
Pagi ini, setelah sarapan bersama dan mengantar Arlan ke depan pintu karena pria itu akan berangkat ke kantor. Sekarang, Acha bingung harus melakukan apa. Tidak ada hal yang seru untuk dirinya lakukan, Acha menopang dagu di atas meja riasnya. Wanita itu berpikir, Arlan enak, dia tidak bosan karena sudah bekerja di ACE Company sekaligus kuliah.
Tunggu, "Gue boleh kuliah enggak ya?"
Acha tersenyum lebar, wanita itu bergegas berganti pakaian dengan setelan formal. Dia akan ke kantor Arlan, tidak mungkin kan memakai piyama atau lebih parahnya, lingerie? Membayangkan Acha ke kantor mengenakan lingerie, wanita itu tertawa sendiri. Arlan pasti akan mengamuk seperti kesetanan.
Dan seperti biasanya, Acha pasti menaiki taksi karena dia malas mengendarai mobil sendiri atau pun menggunakan sopir. Setelah tiba di kantor, Acha turun sesudah membayar argo. Wanita itu membalas senyum ramah satpam dan beberapa karyawan yang memang telah mengenal dirinya.
"Selamat pagi, Nona."
"Jo, selamat pagi. Arlan ada di ruangannya?"
Jo tersenyum sopan, "Ada, Nona. Tapi Tuan sedang ada tamu,"
Kening Acha berkerut, "Tamu penting?"
"Benar, Nona."
"Saya menunggu di depan ruangan Arlan saja kalau begitu,"
"Nona, lebih baik Anda menunggu di ruangan saya."
Tanpa membantah, Acha mengangguk. Wanita itu menunggu Arlan selesai bertemu dengan tamunya di ruangan Jo, selama menunggu, Acha hanya sibuk memainkan ponselnya. "Bosen banget, siapa sih tamunya? Kok lama banget ya ngobrol doang,"
Melihat tidak ada kehadiran Jo, akhirnya Acha memutuskan untuk langsung ke ruangan saja. Acha berharap, tidak ada kejadian seperti di novel-novel yang dirinya baca yaitu suaminya, berselingkuh dengan sekretaris atau kolega bisnisnya sendiri. Jika Arlan sampai melakukan itu, Acha tidak akan segan menempeleng kepalanya.
Ceklek.
"Ar, aku—"
Deg.
Acha terdiam di ambang pintu, wanita itu menatap tamu Arlan yang juga terkejut saat melihat kehadiran dirinya. "Roy, kamu ngapain di sini?!"
"N-Nona,"
Roy seperti baru saja tertangkap basah tengah berkhianat, pria itu langsung berdiri. "Nona, saya—"
"Oh, jadi selama ini, Arlan tau segalanya tentang saya itu dari kamu? Jahat banget ya kamu, Roy. Bisa-bisanya mengkhianati saya!"
Kedua pria yang memang sedang membicarakan masa lalu seorang Acha Basilia Eldora itu meringis pelan. Mereka tidak sedang berkhianat, tapi seperti baru kepergok selingkuh. "Sayang, ada hal penting yang harus kita bicarakan berdua."
Acha menatap Roy yang langsung menunduk, "Ikut aku, sayang."
Tanpa kata lain, Arlan memeluk posesif pinggang Acha, membawanya pergi keluar ruangannya menuju basemant untuk mengambil mobil di sana. Acha sudah ada firasat, pasti Roy telah menceritakan tentang dirinya yang bukan Mildreda Acchariya Dizon, melainkan Acha Basilia Eldora. Acha memang siap untuk menjelaskan tentang identitas asli dirinya.
Tapi ya tidak secepat ini juga!
Apalagi selama di perjalanan, Arlan hanya diam. Acha awkward sendiri, wanita mencoba untuk menyentuh lengan Arlan yang langsung meliriknya sekilas. "Ar, kamu kenapa? Aku ada salah ya?"
Arlan tahu jika istrinya sudah mulai overthinking, pria itu pun menatap penuh pada Acha ketika lampu lalu lintas berubah merah. Tangan kiri pria itu menyentuh punggung tangan Acha yang ada di atas paha wanita itu, mengusapnya lembut. "Nanti ya, sekarang kita fokus dulu sama jalanan di depan."
