
...H E L L O !π...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Empat hari sudah berlalu, selama empat hari ini juga Acha memilih bolos sekolah karena siksaan dari tamu bulanan nya. Rencana nya, dihari libur ini Acha akan menghabiskan waktunya berdua dengan Arlan, sang kekasih yang saat ini tengah mandi.
Karena jam yang sudah pukul 8 pagi, Acha pun langsung berdiri karena ingin membuat sarapan untuk mereka berdua. "Ar, baju nya udah aku taruh diatas kasur ya!"
"Iya, sayang! Makasih," Balas Arlan dengan suara sedikit meninggi.
Setelah mendengar jawaban dari Arlan, Acha pun segera berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Di rumah ini, tentu ada maid yang membersihkan dan menyiapkan makanan. Tapi mereka akan datang di pagi hari dan pulang sore hari saat hari biasa.
Sedangkan dihari sabtu dan minggu, semua maid diliburkan karena Arlan yang ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadisnya. Untuk sarapan, Acha hanya membuat sandwich karena dirinya sedang malas masak yang aneh-aneh. Setelah siap, Acha pun tak lupa membuat coklat hangat untuk Arlan dan susu strawberry untuk dirinya sendiri.
Saat sedang sibuk menata gelas diatas meja makan, Acha dikejutkan dengan tangan kekar Arlan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Acha tersenyum tipis lalu mengusap lembut punggung tangan Arlan yang ada diperutnya, sedangkan Arlan memilih menumpukkan dagunya di bahu Acha.
"Kenapa? Manja banget," Ucap Acha seraya mengelus lembut pipi tirus Arlan dengan satu tangannya.
Arlan menggeleng, "Gak pa-pa. Perasaan aku lagi gak enak aja beberapa hari ini," Ucap Arlan.
Dirinya tidak berbohong, karena beberapa hari ini Arlan memang merasa tak nyaman pada perasaan nya sendiri. Seperti akan ada sesuatu yang terjadi, tapi dirinya tidak tahu apa itu. Membayangkan hal itu, Arlan pun semakin erat memeluk perut Acha.
"Ada yang mau diceritain?" Tanya Acha seraya melepas pelukan Arlan lalu berbalik menatap pemuda tampan itu.
Kepalanya kembali menggeleng lalu memilih duduk, "Ayo sarapan dulu."
Selepas menyelesaikan sarapan pagi mereka, keduanya pun kini memilih bersantai diruang keluarga sambil menonton serial kartun kesukaan Acha, Upin Ipin. Dengan posisi Arlan yang rebahan berbantalkan paha Acha, dan Acha yang sibuk menatap layar televisi sambil tangan nya yang terus mengelus lembut rambut Arlan.
Arlan memutar posisinya hingga wajahnya dia sembunyikan didepan perut Acha, Arlan melingkarkan tangannya di pinggang Acha lalu bergumam dengan pelan. "Aku mau kamu jadi milik aku selamanya," lirihnya.
Gerakan tangan Acha mendadak terhenti begitu pun dengan pandangannya yang langsung beralih menatap Arlan, "Aku akan tetap jadi milik kamu. Kamu kenapa sih? Ada masalah? Coba cerita sama aku, berbagi masalah sama aku."
Nada suara Acha begitu lembut dan juga menenangkan, nada suara yang baru kali ini Acha keluarkan. Biasanya, Acha hanya akan bernada suara menyebalkan atau santai. Dan karena nada suara Acha juga, Arlan langsung mendongakkan kepalanya.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Acha seraya mengusap kening Arlan yang mengernyit.
Tiba-tiba, Arlan bangkit dari rebahan nya lalu terduduk di samping Acha, tak lupa dirinya mengangkat tubuh ringan Acha hingga pindah duduk diatas pangkuannya. Acha tersenyum tipis lalu melingkarkan tangannya dileher Arlan.
"Ceritain, apapun itu pasti aku akan dengerin." Ucap Acha dengan nada lembutnya, "Tapi kalo gak mau, aku gak masalah." sambungnya.
Sebelum membuka suara, Arlan sudah lebih dulu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Acha. "Aku kuliah d-di Amerika," lirihnya.
Acha tak lagi terkejut, dirinya sudah yakin kalau hal seperti ini akan terjadi. Karena Arlan, sebagai penerus tunggal kekayaan keluarganya, sudah dipastikan kalau dia akan dididik menjadi sosok yang lebih hebat lagi. Menjadi sosok hebat yang tak mudah dikalahkan.
"Kalo gitu, kamu harus rajin kuliahnya. Buktikan kalau kamu memang pantas menjadi penerus Zeneouska," Ucap Acha yang berhasil membuat Arlan menatapnya tak percaya.
