
"SIALAN! KENAPA BEGINI?!"
Chika mengacak rambutnya frustasi, dia gagal dalam seleksi menjadi model sebuah perusahaan entertainment terbesar, padahal sejak awal, poinnya selalu yang paling tinggi tapi kenapa saat babak akhir, Chika malah gagal? Dia sungguh malu, sudah kepalang pamer pada teman-temannya, pasti setelah ini, mereka semua akan meledeknya habis-habisan.
Dengan kecepatan tinggi, Chika terus mengumpat kasar, sampai tidak melihat adanya tumpahan minyak di jalanan. Ban mobilnya tergelincir, Chika gagal mengendalikan sampai pada akhirnya, mobil yang Chika tumpangi, menabrak pembatas jalan. membuat tiang pembatas jalan, menembus ke dalam mobil, menusuk tubuhnya yang langsung mati di tempat.
Semua warga sekitar, berbondong-bondong melihat pengemudi yang mengenaskan. Tidak ada yang berani mendekat, mereka memilih untuk menunggu polisi datang yang langsung menindaklanjuti kecelakaan tunggal yang Chika alami. Kecelakaan ini, di tetapkan sebagai kecelakaan murni bukan sabotase atau apa pun itu.
Sehari setelah Chika di kebumikan, keluarganya memutuskan untuk pindah ke luar negeri. Acha? Wanita itu sempat sebal karena dia belum sempat balas dendam, Chika sudah lebih dulu bertemu dengan mautnya. Beberapa hari ini, Acha menyibukkan dirinya dengan terus berlibur bersama Arlan, bahkan pria itu, sampai melimpahkan segala pekerjaan ke Ardhan sebagai sekretaris dan Jo sebagai tangan kanannya.
Di sisi lain, Andrija baru selesai rapat bersama beberapa kolega bisnisnya. Pria yang hampir berusia 48 tahun itu menghela napasnya pelan, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya sembari memijat pelipis. Kepalanya terasa penuh bukan main, dia ingin terlepas dari jerat masalah tapi masalah hanya akan selesai kalau waktunya di dunia juga selesai kelak.
"Tuan, ada yang ingin menemui Anda."
Sekretarisnya memberikan informasi, yang langsung Andrija pinta agar seseorang yang ingin bertemu dengannya, masuk ke dalam. Ketika seseorang itu masuk, Andrija menghela napasnya kembali. Pria itu berdiri dari duduknya, berjalan menghampiri seseorang itu. Merangkul pinggangnya, lalu membantu seseorang itu untuk duduk di sofa.
"Bagaimana? Kamu sudah punya keputusan?" Dengan sangat lembut, Andrija mengusap pipi wanita di sisinya, ya, yang datang ke ruangannya adalah seorang wanita.
Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Andrija, "Aku takut akan membuat suasana semakin runyam. Aku takut,"
Apa yang wanita itu takutkan, sama seperti apa yang Andrija takutkan. Andai malam itu dia tidak mabuk dan berakhir bermalam dengan seorang wanita, Andrija pasti tidak akan terjebak di situasi seperti ini. Apalagi, wanita itu bukanlah orang jauh melainkan... Istri dari keponakannya sendiri. Andrija pusing, memikirkan kehamilan wanita yang kehormatannya dia renggut dan juga rumah tangganya bersama Letizia.
Belum lagi, tentang, "Bagaimana anak kita? Dia baik-baik saja di kandunganmu? Dia tidak merepotkanmu kan?"
Wanita itu tersenyum, "Dia akan jadi anak baik."
Keduanya saling menyelami keindahan mata masing-masing, entah siapa yang memulai, tapi bibir keduanya perlahan bertemu. Saling men ci um dengan begitu lembutnya sampai sama-sama terlena. Di saat tengah mabuk kepayang, pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba.
"Andrija?!"
Pria tua itu, Tuan Robin, menyentuh dadanya yang sesak. "Rhaline, Andrija... Kalian,"
Andrija dan wanita itu, Rhaline, langsung menjauhkan masing-masing diri mereka. Menatap terkejut kedatangan Tuan Robin, "Astaga, jantungku."
Melihat Ayahnya kesakitan, Andrija lekas mendekat, "Pah? Papa!"
