Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Baper



Pagi Hari di Sekolah


Amina dan Raina sedang tertawa-tawa, mereka berada didepan kelasnya, sambil melihat layar hp.


Aisyah yang tergesa-gesa untuk masuk ke kelas, terlihat menenteng tas laptop.


"Ukhty Raina? Kenapa diuplaod sih?" Cebik Amina, yang melihat status Raina di wa nya.


"Memangnya kenapa? Nada dimeja yang ana buat sesuai lagu nya kan? Keren juga ana." Puji dirinya bangga.


"Euh ya deh. Tapi videonya di skip-skip hem, pas banget ana lagi nyanyi."


"Tapi suara anty bagus loh, lembut."


"Tapi suara serak ukhty Ais lebih bagus heuuuuh."


"Apa ukhty Ais? Ngegibah ya?" ucap Ais yang berlalu buru-buru masuk kelas.


Mereka berdua langsung berdiri dan membuntutinya.


"Bahkan nih ya, anty belum ucapkan salam." Raina berkaca pinggang.


"Assalamualaikum." ucap Aisyah sambil tertawa. Mereka berdua menjawabnya sambil manggut-manggut.


"Baru setengah tujuh, tumben udah sampe? Anty gak bantuin bikin pepes?" tanya Amina kebingungan.


"Ibu bikin, tapi ana gao bantuin. Kalian kenapa masih disini sih? Ayo buruan ke lapangan! Ana mau ke sumber suara." Mereka berdua membuntuti Aisyah.


"Untuk apa?" Amina bingung, apalagi Raina.


"Eh. Benar-benar ya kalian, punya wa gak difungsikan ya?" Omel Aisyah, sambil terus berjalan.


"Hah? Hehe. Pasti di grup ya? Pantes banyak chatan, ana silent ukhty soalnya berisik." Aminah berkata santai.


"Ana sendiri mengarsipkannya hahaa. Sorry!"


Aisyah hanya membuang nafasnya dengan kasar.


"Ukhty Amalia dimana?"


"Biasa, sibuk diruang osis."


"Apa anty tadi bertemu?"


"Tentu saja, ana kan satu asrama. Ya, walaupun beda kamar. Ana canggung, kalau harus sekamar sama dia. Dia kan orang kaya." ucapnya santai.


Deg


Aisyah mengingat kejadian semalam, ketika Adrian mentranfernya uang.


"Bagaimana hubungan mereka berdua sekarang?" Batin Aisyah.


Seeeeeet


"Astagfirullah," ucap Aisyah.


"Eiyyy", ucap Aminah.


"Hadeuuh euh, pagi-pagi sudah melamun." Sindir Raina, saat Aisyah akan terpeleset.


"Hati-hatilah ukhty Ais! Ini belum terlalu siang, hujan kemarin masih meninggalkan jejak." Omel Amina.


"Udah-udah, ana kan gak apa-apa. Antunna, perhatikan teruslah grup osis nya, biar gak ketinggalan info. Sekarang, pergi ke lapangan. Nanti kondisikan para santriyah. Ana mau ke sumber suara sekarang." Aisyah berlalu dan berjalan lurus untuk ke ruang sumber suara. Mereka berdua langsung berbelok untuk turun ke lapangan.


"Aduh, udah setengah tujuh lebih. Ukhty Ais lama banget sih." Batin seorang santriyah, yang merupakan bagian Humas di Osis.


"Assalamu'alaikum!" Aus baru saja masuk.


"Waalaikumsalam." Santriyah itu berdiri.


"Anty langsung saja." Aisyah melihat beberapa lembar kertas yang dibungkus maf.


Santriyah itu sendiri, langsung menyalakan mix yang sudah terhubung ke spekaer/ Toa.


"Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakahtuh!" ucap Santriyah tersebut, yang sudah mulai memberikan pengumuman. Semua santriyah menjawab dengan riuh.


Sekali lagi, untuk kelas X dan XI, diharapkan untuk berkumpul ke lapangan sekarang. Terimakasih. Wassalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.


Tak lama kemudian di lapangan, para santriyah mulai berdatangan.


Tak hanya itu, diparkiran, para ustadz dan ustadzah sudah mulai berdatangan.


Alvin yang baru saja memarkirkan mobil, terlihat sedang mengobrol dengan ustadz yang lain.


Aisyah sendiri mulai memberikan pengumuman, ketika para santriyah sudah dikondisikan.


Adrian dan Ashraf baru saja datang. Adrian yang saat itu, menyetir mobilnya terlihat sangan berkharisma. Saat itu, kaca mobil sedang dibuka. Alvin dan para ustadz yang sedang mengobrop tadi melihatnya ketika Adrian memgklakson, sambil tersenyum. Ashraf pun ikut tetsenyum, walau sedang menelpon bersama ayahnya.


