Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
47. Yes I'm Acha



...H E L L O  !👋...


...~ H A P P Y  R E A D I N G ~...


...***...


"Bagaimana?"


Diseberang sana, Roy masih sibuk dengan berkas-berkas ditangannya sebelum menjawab. "Benar, Nona. Anda dan Tuan muda sudah sah di agama juga hukum,"


Mendengar itu, Acha terkekeh pelan sambil memutuskan panggilan sepihak yang tentu setelah berucap terima kasih. Acha menyandarkan punggung nya di sandaran kursinya lalu memainkan pulpen yang ada ditangannya.


"Kuasa dan uang memang tidak bisa diragukan lagi," Gumamnya dengan senyuman tipis.


Setelah puas berdiam diri tanpa melakukan apapun, Acha pun mulai membuka laptopnya dan sibuk dengan berbagai macam berkas yang menumpuk diatas mejanya. Berkas yang hampir 2 hari ini tidak dirinya sentuh sama sekali.


Hampir 3 jam berkutat dengan laptopnya, Acha pun memilih merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku lalu menghela napasnya dengan kasar. Sebenarnya Acha lelah kalau harus terus bekerja nonstop seperti ini, apalagi dirinya anak tunggal yang artinya, tidak ada Adik atau Kakak yang bisa membantu nya di perusahaan.


Sebelum akhirnya, kening Acha sedikit berkerut sampai sebuah seringai tipis terlihat samar di wajah cantiknya. "Bukan kah mereka memiliki keluarga baru yang harmonis? Mereka juga memiliki anak yang usianya tak jauh dari aku, apa aku minta mereka saja?"


Seingat Acha, Roy pernah bilang kalau dirinya punya 2 Adik tiri dari keluarga baru kedua orang tuanya dan satu Kakak tiri dari suami kedua sang Mamah dan istri pertama nya. Semoga saja, anak tiri Mamah nya itu seorang laki-laki maka Acha bisa memanfaatkan Kakak tirinya itu.


Tak mau membuang waktu lagi, Acha pun segera mengambil ponselnya dan meminta Roy untuk mengurus keberangkatan nya ke Belanda hari ini juga. Roy yang segan untuk bertanya pun memilih menuruti perintah dari sang Nona, tentu Roy tidak lupa untuk mengabari Arlan tentang rencana Nona nya yang ingin pergi ke Belanda.


Di negara lain,


• Quito, Ekuador, Amerika Selatan.


Arlan terlihat berdecak pelan saat Jo bilang padanya kalau hari ini Acha akan berangkat ke Belanda untuk menemui keluarga baru Mamah nya. Padahal gadis itu sedang hamil muda dan Arlan sangat khawatir dengan keadaan anak dan juga istri—ah, Acha ternyata memang benar-benar sudah menjadi istrinya.


Saat ini Arlan sedang berada di sebuah negara yang jauh dari negara nya karena urusan pekerjaan, ditambah lagi seminggu ke depan dirinya akan sangat sibuk disini, jadi akan sangat tidak mungkin untuk dirinya bisa menyusul Acha ke Belanda. Maka untuk sekarang ini, Arlan percayakan keselamatan Acha pada anak buah dan para Dokter yang sudah Arlan siapkan.


"Jo, gimana?" Tanya Arlan seraya melirik sekilas kearah Jo yang duduk didepannya.


Sebagai asisten yang baik, Jo tersenyum sopan. "Tuan besar masih tetap pada pendirian nya, Tuan muda. Bahkan Tuan besar sudah mulai membuktikan tentang ancamannya," Ucap Jo tanpa dilebih-lebihkan atau pun dikurangi.


Tangan Arlan terkepal erat, Kakek tua nya itu semakin hari semakin menjadi, bukannya insaf karena ajal tak tahu kapan menghampiri. Menghembuskan napasnya kasar, lantas Arlan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kebesaran nya lalu memejamkan matanya sambil memijat pelan pelipisnya.


"Jo, apa si tua itu tidak juga mempergunakan otaknya untuk berpikir? Kau tau kan Jo, aku sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Dan dia terus saja memaksa ku untuk kuliah diluar negeri, maunya dia itu apa sih?"


