Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
CV



Aisyah yang melihat Amina sedang menahan malu, mengurungkan niatnya untuk menghampiri Alvin.


"Berkacalah ukhty Amina! Anty seperti akhwat yang tidak memiliki harga diri. Ngejar-ngejar ustadz yang belum tentu hatinya menerima digituin. Sadarlah ukhty min, ustadznya pasti risih tuh." ucap salahsatu santriyah sambil menatap jijik Aminah, lalu memalingkan wajahnya menatap lurus ke depan.


Orang-orang yang dibelakang mendengar perkataan santriyah tadi, ada yang pro dengan senyum kemenangan. Ada juga yang kontra, karena perkataan santriyah tersebut terlalu menyakitkan. Aisyah yang mendengarnya langsung menghampiri santriyah tersebut, tapi dengan berdiri dibelakangnya dan berbisik.


"Iri bilang neeeng!" Aisyah tersenyum.


"Waw. Aisyah ya?" Santriyah tersebut menengok dan menatap tajam ke Aisyah.


"Nice." Memperlihatkan name tag nya.


"Aisyah-Aisyah, nama aja Aisyah kelakuan tak mencerminkan bagusnya nama Aisyah. Sayang sekali." Menatap jijik.


Adrian yang terus berbicara didepan, merasa jadi kurang fokus. Melihat gelagat Aisyah dibelakang, dan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Amina terus menunduk, Ashraf hanya terdiam.


"Aisyah memanglah Aisyah, Aisyah yang ini Aisyah Al Hakim. Leader, Cerdas, Cantik, dan Sexy hihi." Teriak Raina yang sudah geregat.


"Satu lagi ya! Gadis penggoda." Ledek Santriyah tersebut.


"Tutup mulut anty! Kalau tidak mau ditutup, ana sumpel pake sepatu nih." ucap Amina yang mulai kesal, tak sengaja melihat ke arah Ashraf dan Ashraf serta yang lain melihat ke arahnya.


"Apa ustadz? Bercanda ana berlebihan kah?" tanya Amina saat tak sengaja berani menatap ke arah Ashraf, lalu menatap ke arah Santriyah tersebut yang sudah dulu menatapnya.


"Mau disumpel?" tanya Amina.


"Sungguh sangat tidak sopan." ucapnya.


"Heuuuuh. Mulut anty yang tidak sopan. Gak sadar diri! Berkacalah wahai wanita!" Tertawa kuda, dan melihat ke arah Aisyah. Yang dilihat hanya menempelkan telunjuknya dimulut, Amina hanya mengangguk.


"Nyesel banget kalau gini! Walau sakit, ada benarnya perkataan dia." Batin Amina, menatap Ashraf, sambil berlalu untuk ke kelas.


"Kenapa tidak ada pembelaan? Mungkin memang benar, ana harus ngaca." Batin Amina, Aisyah sendiri melihat jam ditanganya. Lalu mengangkatnya ke atas, dan melambaikan tangan ke Adrian. Sambil menunjuk jam ditangan kanannya.


"Waktu?" Batin Adrian, yang langsung mengakhiri sambutannya.


"Afwan ukhty Aisyah, apa sudah selesai?" tanya Humas sambil melihat jam.


"Sudah. Afwan beda sedikit melenceng dari jadwal. Ustadz Adrian ngasih tahu tadi pagi, mau sekalian umumkan prihal beasiswa untuk kelas X dan XI."


"Laa ba'sa ukhty. Tapi gak harus diubah kan? Sambutan ustadz Adrian gak usah dimasukan ke laporan kan?"


"Gak usah. Tafadhol!" Aisyah tersenyum, sambil melirik santriyah yang tadi.


"Baru kelas XI dia, hem. Berarti adik tingkat ana. Bagaimanapun ana harus minta maaf." Batin Aisyah.


Deg


"Astagfirullah, ana mau ke ustadz Alvin kan. Kenapa lupa sih?" Batin Aisyah, lalu mencari keberadaan Alvin yang masih mengobrol sama Amalia.


"Afwan ustadz," Aisyah menghampiri Alvin.


"Kenapa?" Dingin, tanpa tersenyum. Amalia sendiri memilih untuk pergi.