Melihat Arlan masuk kamar mandi, Acha mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia mendadak gugup, melihat Arlan yang tidak biasanya diam seperti tadi. Ketika selesai mandi, Arlan mengajak istrinya untuk duduk santai di balkon kamar. Keduanya duduk bersisian dengan pandangan lurus ke depan.
"Ar? Jangan diam gini, aku takut."
Arlan menoleh, betapa terkejutnya Arlan saat melihat mata istrinya yang berkaca-kaca. Dia tidak berniat membuat istrinya takut, Arlan hanya ingin tidak banyak bicara saja. Dia jadi tidak tega melihat istrinya, Arlan pun menarik Acha ke dalam dekapannya, membuat tangis yang sejak tadi Acha tahan, pecah juga.
"Kenapa nangis, sayang?"
"Kamu diam terus, aku takut, aku punya salah ya?"
Arlan mengangkat dagu Acha, mengecup ujung hidung mancungnya dengan gemas. "Kamu enggak salah apa pun, sayang. Aku hanya tidak ingin banyak bicara aja,"
"Kalau di luar, terserah kamu mau ngomong atau enggak, tapi jangan pas sama aku. Aku takut,"
"Iya, maaf ya, sayang."
Keduanya masih berpelukan sampai kalimat yang Acha ucapkan, membuat usapan tangan Arlan pada rambut Acha terhenti. "Aku bukan pemilik raga ini, kamu tau?"
"Maksud kamu?"
Acha melepas pelukannya, wanita itu duduk tegak menghadap ke arah Arlan di sampingnya. "Pemilik raga ini namanya Mildreda Acchariya Dizon, sedangkan nama aku, kamu tau nama aku siapa, Acha. Acha Basilia Eldora, aku bukan pemilik raga ini. Aku hanya jiwa asing yang tidak sengaja terdampar di tubuh ini, aku bukan pemilik tubuh ini, Ar."
Mata keduanya saling bertemu, terdapat sorot bingung sekaligus terkejut dari mata Arlan, membuat Acha bertanya-tanya. Apa dia salah menduga? Kalau sebenarnya, Arlan belum tahu perihal raga Mildreda yang di isi jiwa asing. "Kamu... Kamu apa, sayang? Kamu kenapa?"
Jemari Arlan mencoba menyentuh pipi istrinya, meski pikirannya bertanya-tanya. "Aku Acha Basilia Eldora dan raga ini bukan ragaku, aku mengalami perpindahan jiwa, Ar. Ragaku sudah mati, ini bukan ragaku."
"Sayang, jangan bercanda."
Sejak awal, Arlan tahu jika Acha memiliki nama lengkap Acha Basilia Eldora dan itu pun tahu seusai di jelaskan Roy. Roy bilang, ketika Acha memakai nama Mildreda, dia terus sakit-sakitan. Makanya, mengikuti adat desa setempat, Acha mengganti nama dari Mildreda menjadi Acha agar tidak terus sakit. Karena itu juga, Arlan tidak kaget saat ada yang memanggil Acha dengan nama Mildreda atau sebagainya.
"Aku enggak bercanda, raga ini memang bukan raga milikku."
Acha mengerutkan keningnya, ada apa dengan jantungku? Rasanya, seperti ada benda mati yang tajam, menikam tepat ke jantungnya. Begitu sakit dan perih yang tak mampu Acha deskripsikan, "Aku adalah jiwa asing─" Napas Acha tercekat, sekarang, jantungnya serasa di remas tangan tak kasat mata.
Di mata Arlan, wajah Acha begitu pucat. Matanya memerah seperti habis menangis, "Kamu kenapa, sayang?"
Acha menekan dada kirinya dengan napas memberat, "Jantungku..."
"Sayang?!"
Dengan panik, Arlan menggendong Acha, membawanya berlari keluar vila, mendudukkan Acha di samping pengemudi lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Acha sendiri mulai lelah dengan rasa sakit di jantungnya, kenapa ini bisa terjadi? Aku tidak memiliki riwayat sakit jantung apa pun.
"Ar, aku ini bukan Mild─"
Setiap kali ingin jujur, jantungnya akan semakin sakit. Acha melamun, dia diam seperti ini, maka rasa sakit itu berkurang. Apa ini artinya, Acha memang tidak di izinkan untuk jujur pada Arlan, perihal peristiwa aneh yang dia alami? Perpindahan jiwa? Ini pasti ada sangkut pautnya.
"Sayang, jangan banyak bicara, kita ke rumah sakit sekarang!"
...***...