Sedangkan Jo hanya diam dan menjelma sebagai cermin yang senantiasa setia mendengarkan curhatan Tuan muda nya. Tak lama kemudian, Arlan merasa lelah terus berbicara sendiri, dia pun menyuruh Jo keluar dari ruangan nya dan meminta Jo untuk terus memantau kemana Acha pergi selama tiba di Belanda.


Kembali ke Acha, setelah berjam-jam pesawat yang gadis itu tumpangi melayang diatas langit akhirnya Acha tiba juga di bandar udara Internasional Schiphol. Acha berjalan ditengah-tengah keramaian dengan langkah tegas juga anggun khasnya. Bahkan tak urung dari orang-orang itu menatap Acha dengan decakan kagum.


Didalam mobil anak buahnya pun, Acha hanya diam dengan pandangan lurus ke depan. Sampai akhirnya, Acha tiba didepan sebuah rumah mewah yang menurut supir nya kalau rumah itu adalah rumah Mamahnya. Sebelum turun, Acha menyempatkan untuk menelepon Roy terlebih dulu, ingin memastikan sesuatu.


"Roy, apa benar kalau aku hanya punya satu Kakak?" Tanya Acha dengan pandangan yang menatap lurus kearah pintu gerbang rumah mewah itu.


Diseberang sana, Roy terdiam sejenak. "Maafkan saya, Nona. Saya juga baru tau belum lama ini kalau ternyata anak tiri Nyonya itu kembar. Anak kembar pertamanya ikut dengan Ibu nya, sedangkan anak keduanya ikut dengan Nyonya dan juga Tuan. Tapi dua bulan lalu, mantan istri, suami kedua dari Nyonya sudah meninggal."


Satu sudut bibir Acha tertarik keatas membentuk sebuah seringai, bukan kah ini pertanda baik? Kalau begitu, Acha bisa memanfaatkan Kakak kembar tirinya itu. Tapi belum tau juga, karena Acha tak tau kalau ke depannya akan ada sebuah drama lebih dulu atau tidak.


Selepas mengakhiri panggilan, Acha pun segera turun dari mobilnya setelah bodyguard membukakan pintu mobil untuknya. Saat kakinya menginjak daerah rumah mewah itu untuk pertama kalinya, tak bisa dipungkiri kalau Acha merasakan perasaan aneh dalam dadanya. Apakah ini rasa bahagia karena akan bertemu Mamah nya, atau apa?


"Sebuah kehormatan bagi keluarga kami karena Nona muda datang mengunjungi," Ucap wanita itu yang tak lain tak bukan adalah Mamah nya.


Didalam hatinya, Acha tersenyum miris. Ah aku lupa, bukankah aku masih berperan sebagai Mildreda? Kalau begitu, mari nikmati peran ini. Batin Acha seraya memperkuat ketahanan air matanya.


Ah sial, mood nya setelah hamil memang benar-benar kacau. Membuat Acha harus pandai bermain peran saat didepan orang-orang itu. Begitu juga saat Acha duduk diruang tamu dengan sang Mamah dan suami kedua Mamah nya yang duduk bersampingan. Acha berdehem pelan, menekan rasa sesak di dada nya.


"Maaf lancang bertanya, Nona muda. Kalau kami boleh tahu, apa alasan Nona muda mengunjungi kami? Padahal kami akan dengan senang hati mengunjungi anda di negara yang anda tinggali," ucap suami kedua Mamahnya dengan senyuman ramah.


Bingung kenapa mereka mengenal Mildreda? Tentu mereka mengenal sosok raga yang Acha tempati. Karena apa? Karena Papi Mildreda sebelumnya adalah pewaris sah keluarga Dizon tapi karena Papi Mildreda harus menghembuskan napas terakhir nya belasan tahun lalu, pewaris pun dialihkan pada Adik kandung Papinya Mildreda.


