Ustadz Nikah Yuk

Ustadz Nikah Yuk
Adu Mulut



Senja yang hampir tiba, membuat Aisyah yang saat itu sedang berjalan menuju rumahnya.


"Ya Allah, jam segini masih dijalan. Apalagi bulan depan, udah mulai banyak pelajaran tambahan. Apa aku izin di asrama aja kali ya ke bapa?" batinnya.


"Ais?" Dija yang memakai motor berhenti didekatnya.


"Loh? Ibu abis darimana?" Aisyah saliman.


"Kemana hijab kamu yang putih?"


"Ini dipinjemin teman bu, punya aku jatoh dilantai toilet."


"Oh. Kenapa kamu baru pulang?"


"Lama banget bu nunggu mobil, sekalinya ada ngetem dulu." Lesuh.


"Ibu abis darimana?"


"Ayo naik! Nanti ibu ceritain dirumah." ajaknya.


"Iya bu, bu kaki aku sakit. Jatoh dari tangga."


"Yeh, kok bisa? Gak hati-hati kamu ya?" Mereka ngobrol di motor.


"Buru-buru tadi bu, aku kesiangan tadi."


"Hem. Yaudah besok-besok kamu bawa motor aja. Ibu pagi-pagi gak bisa anterin kamu. Soalnya ibu harus pergi ke kebun. Bapa kan masih sakit."


"Bu?"


"Kenapa?"


"Bu, bapa bolehin gak ya kalau aku di asrama aja? Masalahnya aku cape bu, kan jadwalnya padat banget kelas tiga. Jadi pasti ada lest tambajan terus."


"Emang kapan mualinya?"


"Mulainya bulan depan bu,"


"Tadi kak Shofia nelpon, katanya dia kan akan lahiran. Ibu dan bapa mau pergi ke Sulawesi minggu depan."


"Jadi aku bisa dong bu di Asrama?"


"Nanti ibu cerita dulu ke bapa ya!"


"Ibu berapa lama disana?"


"Ibu kurang tahu, nyuruhnya sih kalau kakak kamu lahiran normal. Sampai jahtannya kering."


"Lama dong bu? Yang anak pertama aja katanya empat bulan pulihnya."


Cekiiiiitt


Motor berhenti, mereka sudah sampe rumahnya.


"Nanti ibu bicara sama bapa, biar kamu di asrama aja ya!"


"Asyik. Makasih bu."


"Ayo buruan masuk! Mandi dulu, kamu lagi haid kan? Jangan mandi malam-malam."


"Iya bu." Aisyah pun masuk.


Sementara ditempat lain, Alvin yang sudah berjanji untuk ketemu mamanya, sedang berada dijalan tol. Saat itu jalan tol benar-benar sangat padat merayap. Selain karena malam minggu yang banyak orang pergi ke Puncak. Tapi, jam pulang kerja juga menjadi salahsatu alasannya.


Dreeet dreet dreet


"Iya mah?" jawab Alvin saat Indah menelpon.


"Kamu masih dimana vin?"


"Masih di tol mah, macet."


"Yaudah, ini mama lagi di Cafe vin."


"Dimana?"


"Daerah Tebet, nanti mama sharelok yah."


"Iya." Alvin mematikan telponnya.


Setelah itu, karena jalanan masih padat merayap. Alvin mencoba melihat hpnya.


"Aisyah?" batin Alvin, menatap nama yang ada dihalaman chat.


"Aisy?" chat terkirim.


"Iya ustadz?" jawab Aisyah yang saat itu akan mandi.


"Dimana?"


"Baru sampe rumah, mobil ngetem ustadz."


"Iya. Ustadz lagi dimana?"


"Jalan tol."


"Pasti kena macet lagi?"


"Iya."


"Hati-hati ya! Nanti chat lagi kalau udah sampe." Aisyah memberikan emoticon dua mata bentuk cinta.


"Iya." Alvin yang melihatnya tersenyum gemas.


"Lain kali, aku akan mengajaknya ke rumah mama" batin Alvin bersemangat.


Saat Aisyah sudah mencharger hpnya, dia keluar untuk pergi mandi. Namun, dia dikejutkan dengan suara Ahmad dan Dija yang sedang beradu mulut.


"Bu, kenapa kamu gak pernah mau dengar? Kata bapa jangan ngebaru-baruin lagi pinjeman ke bank emok. Bapa pusing mikirin angsurannya."


"Pak, kalau banyak mah kita uang gak bakalan aku ngebaruin lagi ke pinjeman. Tapi kan bapa tahu biaya kuliah kakak-kakaknya si Ais besar."


"Bapa tahu Bu, tapi tahanlah. Dari hasil Empang sama kebun juga kan lumayan. Tapi, selalu saja abis buat bayar-bayarin koperasi. Makan aja jarang banget pake daging Bu."