"Yah, aku akhir dulu ya. Nanti ditelpin lagi, Insya Allah. Assalamualaikum." Ashraf mengakhiri telponnya, lalu buru-buru turun. Disaat Adrian sudah turun duluan.


"Tumben bawa mobil tadz?" tanya salahsatu ustadz, sambil menerima uluran tangan mereka berdua. Alvin dan Riza yang tak banyak bicara hanya tersenyum ramah.


"Ana bawa buku-buku islami untuk di kelas putra ustadz." jawabnya.


"Kalau dikelas putri?"


"Sudah kemarin sama ustadz Ashraf." Melirik ke Ashraf.


"Yasudah, sepuluh menit lagi nih. Ayo-ayo!" Ajak ustadz tersebut.


"Alvin? Ana harus bicara sama dia." Batin Adrian.


"Alvin? Bagaimana kabar orang tua nya?" Batin Ashraf.


Tak lama kemudian, Aisyah yang saat itu sedang berada diatas tempat pembina upacara, masih memberikan pengumuman.


Karena silau, dia memakai kacamata. Adem, sungguh sangat adem cuaca saat itu. Pagi hari, dengan matahari yang mulai muncul, tanah dan daun masih menyisakan embun. Cadar dan hijab Aisyah pun terbawa angin yang tidak terlalu kencang. Angin itu, benar-benar menusuk ke dalam tubuh.


Para ustadz yang saat itu, memilih untuk lewat ke lapangan. Tak sengaja melihat ke arah Aisyah. Alvin yang pendiam, sungguh sanbat berani dan tidsk merasa malu kepada Aisyah. Dia melambaikan tangannya, lalu menurunkannya lagi.


Aisyah yang melihat Alvin melambaikan tangan, membalas lambaian tangannya dengan sambil berbicara dengan tangan kanannya.


Adrian yang berada didepan bersama Ashraf tiba-tiba melambaikan tangan, saat melihat Aisyah melambaikan tangan.


"Ustadz Adrian? Melambaikan tangan? Apa dia GR? Ana kan melambaikan tangan ke usatdz Alvin haha" Batin Aisyah tertawa, karena tidak mau GR. Dia melihat ke arah belakang.


Adrian terus melambaikan tangan ke arah Aisyah. Tak mau ketinggalan Alvin pun melambaikan tangan. Para santriyah kebingungan, spontan mereka pun menengok ke belakang.


Terlihat Adrian dan Alvin sedang melambaikan tangan ke arah Aisyah. Karena tidak mau salahfaham, Aisyah pun memanggil Adrian.


"Untuk pengumumannya ana akhiri dulu ukhty. Sekarang, ana serahkan kepada pemina osis baru yang akan memberikan sambutan. Tafadhol, Ustadz Adrian. Wassalamualikum wa rahmatullahi wa barakatuh."


"Jadi, ukhty Ais melambaikan tangannya untuk ustadz Adrian." Batin Alvin kecewa. Melihat itu, Amalia memberanikan diri untuk mengobrol bersama Alvin.


"Assalamualaikim ustadz Alvin? Bisa bicara sebentar?" ucap Amalia, Ashraf yang meliriknya. Melihat name tag Amalia, dan hanya manggut-manggut.


"Duh, ustadz Ashraf tampan banget." Batin Aminah, tak sadar dia berjalan ke arah Ashraf.


Aisyah sendiri yang berpapasan dengan Adrian yang akan memberikan sambutan kedepan hanya tersenyum, tanpa melirik orangnya. Begitupun dengan Aisyah yang tersenyum lebara dibalik cadarnya.


Aisyah mencari Alvin, yang ternyata sedang ngobrol dengan seorang santriyah dipinggir lapangan.


"Anty kenapa? Afwan." tanya Ashraf bingung.


"Hah ustadz? Kok disini?" Aminah baru sadar, sudah didekat Ashraf. Sedangkan Ashraf sendiri mundur, untuk menjaga jarak.


"Loh? Anty yang ngapain disini?" Ashraf bingung.


"Hehe. Ana juga bingung, kenapa ana bisa kesini?" Amina menunduk.


"Haha. Pasti ukhty Amina melamun kan? Ngebayangin dilamar ustadz kali. Ciahaaa." Raina yang tiba-tiba datang menjahili Amina dan melihat ke arah Ashraf.


"Ya itu mah nanti." ucap Ashraf tersenyum.


"Yeeeeyy." Amina berteriak, spontan semua orang menatap ke arahnya. Ashraf sendiri hanya menyeringitkan matanya. Raina hanya menahan tawa. Semua orang kebingan.


"Cielah. Sepertinya anty baper." Senggol Raina.


"Ehm." Adrian yang merasa dicuekin berdeham.