"Tadi ustadz melambaikan tangan ke ana? Ana melambaikan tangan juga ke ustadz. Ada apa ya?"


"Bukannya melambaikan tangan ke ustadz lain?"


"Oh. Ana pergi dulu." Alvin berlalu, Aisyah hanya mengangguk dan pergi ke kelas. Tak sengaja sepasang mata yang terlihat teduh memperhatikannya.


"Ustadz Riza memperhatikan Aisyah terus, hem. Apa dia masih ada rasa sama ukhty Ais?" Batin Raina.


"Sepertinya ustadz Alvin salah faham lagi. Ana bingung, sebenarnya apa hubungan ana sama ustadz Alvin? Kadang ana kesal kalau dia ngobrol sama santriyah lain, dia juga cemburu kalau ana sama ustadz Adrian. Huh benar-benar rasa yang aneh." Batinnya sambil terus berjalan.


"Ukhty Ais tunggu!" Teriak seorang santriyah adik tingkatnya. Spontan Aisyah membalikan badan dan menunggu santriyah tersebut yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa ukhty?"


"Afwan, ana ditugaskan untuk mengumpulkan data santriyah yang akan mengajukan beasiswa. Tadi kata ustadz Adrian suruh kumpulkan ke ukhty Aisyah sebagai ketua osis. Kira-kira kalau ana minta data ke tiap kelasnya jam istirahat boleh nggak? Kalau sekarang ana gak bisa, karena pelajaran ustadz Riza." Menunduk.


"Laa ba'sa. Makanlah dulu saat bel jam istirahat berbunyi. Baru anty keliling kelas minta datanya, ajak sekalian temannya terus bagi tugas biar cepat. Datanya ana tunggu habis pulang sekolah ya!"


"Naam ukhty, berarti ana ngasihnya langsung ke kelas anty apa bertemu dilapangan? Nanti ada acara di Aula kan?"


"Naam. Nanti ada pemberian materi dari ustadz Ashraf dan Ustadz Alvin ukhty. Untuk pelantikan sendiri besok malam minggu. Dsn anty bisa sebarluaskan beritanya, sebelum pengurus osis kasih jadwal nanti. Dan tadi sudah ana katakan, bahwa jadwal akan ditempel di Mading ya!"


"Baiklah ukhty! Kalau begitu ana duluan ya! Asslamualaikum."


"Waalaikumsalam wa rahmatullah."


Saat Aisyah baru saja masuk ke kelas, tangannya ditarik oleh Raina, yang sudah menunggunya didepan pintu.


"Eh eh, kenapa anty?" Aisyah bingung.


"Sini ana mau bicara!" Siap-siap berbisik.


"Kenapa?" Aisyah penasaran.


"Ukhty Amina menangis ternyata, ana jadi kasihan, ana jadi sedih asli." Bisisknya.


"Hem. Hanya mau bilang itu?"


"Nggak. Kalau kita nyusun rencana gimana? M gak?"


"Rencana?" Pura-pura bingung.


"Iya. Nanti, kita kumpulkan data CV ukhty Amina yuk, ana yang akan ambil fotonya dihpnya."


"Oh. Emm. Gimana yah?"


"Aduh ukhty ayolah!" Bujuknya.


"Kalau Ukhty min sama ustadz Ashraf, berarti Ukhty Raina ada kesempatan dekatin ustadz Riza dong? Yeah, ustadz Riza loh si ustadz manis." Batinnya.


"Ah anty kebaisaan selalu melamun." Menatap tepat didepan wajah Aisyah.


"Hem gini aja deh, biar gak pada curiga nih. Biar gak ribet juga. Kita kan masuk pengurus osis, ana nanti beritahukan kepada semuanya untuk membuat cv masing-masing."


"Ide yang bagus. Tapi apa alasannya?"


"Kan kita sebentar lagi lengser dari kepengurusan, bilang saja datanya mau dianggendakan sebagai pengurus osis angoatan ke VII."


"Hahha. Kirain melamun tadi, ternyata anty berfikir. Cerdas juga idenya. Raina narik Aisyah masuk ke kelas.