
Benar, diagnosa Dokter mengatakan jika Acha sehat-sehat saja. Tidak ada riwayat jantung apa pun, karena penasaran dan untuk memastikan, Acha kembali mencoba berkata perihal dirinya. "Ar, aku ini bukan─"
Lagi, rasa sakit yang aneh di jantungnya kembali terasa. Berarti ini benar, setiap kali Acha ingin jujur pada Arlan, maka jantungnya akan bereaksi. Apa, apa ini termasuk salah satu syarat untukku? Karena aku bisa hidup kembali di raga yang berbeda, maka aku harus mematuhi sebuah syarat atau aturan yang ada. Tapi selain di larang jujur pada Arlan, aturan apa lagi yang harus aku patuhi?
Pada akhirnya, Acha meminta Roy untuk datang ke rumahnya ketika Arlan sudah berangkat kerja. Di ruang pribadi Acha, yang biasa wanita itu gunakan untuk sekedar baca, kini sudah ada Roy. "Roy, aku ini bukan Mildreda, aku Acha."
Roy menatap Nonanya aneh, bukankah Acha sudah menjelaskan pada dirinya tentang data diri raga serta siapa jiwa yang menempati raga cantik itu? Ini kenapa Nonanya malah mengatakan hal tidak masuk akal? Roy menggeleng, "Apa yang Anda katakan, Nona? Saya sudah tahu, untuk apa Anda mencoba menjelaskan lagi?"
Sedangkan Acha, wanita itu menyentuh dada kirinya. Kok enggak sakit ya? Batinnya kebingungan, "Roy."
"Iya, Nona?"
"Aku ini Acha,"
"Iya, saya tahu, Nona."
"Kok aku baik-baik saja?"
"Ha? Maksud Anda, Nona?"
Pada akhirnya, Acha kembali menceritakan kejadian aneh semasa di vila. Wanita itu menjelaskan semuanya tanpa di kurangi atau pun di lebihkan dan Roy mendengarkan dengan seksama. "Nona, dulu saya berpikir jika apa yang saya alami tidak perlu Anda ketahui karena itu keluhan biasa, tapi sepertinya, sekarang Anda perlu tahu."
"Maksud kamu, Roy?"
Pikiran Roy mundur ke masa di mana Arlan menanyakan perihal Acha dan dirinya yang berniat untuk bicara secara jujur. Tapi bukannya berhasil mengatakan seluruhnya, Roy malah merasakan sakit teramat di jantungnya. Roy berpikir, mungkin dia punya riwayat penyakit jantung. Dia pun mengatakan secara asal, kenapa Acha memiliki nama Mildreda juga.
Terus, setelah periksa ke rumah sakit, sama seperti Acha. Tidak ada diagnosa penyakit jantung apa pun, dulu Roy menyimpulkan, mungkin dirinya memang kecapean saja, makanya sampai sakit di bagian jantung. Sekarang? Jelas kesimpulannya berbeda, karena Acha merasakan sakit di jantungnya setiap kali ingin jujur pada Arlan perihal peristiwa perpindahan jiwa yang Acha alami, bukankah sama seperti yang Roy alami sebelum akhirnya sakit pada jantung itu terasa?
Acha tentu terkejut mendengar cerita dari Roy, dia juga jujur pada Athar, apakah laki-laki itu mengalami hal serupa dengan dirinya dan Roy? Atau malah tidak? Acha jadi bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada hidupnya ini. "Roy, perpindahan jiwa saja sudah sangat mustahil untuk manusia awam seperti kita. Terus ini, di tambah dengan reaksi aneh setiap kali mau jujur. Menurut kamu, apa ini semua ada maknanya?"
Roy yang sebenarnya tidak terlalu memikirkan perihal perpindahan jiwa, kini dibuat ikut berpikir keras bersama Nonanya. "Menurut saya, iya, Nona. Setiap keuntungan pasti ada timbal baliknya,"
"Maksud kamu apa lagi, Roy?"
Roy mengeluarkan dua buah buku dari tas tangan yang biasa dia pakai untuk membawa laptop ke mana-mana. "Baca ini, Nona. Sejak tahu Anda mengalami perpindahan jiwa, saya berusaha keras menyelami dunia fantasi yang aneh tapi terjadi pada Anda. Anda juga bisa membaca kedua buku ini, supaya tahu lebih dalam tentang konsekuensi setiap keuntungan."