"Kamu gak marah? Kita LDR loh," Kagetnya.
Mendengar itu, Acha terkekeh pelan lalu mengecup singkat pipi kiri Arlan. "Buat apa marah? Itu semua untuk masa depan kamu, jadi aku harus dukung dong..." Acha menjeda ucapannya.
"... LDR atau nggak nya, aku gak masalah. Aku yakin, kalau kita jodoh pasti kita akan tetap bersama. Beda lagi kalau kita ditakdirkan tidak berjodoh, mau sedekat apapun kita pasti kita gak bisa bersatu. Aku cuma mau bilang, kalau kamu menemukan sosok yang lebih baik dari aku, bilang ya? Aku rela mundur," sambungnya.
Arlan menggelengkan kepalanya ribut, "Nggak ya! Kamu yang terbaik buat aku, gak ada yang lainnya!" Ucap Arlan dengan wajah marahnya yang malah terlihat menggemaskan dimata Acha.
"Kita gak pernah tau bagaimana kejutan takdir, sayang. Kamu bisa bilang nggak sekarang tapi gak tau nanti, right? Jadi aku mohon, disaat kamu sudah nyaman dengan perempuan lain, tolong bilang sama aku ya? Bilang baik-baik dan diselesaikan dengan baik-baik. Karena apa? Karena kita memulai dengan baik-baik maka akhiri dengan baik-baik juga,"
Tangan mungil Acha menangkup rahang tegas Arlan, "Aku percaya sama kamu. Sangat. Aku akan selalu menjaga hati ini untuk kamu, tapi kalau kamu sudah berpaling, untuk apa aku tetap bertahan? Ah, kenapa jadi mellow gini sih? Hari libur gini kan kita harusnya happy," sambungnya.
Dengan perasaan campur aduk, Arlan menarik pinggang Acha lalu memeluk gadis itu dengan erat. Arlan mencoba memejamkan matanya, menahan rasa aneh dalam dada nya saat ingat kalau mereka akan LDR tak lama lagi. Dan Arlan akan selalu setia, dirinya akan buktikan itu.
"Kelulusan masih beberapa bulan lagi, Ar. Jadi kita masih punya banyak waktu berdua."
...***...
Dua minggu sudah berlalu sejak hari dimana Arlan jujur pada Acha tentang niat sang Kakek yang menginginkan dirinya sekolah diluar negeri agar bisa merasakan sesuatu yang baru. Dan hari ini, Acha sudah siap dengan outfit simple khasnya. Celana jeans panjang dengan kaos oversize yang dimasukan bagian depannya saja.
Acha berjalan sambil mengapit lengan Arlan yang setia menampilkan raut datarnya. Di tepi lapangan, sebelum pemuda itu bergabung dengan tim nya, Arlan menyempatkan untuk mengecup seluruh wajah Acha yang berhasil membuat Acha terkekeh geli sedangkan para gadis yang lainnya hanya bisa gigit kuku, iri.
Muach!
"Semangat! Bawa piala buat sekolah kita ya," Ucap Acha setelah mengecup dagu Arlan.
Tangan Arlan menunjuk bibirnya sendiri yang langsung mendapat pukulan gemas dari Acha, "Banyak mau nya nih! Pokoknya kamu menang aja dulu, baru deh dapet kiss dari aku."
Dengan sedikit tak rela, Arlan mengangguk dan berlari mendekat ke tim nya. Sedangkan Acha, gadis itu memilih bergabung dengan Yujin dan Adele yang juga ikut menonton. Acha duduk ditengah kedua gadis itu lalu menyandarkan kepalanya di bahu Yujin.
Yujin melirik sekilas kearah Acha yang bersandar di bahunya, "Kenapa? Sakit perut lagi?"
Bibir Acha mencebik kesal, selalu saja Yujin meledek nya padahal niat Yujin bukan untuk meledek tapi karena khawatir. "Nggak kok, cuma ngantuk aja."
Setelahnya tak ada lagi obrolan, Acha sibuk menatapi Arlan yang tengah fokus mendribble bola basket sedangkan Adele sibuk berteriak menyemangati Mas Crush yang tidak juga peka sampai sekarang. Yujin? Gadis itu hanya menatap bosan ke depan karena dia sebenarnya tidak mau ikut menonton.
Detik demi detik berlalu hingga pertandingan diakhiri dengan kemenangan sang Tuan rumah. Seperti apa yang Acha ucapkan, disaat Arlan menang barulah dirinya memberi kiss. Acha meminta Arlan menunduk lalu mengecup kilat bibir pemuda itu karena sudah menang.
