Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Ana Suka sama ustadz



Saat Riza masih didepan ruang UKS, tiba-tiba Aisyah berteriak, sambil berajalan dengan pincang.


"Ustadz? Ustadz Riza?"


"Aisyah? Kenapa kaki kamu?" Melijat ke arah kaki Aisyah.


"Gak penting ustadz, itu keadaan Raina gimana?"


"Kok gitu jawabnya?" tegas Riza, karena penasaran.


"Afwan ustadz. Ana jatuh ditangga tadi."


"Kok bisa?"


"Buru-buru ustadz."


"Tapi ikut ke lapangan?"


"Nggak ustadz, tadinya mau. Tapi ustadz Alvin nyuruh jangan ikut, karena keadaan kaki ana yang sakit."


"Ustadz Alvin?"


"Na'am ustadz," sambil melirik ke arah dalam.


"Ukhty?"


"Kenapa ustadz?"


"Sepertinya Ustadz Alvin menaruh rasa."


"Rasa? Kesiapa?"


"Anty." ucapnya sambil berlalu.


"Emang iya? Ustadz? Ah ustadz bercanda kali." teriak Aisyah cemberut.


Riza tidak menggubris respon Aisyah. Namun, tiba-tiba Adrian dan Alvin yang akan mengajar melewati ruang UKS.


"Afwan! Sebaiknya anty sebagai seorang santriyah, tidak berteriak kepada seorang ustadz." Menatap tajam.


"Tapi ustadz Riza mengatakan kalau ustadz Alvin," Aisyah menunduk dan tidak melanjutkan perkataanya.


"Kenapa?" Alvin menghampiri Aisyah, tentunya dengan jarak 2 meter. Adrian yang melihatnya langsung meninggalkan mereka. Aisyah hanya meliriknya sebentar.


"Afwan ustadz, sebaiknya lupakan. Ustadz Riza memang suka bikin penasaran, seperti saat menceritakan sejarah islam."


"Ana ke kelas dulu! Oh iya, kaki anty?"


"Udah sembuh ustadz." Pura-pura berdiri tegak.


"Terus kenapa masih disini?"


"Raina pingsan."


"Ada siapa didalam?"


"Aminah."


"Ya kalau sudah ada orang, anty masuk! Ustadz Adrian pertama kali ngajar."


"Astagfirullah, jadi benar ustadz Adrian mau ngajar Qurdis?"


Pertanyaan Aisyah yang keras terdengar oleh Adrian yang ternyata masih ada dibelakang tembok pinggir uks, habis menjawab telpon.


"Memangnya kenapa?" Alvin penasaran.


"Ada orang yang bilang beliau galak, kalau hafalan harus cepat."


Adrian yang mendengarnya merasa tertantang dengan ucapan Aisyah, diapun buru-buru pergi ke kelasnya.


"Beliau belum juga ngajar, jangan su'uzan dulu. Ana permisi!"


"Tunggu! Ustadz ngajar dikelas berapa?"


"XI Ipa 1." Alvin merasa senang, saat Aisyah menanyakannya.


"Kalau begitu bareng aja ustadz, gak jadi ke uks kok." Sambil berjalan pincang.


"Katanya udah gak sakit kakinya?"


"Ana sih merasa gak sakit, kakinya aja yang sakit." Mendengar perkataan itu, Alvin tersenyum.


"Kenapa?"


"Jangan bareng! Takut jadi fitnah! Silahkan lewat sini! Biar ana putar balik." ucapnya berlalu.


"Tapi? Oh yaudahlah! Aku harus buru-buru nih." Aisyah pun berjalan dengan cepat.


Saat Aisyah berjalan, dia melihat Adrian yang sudah akan masuk ke kelasnya.


"Ustadz? Yah, sepertinya aku akan telat."


"Ust?" Ketika dia sudah berteriak,


"Ah, percuma udah masuk kelas. Aku siap-siap harus dapat hukuman." Sambil pasrah berjalan.


Dikelas


"Wa'alaikumsalam ustadz," Santriah mula berbisik-bisik.


Dreeeet dreeet dreeet


Ashraf menelpon


Namun, karena Adrian naru duduk. Dia hanya melihanya sebentar, lalu menyimpan hpnya di meja.


