
...H E L L O !👋...
...~ H A P P Y R E A D I N G ~...
...***...
Instagram.
...
2.344 likes...
chikapra so handsome🤩😘
23.466 comments.
fansArlan kalo aja ada tombol dislike, udah gue dislike tuh caption sekebon.
fansarlansejati emotnya pliss! Jijik anjir!!!
lambegosip dia bukannya mantan nya Mas Ganteng?
pacararlantpiboong WARNING!! DIA BUKAN MANTAN ARLAN WOY! DIA ITU TITISAN ULET BULU YANG KAGAK TAU MALU!! MANA SUDI PACAR HALUAN GUE PERNAH JADIAN AMA TUH CEWEK!!
Other...
Diatas ranjang, Acha mendengus kesal sambil terus membaca komentar tentang foto Arlan yang diupload diakun seorang perempuan yang Acha tak kenali siapa dia. Tadi Acha dapat informasi dari Roy, makanya dia bisa tahu tentang akun yang meng-upload foto Arlan.
Hanya dengan piyama tidur sepanjang paha, Acha berjalan menuju balkon kamarnya lalu berdiri didekat pembatas balkon tanpa memperdulikan tentang hawa dingin yang menusuk kulitnya. Acha menghela napasnya kasar, lalu mulai mengatur emosinya yang sedikit tak beraturan.
Ditempat lain,
Arlan terlihat baru saja keluar dari dalam lift dengan Jo, Maria, dan juga Chika. Chika sendiri adalah anak rekan kerja Arlan yang malam ini datang sebagai wakil Ayahnya yang tidak bisa datang karena sakit. Dengan berpenampilan yang cukup menguji jiwa seorang laki-laki, Chika terlihat terus berjalan berdekatan dengan Arlan.
Sedangkan Arlan sendiri, pemuda itu hanya tak acuh karena yang terus memenuhi pikiran dan hatinya hanyalah wanitanya. Jadi mau Chika tak memakai pakaian sekalipun, Arlan tak akan berminat. Yang ada malah jijik dan ingin rasanya memusnahkan makhluk bernama perempuan satu itu.
Tak berbeda dengan Arlan, Jo pun merasa demikian. Mungkin memang hanya mereka berdua yang tak berminat pada Chika, meskipun tubuh Chika seindah apapun. Karena nyatanya, hampir seluruh mata para pria yang ada disekitar mereka tak pernah lepas menatap kemana Chika pergi kecuali Arlan dan Jo. Dua manusia es dan anehnya, Maria bisa tahan bekerja dengan dua orang es itu.
"Tuan muda, maaf mengganggu waktunya." Ucap Maria yang berhasil membuat langkah Arlan terhenti sejenak lalu kembali lanjut saat dia merasa risih dengan Chika yang terus saja mendekatinya.
Mata wanita berusia 28 tahun itu melirik sekilas kearah Jo yang dibalas anggukan dari Jo sebagai tanda persetujuan, "Maaf lancang Tuan muda. Tapi pagi tadi, Nona muda menelpon dan menanyakan Tuan muda."
Dan ya, langkah Arlan langsung terhenti dan segera berbalik menatap Maria. "Apa yang kau katakan?" Tanya Arlan dengan tatapan tajam juga dinginnya.
Meneguk perlahan air liurnya, lantas Maria mulai memberanikan diri berucap. "Saya bilang kalau saya itu sekretaris, Tuan muda. Dan Tuan muda sedang melaksanakan meeting penting," Ucap Maria tanpa adanya kebohongan.
Arlan mengangguk pelan, dirinya yakin kalau wanitanya tak akan bertindak lebih sebelum tahu kenyataannya. "Jo, urus kepulangan ku ke Jakarta sekarang. Dan tolong terus pantau pergerakan mereka," Ucap Arlan.
Tanpa menunggu balasan dari Jo, Arlan berjalan lebih dulu karena dirinya sudah benar-benar risih saat Chika terus saja berusaha mendekati nya. Bahkan dengan lancangnya, Chika masuk kedalam mobil yang Arlan tumpangi dan duduk di samping Arlan dengan senyum menggoda nya.
