
"Roy, bagaimana?"
Roy menyodorkan berbagai tangkapan layar mengenai wajah seseorang yang menjadi dalang kecelakaan Acha tempo hari, "Namanya Chika. Dia kolega bisnis Tuan Arlan yang berniat menghancurkan hubungan Tuan Arlan dan Anda, Nona."
Sorot mata Acha menajam, bisa-bisanya Chika yang terlihat anggun, merencanakan kecelakaan untuknya. Hukuman apa yang bagus darinya untuk Chika yang sudah lancang membuat bayinya pergi bahkan sebelum dirinya lahirkan? Agaknya, kematian saja belum cukup untuk orang seperti Chika yang tega mengorbankan bayi orang lain demi kepuasan diri sendiri.
"Nona, Chika telah mendaftarkan diri sebagai calon model di sebuah perusahaan entertainment besar."
Acha berpikir, "Hancurkan rencananya untuk menjadi model. Buat mentalnya berantakan, sampai dia menginginkan kematiannya sendiri."
Melihat seringai di wajah Nonanya, Roy bergidik ngeri. Acha saat hamil saja bisa kejam, apalagi sudah tidak hamil, dia bisa lebih bebas dengan ruang gerak leluasa. "Kamu bisa pergi, Roy."
Sementara itu, di markas utama Anteros. Pengumuman perihal ketua umum Anteros yang akan menunjukkan jati diri, nanti malam akan terlaksana. Semua anggota tetap excited mendengar berita yang sempat tertunda entah karena masalah apa. Kini setelah menunggu lumayan lama, akhirnya terwujud juga.
"Gila! Gue bakal minta foto sama ketua!"
"Gue mau minta tanda tangan ketua!"
"Woi gila! Gila! Gila! Gue enggak sabar buat ngeliat muka ketua yang pasti tampan abis!"
"Heh! Inget, lo-lo pada itu sama-sama punyanya batang!"
Malam tiba, seperti malam sebelumnya, seluruh anggota Anteros datang dan masuk ke dalam aula utama markas yang luasnya sangat-sangat sulit di deskripsikan. Ratusan anggota Anteros telah berkumpul di aula, menanti harap-harap cemas kedatangan sang ketua, takut jika akan di tunda kembali.
Di kantor, Arlan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Pria itu menatap layar ponselnya lalu menepuk kening saat dia melupakan satu hal, "Jo! Kita ke markas utama Anteros sekarang, saya sudah terlambat!"
Jo dengan patuh mengangguk, mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sesuai perintah dari Tuannya sendiri.
Kembali ke markas utama Anteros, semua anggota saling berbisik sebab ketua belum juga menunjukkan batang hidungnya. "Apa ketua enggak jadi datang lagi?"
"Enggak mungkin, kalau enggak jadi, pasti kita semua udah di bubarkan."
Mereka membuat banyak spekulasi sendiri, karena ketua yang mereka tunggu, telah terlambat hampir 1 jam lamanya. "Andaikan Maxime ada di sini, dia pasti seneng banget, karena gue tahu, betapa dia pengennya ketemu ketua."
Erosi dan Gempa menjatuhkan bahu lunglai, "Arlan juga. Mereka berdua kenapa bisa tiba-tiba enggak ada kabar? Enggak menghubungi kita. CK! Harusnya mereka juga ada di sini, lihat tuh, ketua bakal menunjukkan dirinya."
Di saat mereka tengah berbincang, pintu besar aula terbuka. Semua pasang mata langsung memandang ke pusat atensi, mereka serempak membuatkan jalan untuk seseorang yang baru datang. Mereka semua menutup mulut terkejut, ada juga yang menganga tak percaya termasuk Erosi dan Gempa.
"A-Arlan ketua Anteros?"
Erosi terkejut bukan main, melihat Arlan yang baru datang diikuti seorang pria berpakaian hitam, Jo, di belakangnya. Sedangkan Arlan yang di tatap seperti itu, mengerutkan keningnya. Apa ada yang salah dengan dirinya? Arlan memang datang dengan setelan jas, tapi tidak ada yang aneh kok.
"Kalian kenap—"
Tap... Tap... Tap...
Lampu menyorot tepat ke atas panggung, menyambut langkah kaki di baluti sepatu hitam yang melangkah ke tengah panggung. Semua anggota Anteros terdiam, menanti, apa yang akan seseorang di atas panggung lakukan. Sampai pada akhirnya, suara tangan kanan ketua utama Anteros sekaligus yang selama ini mengayomi, menunjukkan dirinya di samping seseorang itu.
