Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
29. Yes I'm Acha



...H E L L O !👋...


...~ H A P P Y R E A D I N G ~...


...***...


Drrt...


Suara dering ponsel yang menandakan adanya panggilan telepon terus menganggu tidur Arlan yang membuat pemuda itu membuka mata dengan perasaan kesal bukan main. Satu tangan Arlan meraba-raba nakas mencari dimana ponselnya.


Dirinya tak bisa membalikan badan karena ada Acha yang tertidur dengan lengannya sebagai bantalan juga Acha yang memeluk nya erat. Untuk tempat tinggal, keduanya sudah 3 hari ini tinggal di rumah milik Arlan. Rumah yang sengaja Arlan buat sesuai desain kesukaan Acha.


Jadi saat Acha mendatangi rumah baru mereka untuk pertama kalinya, Acha langsung suka tanpa berniat komplain. Jadi mereka memang sudah tinggal serumah, tentu memiliki kamar masing-masing. Tapi untuk malam ini, Acha sendiri yang meminta Arlan agar tak meninggalkan nya sendiri.


Jangan tanya kenapa Arlan bisa tahu bagaimana desain buatan Acha, karena apapun yang ingin Arlan tahu, dalam waktu kurang dari 5 menit maka semua keinginan tahunya sudah bisa dia ketahui semuanya. Kuasa seorang Arlan memang tak bisa dibilang main-main.


Kening Arlan mengernyit bingung saat melihat nama Erosi yang tertera dilayar, dan yang semakin membuat Arlan bingung adalah Erosi yang menelpon nya di jam setengah 1 hampir pagi. Tak ingin berpikir lebih, Arlan pun segera menerima panggilan itu.


"Ad—"


"PAK KULKAS!! Markas diserang, kesini cepat Pak!! Si Pak Bos sama si Lele gak ada di markas, mereka gak tau dimana."


Arlan berdecak pelan, "Otw."


Tutt.


Dengan amat sangat terpaksa, Arlan memindahkan kepala Acha keatas bantal dengan sangat hati-hati karena takut membangunkan gadis itu. Setelah berhasil, Arlan pun segera pergi ke kamarnya untuk mengambil jaket juga kunci motor.


Selama diperjalanan, Arlan terus melajukan motornya dengan kecepatan tinggi bahkan tak segan Arlan terus menyalip kendaraan didepannya. Tak butuh waktu lama, Arlan pun tiba di markas khusus anak-anak ZHS yang kini tengah diserang geng Bedros.


Arlan mendengus pelan lalu ikut bergabung, dibelakang seseorang yang dirinya tak kenali, Arlan menendang punggung seseorang itu hingga terjatuh. Tak sampai sana, Arlan pun lanjut menginjak dada seseorang itu hingga terbatuk dan di injakan kedua, kesadaran seseorang itu menghilang.


Hampir menumbangkan sebagian dari mereka, Arlan mendadak menghentikan gerakan nya saat suara seseorang terdengar. Arlan menegakkan punggungnya lalu menatap dingin nan intimidasi pada seseorang itu, "Lo! Lo harus tanding balap sama gue! Kalo lo kalah, lo harus suruh Bos lo itu sujud di kaki gue!"


Erosi dan Gempa yang mendengarnya pun langsung bertukar tatap, "Idih najisin! Udah mau kalah segala ngajak balapan, situ waras?" Ejek Erosi seraya bertos ria dengan Gempa.


Seseorang yang tak lain tak bukan adalah Ketua baru Bedros pun hanya bisa mengepalkan tangannya erat, "Kalo lo nolak berarti gue anggap lo kalah!" Ucapnya lagi tanpa tau malu.


Gempa terbahak, "Licik amat pikiran lo wahai anak muda."


"Lo di—"


"Gue terima," Ucap Arlan yang langsung memutuskan ucapan seseorang itu.


