Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Sindir



Di Aula


Riza yang sedang bersiap-siap untuk menyampaikan materi, terlihat melirik Aisyah yang mulai ngobrol dengan Adrian dan menunjukan wajahnya yang jutek.


"Bukan Alvin, tapi mungkin Adrian yang akan menggantikan saya dihati kamu Ais." Batinnya langsung masuk ke dalam ruangan.


"Afwan ustadz ana tadi lapar banget, jadi ana makan mie ayam dulu dikantin. Tadi istirahat gak keburu." Menunduk, dan tak lepas dan pandangan Alvin yang sesekali meliriknya. Karena Alvin masih menyampaikan materi.


"Ya. Hp ana lowbat, lupa bawa casan," Adrian belum selesai berbicara.


"Oh pan,"


"Apa?" Ketus Adrian.


"Afwan ustadz belum selesai berbicara ya?"


"Hem. Apa anty menelpon ana?"


"Aduh PD sekali, kenapa ana harus menelpon ustadz?"


"Jadi, anty sebagai leader tidak mengabari ana sebagai pembina? Padahal disini lagi ada acara loh." Sindirnya.


"Ana sudah tugaskan ke para pengurus sesuai tugasnya masing-masing, sudah ada jadwal juga. Jadi untuk apa nunggu ana? Mereka sudah faham kok, ini bukanlah acara yang pertama kali ustadz. Sebelum-sebelummya sudah banyak acara. Dan mereka menjalankan gak harus nunggu ana datang dulu."


"Anty pandai menjawab." Berlalu meninggalkan Aisyah.


"Bukan gitu maksud ana ustadz, tapi." Aisyah mengejarnya.


"Sudahlah. Lakukan tugas yang lain."


"Tunggu sebentarlah ustadz, kenapa sih? Cepat banget jalannya." Terus mengejar.


"Apa?" Adrian menghentikan langkahnya, tanpa menoleh.


"Ukhty Amalia tadi menelpon ana, katanya nelpon ustadz tapi gak aktif. Ana gak tahu mau apa. Mungkin mau nanyain ustadz udah makan apa belumnya." Sindir Aisyah, sambil berlalu masuk ke Aula.


"Kenapa jadi dia yang marah?" Batin Adrian.


"Ah itu Aisyah, harusnya aku gak suuzan terus. Aku harus lebih tenang, ingat perkataan papa." Batin Alvin, melihat ke arah paling belakang. Dimana Riza, Aisyah, dan para pengurus osis yang lain berada.


Aisyah mengeluarkan hpnya sambil senyum-senyum dibalik cadarnya. Tak lama kemudian, Hp Alvin berbunyi.


Tring


"Aisyah?" Batinnya, dia yang baru saja duduk melirik ke Aisyah.


"Eh, ada-ada aja gadis ini." Alvin tersenyum, saat melihat foto dirinya sedang mengakhiri materinya. Penampilannya benar-benar sangat cool.


"Makasih (Emoticon Love)." Terkirim ke Aisyah, sambil meliriknya. Aisyah yang melihat balasan chat dari Alvin, hanya tersenyum sambil menganguk ke arah Alvin yang sedang menatapnya.


"Syukurlah, kalau dia gak marah lagi. Memang, kesulitan untuk ana sedikit menenangkan seorang pria tampan yang sedang cemburu." Batin Aisyah ketika Alvin yang melangkah untuk keluar Aula.


"Alvin, jangan harap kamu bisa memiliki Aisyah. Jika saya gak bisa, begitupun dengan kamu. Biarkan dia bersama yang lain. Daripada harus bersama dari salahsatu diantara kita." Batin Riza, sambil tersenyum sinis.


"Afwan akhwaty fillah, ada sedikt perubahan ya untuk yang memberikan materi. Tadi usatdz Alvin kan sudah, sekarang untuk materi selanjutnya akan diberikan oleh ustadz Riza ya. Qodarullah, yang tadinya dijadwal itu ustadz Ashraf. Tadi sudah kita ralat, karena ustadz Ashraf sekarang ada halangan. Tafadhol, ustadz Riza!" Salahsatu Mc yang menjadi santriyah tersenyum.