"Na'am, akhwaty fillah! Ismi Adrian Ishak."


"Na'am ustadz Adrian." ucap semua santriyah.


"Ana memghandle ustadz Malik, yang insya Allah, beliau sedang mempersiapkan bahan untuk sidang S2 nya."


"Dimana ustadz?" tanya salahsatu santri.


"Disebrang, tepatnya Univesitas Muslim Indonesia. Ada yang tahu dimana?"


"Di Makasar ustadz." Beberapa santriyah menjawab.


"Betul. Sebelum ana memulai pelajaran, silahkan ada yang masih mau ditanyakan?" Adrian sambil berlalu dan membawa buku nya.


"Afwan ustadz, ustadz lulusan apa?" salahsatu santriyah bertanya, sambil berdiri.


"Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam," semuanya melirik ke Aisyah.


"Masmuki, ukhty?" tanya Adrian melitik sebentar ke Aisyah, padahal dia udah tahu namanya.


"Ismi Aisyah Al Hakim, yaa (wahai) ustadz."


"Apa yang dilakukan ustadz Malik, jika ada santriyah nya yang telat?" Melirik ke para santriyah.


"Afwan ustadz, tidak pernah ada yang telat." jawab serentak.


"Afwan ustadz," sela Aisyah.


"Ana belum mempersilahkan anty untuk berbicara." jutek. Aisyah hanya menunduk.


"Yaa Akhwaty! Milik siapa kursi kosong yang tiga itu?" Menatap ke kusri kosong, yang sudah ada tasnya.


"Izin menjawab ustadz," salahsaty santriyah berdiri.


"Tafadhol!"


"Kursi yang tiga itu, milik ukhty Aisyah, ukhty Aminah, dan Ukhty Raina. Qodarullah, ukhty Raina pingsan, dan sekarang lagi di uks ditemani ukhty Aminah, atas permintaan ustadz Riza."


"Naam. Syukron ukhty! Silahkan!" Santriyah itu kembali duduk.


"Anty boleh masuk, tapi belum boleh duduk!"


"Alhamdulillah, syukron ustadz!" Aisyah masuk dan berdiri didepan kelas.


"Untuk pertanyaan yang tadi, ana lulusan mana. Alhamdulillah, S1 ana kuliah di salahsatu Ilmu Perguruan tinggi khusus Agama Islam di Jakarta Selatan dan S2 nya di Madinah. Ada lagi?"


"Massya Allah," Para Santriyah terkagum-kagum.


"Ustadz berapa tahun usianya?"


"Jalan ke 28."


"Afwan ustadz, boleh ana bertanya." celetuk Aisyah.


"Tafadhol!"


"Uatadz mau gak menikah sama ana?" berkata polos.


"Ukhtyyyyyyyyyyy!" Sorak para santriyah.


"Duduklah ukhty! Ana kasih anty toleransi karena pertama kali ana masuk kelas, setelahnya jika ada yang telat masuk, ana tidak mengizinkanmya duduk." Adrian tidsk menggubris pertanyaan Aisyah, dia malah membuka kitab.


"Ana gak sangka anty bisa seberani itu bertanya?" bisik teman sederetan tempat duduknya.


"Tentu, karena ana punya obsesi untuk memilikinya." berkata puasa.


"Massya Allah, secepat itu. Bagaimana dengan ustadz Alvin?" Goda santriyah tadi.


"Selalu dihati." Aisyah tersenyum. Tanpa mereka sadari, ustadz dan para santriyah lainnya menatap ke arah mereka.


"Anty serakah, biarkan ustadz Alvin buat ana."


"Gak bolllllleh!" jawabnya dan mengeluarkan buku. Aisyah menatap ke arah Adrian.


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" Adrian ngegas.


"Ustadz jangan marah-marah terus, kenapa." lirih Aisyah dan mencebik.


"Jawab!"


"Ana suka sama ustadz." jawab Aisyah polos.


"Cieeeeeeee." Sorakan para Santriyah.


"Jangan bercanda! Sekarang fokus menyimak materi." Adrian menulis salahsatu ayat Al Qur'an.