"****," Umpat Arlan seraya mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Acha melalui panggilan video.
Angkat dong, sayang. Ini ada jin jadi bantu aku ngusir dia, batin Arlan.
Diseberang sana, Acha terlihat melirik sekilas kearah ponselnya lalu mengangkat bahunya tak acuh. Tapi entah dorongan darimana, Acha malah menerima panggilan itu dan segera berjalan masuk kedalam kamarnya dengan ponsel yang menunjukan ke sembarang arah.
Disisi Arlan, pemuda itu menahan senyum senang nya saat Acha menerima panggilan darinya. Kalau begitu, mari buat titisan ****** satu itu kapok dan berhenti berniat mendekatinya.
"Sayang, lagi dimana?"
Acha mengubah kamera nya menjadi kamera depan lalu tersenyum, "Dikamar. Kamu kapan pulang, Ar?"
"Secepatnya, sayang. Anak kita gimana? Gak rewel kan? Gak buat kamu cape kan?"
Sedangkan Chika yang mendengar kata 'anak kita' pun langsung memelotot kan matanya terkejut, dirinya tambah terkejut saat mendengar pembicaraan dua orang itu selanjutnya. Pembicaraan yang seakan mereka tak menganggap nya ada.
Mengerti maksud dari Arlan, Acha terkekeh pelan. "Anak kita pengertian, katanya dia kangen di jenguk sama Daddy nya."
Arlan menggigit bibir bawahnya, begini saja dirinya sudah ingin cepat-cepat pulang, oh astaga. Kenapa hati dan tubuhnya begitu baperan? "Tunggu aku pulang, sayang. Dan buat anak Daddy, nanti Daddy akan jenguk tapi gak boleh minta selesai ditengah jalan!"
Memutar kamera menjadi kamera belakang, Acha memperlihatkan perut buncitnya lalu mengelus nya lembut. Sedangkan Chika yang penasaran pun langsung melirik sekilas dan setelah melihat nya, Chika langsung keluar dari mobil Arlan dengan tangan terkepal erat juga wajahnya yang memerah.
Selepas kepergian Chika, Jo dan Maria masuk kedalam mobil yang sama dengan Arlan dan segera melaju pergi menuju bandar udara. Arlan memutuskan sambungan nya bersama Acha tepat saat mobilnya sudah tiba diarea bandar udara.
"Kamu tutup, sayang. Nanti aku telepon lagi, oke?"
"Oke, aku tutup ya. Bye Ar!"
"Bye, love you!"
"Love you too."
Tutt.
...***...
"Kemarin kamu kemana aja, sayang?"
Acha mendongak menatap wajah Arlan, "Kemarin aku ketemu sama Athar. Dia minta ketemuan, aku juga udah kirim pesan dan lokasi aku saat itu ke kamu. Terus abis dari pertemuan sama Athar, aku pulang deh. Kalo kamu gak percaya, aku udah suruh Roy kirim rekaman CCTV Restoran waktu itu ke Jo."
Dengan tulus, Arlan mengecup lama kening Acha yang berhasil membuat Acha memejamkan matanya. Inilah yang Arlan sukai dari sosok wanitanya, begitu waspada dan selalu bertindak dua kali lebih cepat dari apa yang sudah dirinya pikirkan. Jadi kalau dirinya berniat berbohong, bukan nya lancar tapi malah macet ditengah jalan.
"Tidur sayang, kamu pasti cape kan?" Dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, Arlan merapikan selimut tebal yang menutup tubuh polos keduanya lalu memeluk Acha.
Bukannya memejamkan mata seperti apa yang Arlan lakukan, Acha malah mendongak lalu menyengir menatap wajah Arlan yang juga menatapnya dengan wajah bingung. "Kenapa, sayang? Tidur yuk, udah jam 9 pagi tuh."
"No! Acha mau makan kue putu."
Matanya yang hampir terpejam mendadak terbuka sempurna lalu menunduk menatap terkejut pada wanitanya yang kini menyengir hingga matanya ikut menyipit. Agar keinginan nya bisa terwujud, Acha mengubah raut wajahnya menjadi semenggemaskan mungkin.