Karena penasaran, Acha membuka buku yang Roy berikan. Membaca dengan melewati beberapa bagian sampai di bagian mana, Acha tertegun membacanya. "Jiwa yang mengalami perpindahan jiwa akan menghancurkan raga yang di tempati secara perlahan, menggerogoti kesehatan termasuk kebahagiaan."
"Menurut saya, karena Anda mengalami perpindahan jiwa sedangkan seharusnya Anda sudah mati. Karena kesempatan ini, Anda wajib membayar yaitu dengan mengabdi pada raga yang Anda tempati dan menyelesaikan berbagai masalah yang raga Anda tempati. Ketika Anda mencoba melenceng atau ingin jujur tentang kejadian aneh pada sumber kebahagiaan raga ini, maka kesehatan Anda yang akan di gerogoti."
"Roy, aku enggak paham."
Roy menepuk keningnya, "Intinya, Nona. Setiap Anda berhutang lalu meminta tempo, maka Anda harus membayar di hari tempo itu tiba, jika Anda tidak membayarnya, maka Anda akan di seret ke kantor polisi. Ini juga sama, jika Anda mencoba mengatakan kejujuran pada Tuan Arlan tentang Anda yang hanyalah jiwa asing, maka Anda akan mendapatkan kerugian dengan munculnya rasa sakit di jantung..."
"... Berkali-kali Anda mencoba jujur dan terus mengabaikan rasa sakit di jantung hanya demi bisa jujur, maka kesehatan Anda akan terganggu. Anda bisa terkena serangan jantung atau bahkan henti jantung hanya karena ingin jujur. Saran saya, lebih baik jangan jujur perihal Anda pada Tuan Arlan. Ini demi kesehatan Anda, Nona. Jangan dekati kematian hanya agar bisa jujur pada Tuan Arlan, nyawa Anda lebih penting."
"Karena itu juga, saya sedang berusaha memerintahkan anak buah saya untuk membongkar makam Anda."
Deg.
"Membongkar makamku? Makam ragaku?"
...***...
Athar sedang melakukan perjalanan dari Indonesia menuju Singapura, dia harus menghadiri rapat di sana menggantikan Andrija yang memilih bulan madu dengan Rhaline sekaligus pindah ke Kanada. Pria itu akan memulai hidup baru dengan keluarga barunya, Athar tidak peduli, yang penting, mereka tidak membuat dirinya rugi.
Ketika tengah membaca buku, pesawat yang di tumpanginya mendadak terguncang. "Ada apa ini?"
Semua penumpang berteriak histeris, melihat kobaran api dari sayap kiri pesawat. Athar terkejut, pria itu hendak membuka suara sebelum ledakan hebat, membuat pesawat hancur berkeping-keping, bersama dengan hancurnya tiap-tiap tubuh manusia yang menumpang pesawat. Termasuk Athar, yang ikut menjadi korban tewas kecelakaan pesawat hari ini.
Di beritakan atas nama Athar, Acha merasa tidak memiliki penopang, wanita itu hampir jatuh pingsan jika Arlan tidak segera memeluk pinggangnya. Mereka berdua hari ini, mendatangi lokasi kejadian, di mana bangkai pesawat yang hanya tersisa puing-puing. Pihak kepolisian juga mengabarkan, jika tidak ada satu pun penumpang yang selamat dengan tubuh utuh.
Acha menangis histeris dalam dekapan Arlan, laki-laki yang pernah menempati ruang di hatinya sekaligus sahabat kecilnya, kini sudah pergi. Namanya hanya tinggal kenangan, Acha menangis bahkan sampai pingsan di dalam dekapan Arlan. Wanita itu merasa sangat terpukul akan kepergian Athar yang tidak dirinya duga sama sekali.
Setelah bayinya yang pergi, sekarang Athar yang pergi. Kenapa takdir begitu kejam untuk wanita lemah seperti Acha? Dirinya hanya ingin hidup tentram bersama dengan orang-orang di sekelilingnya. Bukan terus di lingkupi permasalahan yang tiada habis.
Arlan sungguh kasihan pada istrinya yang sampai pingsan setelah tahu Athar menjadi korban tewas sebuah kecelakaan pesawat, bahkan jasadnya tidak di temukan. Entah hancur dan terlempar ke mana, karena pesawat, meledak masih di ketinggian. Sudah sangat jelas, tubuh penumpang yang hancur karena ledakan, berjatuhan dari atas sana dan entah mendarat di mana.
Bisa di sungai, laut, hutan, dan lain sebagainya.
...***...
Ucapkan selamat tinggal pada Athar yang benar-benar tinggal kenangan:)