
Pagi Harinya disekolah
Aisyah yang terburu-buru akan menyebrang jalan sempat akan tertabrak mobil.
"Maaf-maaf!" ucap Aisyah dari balil cadarnya, sambil sedikit berlari, karena gerbang akan segera ditutup.
"Tunggu paaaaaaaaa! Jangan dulu ditutup!" teriak Aisyah.
"Maaf, kamu sudah telat. Memangnya habis darimana dulu?"
"Pak jangan tanyakan itu dulu! Tolong buka gerbangnya!" Aisyah memohon.
Lalu seorang guru yang mobilnya akan menabrak Aisyah tadi tiba-tiba menghampirinya.
"Kenapa?"
"Ustadz Alvin?" Aisyah kaget.
"Jadi kamu, Ais?" tanya Alvin.
"Aku telat, pas mau masuk pas gerbangnya mau ditutup." Aisyah cemberut.
"Alasannya apa?" Alvin bertanya jutek, sambil melihat jam ditangannya.
"Tadi aku naik angkot, tapi didalamnya ada ibu-ibu lagi sakit. Terus aku harus ikut dulu nganterin ibu-ibunya ke Puskesmas. Bahkan aku yang daftarinnya, soalnya suami dari ibu-ibu gak faham mendaftarnya." Jelaskan Aisyah panjang lebar.
"Oh." Alvin berlalu naik ke mobilnya. Aisyah hanya melongo.
"Pak, tolong buka gerbangnya!" titah Alvin.
"Baik-baik pak!"
"Ustadz terimakasiiiih!" ucap Aisyah.
"Siapa yang nyuruh kamu masuk?"
"Ah ustadz jangan bercanda dulu, yang lain udah kumpul di lapangan." Aisyah berlalu pergi.
"Pak apa saya harus mengejarnya?"
"Gak usah pak! Jam pelajaran pertama gak belajar, akan ada sambutan dari Ustad Ishak."
"Oh, pantes. Beliau sudah datang pak,"
"Baik pak." Alvin pun melajuka mobilnya, dan masuk ke dalam.
Di lapangan semua santri dan santriyah sudah berkumpul. Yang pasti mereka tidak disatukan, yang santri didepan, lalu dibelakangnya ada hiiab/pemisah, dan dibelakang ada barisan santriyah.
Aisyah yang saat itu terburu-buru, langsung naik ke lantai dua untuk menyimpan tas. Tak sengaja, dia menabrak seseorang yang juga akan turun dari lantai dua. Mereka berpapasan ditengah-tengah tangga.
Bruk
Mereka bertabrakan, kaki Aisyah turun satu kebawah yang menyebabkan dia kehilangan keseimbangan. Dan akhirnya badannya, menyender ke penyangga pegangan tangga, dengan tangan yang memegang erat penyangga tersebut, dalam posisi duduk terjatuh.
"Astagfirullah? Aw," Aisyah meringis.
Sedangkan seseorang yang ditabraknya, dia yang akan terjatuh langsung menyeimbangkan badan. Lalu dia buru-buru melihat ke arah bawah. Dia pun terkejut melihat Aisyah yang sudah terjatuh.
"Subhanallah," Adrian buru-buru menghampiri Aisyah turun. Saat itu Aisyah yang merasa masih pusing, mencoba akan berdiri. Tetapi, kaki kanannya sepertinya terkilir.
"Ayo bangun! Pegang tangan saya," Adrian menyerahkan pergelangan tangannya.
Aisyah sambil berdiri memegangi tangan Adrian, hanya menatap penampilan Adrian dari bawah ke atas. Rambut hitam pendek yang rapih dengan poni pendeknya yang diarahkan ke belakang, membuat ketampanan wajahnya sangat bercahaya. Benar-benar enak dipandang.
Kemeja bergaris-garis tadi yang dipakainya, dipadukan dengan celana hitam cingkrang, dan sepatu hitam serta kaos kakinya, membuat nya semakin terlihat cool.
"Afwan tangan ana, ukhty!" ucapnya sambil menarik tangannya.
"Oh iya. Afwan tadi ana buru-buru." Menunduk.
"Siap dia ini? Tampan sekali," batin Aisyah.
"Naam. Anty baru datang?"
"Naam. Tadi angkot yang ana tumpangi, mampir ke puskesmas, nganterin yang sakit."
Adrian menatap name tag yang Aisyah pake.
"Naam." Adrian berlalu untuk turun.
"Tunggu!" Teriak Aisyah, Adrian memberhentikan langkahnya tanpa menoleh.
"Maa ismuka, akhi?"
"Apa saya memakai seragam?"
"Afwan. Ustadz baru ya?" Aisyah masih penasaran.
"Insya Allah. Afwan, ana tidak bisa membantu anty. Takut jadi fitnah." Lalu, Adrian langsung berlalu.
Mendengar suara riuh orang dari speaker. Aisyah buru-buru menyimpan tasnya ke kelas, walaupun kakinya sangat terasa sakit.
Sementara itu, Adrian disapa oleh beberapa guru. Tak terkecuali, Alvin dan Riza.
"Massya Allah, ustadz muda lagi pada ngumpul nih." ucap Malik, yang baru saja datang dan menyalami mereka.
"Massya Allah," ucap semuanya.
Malik adalah salahsatu ustadz yang menjadi wakasek kesiswaan. Usianya sekitar 35 tahun.
"Ustadz Adrian, usianya berapa sekarang?"
"Insya Allah, bulan depan 28 Ustadz."
"Berarti disini ada tiga ustadz muda yang belum menikah, eh tapi ustadz Riza mah sebentar lagi ya?"
"Naam, insya Allah ustadz." ucap Riza tersenyum, dan menahan malu, sambil berlalu ke arah lapanagan mengikuti Malik.
Sementara itu, Adrian dan Alvin saling menatap.
"Afwan ana baru datang, apa anta putra dari Ustadz Ishak?"
"Naam, ustadz. Salam kenal." Adrian menyapa Alvin.
"Ana Alvin Wijaya, Ustadz?"
"Tunggu! Putranya Bapak Ali Wijaya?"
"Naam ustadz, kok tahu?" Alvin tersenyum.
"Abi suka cerita tentang beliau? Ayo ke lapangan!" ajak Adrian sambil merangkul Alvin.