
Chika menatap kosong langit-langit kamarnya, wanita itu terkekeh pelan sembari mengusap wajah. Acha sudah dia singkirkan, satu-satunya kandidat yang hanya akan memberatkan posisinya. Dengan semangat, Chika mendudukkan dirinya. Wanita itu menatap banyaknya foto Arlan yang dia ambil sendiri secara diam-diam mau pun anak buahnya yang mengambil.
Semua foto Arlan terpajang, memenuhi dinding kamarnya yang bernuansa biru laut. Chika benar-benar terobsesi ingin memiliki Arlan, bahkan cara keji pun Chika tempuh. "Demi kamu, apa yang enggak bisa aku lakukan, Arlan?"
Chika salah telah bermain-main dengan Acha yang kini di ruangannya, baru saja melewati masa kritis. Kata Dokter, Acha akan segera bangun. Menunggu Acha bangun, Arlan memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan prosesi pemakaman bayinya. Arlan tentu saja turun tangan langsung.
Bahkan setelah selesai, pria itu tidak bangkit dari sisi makam bayinya. Menangis dalam diam di sana, hanya sendirian karena semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing. Di tangan teriknya matahari, Arlan tersenyum tipis. "Nak, tunggu Mama dan Papa di sana ya? Kita akan kumpul kembali nanti,"
"Nanti, kalau Mama sudah bangun. Bantu Papa untuk menjelaskan pada Mama ya? Kamu jangan lupa mampir ke mimpi Mama, bilang, supaya Mama terus semangat dan jangan larut bersedih. Anak Papa, selamat jalan, sayang."
Arlan mengecup lama batu nisan tempat peristirahatan terakhir bayinya, sebelum berdiri dan pergi seusai memakai kaca mata hitam. Hari ini adalah hari berduka untuk Arlan, seluruh anggota Anteros yang mengenalnya, tidak ragu untuk turun langsung ke pemakaman. Ikut melalui proses bahkan mengucapkan bela sungkawa untuk Arlan.
Kesedihan mendalam yang Arlan alami, belum tercapai pada Acha yang kini mulai mengerjap kan matanya beberapa kali. Menyesuaikan cahaya yang menusuk retina matanya, sampai Acha melihat, ada Arlan yang tertidur dengan kepala menelungkup di atas lipatan tangannya samping brankar. Matanya bergulir, menatap sekeliling yang ternyata rumah sakit.
Acha baru sadar, jika dirinya sempat menjadi korban atas kecelakaan motor dan mobil itu. Secara naluriah, Acha menyentuh perutnya yang ternyata membangunkan Arlan dari tidurnya. "Sayang? Minum dulu," Arlan membantu Acha minum, sebelum menyuarakan pertanyaan.
"Ada yang sakit? Aku panggil Dokter dulu ya,"
Kepalanya menggeleng, "Anak kita enggak apa-apa kan, Ar?"
Arlan diam.
"Ar? Jawab aku! Anak kita sehat kan di dalam perut aku? Arlan,"
"Maaf,"
"Ar?! Maaf untuk apa? Kamu jangan ngaco deh! Cepet bilang, anak kita enggak apa-apa kan?"
Arlan tidak kuat jika harus menjelaskan pada Acha, perihal anak mereka yang telah tiada. Tanpa kata, Arlan memeluk Acha. Membuat wanita itu semakin bertanya-tanya di dalam hatinya. "Ar, waktu itu ada yang ngikutin aku pas aku mau ke mini market. Pulang dari mini market, dia masih mengikuti aku, Ar. Terus... Terus, ada mobil yang mau nabrak aku. Aku udah berusaha mau lari ke tepi, Ar..."
"... Tapi dari arah lain, sebuah motor malah nabrak aku. Aku enggak ingat apa-apa lagi setelah itu. Ar, di mana anak kita? Please jawab,"
Diam-diam, kedua tangan Arlan terkepal erat. Ternyata ada dalang di balik kecelakaan yang menimpa istrinya. Arlan kira, Acha kecelakaan memang murni sebab yang menabrak Acha, hangus terbakar jadi tidak ada yang dianggap sebagai manipulasi atau pun kecelakaan buatan manusia yang selalu iri dan merasa kurang akan hidupnya.
