaku. Kau tau apa yang harus kau lakukan kan Roy?"


"Tentu, Nona."


"Bagus! Cepat musnahkan dan hilangkan dia dari kandidat penghancur hubunganku dan juga Arlan, satu lagi! Jangan tulis nama nya diatas batu nisan, ganti dengan nama aslinya."


"Perintah dari anda akan saya laksanakan, Nona."


"Good."


Tutt.


Acha memutuskan sepihak panggilan lalu menyeringai kejam dengan tangan yang memainkan ujung rambutnya, "Siapapun kalian yang berniat menghancurkan hubungan ku dan milikku maka tak ada toleransi untuk kalian semua."


Tatapan nya berubah sendu bersamaan dengan tangannya yang langsung mengelus lembut perutnya.


"Semua ini aku lakukan hanya untukmu, aku tak mau kau mengalami hal yang sama denganku. Kebahagiaan mu yang akan menjadi prioritas utamaku sekarang dan sampai kapanpun."


Tetap lah bertahan meski ujung tombak terus berusaha memusnahkan mu dari rahim ku... Mommy mu.


...***...