Yes I'M Acha

Yes I'M Acha
32. Yes I'm Acha



...H E L L O !👋...


...~ H A P P Y R E A D I N G ~...


...***...


..."Ketika obsesi yang menghancurkan mu, dia, dan mereka."...


...***...


• 19.40 WIB


Acha mengusap lembut rahang tegas Arlan yang tengah berjongkok didepannya dengan dirinya yang duduk di sofa, Acha tetap mencoba tenang walau perasaan nya semakin kacau balau bak ditabrak kapal pesiar.


"Janji sama aku kalau kamu akan baik-baik aja?" Tanya Acha dengan nada lembut yang pernah dirinya tunjukan dan itu hanya kepada sosok Arlan.


Pemuda itu menganggukkan kepalanya, "Aku coba buktikan sayang."


"Good boy,"


Selepas kepergian Arlan yang katanya ke suatu tempat yang teman-temannya sudah kirim dimana alamatnya. Sedangkan Acha yang ditinggal kan pun langsung mengambil ponselnya yang berbunyi sejak tadi.


Yujin is calling ...


Kening Acha berkerut, tumben sekali. "Kenapa, Yujin?"


"Main yuk! Gue kirim lokasinya ya!"


"Oke."


Tutt.


Sebelum naik ke kamarnya, Acha menyempatkan untuk membuka ponselnya dan membuat tanda pemberitahuan. Setelah selesai, Acha pun segera naik ke kamarnya untuk berganti baju karena saat ini dirinya hanya memakai piyama tidur dengan celana pendek diatas lutut.


Pilihan Acha terjatuh pada celana leggings hitam panjang dipadukan dengan hoodie, tidak lupa dia memakai masker dan juga topi andalan nya. Merasa semuanya sudah siap, Acha pun segera keluar rumah dan menunggu taksi yang sudah dirinya pesan.


Mobil? Arlan sudah bilang pada Acha kalau ingin membawa mobil sendiri, Acha tinggal pilih di garasi atau kalau mau pakai supir, Acha bisa minta langsung dengan Arlan dan Arlan akan memerintahkan salah satu bodyguard nya untuk menjadi supir pribadi Acha. Tapi Acha menolak dengan alasan, naik taksi lebih nyaman.


Didalam taksi, Acha menyempatkan untuk melihat tanda pemberitahuan yang dirinya buat tadi. Kening Acha berkerut saat melihat tujuan Arlan sama dengan tujuan nya. Ya, saat Arlan mandi tadi, Acha meminjam ponsel Arlan lalu menyalakan lokasi agar Acha bisa dengan mudah mengetahui kemana Arlan pergi.


Karena tidak tahu tempat apa yang mereka berdua akan tuju, Acha pun bertanya pada supir itu. "Pak, Bapak tau kemana tujuan kita sekarang?" tanya Acha seraya memajukan sedikit tubuhnya.


Si supir terlihat melirik Acha dari spion depan, "Mba nya gak tau? Sesuai arahan, Mba, kita akan berhenti tepat di club xxx."


Deg.


Mata Acha memelotot kaget, dirinya tidak tahu kalau Arlan juga kesana. Untuk apa Yujin memintanya datang ke tempat itu? Acha kira, Yujin anak baik-baik yang tidak akan mengenal tempat haram satu itu. Tapi dia malah mengajak Acha juga Adele kesana. Aneh sekali.


Sebenarnya Acha ingin balik lagi saja kerumah tapi dirinya tiba-tiba kepikiran Arlan, kayaknya dia memang harus tetap kesana agar bisa memastikan keadaan Arlan sejenak. Acha pun menyandarkan punggungnya nya di


sandaran kursi lalu mengeluarkan kaca mata hitam dari saku hoodie nya.


30 menit setelahnya, Acha telah tiba didepan tempat yang menurutnya tak pantas untuk anak seusia nya datangi. Dengan sangat terpaksa, Acha turun dari taksi sambil merapikan masker dan kaca matanya. Diluar taksi, Acha juga tidak lupa memasang tudung hoodie nya.


Saat ini, Acha lebih terlihat seperti orang yang akan menggerebek saja. Berpakaian super tertutup, bahkan wajahnya juga tertutup. Dan saat pertama kali memasuki tempat itu, Acha dibuat meringis saat suara memekang telinga berhasil mengejutkan nya. Acha terus berjalan dengan setenang mungkin.


"Lo kaya penguntit aja njir, pakaian nya tertutup beut!" Kekeh Adele seraya menenggak satu sloki berisi minuman dengan kadar alkohol rendah.