Sesuai apa yang Ketua Bedros tantang, kini mereka sudah berada di sirkuit, tempat balapan yang mereka lakukan akan dilaksanakan. Arlan sudah siap diatas motornya begitu pun dengan si ketua Bedros yang senantiasa tersenyum licik.


Tak lama, seorang perempuan berpakaian seksi melangkah ketengah jalanan dengan bendera ditangannya. Bendera ditangan perempuan itu mulai terangkat dan saat si perempuan hendak berteriak mendadak urung kala seseorang datang dengan motor sport yang dikendarai nya.


Suara deru motor yang terdengar berhasil mengalihkan perhatian Arlan juga si Ketua Bedros, mereka menoleh lalu menatap penasaran pada siapa seseorang itu. Seseorang yang masih memakai piyama tidur, kok sepertinya Arlan mengenal seseorang itu? Tapi dengan segera Arlan menggelengkan kepalanya.


Disisi seseorang itu, sudut bibir nya tertarik membentuk senyuman sinis lalu mulai membuka helm fullface nya dengan gerakan lambat. Dan disaat helm sudah terbuka, rambut panjang nya langsung tergerai bersamaan dengan wajah cantiknya yang terlihat mempesona.


Mata Arlan membola terkejut sedangkan si Ketua Bedros memelotot penuh kekaguman. Melihat reaksi mereka semua, Acha menggeleng pelan lalu mengas motornya mendekati posisi Arlan dan si Ketua Bedros dengan satu tangannya yang terdapat helm.


Acha menghentikan laju motornya tepat ditengah motor dua lelaki itu, lalu Acha menatap sinis pada Ketua Bedros. Tadi, saat Arlan menjawab telepon, Acha sudah terbangun dan memilih pura-pura tidur sampai Arlan meninggalkan nya. Melihat Arlan pergi, Acha pun mengikuti nya dan memilih naik motor baru Arlan yang baru saja datang malam tadi.


Jadi tentu Arlan belum mengenali tentang motor barunya. Acha yang masih dengan piyama tidurnya pun langsung memakai kembali helm fullface nya, lalu membuka kaca helm nya. Acha kembali menoleh menatap si Ketua Bedros yang tak pernah lepas memandang dari wajah cantiknya.


"Orang licik perlu diajak main cerdik, right? So, Babe come here." Acha menoleh menatap Arlan lalu memberi kode agar Arlan naik di belakangnya.


Arlan yang melihat itu pun hanya menurut dan berdiri di samping Acha, "Naik."


"No, aku aja yang bawa." Ucap Arlan yang malah membuat Acha menatapnya tajam, melihat tatapan Acha, Arlan pun tak bisa membantah kembali. Dasar bucin!


Dengan niat setengah hati, Arlan pun naik ke jok dibelakang Acha dengan helm yang tetap terpasang di kepalanya. "Let's go," Ucap Acha yang membuat perempuan berpakaian seksi itu mulai mengangkat bendera nya.


Two...


Three...


GO!!!


Acha langsung menginjak penuh gas motornya, dirinya enggan bermain-main apalagi adu skil, jadi lebih baik mempercepat menyelesaikan balapan ini dan dirinya bisa tidur dengan nyenyak. Ditikungan kedua, Acha melihat ada sebuah cahaya lampu yang menyorot dengan begitu terang. Acha tersenyum sinis menatap si ketua Bedros yang ada dibelakang motornya.


Mana ada truk di sirkuit, rencana murahan. Batin Acha seraya menatap tajam pada mobil truk didepannya.


Arlan yang juga melihat mobil truk itu pun langsung memelotot kan matanya kaget, "Sayang banting stang ke arah kiri!"


Mata Acha melirik ke sisi kirinya yang terdapat tiang, "Mati dong."


"Sayang, please hati-hati!" Ucap Arlan dengan perasaan khawatir yang menggebu.