Ketika knop pintu di tarik ke bawah lalu memunculkan Letizia, Acha dan Arlan melepas dekapannya. Arlan mengusap air matanya sebelum Acha menyadari jika dirinya menangis mengingat anak mereka yang telah pergi jauh lebih dulu. "Nda," Arlan mengecup kening Bundanya lalu mengajak Letizia duduk di sofa, tapi Letizia menggeleng, dia malah duduk di kursi samping brankar.
"Bagaimana keadaan kamu?"
Awalnya, Arlan was-was, takut Bunda berkata kasar pada istrinya tapi setelah mendengar nada lembut Bunda, Arlan jadi bisa menghela napasnya lega. "Baik, Tante."
Deg.
Jantung Acha seperti serasa terhenti, wanita itu menatap Arlan yang juga terkejut saat Bunda mengatakan tentang bayinya. "Ar, anak kita kenapa?"
Dan Letizia baru sadar, jika Arlan belum menyampaikan berita kematian anak keduanya kepada Acha selaku Ibunya. "Kamu... Belum tau?"
"Belum tau apa, Tan?"
"Anak kalian sudah meninggal, dia tidak bisa di selamatkan."
...***...
"Kamu kenapa enggak ajak Mama, sayang? Kenapa meninggalkan Mama di sini?"
Berhari-hari telah larut dalam lingkup kesedihan yang teramat dalam, sebagai seorang Ibu, di pisahkan dengan anak yang bahkan belum sempat dia lahirkan, belum sempat dirinya timang, susui, bahkan ajak bermain, tapi Tuhan telah lebih dulu mengambil bayinya. Acha hancur, dia ingin berkata jika Tuhan tidak adil tapi mungkin, inilah rencana terbaik.
Ketika bayinya lahir kelak, tidak mungkin jika tidak ada kalimat pedas yang menyakitkan seperti, anak haram. Dengan begini, bayinya sudah bahagia di surga. Acha tidak boleh terlalu larut, "Mama pulang dulu ya? Sepertinya sudah cukup Mama mengabaikan Papa semenjak tahu kalau kamu sudah tiada,"
Setiap hari, Acha akan menghabiskan waktu di makam bayinya seorang diri. Dia juga mengabaikan segalanya, hanya ingin terus berdekatan dengan bayinya yang dia kandung belum genap 9 bulan tapi sudah pergi sangat jauh sekali.
Di perusahaan, Arlan uring-uringan sendiri. Sudah hampir 8 hari Acha tidak mengajaknya bicara, terus menghindar, bahkan tidak pernah memedulikan dirinya lagi. Arlan sempat kelewat sabar, dia menghabiskan malam di sebuah kelab. Untungnya, tidak ada kejadian merugikan apa pun. Arlan hanya menghabiskan waktu untuk minum alkohol.
"Jo, sudah dapat sekretaris pengganti Maria?"
Jo yang baru masuk ruangan Bosnya hanya bisa tersenyum masam, enak sekali pria itu bertanya, padahal dia sendiri yang selalu menolak semua pelamar. "Belum, Tuan. Dan ini, saya membawa nama-nama calon pelamar untuk posisi sebagai sekretaris Anda."
Arlan mengambil map yang Jo berikan, pria itu pun mulai membaca CV beberapa pelamar untuk menjadi sekretarisnya. Tidak ada yang menarik sama sekali sampai satu nama terlewat, "Ardhan? Dia sepertinya berkompeten, dia saja."
Akhirnya, Jo bisa meluruhkan bahu yang selama ini tegang menghadapi Arlan. "Baik, saya akan segera menghubungi Tuan Ardhan."
"Iya, sudah sana pergi."
Senyumnya kembali masam, Jo pun pergi meninggalkan Arlan yang kini menyandarkan punggungnya sembari memijat pelipis. Makannya selama 8 hari ini benar-benar berantakan, bahkan terkadang, Arlan tidak makan sama sekali seharian penuh. Arlan juga kehilangan bayinya, tidak seharusnya Acha bersikap seperti ini.
Sebab terlalu larut juga tidak baik.
...***...