Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Rujuk



Pagi sudah berganti menjadi siang, pelajaran bahasa sunda yang dikasih waktu sembilan puluh menit hampir habis.


Amina sibuk membuat dialog bahasa sunda, karena Aisyah malah tertidur.


"Ukhty Ais pasti belajar lagi, yah selalu seperti itu kalau akan ada pelajaran ustadz Alvin. Tapi apa dia udah belajar qurdis? Sekarang kan pelajarannya." batin Amina menatap Aisyah yang lagi tidur ditutup buku.


"Assalamu'alaikum!" ucap Adrian yang tiba-tiba datang.


"Waalaikumsalam wa rahmatullah." serempak para santriyah.


"Ukhty Ais, Ukhty Ais? Banguuun! Ustadz Adrian udah masuk." senggol Amina.


Krik


Krik


Tak ada jawaban


"Kenapa gak bangun sih? Apa ana cubit saja?" batin Aisyah.


Pandangan semua orang terpusat ke arah Aisyah dan Adrian.


"Siapa yang tidur?" Melirik ke Aisyah.


"Ukhty Ais ustadz."


"Sejak kapan?" sambil membuka layar hpnya membuka salahsatu ayat al quran.


"Afwan, sejak pelajaran bahasa sunda ustadz."


"Loh? Apa dia gak belajar? Ana saja masuk kesini lewat lima menit."


"Ukhty Ais sudah lebih dulu belajar ustadz. Tadi hanya ditugaskan oleh uatadz Alvin untuk mempelajari undak usuk basa sama bikin dialog."


"Terus dia gak bikin dialognya?"


"Ana yang bikin, tapi tema nya dari ukhty Ais. Sebelum tidur sambil nulis dibuku diary, eh." Amina keceplosan.


Adrian langsung menghampiri meha Aisyah, dan mengambil buku diary nya.


"Jangan ada yang bilang satu orang pun kalau ana yang ambil ini. Faham?" mengangkat buku diary Aisyah.


"Fahimtu ustadz."


"Ah, ana gak janji ustadz. Ukhty Ais, sahabat ana." batin Amina.


"Ini tidak hanya berlaku untuk dia, tapi untuk semuanya, khusunya yang diajar oleh ana. Sekarang buka hadits yang kemarin, ana akan bahas tafsir haditsnya."


Diruang guru, Alvin yang baru saja akan keluar untuk ngajar. Ditelpon oleh Ali yang masih berada diruang wakasek.


"Kenapa pah?"


"Kunci mobil, papa mau ke kantor."


"Loh? Terus aku gimana pulangnya pah?"


"Yang gak bawa mobil saja bisa pulang sampe rumah. Gak usah manja! Buruan papa udah ada yang nunggu."


"Ya." Mematikan telpon dan kembali ke mejanya untuk membawa kunci.


Tak lama kemudian, seorang santriyah berpapasan dengan Alvin.


"Ustadz? Assalamualaikum!"


"Naam waalaikumsalm. Kenapa?"


"Ana ketua kelas XI Ipa 2 ustadz. Afwan, ustadz sudah telah hampir lima belas menit."


"Naam ana dipanggil wakasek kurikulum tadi. Gak sempet ngasih tugas. Silahkan kembali ke kelas dan tulis ini!" menyodorkan selembar kertas.


"Esay? Ulangan ya ustadz?" menatap kertas.


"Naam. Kumpulkan buku biologi bya di meja ana!"


"Waalaikumsalam wa rahmatullah." Alvin buru-buru ke ruang wakasek.


Dikelas XII Ipa 1, Adrian sedang memberikan penjelasan salahsatu tafsir ayat Al-Quran. Tiba-tiba Aisyah terbangun, membuka bukunya dan langsung duduk tegak dengan mata masih terpejam. Adrian sendiri menjeda pelajaran, dan mengusap rambutnya ke belakang.


"Ukhty min, jam berapa ini?"


"Ukhty Ais bangun! Ada ustadz Adrian." Amina yang sudah kesal, mencubit paha Aisyah.


"Hah?" Aisyah membuka matanya, lalu merapikan cadar dan hijabnya.


"Kenapa ketiduran sih, haduh." batin Aisyah.


"Lain kali jangan ada yang sampe ketiduran dikelas." ucap lantang Adrian, menatap jam ditangannya.


"Afwan ustadz ana tidak sengaja, kalau begitu ana keluar saja." lirih Aisyah.


"Anty yang salah, anty yang memberikan keputusan."


"Naam ana salah afwan ustadz." menatap Adrian.


"Anty maju! Dan jawab pertanyaan dari para santriyah yang akan bertanya!" Adrian sendiri duduk.


"Afwan ustadz sekarang yang akan dibahas ayat rujuk kan? Yang kemarin ya ustadz?"


"Maju dan jawab pertanyaan!"


"Toyyib ustadz." Aisyah karena malu matanya yang baru bangun terasa membengkak, langsung mengambil kacamatanya dan bergegas maju ke depan.


"Asaalamualikum wa rahmatullahi wa barakatuh, baik akhwaty apakah ada pertanyaan seputar rujuk?"


"Waalaikumsalam wa rahmatullah," serempak para santriyah.


"Afwan ukhty, izinkan ana bertanya." Amalia berdiri.


"Tafadhol ukhty." Melirik ke arah Ratna.


"Kapan masa iddah seorang istri jika dia sudah di talak tiga?"


"Ketika sudah tiga kali masa suci dari haid."


"Menarik." Batin Adrian.


"Terus gimana kalau suami sudah ucapkan talak, terus tiba-tiba minta rujuk?" tanya Amalia kembali.


"Pertanyaam ana, minta rujuknya sebelum habis masa iddah apa sesudah massa iddah?"


"Kalau dua-duanya gimana?" tanya Amalia, yang mengundang tawa para santriyah.


Kriik


Kriik


Aisyah terdiam.


"Apa anty gak bisa jawab?" Adrian menatap Aisyah dengan tajam, Aisyah yang spontan menatap Adrian langsung memalingkan wajahnya menatap Amalia.


"Kalau antunna bertanya kenapa ana diam? Karena ana gak suka, kalau ana sedang berbicara, diantara kalian ada yang ikut berbicara. Walaupun. Walaupun, hanya berbisik-bisik." Tegas Aisyah, dan semua santriyah langsung terdiam.


"Jika suami sudah mengatakan talak, namun minta rujuk sebelum masa iddah. Maka istri berhak menerimanya atau harus kembali kepadanya. Karena status dia masih seorang istri suaminya. Kecuali, jika sikap atau sifat suaminya banyak menyimpang atau melanggar aturan agama. Seperti dia tidak sholat, suka mabuk, kasar sama istrinya, dsb. Maka seprang istri boleh menolaknya. Dan jika suaminya memaksa untuk rujuk, maka seorang istri boleh mengajukan Khulu/ menggugat suaminya."


Krik


Krik


Aisyah menjeda penjelasannya.


"Dan untuk pertanyaan kedua. Saya ingin bertanya lagi, ini suaminya mengatskan talak satu? Dua? Atau talak tiga? Karena jawabannya pasti berbeda."


"Talak satu, dua, dan tiga ukhty." jawab Amalia.


"Ana tahu anty mampu menjawabnya, ukhty Aisyah. Akan ana tunjukan kemampuan anty kepada ustadz Adrian. Dan ana berharap ustadz Alvin melirik ana walau hanya sebentar saja. Afwan." Batin Amalia.