"Hadiah nya!" Ucap Acha yang berhasil membuat Arlan menahan senyum nya mati-matian.
Andai disini tidak ada makhluk bernama manusia kecuali mereka berdua, pasti Arlan sudah tersenyum selebar mungkin. Tapi dirinya harus menahan senyum nya, karena senyum nya hanya milik gadisnya seorang, Acha. Jadi sebagai ganti senyum nya, Arlan pun menarik pinggang Acha dan memeluk erat gadisnya.
Acha tak menolak walau tubuh Arlan dipenuhi keringat, malah Acha suka aroma tubuh Arlan saat berkeringat, sangat maskulin. Sedang asik menghirup aroma tubuh Arlan, mata Acha tanpa sengaja melirik kearah kursi penonton yang tak jauh dari keberadaan mereka. Acha terdiam dengan mata yang terus menatap fokus kearah seseorang itu.
Merasa ada yang aneh saat seseorang itu menyeringai, Acha pun segera melepaskan pelukan Arlan dan bilang kalau dirinya ingin ke toilet sebentar. Untungnya Arlan tak banyak bertanya, jadi Acha bisa langsung pergi mengikuti kemana seseorang itu pergi dengan ponsel di telinganya.
Di pilar lorong dekat taman, Acha berdiri sambil memasang telinga tajamnya agar bisa mendengar percakapan seseorang itu.
"Rencana gue, gue mau buat Arlan jadi milik gue."
"Gue bakal jebak dia nanti malam,"
"Iya gue gila, gila karena dia!"
"Apapun akan gue lakukan, termasuk memusnahkan gadis-gadis sialan itu."
"Jangan bilang gue gila, gue emang gila."
Acha menutup mulutnya kaget saat mendengar itu semua, takut ketahuan menguping, Acha pun berbalik dan berlalu pergi dengan wajah sedikit pucat. Sesampainya didepan ruang khusus ganti baju tim basket. Menunggu didepan, Acha menggigit kukunya cemas.
Tak lama kemudian, Arlan keluar karena dapat laporan dari teman setim nya yang bilang kalau Acha menunggu nya didepan. Arlan menepuk bahu Acha yang membuat Acha terlonjak kaget dibuatnya. "Kamu kenapa? Sakit? Kok pucat banget?"
Tangan kekar Arlan menangkup wajah Acha, meneliti wajah gadis itu yang semakin pucat. Dengan cepat, Acha menggeleng lalu menahan lengan Arlan saat pemuda itu hendak memeluknya kembali. "A-ada yang Acha mau bilang," Lirihnya.
"Bilang aja, sayang. Lagian kenapa kamu gak nelpon aku aja? Malah nunggu disini," Ucap Arlan seraya menarik lembut tangan Acha agar duduk di kursi tak jauh dari ruangan ganti.
Ini kebiasaan buruk Acha, disaat dirinya panik pasti dia akan sulit berpikir jernih. Bahkan dia sampai tidak berpikir tentang menelepon Arlan dan malah menunggu seperti orang bodoh. Jangan tiru Acha, karena kebiasaan itu akan sangat merugikan.
"Naβ"
"Oy, Lan! Sampe ketemu nanti malem," ucapan Acha mendadak terputus saat salah satu anggota tim basket datang menghampiri Arlan lalu mereka bertos ala laki-laki.
Arlan hanya mengangguk singkat lalu kembali duduk di samping Acha, "Lanjut sayang."
"Ar, nanti malam bisa gak kalo kamu di rumah aja? Sama aku, berdua." Ucap Acha seraya menggenggam satu tangan Arlan dengan kedua tangannya.
Kening Arlan mengernyit bingung mendengarnya, "Gak bisa sayang. Nanti malam aku mau merayakan kemenangan sama yang lainnya, gak enak kalo gak dateng. Lagian besok nya kan kita bisa berduaan," Ucapnya.
"Kalo kamu takut sendirian, mau suruh temen kamu aja buat nemenin? Gak pa-pa kok," Ucap Arlan lagi.
Acha tersenyum kecut, perasaan nya semakin tak karuan karena penolakan Arlan yang tetap memilih pergi dengan teman-temannya. "Sayang, bukan aku gak mau nemenin kamu tapi acara ini udah direncanain dari jauh-jauh hari. Atau kamu mau ikut aja?" Tanya Arlan lagi saat dia melihat wajah tak mengenakan gadisnya.
"Ikut kemana? Acara nya dimana?"
Arlan terdiam sejenak, "Aku belum tau."
"Yaudah lah, have fun."
Semoga memang cuma perasaan aku aja.
...***...
LAGI? SPAM KOMENT YUK!
See you, guys.