"Menjauh! Apa yang kau lakukan anak sialan?!"
Belum selesai kekesalannya, Tuan Robin sudah lebih dulu kehilangan kesadarannya. Pria itu itu pingsan yang langsung Andrija dan Rhaline bawa ke rumah sakit, "Mas. Bagaimana ini? Aku takut,"
Andrija menggenggam jemari wanitanya, "Semua akan baik-baik saja. Setelah ini, jika keluarga aku tahu, aku akan langsung menikahi kamu."
"Terus Tante Letizia gimana?! Kamu jangan ngaco, Mas!"
Astaga, Andrija lupa, dia memiliki Letizia di rumah meski hubungan mereka tidak baik. "Itu urusan aku, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Urus dulu perceraian kamu dan Ariq, aku juga akan berbicara pada Letizia nanti."
"Rhaline?! Kamu mau melahirkan?!"
Di satu waktu yang tidak terduga sama sekali, Rhaline dan Ayahnya sama-sama masuk rumah sakit dengan kasus berbeda. Andrija tidak bisa menemani Ayahnya, dia harus menemani Rhaline yang kini akan di bawa ke ruang operasi. "Mas, aku takut. Nanti kalau Ariq,"
"Jangan banyak pikiran, fokus pada kelahiran bayi kita saja. Oke?"
Rhaline mengangguk.
...***...
Athar datang ke rumah sakit dengan raut wajah khawatir, dia sungguh mengkhawatirkan Rhaline yang di anggapnya sebagai Adik sendiri. Ya, cinta dalam hati Athar telah habis hanya untuk Acha. Dia menjaga Rhaline, sebab sangat menyayanginya selayaknya Adik kandung sendiri.
"Om?" Ketika baru masuk, Athar di kejutkan dengan Andrija yang tengah menggendong bayi Rhaline.
Andrija menoleh, "Kamu sudah datang?"
Pria itu terlihat tenang dan terus menimang bayi yang Athar yakin, jika itu bayi Rhaline. "Apa hal yang kalian sembunyikan dari aku? Om? Lin?"
Ceklek.
Pintu kembali terbuka, Athar menyingkir ke sisi lain. "Andrija? Kenapa kamu... Menggendong cucuku?"
Andrija menghela napasnya pelan, pria itu menaruh bayinya bersama Rhaline ke dalam box bayi. Sedangkan di luar ruangan, saat mendapat kabar jika Ayah mertuanya masuk rumah sakit, Letizia bersama kedua iparnya langsung bergegas ke rumah sakit. Ketiga wanita itu terburu-buru menuju ruangan Tuan Robin, sebelum sebuah percakapan, menghentikan langkah Letizia.
"Bayi yang Rhaline kandung adalah bayiku,"
"Andrija? Kau gila!! Apa yang kau lakukan dengan putriku?!"
Di depan pintu, Letizia merasa tubuhnya begitu lemas. Andaikan tidak di tahan kedua iparnya, Letizia sudah pasti jatuh ke atas lantai yang dingin. "Andrija,"
Mendengar ada suara yang memanggil namanya, Andrija menoleh. Pria itu membeku terkejut, melihat Letizia yang berdiri dengan bantuan. "Zia, Zia, tolong dengarkan penjelasan aku."
"Jelaskan," Letizia mencoba tetap kuat, meski hatinya sudah hancur berkeping-keping.
Wanita itu masuk ke dalam ruangan Rhaline yang terasa tegang sekali, jelas, karena kejadian ini sama sekali tak Andrija duga akan terjadi sekarang. "Letizia, aku enggak tau apa yang kamu dengar tadi, tapi yang pasti, Rhaline memang mengandung anakku dan anak yang baru lahir itu, anak kandungku." Andrija menjelaskan perihal kejadian satu malam yang membuahkan hasil, tanpa di lebihkan atau pun di kurangi.
Rhaline hanya diam di atas brankarnya, dia sudah siap mendapat cacian dari Letizia dan kekecewaan dari orang tuanya. "Ini kesalahan aku, kamu boleh marah ke aku, tapi tolong jangan salahkan Rhaline apalagi anak kami."
Anak kami? Letizia tersenyum miris mendengarnya.
"Andrija, mari bercerai."
...***...