Acha mengerjap-ngerjap kan matanya, "Acha mau kue putu. Tadi Acha liat di Tiktok gini, 'KUE PUTU LEWAT!' gitu. Jadi nya Acha mau deh, boleh ya? Boleh ya?" tangan Acha terus menggambar abstrak di dada bidang Arlan agar keinginan nya bisa dituruti.
"Sayang, bukannya gak boleh tapi ini masih pagi. Tadi malem juga tidur kamu kan aku ganggu, jadi sekarang kita tidur dulu terus cari kue putu nya nanti malem aja. Oke?" Mencoba menegosiasi, Arlan mengusap lembut pipi wanitanya yang semakin bulat seperti bakpao.
"Nggak mau ya! Acha mau tetep sekarang, pokoknya kue putunya harus ada sekarang! Titik gak pake koma!!" Kekeuh nya dengan mata menyipit juga bibirnya yang mengerucut kesal.
"Astaga," Arlan menepuk frustasi keningnya.
Wanitanya itu memang jarang ngidam, tapi sekalinya ingin sesuatu pasti yang aneh, sulit dicari, dan diwaktu yang kurang tepat. Mau menolak tapi kasihan kalau nanti anaknya ileran kan enggak lucu, mau tak mau Arlan tetap menuruti permintaan dari wanitanya itu.
"Oke, aku cariin. Tapi kamu tidur ya? Nanti kalo kue putu nya udah dapet, kamu aku bangunin. Oke?"
"Oke!"
Dengan perlahan, Arlan menunduk meraih celana nya dan segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Acha langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan mulai memejamkan matanya.
Beberapa menit setelahnya, Arlan keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan handuk yang menutup bagian bawahnya. Arlan menggeleng pelan melihat Acha lalu berjalan mendekat keranjang dan segera duduk ditepi ranjang. Dengan lembut, Arlan menurunkan selimut yang menutup seluruh tubuh Acha hingga sebatas dada.
"Jangan gitu, sayang. Nanti susah napasnya," Ucap Arlan seraya mengecup lama kening wanita tercinta nya itu.
Bergumam tidak jelas, lantas Acha melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Arlan yang melihat nya pun hanya bisa menggeleng pelan sembari berdiri dan masuk kedalam walk in closet untuk memakai pakaian nya. Selepas memakai pakaian simple nya, Arlan pun mendekat kearah Acha kembali.
Cup.
"Aku pergi dulu, sayang."
Tujuan Arlan kali ini tentu mencari dimana keberadaan Abang-Abang tukang kue putu yang diinginkan istrinya itu. Dengan berbekalkan google maps, Arlan terus menyusuri daerah perkampungan yang jauh dari tempat tinggalnya. Sesekali Arlan berdecak pelan saat mobilnya tak bisa melewati sebuah jalan yang ditutup karena acara pernikahan.
"Apa mereka tidak bisa menyewa gedung? Menyusahkan saja," Gerutunya sambil terus memperhatikan sekitar, mungkin saja ada tukang kue putu pagi-pagi gini yang lewat.
Tapi sudah hampir 1 jam memutari daerah perkampungan itu, Arlan belum juga menemukan tukang kue putu. Arlan mulai menyerah dan memilih menghubungi Jo agar mencarikan kue putu untuk istrinya. Padahal tadi, Arlan ingin membeli keinginan Acha tanpa bantuan Jo tapi sekarang dia malah meminta bantuan Jo.
"Jo, dalam sepuluh menit kau harus bisa membawa kue putu kehadapan ku."
Memutuskan sepihak panggilan, lantas Arlan mulai melajukan mobilnya menuju kantor tanpa memperdulikan tentang gerutuan kesal Jo yang harus mencari kue putu di pagi hari, sialnya Jo hanya punya waktu 10 menit. Oh astaga, untung saja dirinya masih sayang nyawa dan juga masih butuh pekerjaan.
...***...
Guys, aku minta maaf banget karena udah lama enggak up. Karena keponakan aku masuk rumah sakit, sekolah juga lagi banyak tugas + kerja kelompok, belum lagi aku jualan. Maaf banget yaa😊🙏