Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
57. Yes I'm Acha



Acha menunggu Arlan pulang kerja di ruang tamu, wanita itu telah mandi dan berdandan cantik karena ingin menyambut kedatangan suami yang sempat di abaikannya. Tak lama, deru mobil yang sudah Acha hapal di luar kepala, terdengar. Acha tersenyum, dia ingin langsung memeluk Arlan ketika pria itu membuka pintu tapi senyumnya mendadak luntur saat Arlan datang bersama seorang wanita.


Bukan hanya Acha yang terkejut, Arlan pun sama. Dia kira, Acha akan mengurung diri seperti biasanya tapi siapa menduga, jika Acha ternyata menunggunya pulang. Arlan senang, dia siap untuk memeluk istrinya sebelum suara wanita di sampingnya, terdengar mengacaukan suasana yang telah ambyar ini.


"Lan? Kok ada pacar kamu? Katanya dia enggak ada, jadi kita bisa bebas berduaan di kamar."


Mata Arlan memelotot, lancang sekali wanita itu mengucapkan kalimat yang tidak sepantasnya. "Tutup mulut Anda, Nona Chika. Saya tidak pernah berkata kotor seperti itu, terlebih pada Anda yang tidak menarik sama sekali di mata saya."


Acha sebenarnya ingin merajuk, tapi mendengar balasan dari Arlan, jiwa bar-bar yang selama ini terpendam sebab hamil, mendadak melambung tinggi kembali. "Ups, tidak menarik kata suamiku." Acha dengan sengaja menekan kata 'suamiku' karena menurut Acha, Chika sungguh pantas tahu jika Arlan adalah suaminya, bukan kekasihnya.


Apa yang Acha inginkan, terjadi. Chika memelotot kan matanya mendengar kata suami. "Kalian sudah... Menikah?"


"Iya! Anak kami sudah lahir, tapi lagi main di rumah Neneknya. Jadi, jangan coba-coba dekati suami orang. Nona Chika yang terhormat, Anda itu anak dari pebisnis hebat, malu dong kalau mau merebut suami orang." Acha memeluk lengan Arlan dengan manja, dia suka sekali menindas orang-orang seperti Chika ini. Tabiat, akan jadi calon perebut laki orang.


Dengan wajah memerah menahan malu, Chika berlari pergi meninggalkan kediaman Arlan dan Acha. Tidak dia duga jika ternyata, Arlan sudah menikah. Karena selama ini, Chika berpikir, Arlan dan Acha masih berpacaran makanya dia bisa bebas menikung. Tapi Chika cukup tau diri, dia tidak mau merusak nama baik keluarganya dengan kasus merebut suami orang.


Di tinggalkan Chika yang pergi dengan perasaan malu, Acha pun mendongak menatap Arlan, berpindah posisi di depan Arlan dengan kedua tangan memeluk pinggang Arlan. "Ar, maafkan aku. Aku tahu aku salah karena mengabaikan kamu, tidak seharusnya aku begini. Kamu juga pasti kehilangan anak kita, maafkan aku."


Di rawat selama seminggu setelah kecelakaan, dan pulang sudah selama 8 hari tapi memilih mendiamkan Arlan, kini terhitung sudah 15 hari Acha berkutat pada kesedihan. Sudah waktunya untuk Acha kembali bangkit, jangan sampai, pria seperti Arlan di gaet perempuan lain di luaran sana. Seperti titisan Chika tadi, pasti ada Chika kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya.


Arlan tersenyum, pria itu menunduk, mengecup kening istrinya begitu lama. Dia merindukan momen-momen ini, momen yang terlewat 15 hari. "Kamu enggak perlu meminta maaf, sayang. Aku juga salah dalam hal ini, karena lalai menjaga kalian."


Dirinya ingat, hari itu Arlan tengah ada rapat penting, membuat Acha di rumah sendirian dan para pelayan, sudah pulang ke rumah masing-masing. Karena persediaan minyak habis dan baru besok pelayannya belanja, tapi karena ngidam ingin goreng telur, Acha pun nekat keluar rumah sendirian. Dia tidak mungkin membawa mobil, jadi Acha memutuskan jalan kaki.


Tapi siapa sangka, jika hari itu akan menjadi hari penuh duka untuk Acha dan Arlan. Mereka kehilangan anak mereka yang sangat mereka tunggu kehadirannya. "Ar, aku gagal melahirkan anak kita."


Arlan benci air mata wanitanya, pria itu pun memeluk Acha dengan erat. Dia mengecup penuh sayang kening wanitanya, "Kamu tidak gagal. Kamu adalah wanita hebatnya aku, kamu Ibu hebat untuk anak kita."


"Ar, i love you."


"Aku lebih mencintaimu,"


...***...


Hari ini, adalah hari pertama Ardhan bekerja sebagai sekretaris Arlan. Pria itu pagi-pagi sekali sudah bangun, melaksanakan salat tahajud dan subuh bersama sang istri. Selesai salat subuh bersama, Aisyah memilih ke dapur untuk membuat makanan sedangkan Ardhan pergi ke kamar, dia ingin bermain dengan anaknya sebelum pergi ke kantor.