Juga, Mamah nya Acha adalah seorang desainer yang pastinya mengenal Tuan Dizon dan Nyonya Micha sebagai pemilik perusahaan fashion terbesar. So, nama Mildreda Acchariya Dizon sudah tidak asing lagi ditelinga para pengusaha terkenal, meski sosok Mildreda sempat menghilang bak ditelan bumi tanpa adanya alasan yang jelas. Alasan nya tentu karena Mildreda yang sakit kala itu.


"Saya—"


"Hahaha Mamah! Papah! Haha,"


Ucapan Acha mendadak terhenti saat dia mendengar suara tawa dari arah dapur. Acha menolehkan kepalanya lalu terdiam sejenak dengan tangan terkepal erat, sedangkan sang Mamah malah langsung berdiri dan menghampiri dua orang itu. Mamah nya pun langsung mengendong seorang anak kecil dan duduk didepan Acha dengan anak kecil itu yang duduk dipangkuan nya.


Seseorang yang tadi sedang bercanda dengan Adiknya pun langsung menoleh menatap kearah Acha lalu memelotot kan matanya terkejut, dia tambah dibuat terkejut saat melihat Acha yang menatapnya tajam. Seakan sorot tajam itu bisa dengan mudah memutuskan leher nya hanya dalam hitungan detik.


"Siapa dia?" Tanya Acha dengan nada suara yang mendadak dingin.


Mamah nya tersenyum kikuk merasa aura berbeda dari Acha yang terus memperlihatkan sorot tajam nya. "Dia anak Tante, nama panggilan nya Dino. Dia juga sekolah di Indonesia loh, tapi dua bulan lalu dia memilih pindah ke Belanda."


Tante? Dino? Rasanya benar-benar memuakan! Batin Acha seraya mengatur kembali emosinya agar tidak mudah meledak.


Didepan nya, seseorang yang ternyata menjadi Kakak tirinya bernama Dino itu yang tak lain tak bukan adalah lelaki yang menjebak Arlan malam itu. Lelaki itu juga yang membuat Arlan datang ke club, karena saran tempat itu berasal dari Dino. Apakah Acha harus memusnahkan lelaki itu sekarang juga?


Tiba-tiba Acha berdiri dari duduknya, "Sebagai pemimpin WLS Corp. Kerja sama yang kalian ajukan akan saya terima dengan syarat, dia..." Acha menunjuk Dino dengan dagunya lalu kembali memusatkan pandangan ke depan.


"... Menghilang dari bumi ini!"


Acha berbalik dan pergi meninggalkan suasana tegang di ruangan itu dan tanpa Acha sadari, Dino mengepalkan tangannya erat dengan sorot kebencian yang begitu terlihat jelas.


Lihat aja, siapa yang akan menghilang dari bumi ini. Lo atau gue, dasar gadis sialan!


Dan Dino tidak sadar, kalau sebenarnya—rencananya berjalan dengan semestinya meski dengan si perempuan yang berbeda.


Disisi Acha, gadis itu terduduk diam di kursi penumpang dengan pandangan yang mengarah keluar jendela serta tangannya yang terus mengelus lembut perutnya. Matanya mulai berembun hendak menangis, tapi dengan sekuat tenaga, Acha terus menahan air matanya agar tidak tumpah. Dirinya tidak mau menangis dan dilihat orang lain yaitu supir nya.


Acha selalu berpikir, untuk apa mereka menikah lalu hadir dirinya kalau akhirnya, Acha hanya akan ditinggalkan sendirian? Mereka kira, hanya dengan transferan setiap bulan, hidup Acha akan senantiasa bahagia? Nggak. Acha juga mau disayang, mau dimanja, dan Acha juga mau berkumpul dengan orang tuanya di setiap hari libur datang.


Kalau begini jadinya, "Sesuai apa yang sudah kalian ketahui. Acha yang kalian kenal sudah lama mati bersama kenangan pahit dan aku adalah Acha yang baru, Acha yang tak akan pernah membutuhkan kalian yang melupakan ku."


Bibir nya menyunggingkan sebuah senyuman sinis lalu memilih memejamkan matanya, mengistirahatkan otaknya yang terasa kusut seperti benang layangan.


...***...


SPAM KOMENT YOKK GESS!!!


NEXT NGAK NIH?