Memang benar, hanya Acha dari sekian banyak perempuan yang memakai outfit super tertutup. Yujin, gadis itu memakai rok mini jauh diatas lutut dipadukan dengan crop top tali spaghetti. Sedangkan Adele memakai dress pas badan tanpa lengan yang pendek nya jauh diatas lutut. Acha baru kali ini melihat penampilan berbeda dari mereka.


"Pesen apa? Wine mau?" Tanya Yujin yang dibalas gelengan dari Acha.


"Gue gak minum gituan," Ucapnya jujur.


Ya, Acha memang tidak menyukai minuman beralkohol. Jangankan alkohol, soda saja Acha tidak suka. Acha tuh pecinta cokelat-cokelatan dan juga teh-tehan, atau susu-susuan. Karena apa? Karena dirinya punya riwayat asam lambung, jadi agak gimana gitu kalau harus minum alkohol or soda.


"Gak asik nih! Kita mau joget dulu, lo mau ikut?" Tanya Adele seraya mengandeng tangan Yujin.


Acha kembali menggeleng yang dibalas anggukan dari kedua gadis itu, kedua gadis itu pun mulai masuk ketempat khusus berjoget ria meninggalkan Acha sendirian. Tepat di jam setengah 9 malam, Acha merasa ada sesuatu yang aneh dari seseorang. Acha pun berdiri, tidak lupa dia memperbaiki masker nya agar tak ada yang mengenali siapa dirinya.


Refleks, Acha tersenyum dibalik tembok saat seseorang itu menghentikan langkahnya. Saat suara derap langkah kaki mulai terdengar kembali, Acha pun kembali mengikuti dari belakang. Kening Acha berkerut bingung melihat seseorang itu yang mengeluarkan ponsel didepan sebuah kamar.


"Gimana? Rencana berjalan lancar?"


"Bagus! Gue tunggu dikamar 008, inget! Kamar yang lainnya kunci!!"


Tak lama setelah seseorang itu yang masuk kedalam ruangan, seseorang yang lainnya datang dengan keadaan kacau. Acha terbelalak kaget melihat ternyata Arlan yang tengah berjalan sempoyongan, tanpa berpikir panjang, Acha berlari mendekat, menahan Arlan yang hendak masuk ke kamar 008.


"Ar!" Acha menahan lengan Arlan lalu menatap tepat pada manik mata tajam Arlan yang terus bergerak gelisah.


"Panas," Lirih Arlan dengan wajah yang semakin memerah.


Acha hendak membuka suara namun urung saat seseorang menarik lengannya kebelakang, sontak Acha berbalik lalu menatap tajam pada seseorang itu. Dengan bantuan tinggi mereka yang sejajar, Acha menarik kerah kemeja berantakan seseorang itu lalu menatapnya penuh intimidasi.


Bugh!


"Bajingan! Apa yang lo kasih ke cowok gue anjing?!" umpat Acha setelah berhasil membuat seseorang itu jatuh tersungkur.


Acha menyeringai, lalu berjongkok di samping seseorang itu. "Lo dengar, gue gak bakal biarin lo hidup setelah apa yang lo lakuin ke cowok gue!" Sambung Acha yang berhasil membuat seseorang itu membeku.


Tak peduli dengan ke terdiaman seseorang itu, Acha berdiri lalu mendekat kearah Arlan yang terus bergerak gelisah dengan wajah yang semakin memerah juga kabut penuh gairah yang terlihat jelas dari sorot mata tajamnya. Acha menghela napasnya pelan lalu berjinjit didepan Arlan.


Mata Acha terpejam, menghirup bau alkohol dari mulut Arlan. Setelah mengetahui sesuatu, Acha kembali memundurkan langkahnya saat Arlan hampir mencium nya. Dengan gerakan cepat, Acha menginjak kaki seseorang itu yang hendak pergi.


Obat perangsang? Sialan! Batin Acha seraya menatap dingin pada seseorang itu yang kini menatap nya takut.


...***...


Apa dari kalian ada yang pernah nebak tentang konflik antara Arlan dan Acha, yang aku buat seperti diatas?


Sayang nya aku, aku gak akan kasih kesempatan untuk para pelakor merajalela. Mereka hanya menjadi pemanis aja yang besok juga mati—eh?


Tapi ga tau juga ya, kali aja aku berubah pikiran.


Jadi buat kalian yang gak suka konflik mentok ke pelakor atau cowok nya yang berpaling. Bersyukur lah kalian, karena aku juga gak suka konflik kayak gitu sebenarnya. Jadi kalian akan aman buat tim shipper AcAr. Tapi ga tau nanti...


Spam koment yuk!!


See you, guys!