"Selamat malam semuanya,"
"Malam!" Serempak, suara mereka semua memenuhi setiap sudut aula markas.
"Gue sebagai wakil ketua dari ketua utama Anteros, tidak akan berbasa-basi. Kita sambut, KETUA UTAMA ANTEROS!!"
Semua senyap, menunggu ketua membuka topeng yang menutupi seluruh wajahnya. "Malam, semuanya..."
PROKK!
PROKK!
PROKK!
"KIWW KETUA! CANTIK BANGET YA TUHAN!!"
"GUE ENGGAK NYANGKA WOI?! KETUA KITA SEMUA TERNYATA CEWEK DAN SECANTIK INI!!"
"KETUA! IZINKAN BUDAKMU INI JATUH CINTA PADAMU!"
Acha di atas podium, hanya terkekeh pelan. "Salam kenal semuanya, gue sebagai ketua utama Anteros, Acha Basilia Eldora."
Riuh dari ratusan laki-laki kembali menyerbu seisi aula, membuat mata Acha yang bergerilya, berhenti tepat pada Arlan yang masih membeku dengan keterkejutannya. "Gue juga mau memperkenalkan seseorang yang sangat berarti untuk gue,"
Semuanya langsung diam, menunggu Acha yang mulai turun dari atas podium, berjalan membelah kerumunan untuk menghampiri seseorang yang tidak mereka duga sama sekali. "Kenalkan, suami gue."
Cup.
Acha mengecup bibir Arlan singkat, di hadapan semua orang yang kini merasa patah hati. Saingan berat, Arlan mana bisa di tikung.
"Sayang?"
"Hm? Yes I'm Acha, babe. Aku adalah aku yang tidak akan kalian duga, siapa dan apa di balik semua yang aku sembunyikan."
Kepala Arlan langsung kosong, pria itu memeluk Acha dengan eratnya. Dia sudah di buat terkejut setengah mati saat tahu jika ketua utama Anteros, ketua dirinya, adalah istrinya sendiri. "Ar, aku harus ke atas, ada hal yang perlu aku umumkan kembali."
Dengan tidak rela, Arlan melepas pelukannya. Pria itu membiarkan Acha kembali naik ke atas podium dan dirinya, menunggu di bawah bersama yang lain. "Gue akan memberikan kabar bahagia kepada kalian semua, karena gue sudah menjadi seorang istri, gue enggak akan bisa memimpin kalian semua lagi."
Serempak, mereka merasa sedih mendengar keputusan Acha. "Tapi jangan khawatir, gue akan memberikan pilihan agar kalian bisa memilih sendiri, siapa yang akan kalian jadikan ketua utama Anteros selanjutnya."
Mata Acha menyapu setiap sudut, di antara ratusan anggota pasti ada pengkhianat. Acha harus berhati-hati dalam memilih serta memutuskan sebuah keputusan, dia menatap Arlan yang kini mengangguk, seakan menyetujui apa pun keputusan yang Acha buat. "Buat nama-nama yang gue sebut, bisa langsung ke atas podium sekarang juga."
Semua langsung harap-harap cemas, mereka begitu berharap bisa menjadi ketua utama Anteros tapi keputusan kembali ke Acha. "Zavier!"
Semua bertepuk tangan, sudah tahu tabiat Zavier yang selalu mengerikan saat di tengah war. "Darrel!"
"Yang terakhir... Zergio!"
Nama yang tersebut terakhir, langsung terbatuk-batuk orangnya. Laki-laki dengan Hoodie hitam yang menutup wajahnya itu terbelalak kaget, KOK GUE?! batin Zergio tidak terima.
Termasuk Arlan, pria itu terkejut, kenapa Acha bisa memilih Adik sepupunya yang tengil itu untuk menjadi kandidat ketua utama Anteros selanjutnya?!
"Sepertinya, kalian tidak perlu voting. Karena ketua utama Anteros selanjutnya... Zergio!!"
"WOI?! ENGGAK!!!"
Semua mata menatap horor Zergio yang kini meringis, "Peace! Enggak sengaja teriak,"
Acha terkekeh, dia tidak salah menunjuk Zergio untuk menjadi ketua utama Anteros selanjutnya. Sebab, Acha tahu kehebatan laki-laki itu yang tidak lain, Adik sepupunya Arlan.
...***...