Lirikan tajam dari mata Acha semakin berkilat, kalau dirinya nekat membanting stang ke sisi kanan, maka kemungkinan dirinya akan terjatuh karena matanya bisa melihat tentang minyak dan oli yang sengaja dituangkan agar ban motornya meleset dan terjatuh. Acha berdecak pelan.


"Ar, pegangan yang erat!"


Setelah memastikan Arlan memeluk pinggang nya dengan erat, Acha langsung menurunkan satu kakinya dan segera memutar stang nya. Hampir saja mobil truk itu menabrak nya, tapi Acha sudah lebih dulu melajukan motornya dengan mobil truk itu yang berada dibelakang. Acha tersenyum senang dan menghentikan motornya ditempat awal mereka tadi.


"Sayang!"


Acha membuka helm nya dan segera menolehkan kepalanya kebelakang, Acha hendak membuka suara namun urung saat Arlan melahap bibirnya dengan menggebu. "Astaga, hampir aja aku jantungan."


Mendengar ucapan Arlan, Acha terkekeh pelan lalu kekehan nya pudar saat dirinya melihat si ketua Bedros yang tengah berjalan mendekat dengan raut tanpa rasa bersalah. Acha melepaskan tangan Arlan dari pipinya lalu berjalan turun menghampiri si Ketua Bedros tanpa mendengarkan panggilan dari Arlan.


"Cowok menjijikan kayak lo gak pantes hidup," Ucap Acha dengan nada sinis nya.


Si Ketua Bedros tersenyum manis menatap Acha, "Jangan galak-galak dong nanti aku jadi makin suka. Emang nya kamu mau tanggung jawab?"


Dari pupil matanya, Acha bisa melihat Arlan yang berjalan mendekat dengan tangan terkepal erat. Acha mengangkat kepalan tangannya, meminta Arlan agar tetap diam ditempat. Arlan mendengus, mau tak mau dirinya harus menurut karena Arlan tidak mau Acha marah padanya.


"Menyabotase motor cowok gue, mendatangkan truk buat nabrak cowok gue, terus apa lagi hm?" Acha menaikan satu alisnya menatap wajah tegang si ketua Bedros.


Acha melangkah maju lalu berdiri di samping si ketua Bedros dengan wajahnya yang berada tepat di samping wajah si ketua Bedros. Acha menatap lurus ke depan lalu berbisik, "Lo salah cari lawan dude." bisiknya dengan suara rendah.


Diam-diam, Acha mengeluarkan sesuatu dari saku piyamanya dan tanpa sepengetahuan mereka semua, Acha menusukan jarum suntik itu ke lengan bagian belakang si ketua Bedros. Tak sampai 5 menit, tubuh si Ketua Bedros bergetar hebat dengan rona merah yang mulai menjalar ke seluruh tubuh.


Acha memundurkan langkahnya, menikmati apa yang tengah si ketua Bedros rasakan. Tubuh si ketua Bedros bukan lagi memerah tapi secara perlahan, kulitnya mulai mengelupas dengan sendirinya. Bibir si ketua Bedros terlihat membiru dengan matanya yang memelotot.


Semua orang yang ikut datang ke sirkuit menatap takut juga bingung pada si ketua Bedros yang kini terlihat sangat mengenaskan, Acha melirik kearah Arlan yang membeku. Karena perbedaan tinggi keduanya, Acha harus berjinjit agar bisa berbisik ditelinga Arlan.


"Jangan main-main, sayang. Aku gak suka laki-laki penghianat," Bisik Acha dengan suara yang terdengar lembut tapi juga tegas.


"S-sayang,"


"Yes i'm Acha, babe."


...***...


Hayoloh, siapa tuh si Acha sebenarnya??


Main tebak-tebakkan skuy!


Btw, Acha-Arlan belum kita kasih konflik loh. Kira-kira bagusnya kayak gimana??


Spam koment yuk, beb!!


Sekian, terima gaji and bye.