"Yaudah, kalau mau makan pake daging ibu mau beli deh besok. Jangan marah lagi pak. Ini ibu ngebaruin buat nutup bang keliling. Jadi, bang keliling yang suka nungguin di Bu Ela udah lunas."


"Udah lunas sih, tapi nutupnya pake uang pinjeman lagi." Sambil berlalu.


"Pak, ini juga kan uangnya sebagian buat ke Sulawesi. Udah tahu Shofia belum diangkat jadi PNS. Dia hanya ngasih setengah ongkosnya." Mengikuti Ahmad yang berlalu ke dapur.


Aisyah yang masih menyender dipintu kamarnya hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Pantes, bapa gak pernah izinin aku tinggal di Asrama. Ternyata yang buat setor ke bank emok. Kakakku semuanya hanya ngasih pas-pasan. Ya udahlah mungkin dari sekarang, selain harus bantu bikin pepes buat dijual pagi. Aku juga harus cari kerja sampingan. Emang kalau udah berkeluarga mah, ngasih uang ke orang tua agak susah. Kecuali, kalau nikah sama orang kaya yang tajir melintir. Hem." batin Aisyah, bergidik bahu sambil berlalu ke kamar mandi.


Malam hari


Terlihat Adrian yang sedang ngobrol santai dengan Abi dan Uminya di ruang tamu.


"Abi, nisa tumben gak ikut ngumpul?" tanya Adrian.


"Udah tidur kali, besok pagi-pagi kan mau sidang ke Jakarta. Rencananya umi sama abi mau nganterian dia." Menutup dan menyimpan buku yang dari tadi dibacanya.


"Tumbe dianterin?"


"Kan Nisa bawa pakaian sama barang, disana sampe wisuda kayanya. Jadi, setelah besok Insya Allah umi dan Abi yang akan jenguk dia. Jadi dia gak harus pulang." ucap umi Hawa.


"Oh. Berangkat jam berapa?"


"Habis subuh, abi males kalau agak siang macet."


"Iya bi, siapa yang nyetir?"


"Abi aja, yang lain kan pada kerja."


"Iya, jadi kamu besok tolong pagi-pagi banget. Ngambil ikan pepes ke rumahnya Pak Ahmad ya! Minta anterin aja sama teman kamu." sela uminya.


"Nanti aku coba bicara dulu ya mi."


"Ini udah jam sembilan, kalau teman kamu gak bisa, kamu sendiri aja." Tegas Abi.


"Rumah pak Ahmad kan aku gak tahu abi."


"Tanya sama tetangga, jangan diam-diam aja. Kamu ngobrolah sama mereka. Jangan sampe mereka canggung sama kamu, nanti mereka nyangkanya karena kamu kuliah jadi mereka minder. Ingatlah, kamu itu selain disekolah jadi imam Mesjid juga."


"Iya abi,"


"Oh iya, Umi sama Abi besok mau mampir dulu ke PT. Pulangnya tiga hari kedepan kayanya. Abi mau meeting dulu, sekalian cek laporan bulanan." tutur Uminya.


"Iya mi."


"Adrian, jangan iya-iya aja kamu. Kamu selain nanti urus sekolah, kamu juga harus urus PT. Minggu depan coba kamu kesana, kalau libur."


"Untuk apa bi?"


"Untuk apa? Nanti Abi ajarkan, sekalian kenalkan kamu sama para karyawan dan petinggi PT."


"Terus?"


"Ya kalau udah bisa, udah faham, kamu yang jadi Direksi nya, gantiin Abi."


"Iya abi." Adrian menunduk, melihat mimik Abinya yang kalau ngobrol dengannya selalu serius. Wajahnya memang seperti seorang CEO dingin, dengan usia yang sudah menginjak kepala lima. Namun, dibalik mimik seram dan sikap tegasnya Ishak benar-benar dermawan dan baik ke semua orang.


"Jangan taku Adrian! Umi yakin ksmu pasti bisa kok, seperti Abi kamu."


"Bisalah, belum aja abi ajrin. Kemarin-kemarin abi gak ajarin biar kamu, fokus dulu menimba ilmu. Karena menimba ilmu agama itu harus dari nol, gak bisa sembarangan, salah dikit, ajaran bisa beda, bisa menyimpang dari Al Qur'an dan As Sunnah. Beda dengan mempelajari ilmu dunia, termasuk ilmu Perusahaan. Itu bisa dipelajari secara otodidak."


"Betul bi. Kalau Abi gak didik aku sperti itu, belum tentu aku dapat beasiswa bi."


"Ya. Masuklah! Istirahat! Oh iya, besok sebelum subuh kamu sama teman kamu Abi tunggu di mesjid. Mau ada perlu dulu, abi sama teman kamu." ucap Ishak sambil berdiri.


"Iya Abi." Adrian masih duduk dikursi. Sedangkan Ishak dan Hawa beranjak pergi.