"Afwan, materinya tentang apa ustadz?" Celetuk salahsatu Santriyah, yang seperti mengidolakan Riza.


"Kepemimpinan Ke Empat Khalifah (Riza tersenyum). Coba? Sebelum ana mulai, disini ada yang masih ingat gak? Siapa aja ke empat Khalifah, setelah Rasulullah wafat?" tanya Riza, sambil menghubungkan laptop ke infocus.


Banyak santriyah yang akan menjawab, tiba-tiba Raina datang dengan membawa mix dan meminjamnya ke MC.


"Wah Massya Allah, banyak sekali ya ustadz yang ingin menjawab. Jadi, boleh gak bareng-bareng saja jawabnya?" tanya Raina melirik Aisyah, Riza hanya mengulum senyum sambil manggut-manggut.


"Nah, karena banyak yang mau menjawab. Jadi, ayo kita sebutkan sama-sama ya. Ayo yang pertama siapa?"


"Abu Bakar As Syidiq." Serentak semuanya.


"Ummar bin Khatab."


"Betul. Ketiga?"


"Usman bin Affan."


"Terakhir. Ali bin Abi Thalib."


"Massya Allah, antunna pada ingat ya. Ana nanya boleh gak?"


"Boleeeeeh." Sorak para santriyah bersemangat.


"Siapa ustadz yang ngajar sejarah?"


"Ustadz Rizaaaaaaaaa." Sorak semuanya, Riza hanya tersenyum.


"Ustadz Riza siapa ya?" tanya Raina lagi, karena Riza masih menyiapkan materinya saat laptopnya sudah terhubung dengan infokus.


"Ustadz maniiiiisssss ahahaha." ucap semuanya sambil pada ketawa.


"Ustadz Riza, mantannya ukhty Aisyah." Celetuk salahsatu santriyah, disaat yang lain pada ketawa.


"Cieeeeeeeee." Sorak santriyah, begitupun dengan Raina yang pura-pura bersorak.


"Hadeh, nasib punya idola yang sudah punya mantan. Mana mantannya terkenal. Beginiii nasib, jadi perawan (Raina malah nyanyi dalam batiinya)."


Aisyah berbisik kepada salahsatu santriyah, saat Raina dan Riza tidak melihatnya.


"Tapi sekarang, katanya ustadz Riza dekatnya sama ukhty Raina loooohhhh." Celetuk salahsatu satriyah.


"Cieeeeeeee."Sorak semuanya.


Deg


Raina dengan senyumannya melirik Riza , yang meminta mixnya sambil berbisik.


"Syukron. Tapi maaf, anty gak usah baper." Bisikannya penuh penekanan.


"Cieeeeeee." Sorak semuanya lagi, ketika Riza berbisik ke Raina. Padahal mereka tidaktahu apa yang Riza katakan.


"Maaf ukhty Raina, jika kamu benar-benar mencintai saya. Kamu tidak akan menyerah. Saya butuh gadis yang seperti itu." Batin Riza, yang mentralkan suaranya untuk mengawali pembahasan materi.


Raina yang tadi pergi sambil mengangguk, terlihat tidak menandakan bahwa hatinya terluka.


"Waktu aku melihat ukhty min menangis, dia terlihat sangat menyembunyikan tangisannya. Walaupun tetap saja ketahuan. Jadi ana malu sekali, jika harus menangis karena perkataan ustadz Riza tadi. Wajarlah, aku juga sadar diri kok. Toh aku yang suka sama dia." Batin Raina, lalu berlalu keluar Aula sambil membawa buku.


Aisyah yang merasa hpnya bergetar, langsung pergi keluar.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Afwan, jika ada yang nanyain ana. Ana pulang duluan ya." Alvin sudah berada didalam mobil.


"Mau kemana ustadz?"


"Jakarta. Ketemu mama."


"Hati-hati!"


"Syukron. Assalamualaikum." Alvin mematikan telponnya.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah." Aisyah menatap layar hpnya, lalu masuk lagi ke dalam Aula.


Riza yang sempet melirik Aisyah hanya tersenyum sinis, seolah dia tahu bahwa yang menelpon Aisyah adalah Alvin.