
Ketika mereka jalan berdua, tak sedikitpun ada obrolan keluar. Adrian fokus jalan dan menerangi jalan. Aisyah sendiri merasa takut, dan hanya memegangi jaket yang dijadikan penghalang hujan.
Kresek
Uuuk uuuk aaak aaak
"Aaawww. Haaaaa. Ustadz takut." Aisyah mendekati Adrian.
"Jangan takut! Kalau takut malah diisengin loh." Tegas Adrian.
Deg deg deg
Jantung Aisyah semakin kencang tak karuan, jam magrib sudah hampir setengahnya.
"Nah, tuh rumahnya udah kelihatan." ucap Adrian menenangkan.
"Ustadz anterin ana sampai bertemu ibu kan? Ana takut ibu gak bukain pintu?"
"Naam."
Dimobil Ashraf terlihat sedang menelpon dengan ibu nya.
"Kapan bu?"
"...."
"Langsung terbang lagi?"
"...."
"Yaudah, bertemu di Bandara aja ya bu. Aku gak pulang dulu, Insya Allah kalau santriyah disini lagi pada libur aku pulang dulu ke rumah."
"...."
"Eh, suara apa tuh?" Batin Ashraf.
"Oh iya iya. Bu? Bu? Udah dulu ya bu. Assalamualaikum." Ashraf buru-buru mematikan telponnya.
"Astagfirullah Ya Allah, suara wanita menangis." Batin Ashraf, sambil refleks memutarkan tubuhnya mencari sumber suara. Yang terdengar memutari mobil.
"Audzubillahiminnas syaitonnirroziiim" Ashraf membaca tawudz sebanyak tiga kali.
Wuss
"Astagfirullah," ucap Ashraf ketika mencium bau bangkai, bercampur bau darah busuk. Sedangkan suara wanita menangis tadi sudah hilang.
"Lahaulla walaa kuwwata illa billahil aliyul adziim." Ashraf kembali membaca doa, dilanjut dengan membaca ayat kursi.
"Heuuuuu heuuu heuuu." Suara yang menangis kembali terdengar, namun suaranya seperti wanita yang akan berhenti menangis dan terisak-isak.
Tuk tuk tuk
"Astahfirullah," ucap Ashraf.
Ceklek
"Anta kenapa? Tegang banget." Adrian terlihat sangat kebasahan, lalu membuka bajunya.
"Nanti ana cerita, apa tadi ketemu ibunya?" Ashraf membuang nafasnya dengan kasar, sambil memarkirkan mobil.
Ceklek
"Kenapa dimatiin ustadz?"
"Ya takut ada yang lihat, anta kan buka baju." Sambil kembali mematikan AC.
"Iya sih, basah kuyup baju ana. Hujan kecil kalau gak pake payung, tetap aja bikin baju basah. Allahumma soyyiban naafiian." ucapnya, menatap keluar.
"Ustadz?" Panggil Ashraf,
"Kenapa tadz?"
"Mungkin jin qorin yang sama, yang seperti Aisyah alami. Tapi Allahu a'lam juga. Didaerah tadi yang waktu anta parkirin mobil, disebelah sananya kan ada perkebunan tuh yang banyak pohonnya. Nah, disana udah terkenal banget dari ana sejak kecil. Kalau ada ibu-ibu yang menggugurkan kandungan, namun dua-duanya malah meninggal."
"Jadi dikubur disana?"
"Betul. Sering ana dengar cerita-cerita orang yang mengalami hal mistis. Ana sendiri sih percaya, kalau ada jin yang suka iseng."
"Nah betul. Ana sendiri ingin lihat, tapi gak bisa. Yang bisa lihat, hanya orang-orang yang tidak normal." Ashraf tertawa, Adrian hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Loh benar kan?"
"Naam benar. Hakikatnya, seorang manusia tidak bisa melihat mahluk gaib yang tersembunyi. Kalau diantara mereka ada yang bisa melihat, bisa jadi ada masalah dalam dirinya. Yang menjadikan dirinya berbeda dari yang lain, itu namamya tidak normal. Tapi orang awam, biasa menyebut mereka sebagai para normal."
Nb: Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS. Al A’raf: 27).
"Betul." Ashraf mengangguk-angguk.
"Bagian ana nih yang nanya tadz. Gimana tanggapan anta, tentang pocong, kuntilanak, gendaruwo, sindelbolong, tuyul, dan lain-lain?"
"Menurut ana sih, itu hanya halusinasi saja. Mereka menyerupakan bentuk-bentuk mereka yang seram, dengan mengibaratkan wanita atau pria yang sudah meninggal. Terus dibikin serem. Karena kan, bentuk aslinya mereka tidak seperti itu."
"Nah iya betul banget tadz."
Nb. Kita tidaklah bisa memastikan bentuk fisik jin kecuali berdasarkan dalil. Di antara dalil menyebutkan bahwa jin memiliki qolbun (jantung, hati). Sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al A’raf: 179).
Di dalam ayat ini disebutkan pula bahwa jin di samping memiliki hati (jantung), juga memiliki mata dan telinga. Bahkan setan memiliki suara sebagaimana disebutkan dalam ayat,
“Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan suaramu (ajakanmu)” (QS. Al Isra’: 64). Ayat di atas membicarakan tentang setan (iblis).
Bahkan dalam berbagai hadits juga disebutkan bahwa setan memiliki lisan, jin itu makan, minum, dan tertawa, juga disebutkan berbagai sifat lainnya.
Ada berbagai macam penyebutan jin dalam bahasa Arab:
- Untuk jin murni, maka disebut jinni
- Untuk yang tinggal bersama manusia disebut ‘aamir, bentuk pluralnya adalah ‘ammaar
- Jin yang mengganggu anak kecil disebut arwah
- Yang jahat dan sering mengganggu adalah syaithon (setan)
-Yang lebih jahat lagi adalah maarid
-Yang paling jahat dan begitu garang adalah ifriit, bentuk pluralnya adalah ‘afaarit.
Disebutkan dalam hadits riwayat Ath Thobroni dan Al Hakim dengan sanad shahih, jin itu ada tiga kelompok:
- Jin yang terbang di udara
- Jin yang berbentuk ular dan anjing
-Jin yang lepas dan berjalan.
"Langsung ke garasi aja ustadz, afwan ana turun dulu." pinta Adrian, Ashraf memberhentikan mobilnya.
"Ustadz? Baru pulang?" tanya Pak Burhan, tukang dirumahnya. Sambil membuka kunci garasi.
"Iya pak. Kesorean dijalan nih. Tadinya mau ke Mesjid dulu, tapi baju saya pada basah pak."
"Oh gitu. Nanti kalau mau ke mesjid, mening jalan kaki aja deket. Tinggal bawa payung kok. Naik motpr mah ribet." Tertawa kuda.
"Iya pak."
"Yasudah, saya mau pulang dulu ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam hati-hati pak."
"Iya ustadz makasih." Pak Burhan berlalu sambil melihat ke arah Ashraf dan tersenyum, begitu juga Adrian yang hanya tersenyum.