"Pagi anaknya Abi," Ardhan menciumi gemas wajah bulat bayinya yang sungguh tampan. "Sudah minum susu? Sudah, sayang?"


Bayi laki-laki itu bertepuk tangan, tersenyum hingga matanya menyipit ke arah Ardhan, membuat Ardhan terkekeh pelan. "Gemas banget sih anaknya Abi?"


Puas bermain dengan anaknya, Ardhan menggendong sang anak lalu pergi ke lantai bawah di mana ada Aisyah yang tangah membuatkan mereka sarapan. "Pagi, Ummi."


Aisyah menoleh, "Pagi Abi dan pagi sayangnya Ummi."


Keluarga kecilnya yang begitu harmonis terkadang membuat iri banyak orang. Ardhan yang tampan tapi tidak sombong sama sekali meski keluarganya kaya, pria itu tetap rendah hati. Aisyah yang cantik dengan hijabnya dan begitu lemah lembut pada siapa pun, mereka dianggap sebagai suami istri milenial yang patut di contoh.


Mereka sarapan dengan Aisyah yang memangku si bayi tampan, selesai sarapan, mereka menyempatkan untuk ngobrol di ruang tengah sambil menunggu Ardhan pergi ke kantor barunya. "Bi, nanti aku sama Arkan mau pergi ke rumah Ummi dulu ya. Aku kangen sama Ummi,"


"Kalau kamu cape, mending enggak usah, Mas. Nanti aku pulang naik taksi aja sama Arkan berdua,"


"Jangan naik taksi, nanti aku jemput pokoknya."


"Iya-iya oke,"


Ardhan mengecup kening istrinya, juga mengecup seluruh wajah bayinya sebelum pamit pergi ke kantor baru.


"Dadah! Hati-hati, Abi!"


...***...


"Makan, Lin!"


Rhaline menatap piring di hadapannya, wanita berperut buncit itu menggeleng. "Makan! Lo mau melahirkan sebentar lagi, cuma tinggal hitungan hari, kenapa susah banget sih di atur?!"


Matanya memandang Athar dengan tatapan sedih, "Maaf, Riq."


Athar mengusap wajahnya kasar, pria itu sudah cukup sabar menghadapi Rhaline yang menguji kesabarannya. Tanpa kata, Athar pergi meninggalkan Rhaline yang menunduk. Wanita itu ikut berdiri, lalu pergi dengan tatapan kosongnya. Athar selalu bertanya, siapa Ayah dari bayi yang dirinya kandung, tapi selama ini, Rhaline selalu bungkam.


Bukan tidak mau jujur, dia sangat mau! Dia butuh tempat untuk bercerita, menjadi sandaran di antara bebannya yang menggunung. Tapi Rhaline takut merusak suasana yang sudah berantakan ini. Rhaline hanya bisa menyembunyikan segalanya sendirian, sedih sendirian, bahkan hancur pun sendirian.


Tak terasa, Rhaline tiba di sebuah taman. Wanita itu duduk di salah satu kursi besi, menatap kosong ke depan sampai matanya tidak sengaja melihat siluet seseorang yang tidak asing di matanya. Rhaline berdiri, berjalan menghampiri seorang wanita yang tengah menggendong bayi, yang tidak lain, Aisyah dengan baby Arkan.


"Mbak Aisyah?"


Aisyah membalikkan tubuhnya, "Rhaline?" Sejenak, Aisyah termangu dalam diam. Dia tahu, betapa cintanya Ardhan pada Rhaline. Dia pikir, Rhaline masih diluar negeri, makanya dia mau saat di ajak pindah ke Indonesia. Tapi setelah melihat Rhaline di depan matanya, Aisyah mendadak sedih, takut jika Ardhan akan berpaling kepada Rhaline kembali.


"Mbak sudah melahirkan?" Rhaline tersenyum, "Maaf ya, Mbak. Aku belum sempat jenguk saat Mbak lahiran,"


"Enggak apa-apa, Lin." Pandangan Aisyah beralih pada perut besar Rhaline, "Kamu hamil? Kapan menikahnya, Lin?"


Melihat perut besar Rhaline, tidak di sangka, sekelebat rasa lega hadir di hatinya. "Sudah lumayan lama, Mbak."


"Maa syaa Allah, sehat-sehat ya bayi dan Ibunya."


"Amin, terima kasih, Mbak."


"Kapan-kapan jangan lupa main ke rumah ya, Lin. Kali aja kamu kangen sama Mas Ardhan,"


Senyum Rhaline lenyap, Ardhan? Laki-laki yang sangat di cintainya dulu, laki-laki yang terpaksa harus menikahi Kakak iparnya sendiri sebab Kakak kandungnya yang menjadi suami Aisyah harus meninggalkan dunia ini. Dulu, Rhaline sangat terpuruk, melihat laki-laki yang di cintainya menikahi wanita lain.


Tapi sekarang, hatinya telah terkunci pada Athar yang tidak mungkin mencintainya balik. Betapa mirisnya percintaan Rhaline, entah saat bersama Ardhan atau pun Athar.


...***...